Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Sekarang Denis berada di sebuah bengkel yang berbeda. Tampilannya sangat jauh dengan bengkel milik bang Theo. Kalau bengkel milik bang Theo nampak mewah dan mobil yang datangnya merupakan mobil-mobil menengah ke atas, maka bengkel yang sekarang dia kunjungi 180 derajat berbanding terbalik dengan milik bang Theo. Sebuah bengkel sederhana dan kecil. Pengunjungnya hanya mobil-mobil biasa, namun cukup ramai juga ketika Denis tiba disana.


Tanpa merasa risih Denis memasuki kawasan bengkel itu. Langsung masuk kedalam setelah menyapa seorang pekerja yang dia kenali.


"Denis!" Seru seorang pria dari arah dalam yang lebih ke sebuah gudang. Tangannya melambai dengan senyuman dibibirnya.


Jack dan Nerrow sedang membicarakan sesuatu didalam sana. Denis menghampiri mereka dan kemudian mereka saling mengadukan tinju.


"Sendirian lo?" Jack yang bertanya. Matanya berkilat ke arah luar mencari orang yang biasanya selalu bersama Denis.


"Papanya Alex meninggal kemaren. Jadi dia lagi berkabung sekarang." Denis menjatuhkan tubuhnya disamping Nerrow.


"Apa? Papanya Alex meninggal? Terus, sekarang dia gimana?"


Denis mengangkat kedua bahunya.


"Ya gitu deh. Dia sedih banget. Dan gue rasa, dia makin dendam sama ibu tirinya dan juga sama orang yang bernama Bisma. Bahkan gue ngerasa gak berguna banget karena sampai sekarang belum bisa nemuin kedua orang itu." Denis menyugar rambutnya sambil merebahkan punggungnya disandaran sofa yang sudah usang itu.


"Gue juga minta maaf karena gak bisa bantu lo menemukan dua orang itu. Mereka sangat pandai menghilangkan jejak. Tapi gue yakin, mereka masih berada didalam kota." Kata Jack dengan nada penuh sesal.


"Yah. Hanya saja, adiknya ada dirumah sekarang. Gimanapun juga, dia masih anaknya pak Arga Dinata. Setelah pak Arga Dinata meninggal, dia juga berhak atas warisan harta pak Arga Dinata."


"Kalau gitu, kita tinggal mengawasi adiknya saja. Pasti suatu saat dia akan berkomunikasi sama ibunya. Bener gak?" Nerrow memandang Denis dan Jack bergantian.


"Kalau itu sih jelas. Alex gak akan ngebiarin adiknya itu terlepas sedikitpun dari pengawasannya. Dan pastinya, Reno akan sangat hati-hati dalam bertindak."


"Lo pernah denger gak? Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Kita tunggu aja, akan ada saatnya mereka melakukan kesalahan dan kita akan dengan mudahnya dapetin mereka."


"Wuih bang Jack, kata-katanya itu lho.." Nerrow terkekeh mendengar ucapan Jack yang mengucapkan kata-kata itu dengan mimiknya yang serius. Jack hanya meringis mendapat ledekan dari Nerrow. Sedangkan Denis hanya tersenyum tipis menanggapi kedua orang itu.


"Tapi gue gak mau sampai terlambat hingga Reno melakukan sesuatu yang membahayakan Alex. Gue gak percaya sedikitpun sama adiknya Alex itu." Gumam Denis.


"Ya. Lo harus awasi dia dengan ketat. Kita juga bakalan bantu lo." Denis mengangguk. Dia berterima kasih kepada kedua orang itu yang terus membantunya tanpa pamrih.


"Eh nanti malam kita mau ngetrek. Lo mau ikut?" Jack bertanya pada Denis.


"Wah, boleh tuh. Di tempat biasa?" Tiba-tiba mata Denis berbinar sangat antusias mendengar tawaran dari Jack.


"Iya. Lo tau? Si Ricko nanyain lo terus. Kangen sama lo kayaknya. Haha... Gak ada rival seimbang." Nerrow terkekeh yang ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Denis.


Obrolan mereka kemudian berubah menjadi seru dengan topik balapan yang menjadi hobi mereka. Jack juga menawarkan motornya yang biasa dipegang Denis untuk ikut balapan nanti malam kalau Denis mau. Dia tidak menjanjikan akan ikut balapan. Mungkin dia hanya akan menonton saja untuk nanti malam.


Kegiatan mereka terputus ketika Nerrow dan Jack harus kembali bekerja karena ada beberapa pelanggan yang datang dan tidak bisa ditangani oleh anak buahnya yang lain.


Merasa bosan karena ditinggal Jack dan Nerrow, Denis merebahkan tubuhnya diatas sofa dan tak lama kemudian dia tertidur.

__ADS_1


Menjelang sore Denis baru terbangun dari tidurnya. Setelah mencuci mukanya di toilet yang ada didalam gudang itu, dia keluar dari gudang milik Jack. Nampak Jack dan Nerrow sedang membereskan tempat usaha mereka karena sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang.


Denis pamit kepada teman-temannya dan segera pergi dari tempat itu dengan motor besarnya.


Tujuannya sekarang adalah sebuah alamat yang diberikan oleh bang Theo kepadanya. Tidak sulit mencari tempat itu karena Denis hapal hampir seluruh pelosok kota.


Hari sudah gelap ketika dia tiba disebuah rumah yang cukup besar berlantai dua.


Denis turun dari motornya dan membuka helm yang melindungi kepalanya sambil memperhatikan rumah itu. Seseorang datang dari arah samping rumah.


"Cari siapa, mas?" Orang itu menegurnya. Denis menoleh. Senyumannya mengembang begitu melihat siapa orang yang menyapanya.


"Mang Jana.."


"Lho, Denis..Ya ampun. Ini beneran kamu?" Pria yang ternyata mang Jana itu segera menghampiri Denis. Dijabatnya tangan Denis dengan erat. Senyuman terbit diwajahnya.


"Ayo masuk. Semua orang sudah nunggu kamu."


Mang Jana segera menuntun langkah Denis memasuki rumah itu. Begitu riang dan nampak sangat senang dengan kehadiran Denis.


"Lihat siapa yang datang." Serunya ketika tiba didalam rumah itu. Bang Theo dan keluarga kecilnya sedang berkumpul diruang keluarga. Mereka serentak menoleh kearah datangnya mang Jana dan Denis.


"Kak Denis..!!" Seorang gadis cantik yang sedang duduk didekat bang Theo memekik ketika melihat Denis. Hampir melompat dia meluru menghampiri Denis. Tanpa segan dia memeluk Denis.


"Ihh kak Denis. Sisil kangen sama kak Denis." Gadis remaja yang cantik itu merengek manja.


"Sisil, ajak dulu Denis duduk sini." Bang Theo menengahi. Dia dapat melihat kalau Denis tidak nyaman dengan sentuhan yang terlalu intim.


"Gue pikir lo gak jadi datang. Bi Nani sudah masak banyak tuh." Kata bang Theo disertai kekehannya yang khas. Dia menepuk tempat disebelahnya agar Denis duduk disana. Denispun mendudukkan tubuhnya disana, diantara bang Theo dan mbak Fani.


"Gimana kabar Alex? Mbak merasa gak enak karena gak pergi melayat kemarin." Mbak Fani menyela.


"Dia masih berkabung. Dia sangat sedih karena kepergian papanya." Ucap Denis pelan.


"Tolong sampaikan salam mbak sekeluarga buat dia. Kapan-kapan ajak dia kesini." Denis hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mbak Fani.


Mereka kemudian pindah ke ruang makan dan melanjutkan obrolan sambil menyantap makan malam. Suasana begitu hangat dan kegembiraan nampak jelas diwajah mereka. Bang Theo dan mbak Fani sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Denis setelah jatuh ke jurang. Denis menceritakan semua yang ingin diketahui oleh mereka.


"Kamu tahu? Kami semua sangat mengkhawatirkan kamu setelah kejadian itu. Dan kami selalu mendoakan yang terbaik buat kamu." Mbak Fani mengusap lembut bahu Denis, membuat Denis jadi sangat terharu dengan perlakuan wanita itu.


"Terima kasih mbak. Gue bisa selamat pastinya karena do'a kalian."


"Jadi, orang yang sudah mencelakakan Alex itu, orang dekatnya?" Tanya bang Theo.


"Iya bang. Dia adalah ibu tirinya yang serakah, bekerja sama sama kekasih gelapnya yang juga orang kepercayaan papanya Alex. Itu yang membuat Alex sangat terpukul."

__ADS_1


Mereka terdiam untuk sesaat.


"O iya bang. Kalau abang lihat orang ini.." Denis merogoh handphonenya.


Ternyata dia mematikan handphonenya seharian ini. Segera dia mengaktifkan lagi handphonenya. Mencari foto Tania dan Bisma yang sudah ia simpan di galeri. Kemudian menunjukkannya kepada bang Theo.


"Kalau abang lihat orang ini, Abang harus segera kasih tahu gue. Dua orang ini kabur dan sekarang tidak tahu berada dimana. Semua anak buah Alex sedang mencarinya."


Bang Theo memperhatikan betul-betul wajah dua orang yang Denis tunjukkan. Begitu juga dengan mbak Fani dan Sisil. Mereka merekam wajah itu diingatan mereka. Siapa tahu suatu saat tanpa sengaja mereka bertemu dengan kedua orang itu. Bisa saja fi bengkel atau di rumah sakit. Atau dimana saja.


"Jadi, ini ibu tirinya dan pria ini kekasih gelapnya?" Tanya bang Theo sambil terus memperhatikan foto kedua orang itu.


"Ya. Dan pria ini, dialah yang sudah menyuruh orang buat melenyapkan Alex ketika kita menemukannya pertama kali. Dan dialah yang sudah menembak Alex dan mendorong gue masuk kedalam jurang waktu itu."


"Ya ampun. Berarti dia ini orang yang sangat kejam ya.." Mbak Fani menutup mulutnya dengan sangat terkejut mengetahui kenyataan itu.


"Begitulah. Dan gue merasa yakin kalau kelumpuhan papanya Alex sehingga beliau meninggal juga ada campur tangan orang ini. Dia bisa melakukan apa saja, 'kan?"


"Ya. Itu sangat mungkin terjadi. Apa kemarin jenazah pak Arga Dinata tidak diautopsi? Mungkin saja kan kita akan tahu penyebab pasti kematian beliau?" Bang Theo menatap istrinya.


"Sepertinya Alex tidak mengajukan hal itu. Kalau dia yang meminta, tim dokter pasti akan melakukannya." Jelas mbak Fani.


"Gue rasa, itu hanya akan menambah kesedihan Alex." Ujar Denis pelan. Mbak Fani dan bang Theo menganggukkan kepalanya memahami apa yang diucapkan Denis.


Setelah selesai makan malam, mereka kembali keruang keluarga.


"Nginap aja disini. Ada kamar kosong dibelakang." Kata bang Theo ketika melihat Denis memeriksa jam di tangannya.


"Kak Denis tinggal disini aja. Sama kita. Ya 'kan, pa?" Sisil mencicit menimpali ucapan papanya.


"Maaf gue harus pergi, bang. Ada janji sama temen."


"Kapan-kapan ajak Sisil jalan-jalan ya, kak Denis. Dulu kan kita gak jadi waktu Sisil ngajak kak Denis jalan." Sisil merengut mengingat kenangan buruk yang pernah menimpanya. Saat itu dia hampir saja bisa mengajak Denis jalan-jalan bersama teman-temannya. Mengingat hal itu, otomatis membuat Sisil kembali mengingat sahabatnya yang dia tinggalkan.


"Iya deh. Tapi nanti kalau semua masalah ini sudah benar-benar selesai." Ujar Denis.


"Rumah ini selalu terbuka buat kamu, Den. Datanglah kapanpun kamu mau." Kata mbak Fani. Bang Theo mengangguk setuju dengan ucapan istrinya.


"Bengkel juga selalu siap menerima lo. Kapan aja lo mau." Bang Theo menimpali. Denis menatap kedua orang itu penuh haru. Hatinya begitu tersentuh dengan semua kebaikan yang diberikan oleh keluarga bang Theo. Ingin rasanya dia kembali tinggal bersama keluarga itu.


Setelah dirasa cukup ngobrol dengan keluarga itu, Denis kemudian pamit untuk pergi menemui teman-temannya yang lain. Siapa lagi kalau bukan Jack dan Nerrow serta komunitas balapan liar mereka. Tapi tentu dia tidak mengatakan hal itu kepada bang Theo. Cukup dia mengatakan bahwa akan menemui teman lamanya.


Bang Theo mengantar Denis sampai kehalaman rumah. Dia mewanti-wanti agar Denis kembali mengunjungi mereka kalau ada waktu. Denis berjanji akan datang lagi. Kemudian dia menyalakan motornya dan meninggalkan bang Theo yang terus memperhatikannya sampai Denis menghilang dari pandangan matanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2