
Suara musik yang berdentum memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar. Tapi begitu mengasyikan bagi orang-orang yang mencari kesenangan dimalam yang semakin merangkak naik. Bagi sebagian orang, malam adalah waktu dimana tubuh mendapatkan haknya untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Namun bagi sebagian lagi, malam adalah waktunya untuk bersenang-senang ditempat-tempat yang tidak bisa didapatkan di waktu siang.
Redup lampu kadang diselingi sorotan ke sembarang arah dengan warna yang berpendar. Asap mengepul dari mulut-mulut yang meniupkan seolah sedang melepaskan beban kehidupan yang mendera sepanjang siang mereka. Pria maupun wanita, berbaur menjadi satu dalam gerakan yang ekspresif. Semua orang bebas melakukan apapun yang mereka inginkan untuk mendapatkan kesenangan.
Disebuah ruangan private, nampak tiga orang pria sedang meneguk minumannya diselingi obrolan ringan diantara mereka. Bau alkohol menyeruak bercampur dengan bau tembakau.
"O iya, Ren. Gimana kabar kasus kecelakaan kakak lo?" Dimas, seorang pria yang bertubuh tidak terlalu tinggi tapi berwajah cukup manis. Dia mengalihkan topik dari hal yang sedang jadi bahan pembicaraan mereka. Suaranya agak mengambang efek dari minuman yang sedang mereka konsumsi.
Reno, menghisap rokoknya dan meniupkan asapnya ke udara sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Sudah ditangani polisi. Kita cuma bisa nunggu aja." Sahutnya dengan suara datar. Suara musik yang bising membuat mereka harus bicara agak keras.
"Sabar, bro. Gue yakin, polisi pasti akan segera menemukan penyebab kecelakaan itu." Bian, pria dengan tubuh setinggi Reno dan berbadan atletis. Berkulit putih dan memiliki wajah yang tampan. Dia menepuk-nepuk bahu Reno. Reno cuma meringis. Tersenyum miris.
"Gak nyangka banget ya. Alex meninggal dengan cara yang tragis begitu." Dimas mendecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia sangat mengenal Alex. Bukan saja karena Alex merupakan kakaknya Reno, tapi dia juga sering berurusan dengan Alex dalam hal pekerjaan. Perusahaan yang sedang dirintisnya sekarang bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Alex. Dia mengenal Alex sebagai seorang yang baik dan penuh tanggung jawab.
"Aku dengar selentingan katanya mobilnya rem blong, ya?" Bian menatap Reno dengan tatapan yang penuh rasa simpati.
"Itu baru dugaan awal. Kita gak tahu yang sebenarnya. Bisa juga karena faktor kelelahan. Dia nyetir sendiri waktu itu." Reno mengangkat dua bahunya.
"Gila ya. Pergi keluar kota bawa mobil sendiri. Harusnya kan dia bawa sopir." Dimas mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau gue sih pastinya pake sopir kalau jarak jauh."
Sesaat mereka terdiam menekuri gelas masing-masing yang separuh isinya sudah mereka habiskan.
"Sudahlah. Kita disini buat senang-senang, bukan buat bersedih. Lo boleh aja sedih, tapi nanti aja kalau lo udah balik ke rumah." Dimas mengangkat gelasnya, diikuti oleh dua sahabatnya. Reno meneguk habis minumannya. Terasa agak seret ditenggorokannya. Dengan susah payah dia menelan cairan yang tiba-tiba terasa pahit.
Getaran disaku celana terasa mengusiknya. Dirogohnya benda pipih yang tersimpan disana. Dilihatnya nama yang tertera dilayar. Dia memberi isyarat kepada kedua temannya sebelum menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo. Mama?"
"Kamu dimana? Mama nungguin kamu dari tadi. Kenapa belum pulang?" suara mamanya langsung menyergapnya membuat dia terkesiap karena baru saja mengingat sesuatu.
"Ya Tuhan, mama. Maafin Reno. Reno bener-bener lupa udah janji sama mama." Reno menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam rapat. Tangannya mengusap rambutnya dengan gusar.
"Mama gak mau tahu. Pokoknya kamu harus pulang sekarang juga."
Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Tania langsung menutup sambungan telepon. Reno terhenyak. Ditatapnya sesaat layar ponselnya.Kemudian menoleh kearah kedua sahabatnya yang sedang memperhatikannya.
"Sorry banget, bro. Gue baru inget kalau gue udah janji sama mama gue. Gue harus balik sekarang." Ujarnya dengan suara penuh penyesalan. Padahal dia sudah setuju untuk menghabiskan malam ini bersama kedua sahabatnya itu.
"Lo memang anak mama. Jam segini harusnya lo udah bobo 'kan?" Dimas meledek Reno yang ditanggapi dengan ringisan oleh sahabatnya itu.
"Sorry banget. Gue janji, setelah urusan sama mama selesai, gue balik lagi kesini."
__ADS_1
"Gak usah janji lo, nyantei aja." Bian menepuk bahu Reno.
"Lo telpon aja kalau lo butuh kita. Iya enggak?" Dimas menimpali yang diangguki oleh Bian. Reno tersenyum sambil memasukan lagi ponsel ke dalam saku celananya.
"Thanks ya, bro." Reno mengarahkan telapak tangannya pada dua sahabatnya yang kemudian dibalas tepukan hangat dari kedua temannya secara bergantian.
Reno baru saja membalikkan tubuhnya ketika sepasang tangan melingkar diperutnya. Seorang gadis cantik tersenyum manja dengan mata indahnya yang mengerjap.
"Hai, sayang. Apa kabar?" sapa gadis itu dengan suara lembutnya. Reno tertegun sesaat, tapi kemudian dia menarik kedua tangan gadis itu agar melonggarkan pelukannya.
"Rinda, sedang apa disini? Sama siapa?"
"Aku sengaja nyari kamu, sayang. Aku tahu kamu ada disini." Gadis itu mencium pipi Reno bergantian dari kiri ke kanan. Reno memutar matanya jengah dengan yang dilakukan oleh Rinda.
"Darimana kamu tahu aku ada disini?" Dia sedikit merenggangkan tubuhnya dari gadis itu. Tapi belum bisa menyingkirkan tangan yang bergelayut dilengannya.
"Aku tahu tempat favoritmu, sayang. Lagipula feeling aku yang kuat sama kamu yang bikin aku selalu bisa menemukan kamu." Rinda mengerlingkan matanya menggoda. Reno hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat gelagat gadis yang sekarang sedang membelitnya itu.
Kalau pria lain, pastinya tak akan ada yang sanggup menolak pesona gadis secantik Rinda. Seorang gadis dengan wajah yang sangat cantik, bentuk tubuh yang sempurna dan dibalut pakaian branded yang membuatnya semakin menawan. Putri dari seorang pengusaha ternama dan lulusan luar negeri.
Sudah sejak lama dia menaruh hati pada Reno. Berulangkali dia menunjukkan perasaannya pada pria itu tanpa basa-basi, tapi tak sedikitpun dia mendapat balasan dari pria idaman hatinya itu.
Hati Reno tak pernah tergoyahkan dengan kecantikan dan kemanjaan gadis itu. Juga dengan sikapnya yang selalu menggoda. Reno tak menunjukan ketertarikannya pada gadis itu, karena dihatinya sudah ada satu nama. Dia tidak menginginkan gadis lain selain gadis yang sudah tinggal didalam singgasana hatinya.
"Aku baru saja datang dan kamu sudah mau pulang?" gadis itu merengut manja. Bibirnya yang berwarna merah muda mengerucut. Menggemaskan bagi siapa saja yang melihat. Tapi tidak bagi Reno. Dia tidak suka melihat sikap manja gadis itu. Justru dia menjadi muak melihatnya. Tapi tentu saja Rinda tidak tahu hal itu.
"Aku memang sudah mau pulang sebelum kamu datang. Tanya saja sama mereka." Reno mengangkat dagunya menunjuk dua pria dibalik punggung Rinda yang sedang menahan tawa melihat Reno yang sedang terjebak dengan kehadiran Rinda.
"Iya, Rin. Barusan tante Tania nelpon. Beneran kok." Dimas bersuara. Bagaimanapun dia merasa kasihan melihat Reno yang tidak bisa melepaskan diri dari Rinda. "Reno udah ditungguin mamanya dari tadi."
"Kamu sama kita aja, Rin." Bian menimpali. Tatapan matanya yang penuh pemujaan terhadap gadis itu nampak sangat jelas. Rinda mendengus kesal.
"Bener ya kamu pergi bukan karena aku?"
"Enggak sama sekali. Maaf banget Rinda. Aku harus pergi sekarang."
Dengan susah payah akhirnya Reno bisa melepaskan dirinya dari belitan tangan gadis itu. Dengan langkah lebar dia meninggalkan tempat itu diiringi tatapan Rinda yang kecewa karena tidak bisa menahan pria itu untuk bersamanya.
"Sudahlah Rin. Kamu gak usah kecewa gitu. Gimana kalau kita bersenang-senang sambil nunggu Reno kembali kesini?" Bian berusaha membujuk gadis cantik itu. Rinda menoleh cepat kearah Bian mendengar ucapan pria itu.
"Dia akan kembali kesini?" tanyanya antusias. Matanya yang tadi menyorot kecewa sekarang berbinar penuh harap.
"Dia bilang sih begitu. Kalau urusan sama mamanya selesai, dia bilang dia balik lagi kesini. Iya gak Dim?" Bian meminta dukungan pada Dimas yang dibalas dengan anggukan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Yoi. Kamu duduk aja disini sama kita. Or wanna dance?" Dimas tersenyum menatap gadis itu. Melirik kearah Bian yang memberi kode padanya agar membiarkan gadis itu bersamanya.
"Aku nunggu dia disini aja. Lagi males turun." ucapan gadis itu disambut senyuman manis Bian.
Dimas tahu Bian tertarik pada Rinda. Ini sepertinya kesempatan Bian untuk dapat mendekati gadis itu. Walaupun Rinda suka sama Reno, tapi Reno tak sedikitpun memberi kesempatan pada gadis itu untuk mendekatinya. Jadi gak ada salahnya kalau Bian masuk untuk mulai usahanya mendapatkan gadis itu.
Bian memesankan minuman untuk Rinda setelah gadis itu setuju untuk gabung dengan mereka.
"Kamu gak usah sedih Rin. Aku akan nemenin kamu malam ini." Bian mengacungkan gelas minumannya diikuti oleh Rinda. Mereka mengadukan gelas dan meneguk cairan didalamnya bersama-sama. Senyuman penuh arti terukir dibibir Bian. Diam-diam, Dimas meninggalkan dua orang itu didalam ruangan minim cahaya ditemani minuman yang memabukan.
*****
"Mama."
Reno mencium kedua pipi mamanya bergantian. Tak lupa dia tersenyum dan menyapa seorang pria yang sudah duduk disofa yang ada diruang kerja mamanya. Sebenarnya ruangan itu merupakan ruang kerja milik papanya. Tapi sejak papanya sakit beberapa bulan lalu, mamanya lebih sering berada diruangan ini untuk melakukan pengambil-alihan pekerjaan di perusahaan. Bisma sebagai asisten kepercayaan papanya sejak bertahun-tahun yang lalu, selalu setia menemani mamanya diruangan ini. Bahkan kemanapun mamanya pergi, Bisma selalu ada dimanapun mamanya berada.
"Kamu janji buat makan malam dirumah. Tapi jangankan makan malam, bahkan mama harus nelpon kamu baru kamu pulang ke rumah." Sorot mata mamanya tajam, menatap wajah putra kesayangannya yang nampak penuh sesal.
"Reno minta maaf, Ma. Reno benar-benar lupa. Tadi ketemu Dimas sama Bian. Ngobrol-ngobrol jadinya lupa. Maafin Reno ya, ma."
"Kamu harusnya ingat, Ren. Sekarang ini, keluarga kita sedang jadi sorotan karena kasus yang menimpa kakak kamu. Wartawan ada dimana-mana. Kalau mereka melihat kamu lagi bersenang-srnang sama teman-teman kamu, apa yang akan mereka pikirkan? Baru aja kemaren kita nangis-nangis dipemakaman kakak kamu 'kan?" Tania masih kesal dengan putranya.
"Sudahlah Tania. Gak usah marah-marah begitu. Reno kan sudah minta maaf." Bisma yang dari tadi diam mencoba mendinginkan suasana.
"Jangan membelanya, Bisma. Dia harusnya tidak keluyuran sembarangan dalam keadaan begini." Tania berbalik menyemprot Bisma. Bisma mengangkat dua tangannya sambil tersenyum tipis melirik Reno. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Tania.
"Oke. Reno mengaku salah. Sekarang, apa yang membuat mama menyuruh Reno pulang?" Reno melembutkan suaranya. Dia tidak mau membuat mamanya bertambah marah kepadanya. Dia tahu, sekeras apapun mamanya, dia akan kalah dengan sikapnya yang mengalah dan manis. Sebagai seorang wanita, mamanya tidak suka jika kata-katanya mendapat sanggahan. Reno sangat tahu sifat mamanya.
"Mama sudah bilang, kamu gak boleh keluyuran sembarangan. Kamu harus menunjukan kepada semua orang kalau kamu sedang berkabung. Mama gak mau kalau ada lawan bisnis kita melihat kamu lagi senang-senang sama teman-teman kamu. Mereka akan jadikan itu sebagai senjata untuk menentang kita. Mama harap kamu berpikir jauh sebelum melakukan sesuatu." Mamanya belum selesai rupanya. Reno menundukan pandangannya. Sepertinya ini akan memakan waktu lama untuk mendengarkan petuah dari mamanya.
Disisi lain, Bisma mengulum senyumnya, memperhatikan wanita yang sedang panjang lebar membebeli Reno. Tatapannya semakin dalam menatap bibir tipis Tania yang bergerak-gerak tiada henti. Merah dan basah. Nampak sangat seksi dan sangat menggoda. Tak sadar lelaki itu membasahi bibirnya sendiri dengan tatapan masih fokus pada bibir Tania.
Merasa ada yang memaku wajahnya, Tania mengalihkan tatapannya pada Bisma. Dia melebarkan matanya kepada pria itu dengan pipi yang bersemu merah. Sangat mengerti dengan arti tatapan dari pria paruh baya yang nampak masih sangat menawan itu. Diliriknya putranya yang masih menundukkan pandangannya, tidak menyadari dengan adanya kode rahasia diantara mama dan om kesayangannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*****