Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh


__ADS_3

Alex berjanji untuk menjemput Denis jam sepuluh pagi. Diperkirakan saat itu pekerjaannya sedikit longgar setelah briefing pagi dengan salah satu bagian diperusahannya. Dia harus memastikan semuanya berjalan dengan baik sebelum dia mengambil cuti pernikahannya yang dijadwalkan akan menghabiskan waktu dua minggu plus bulan madu kejutan untuk Denis.


Dia tidak mengatakan pada Denis rencananya itu karena dia yakin Denis tidak akan mau melakukannya. Sudah dapat dibayangkan bagaimna penolakan gadis itu jika Alex mengemukakan keinginannya untuk mengajak Denis bulan madu.


Sekitar pukul delapan ternyata Alex sudah menelepon Denis. Dia bilang kalau saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju rumah Denis untuk menjemput gadis itu.


"Kamu bilang jam sepuluh 'kan? Kenapa sekarang sudah mau menjemputku?" Denis menggerutu. Dia baru saja melakukan olahraga ringan melatih otot-ototnya yang jarang dia gerakkan akhir-akhir ini. Keringatnya belum kering kalau harus langsung mandi saat itu juga.


"Ada hal yang gak terduga. Pokoknya sekarang kamu siap-siap biar kita bisa langsung berangkat."


"Ada apa sih? Kayaknya serius banget?" Denis mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya.


"Nanti saja aku jelaskan. Sekarang kamu mandi, baunya sampai sini tau?"


Masih sempat Alex bercanda walaupun sangat jelas kalau dia sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Denis melemparkan ponselnya ke atas kasur setelah Alex menutup sambungan telepon. Dia kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tepat ketika Denis selesai berpakaian, mobil Alex memasuki halaman rumahnya. Dengan langkah lebar dia masuk kedalam rumah dan berpapasan dengan Davin yang baru turun dari lantai atas.


"Mana Denis?" Tanyanya tanpa menghentikan langkahnya.


"Masih dikamarnya kali. Ada apa kayaknya buru-buru banget? Udah kebelet ya?" Davin nyengir memperlihatkan barisan giginya yang berjejer rapi. Alex melayangkan tangannya untuk menjitak kepala calon adik iparnya itu sambil melangkah melewati Davin.


"Otak kamu tuh.."


Untunglah Davin sangat cepat berkelit sehingga tangan Alex tidak sempat mengenai kepalanya.


"Eh..siapa tahu lo kebelet pengen ke toilet." Davin tertawa ngakak. Alex hanya mendengus menanggapi candaan Davin tanpa menghentikan langkahnya.


Belum sempat Alex menaiki separuh anak tangga, Denis sudah muncul dari atas dengan pakaian yang sudah rapi. Ya, tentu saja dengan stelan kesukaannya. Celana jeans dan jaket kulit warna coklat yang dilapis kaos bagian dalamnya. Rambut cepaknya nampak masih sedikit basah membuat wajahnya nampak sangat segar. Sepatu ketsnya berdecit saat menyentuh lantai.


Alex menghentikan langkahnya dan menunggu sampai Denis dekat dengannya sambil menatap kekasihnya dengan takjub. Wajah polos tanpa make up. Nampak sangat natural dan..cantik.


Saat langkah Denis sudah dekat dengannya, Alex membalikkan tubuhnya. Mereka kemudian berjalan beriringan menuruni anak tangga.


""Buru-buru banget ya?" Tanya Denis.


"Iya. Kita harus cepat."


"Ada apa sih? Kalian mau kemana?" Davin masih penasaran karena belum mendapat jawaban dari Alex.


Alex menghentikan langkahnya. Nampak menimbang sesaat sebelum menjawab pertanyaan Davin.


"Reno masuk rumah sakit."


"Reno? Kenapa?" Denis menatap Alex.


"Dia berkelahi dengan tahanan lain. Dan..dia mendapat luka tusuk diperutnya."


"Apa?" Denis jelas sangat terkejut. "Apa lukanya serius?"


"Sepertinya begitu. Kita harus segera kesana." Alex segera menuju mobilnya diikuti oleh Denis yang mengikuti langkahnya tanpa bertanya lagi. Davin hanya memandang kedua orang itu berlalu menggunakan mobil Alex.


"Siapa ngasih tahu kamu?" Denis bertanya sesat setelah mobil meninggalkan rumahnya.


"Pengacara yang waktu itu, Pak Arifin. Aku juga lagi meeting tadi sebenarnya. Aku tunda saja. Padahal meeting tadi urgent banget." Alex menatap lurus kejalan yang dilaluinya. Matanya menyiratkan kekhawatiran yang tersembunyi.

__ADS_1


"Apa lukanya parah?"


"Sepertinya begitu. Pak Arifin bilang, Reno langsung dibawa ke ruang IGD rumah sakit. Namun dia dikhawatirkan kehilangan banyak darah akibat dari luka itu."


Denis menghela nafas. Dia menyentuh bahu Alex dan mengusapnya pelan.


"Sabar, ya. Kamu harus tenang. Aku yakin adik kamu itu kuat. Dia pasti akan baik-baik saja." Denis mencoba untuk menenangkan Alex.


Alex menoleh sesaat kepada Denis. Ditatapnya wajah yang menunjukkan simpati kepada dirinya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Alex kembali menatap jalanan yang sedikit macet. Hatinya berkecamuk. Denis menyangka Reno adalah adiknya. Dia tidak tahu hal yang sebenarnya. Dia tidak tahu kalau dia masih memiliki satu rahasia lagi yang tersimpan rapi selama bertahun-tahun.


Mobil yang membawa Denis dan Alex akhirnya tiba dirumah sakit tempat Reno dirawat. Beberapa anggota polisi nampak berjaga didepan ruangan tempat Reno berada.


Pengacara yang menangani kasus Reno juga sudah berada disana. Dia segera menghampiri Alex dan Denis yang baru datang. Tangannya langsung terulur untuk menyalami Alex.


"Pak Alex. Syukurlah anda sudah datang." Pak Arifin, pengacara itu tersenyum lega. Nampaknya dia sudah menunggu Alex sejak tadi.


"Bagaimana keadaan Reno?"


"Dia sudah diruang operasi. Namun ada masalah, Pak."


"Masalah apa?"


"Dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan darah secepatnya. Namun stok darah yang dibutuhkan Reno sedang kosong. Dan kita harus secepatnya mendapatkan darah itu. Jika tidak, nyawanya tidak akan tertolong."


Alex tertegun mendengar penjelasan dari Pak Arifin. Begitu juga Denis. Matanya menatap Alex penuh kekhawatiran. Dia sangat bersimpati atas semua yang terjadi kepada Alex. Seolah masalah selalu datang silih berganti menghampiri pria yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya itu.


"Kalau saja darahku cocok dengan Reno aku mau banget mendonorkan darahku untuk adik kamu." Ucap Denis.


"Bagaimana kalau kita coba periksa dulu darah kamu siapa tahu cocok." Alex menatap Denis penuh harap. Denis mengangguk.


Tidak memerlukan waktu yang lama, petugas sudah mendapatkan hasil dari pemeriksaan darah Denis. Reno sangat beruntung karena ternyata darah Denis bisa ditransfusikan kepada Reno.


Petugas segera membawa Denis ke ruangan dimana Reno berada. Dia akan melakukan transfusi darah secara langsung kepada Reno yang masih belum sadarkan diri.


Alex terus mendampingi Denis selama proses transfusi darah dilakukan.


Dia tetap berada disamping Denis. Membelai lembut kening gadis itu yang basah dengan sedikit keringat. Selang sudah terpasang dengan jarum menancap di lengan atasnya.


"Sabar, ya. Ini sedikit lama." Alex menarik sebuah kursi dan duduk disamping Denis. Kalau saja darahnya cocok dengan Reno, tentu diapun mau untuk memberikan darahnya pada pria itu. Namun sayang sekali, ternyata darah Alex tidak cocok dan Denislah yang kini terbaring disini dengan darah yang mulai mengalir menuju tubuh Reno.


"Kamu kalau mau kembali ke kantor, pergi aja. Aku gak apa-apa sendiri disini." Ujar Denis seraya menatap kekasihnya itu.


"Enggak. Aku mau disini nemenin kamu." Alex meraup jemari Denis dan mengusap-usapnya pelan. Tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu.


"Tapi kamu bilang sedang banyak yang urgent."


"Kamu lebih penting dari semua itu."


"Gombal." Denis mencibir. Namun tak urung pipinya memerah dan matanya mengerjap beberapa kali. Entah kenapa dia mudah sekali blushing dengan kata-kata manis yang dilontarkan oleh Alex.


"Apa aku kelihatan bercanda? Aku serius."


"Tapi ada yang lebih penting dari aku saat ini."


"Apa?"

__ADS_1


"Adik kamu." Denis melirikkan matanya ke arah Reno yang terbaring diam dibrankar sebelah.


Alex mengikuti arah mata Denis. Disana, Reno dengan wajahnya yang pucat dan alat yang berbunyi teratur mendominasi suasana dalam ruangan itu.


Alex menghela nafas. Tatapannya beralih kembali kepada Denis. Lidahnya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada Denis. Namun hatinya tidak mengijinkan itu. Dia merasa belum saatnya untuk Denis mengetahui semuanya. Biarlah seperti ini untuk saat ini.


"Kamu tidak memberi tahu mamanya?" Tanya Denis lagi setelah melihat Alex hanya terdiam.


"Kurasa gak usah. Aku tidak mau mama Tania merasa khawatir." Dengan suara berat Alex menjawab.


"Kamu sudah tidak marah padanya?"


"Aku masih marah. Tapi sudah semakin berkurang. Sudahlah. Kamu jangan terlalu banyak bicara. Sebaiknya simpan energi kamu."


"Kamu yang mengajakku bicara terus." Denis melirik sinis pria yang setia duduk disampingnya itu.


"Yah. Kamu lucu banget kalau bicara. Aku suka." Kejahilan Alex keluar. Senyuman nakalnya terlihat sangat mengerikan.


*****


"Kenapa dia masih belum sadar juga?" Tanya Alex kepada dokter yang sedang memeriksa Reno.


"Kami sudah melakukan semua yang terbaik untuknya. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Harap bapak bersabar dan kita berdoa untuk kesembuhannya."


Saat ini Reno sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya yang belum keluar dari zona kritis membuat dia harus berada diruangan itu hingga ada keajaiban yang membuatnya tersadar.


Denis masih merasa sedikit lemas dan dia hanya duduk disofa yang tersedia diruangan itu.


Dokter keluar setelah memastikan semuanya berada dalam keadaan yang seharusnya.


Alex menjatuhkan tubuhnya disamping Denis. Mengalihkan perhatiannya dari tubuh Reno kepada Denis yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam.


"Kamu mau sesuatu?"


"Enggak."


"Kalau gitu kamu tidur aja. Sini." Alex menggeser duduknya. Menepuk pahanya menyuruh Denis merebahkan kepalanya disana.


Denis menyipitkan matanya menatap pria itu.


"Ayolah. Kamu butuh istirahat buat memulihkan kondisi kamu." Alex menarik tangan gadis itu. Denis tidak menolak. Tubuhnya semakin condong dan akhirnya dia merebahkan tubuhnya disofa dengan kepala berada dipangkuan Alex.


Sesaaat keduanya saling menatap dengan wajah sejajar. Alex membelai lembut kening gadis itu diteruskan ke pipi yang masih sedikit pucat.


"Terima kasih. Kamu sudah mau memberikan darah kamu buat Reno." Matanya menyapu seluruh wajah Denis dengan lembut.


"Gak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku lakukan itu. Walau itu bukan Reno."


"Kamu punya hati yang sangat mulia. Itu sebabnya aku jatuh cinta sama kamu."


"Mulai deh." Denis memutar bola matanya. Bukan dia tidak suka kata-kata romantis dari pria itu, namun yang sebenarnya adalah, dia tidak tahan dengan jantungnya yang selalu melompat-lompat saat Alex mengungkapkan kata-kata cinta padanya. Dia juga merasa wajahnya memanas setiap kali Alex melontarkan rayuan dan kata-kata manis padanya. Denis jengah. Dia tidak tahu harus menjawab apa untuk membalas ucapan cinta dari pria itu.


"Kamu menyuruh aku tidur atau mau terus bicara?"


"Baiklah. Sekarang aku gak akan ganggu kamu. Tidurlah, calon istriku yang cantik." Alex menunduk, mengecup kening gadis itu sesaat. Kemudian kembali menegakkan kepalanya dan menyandarkannya di sofa. Tangan kanannya menumpang diatas perut Denis dan satu tangannya membelai kepala Denis perlahan.


Tiba-tiba gumaman samar terdengar dari arah Reno yang terbaring lemah. Alex dan Denis yang baru saja memejamkan mata sama-sama kembali membuka mata mereka dan menajamkan pendengaran mereka. Fokus mereka kepada Reno yang masih dalam posisi sama saat ditinggalkan oleh dokter tadi.

__ADS_1


"Papa.."


******


__ADS_2