Rahasia Denis

Rahasia Denis
Enam Puluh Tujuh


__ADS_3

Dengan berbagai pertimbangan, Alex membawa Denis pulang kerumahnya. Denis mengggelengkan kepalanya ketika Alex memberinya pilihan untuk pulang ke rumah Rania. Dan dia hanya diam saat Alex mengatakan akan membawa Denis ke rumahnya.


"Perlu aku gendong?" Tanya Alex saat mereka tiba dikediaman Alex. Gadis itu hanya diam termangu tidak segera turun dari mobil untuk waktu yang cukup lama setelah mobil berhenti.


"Tidak usah."


Denis menurunkan kakinya. Namun saat hendak melangkah, tubuhnya terhuyung dan langsung ambruk tak sadarkan diri.


Alex terkejut. Segera dia mengangkat tubuh Denis dan membawanya memasuki rumahnya.


Direbahkannya tubuh Denis diatas pembaringan dikamar yang biasa dia tempati selama berada dirumah Alex.


Alex menyuruh Faisal untuk memberitahu Rania kalau dia membawa Denis pulang kerumahnya. Namun dia melarang Faisal untuk memberitahu keadaan Denis yang tidak sadarkan diri saat ini. Dia tidak mau kalau sampai Rania mengkhawatirkan Denis pada saat dirinya sendiri sedang ada dalam keadaan terpuruk.


Setelah itu Alex menelepon mbak Fani. Dia mengabarkan kepada mbak Fani kalau Denis sudah ditemukan. Tentu Alex tidak ingin membuat mbak Fani merasa risau memikirkan Denis yang telah pergi dari rumah sakit dengan cara yang tidak wajar. Kepada mbak Fani Alex menceritakan keadaan Denis yang sedang terbaring lemah. Dia meminta mbak Fani untuk datang dan memeriksa keadaan Denis.


Setelah selesai dengan teleponnya, Alex duduk disamping tubuh Denis. Ditatapnya wajah Denis yang nampak begitu pucat. Hati Alex begitu trenyuh melihat keadaan gadis yang dicintainya itu. Keadaannya sangat memprihatinkan. Belum lagi keadaan batinnya yang pastinya sangat terguncang. Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis itu hingga mampu menghadapi kerasnya kehidupan.


Miris sekali saat mengingat pertengkaran antara Rania dan ibunya dihadapan Denis tadi. Alex mengikuti semuanya sejak awal. Hanya saja Andres telah melarang dia untuk memasuki kamar itu. Andres bilang itu adalah masalah keluarga yang harus diselesaikan oleh Rania dan Aryanti. Tidak pernah dia menduga sedikitpun akhirnya akan seperti itu. Kepedihan Denis pasti teramat dalam.


"Dokter Fani ada diluar, pak."


Faisal memasuki kamar. Matanya melihat kearah Denis yang terbaring diam diatas tempat tidur.


"Bawa kemari."


"Baik."


Tidak lama kemudian mbak Fani sudah memasuki kamar Denis.


"Alex."


"Mbak Fani. Lihatlah keadaannya. Wajahnya pucat sekali. Dia tak sadarkan diri sejak turun dari mobil tadi."


"Terima kasih karena sudah percaya sama mbak."


"Maafkan saya karena sudah marah didepan mbak Fani. Saya hanya merasa sangat khawatir sama Denis."


"Mbak mengerti. Baiklah. Mbak akan memeriksa Denis sebentar."


Alex mengangguk. Dia memundurkan dirinya memberi ruang kepada mbak Fani untuk memeriksa Denis.


"Bagaimana mbak?" tanya Alex saat melihat mbak Fani sudah selesai memeriksa Denis.


"Sepertinya tidak perlu terlalu khawatir. Dia hanya perlu istirahat. Kondisinya belum benar-benar sehat saat keluar dari rumah sakit. Tapi, apa yang terjadi sehingga dia drop begini? Saat orang itu membawanya pergi, dia kelihatan baik-baik saja."


"Dia..dia mendapat pukulan batin yang sangat hebat."


Alex kembali duduk disisi pembaringan, tempat dimana dia duduk sebelum mbak Fani datang.


"Nanti setelah dia sadar, dia harus makan dan minum obat."


"Baik."


"Mbak berharap dia baik-baik saja. Mbak gak nyangka ternyata dia memiliki kehidupan yang rumit."


"Ya, begitulah."


"Sekarang mbak pulang dulu. Kalau perlu bantuan mbak, telepon saja jangan sungkan."


"Baik, mbak."


Mbak Fani merapikan peralatan yang baru saja dia gunakan. Setelah pamit sekali lagi kepada Alex, dia segera berlalu dari kamar Denis.

__ADS_1


Dengan diantar Faisal, mbak Fani keluar dari rumah Alex. Diam-diam dia mengagumi rumah megah Alex yang sangat diluar dugaannya. Teringat kisah masa lalu bagaimana Alex bisa masuk kedalam kehidupan dia dan keluarganya. Sangat tak disangka, ternyata Alex adalah seseorang yang memiliki harta berlimpah dan merupakan salah satu pengusaha terkenal di ibukota.


Didalam kamar, Alex masih tak beranjak dari samping Denis. Digosok-gosoknya dengan lembut tangan Denis. Tatapannya tak berpindah dari wajah Denis yang masih tenang dengan matanya yang rapat.


Teleponnya berbunyi beberapa saat kemudian. Nama Andres tertera dilayar. Alex segera menjawab panggilan telepon itu.


"Hallo.."


Ternyata Rania yang menelepon. Suaranya lemah tak bertenaga. Masih diliputi kesedihan dan kekecewaan yang teramat sangat. Merasa dikhianati oleh ibu kandungnya sendiri.


"Hallo, bu Rania?"


"Bagaimana keadaan Denis? Apa dia baik-baik saja?"


Alex mengerutkan bibirnya. Matanya menatap gadis yang masih terpejam belum mau membuka kelopak matanya. Bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya. Namun dia tidak mau menambah kesedihan wanita itu.


"Dia baik." Akhirnya. "Hanya saja, dia belum bisa bicara dengan anda. Saya akan mencoba untuk membujuknya agar dia mau bicara dengan anda nanti." Tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Hanya untuk sedikit menghibur hati ibunda dari Denis.


"Tidak apa. Tante mengerti. Tante akan terus bersabar menanti hari itu tiba, hari dimana dia mau bicara sama tante dan mau memaafkan tante."


"Saya yakin hari itu akan segera tiba."


"Tante percaya sama kamu. Untuk saat ini, tante menitipkan dia padamu. Tolong jaga dia dengan baik. Tante tidak mau kalau sampai neneknya yang gila itu mencelakai dia."


"Saya akan menjaga dia dengan nyawa saya. Seperti dia yang telah menjaga saya dengan nyawanya." Mungkin terlalu berlebihan, namun itulah yang dia rasakan. Dia ingin menunjukkan sedalam apa perasaannya kepada Denis.


Rania merasa lega setelah bicara dengan Alex. Andai saja dia tahu keadaan Denis yang sebenarnya saat ini, pastinya dia tidak akan bisa tenang sedikitpun.


Setelah sambungan telepon terputus, Alex kembali ke sisi pembaringan. Senyumnya mengembang ketika melihat mata Denis yang sudah terbuka.


"Kamu sudah sadar?" Alex duduk ditempat dia semula duduk. "Apa masih pusing?"


Denis tidak menyahut. Matanya kembali terpejam.


Tidak lama kemudian seorang asisten rumah tangga yang disuruh Faisal untuk mengantar bubur telah datang. Alex mengambil alih mangkuk bubur itu.


"Gue gak mau makan." Desis Denis.


"Kamu harus makan. Apa kamu mau terbaring terus tak berdaya seperti ini? Bahkan kamu tidak bisa melawan orang-orang itu kemarin kan?"


"Gue cuma gak mau ada keributan di rumah sakit." Denis membela diri dengan suaranya yang lemah.


"Tapi kamu tahu siapa mereka dari awal?"


"Gue tahu."


Alex mengangguk.


"Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu semalam. Begitu juga dengan mamamu. Kupikir mereka yang telah mengambilmu. Ternyata mereka tidak tahu apa-apa tentang hal itu."


"Dia tidak pernah mengkhawatirkan gue."


"Mamamu sangat mengkhawatirkanmu. Beliau sangat panik. Dia juga benar-benar menyesal atas apa yang sudah dia lakukan kepadamu di masa lalu."


"Apa lo sudah tahu kalau pria yang menembak gue itu.." Denis merapatkan bibirnya.


"Aku juga baru tahu. Aku sama terkejutnya seperti kamu. Padahal aku sudah mengenalnya sejak lama."


Hening untuk sesaat.


"Gue gak pernah mengenalnya sedikitpun. Dan gue gak pernah mencari tahu tentang dia. Gue gak mau tahu tentang dia. Gue hanya tahu namanya dan gue gak peduli sama sekali orangnya dimana dan seperti apa."


Alex menyentuh sudut mata Denis yang menyembulkan cairan dari sana. Denis memejamkan matanya rapat-rapat. Bibirnya menggeletar menahan perasaannya yang hampir meledak.

__ADS_1


"Menangislah kalau kamu ingin menangis. Bahkan kamu pernah melihat aku menangis 'kan."


Alex merengkuh tubuh Denis. Dan sesuatu yang tidak disangkanya terjadi. Denis melingkarkan tangannya ketubuh Alex. Terasa kuat disertai guncangan tubuhnya. Dia menangis. Jemarinya terasa mencengkeram erat punggung baju Alex.


Alex memejamkan mata. Mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Membiarkannya meluapkan emosinya yang tertahan.


"Kamu tidak sendirian, Denis. Ada aku yang akan selalu berada disisimu. Kita akan melalui semuanya bersama." Bisik Alex dipucuk kepala Denis. Kemudian dia membenamkan kecupannya dirambut Denis, agak lama.


Pelukan Denis mengendur setelah dirinya mulai sedikit tenang. Dia menunduk sehingga keningnya menyentuh bahu Alex. Alex menggapai tissue dan memberikannya kepada gadis itu. Denis menghapus wajahnya yang basah dengan menggunakan tissue itu sambil tetap menunduk.


"Kenapa lo baik banget sama gue?" Suaranya serak.


"Karena aku sayang sama kamu." Alex mengusap lembut rambut pendek Denis. Denis menaikkan tatapannya. Untuk sesaat mata mereka beradu.


Denis mengerjap. Melarikan pandangannya dari mata Alex yang lembut dan membuatnya melayang.


"Aku sudah membatalkan lamaranku pada Viola." Ucapan Alex memaksa Denis untuk kembali menatapnya. "Sejak awal aku memang tidak pernah mencintainya. Tak ada niat sedikitpun untukku bisa hidup dengannya dalam satu ikatan. Namun perasaanku padamu, membuat aku gila dan kehilangan kendali. Aku menyangka diriku sudah gila." Tatapan mereka tak terputus selama Alex mengatakan hal itu.


"Aku pikir, dengan aku melamar Viola dan menikahinya, aku bisa meredam rasaku padamu. Aku tidak tahu kalau kamu adalah seorang gadis. Gadis yang sangat cantik dan tangguh." Entah sejak kapan kening mereka beradu. Saling beradu tatap dalam jarak yang begitu dekat. Nafas mereka berbaur menjadi satu dalam sebuah kehangatan yang nyata. Semakin menyatu dan sesaat kemudian sudah tidak ada jarak lagi diantara keduanya.


Sebuah ciuman yang lembut dipenuhi kasih sayang yang sangat dalam. Alex melepaskannya perlahan dan dapat melihat bibir yang sedikit terkuak dengan mata Denis yang terpejam. Namun wajah itu kemudian menunduk, menyembunyikan rona kemerahan dibahu Alex.


Alex tersenyum bahagia. Sangat bahagia. Dia dapat merasakan kalau tidak ada penolakan sedikitpun dari gadis itu.


"Oya, kamu harus makan dan minum obat." Alex merenggangkan pelukannya.


Denis nampak terkejut seolah baru tersadar dari angan yang membawanya terbang melambung tinggi. Alex sudah membuyarkan suasana romantis diantara mereka. Pipi gadis itu semakin merona. Namun dia segera menguasai dirinya. Menetralkan kegugupan yang sedang menderanya.


"Ayo makanlah. Aku akan menyuapimu." Alex mengambil mangkuk bubur yang sempat dia simpan diatas meja kecil disamping tempat tidur.


"Gue bisa makan sendiri." Denis meraih mangkuk yang masih dipegang Alex.


"Sudahlah. Aku yakin tanganmu belum bisa digunakan untuk mengangkat sendok." Alex menjauhkan mangkuk dari jangkauan tangan Denis.


"Gue gak selemah itu."


"Diamlah. Buka mulutmu. Aaa.."


Mau tidak mau Denis menerima suapan dari tangan Alex. Sedetik mata mereka beradu. Namun detik berikutnya Denis memutuskan kontak mata itu. Pipinya semakin memerah. Ini untuk kedua kalinya dia makan dengan disuapi oleh Alex.


"Kamu ingat ketika kita berada didalam jurang? Saat itu kamu merawatku dengan sangat baik. Kamu juga menyuapiku makan kan? Sekarang, biarkan aku yang merawatmu."


Alex kembali menyendok bubur dan mendekatkannya ke mulut Denis.


"Kalau diingat-ingat, terlalu banyak waktu yang telah kita habiskan bersama. Dan lucunya, aku tidak menyadari kalau kamu adalah seorang gadis. Tapi aku sudah mulai memiliki perasaan berbeda padamu sejak kita berada didalam jurang waktu itu."


Denis terbatuk. Alex segera menyodorkan segelas air ke bibir gadis itu. Denis meminumnya hampir separuh.


"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu adalah seorang perempuan sejak awal?"


"Tidak ada yang menanyakan hal itu."


"Tapi semua orang salah faham jadinya."


"Bukan urusan gue."


"Dasar keras kepala." Alex mengacak pelan pucuk kepala Denis. Senyumannya terus mengembang dibibirnya. Berbeda dengan ekspresi Denis yang selalu berusaha terlihat dingin dan datar. Tak ingin menunjukkan perasaan dia yang sesungguhnya. Namun Alex tak mempermasalahkan itu. Baginya, yang penting Denis tidak menolak apapun yang dia lakukan, itu sudah cukup.


Setelah selesai menyuapi Denis, Alex mengambil obat dan memberikannya kepada Denis.


"Gue gak mau."


"Gak ada penolakan. Atau...."

__ADS_1


******


__ADS_2