Rahasia Denis

Rahasia Denis
Empat Puluh Dua


__ADS_3

Alex menatap sendu wajah tua dengan mata terpejam dihadapannya. Tangannya menggenggam tangan lelaki yang terbaring tak bergerak sedikitpun itu. Hanya dadanya yang turun naik perlahan menandakan masih ada kehidupan disana.


Deritan pintu menandakan seseorang baru saja memasuki ruangan tempat papanya dirawat. Alex menoleh sedikit. Dengan sudut matanya dapat dilihat kalau yang baru saja datang adalah Viola. Gadis itu menenteng sesuatu ditangannya yang kemudian dia letakkan diatas meja yang ada diruangan itu.


Kemudian gadis itu berdiri disamping Alex tanpa bersuara. Menatap tubuh yang terbaring kaku diatas tempat tidur rumah sakit dengan tatapan sendu.


Dia sudah mengenal Arga Dinata sejak lama. Pria itu bersikap sangat baik padanya. Pria itu juga yang membuat dia memiliki harapan besar untuk bisa mendapatkan Alex. Arga Dinata sangat mendukung dirinya untuk bisa menjadi menantu di keluarga itu.


"Apa ada kemajuan?" Suara gadis itu lembut penuh perhatian. Alex menggeleng pelan.


"Kamu sudah makan? Aku membawakanmu makanan." Tanyanya lagi setelah terdiam sesaat.


"Terima kasih. Aku tidak lapar." Ujar Alex tanpa menoleh kepada gadis itu.


Viola menghela nafas. Dia sudah terbiasa dengan penolakan dari Alex. Namun tetap saja rasanya sakit ketika lagi-lagi dia harus mendapatkannya.


"Tapi kamu harus menjaga kesehatanmu sendiri. Bagaimana kamu bisa menjaga papamu kalau kamu jatuh sakit karena tidak makan dengan teratur." Dia masih berusaha untuk mendapatkan perhatian dari pria yang sudah dia kagumi sejak masa remajanya. Satu-satunya pria yang dia inginkan untuk mendampinginya sepanjang hidupnya.


"Aku akan makan kalau aku merasa lapar." Alex menjawab dengan suara datar.


Viola terdiam. Dia dapat mendengar kalau Alex tidak suka dengan perhatiannya. Pria itu sepertinya sedang kesal. Dia harus ekstra sabar dalam menghadapi pria itu.


Seseorang masuk tidak lama kemudian. Alex dan Viola sama-sama menoleh kearah pintu yang kembali ditutup dari dalam.


"Denis." Alex melepaskan tangan papanya dengan hati-hati. Dia kemudian bangkit dan menghampiri Denis.


Denis tersenyum tipis kearah Viola. Kemudian matanya kembali memperhatikan Arga Dinata yang masih berada dalam keadaan sama seperti saat terakhir dia melihatnya.


"Gimana disana? Aman?" Satu pertanyaan yang membuat Viola tidak mengerti arahnya. Namun Denis sangat tahu apa yang ditanyakan oleh Alex.


"Aman. Lo tenang aja."


Alex mengepalkan tangannya. Setiap kali mengingat kedua pengkhianat itu, otaknya langsung mendidih dan hampir meledak karena amarah.


"Sepertinya lo butuh istirahat. Tidurlah sebentar. Biar gue jagain papa lo." Ujar Denis kemudian.


"Kamu sudah makan?" Alex malah melayangkan pertanyaan pada Denis. Membuat Viola yang mendengarnya mengerutkan keningnya.


"Nanti saja."


"Kita makan dulu. Viola bawa makanan kesini." Alex menunjuk kantong yang berada diatas meja. Dia kemudian duduk disofa dan membuka kantong yang dibawa oleh Viola.


Viola terdiam ditempatnya berdiri. Hampir saja dia merasa kalau kehadirannya tidak dianggap oleh Alex. Dia terpana melihat interaksi dua orang itu. Pikiran buruk terus menghantuinya. Teringat lagi ucapan Reno tempo hari. Dia menarik benang merah antara sikap Alex selama ini dan juga apa yang sedang dia saksikan sekarang.


Dilihatnya Denis yang menghampiri Alex dan duduk disamping pria itu.


"Kenapa masih berdiri disana, Vio. Kemarilah. Kita makan sama-sama." Alex menganggukan wajahnya, mengisyaratkan gadis itu agar mendekatinya.


"Tidak apa. Kalian makan saja. Aku akan menjaga om Arga disini." Viola duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Alex.


Hatinya merutuki Alex yang tadi menolak ketika dia tawari makan. Tapi sekarang kelihatannya dia sangat kelaparan ketika Denis menemaninya makan. Ada satu perasaan yang aneh yang menyelusup kedalam hatinya. Apa mungkin yang dikatakan oleh Reno benar adanya? Kalau kedua orang itu terlibat satu hubungan tidak biasa?


Viola bergidik geli. Membayangkannya saja rasanya tidak sanggup. Mana mungkin Alex...


Viola menggelengkan kepalanya. Kemudian menepuknya dua kali.


Alex yang tak sengaja melihat tingkah Viola, mengerutkan keningnya.


"Ada apa, Vio?" Pertanyaannya membuat Denis ikut menatap gadis cantik itu.


"Eh? T_tidak apa-apa..A_aku hanya heran saja. Kenapa aku tidak melihat Reno sejak kemarin. Dia juga tidak menjenguk om Arga."


Viola mengalihkan topik pembicaraan.


Tak disangka justru ucapannya membuat Denis dan Alex terkejut. Mereka saling menatap dengan refleks.


"Kenapa? Apa kamu kangen sama dia?" Alex berusaha mencairkan suasana.


"Apa sih? Aku heran aja. Harusnya dia disini 'kan nemanin kamu? Jagain papanya sendiri?"

__ADS_1


Viola merengut sebal. Dia tidak suka Alex menggodanya tentang Reno. Pria dihadapannya ini benar-benar tidak peka. Justru dirinyalah yang Vio rindukan.


*****


"Denis!" Panggilan seseorang dari belakang membuat Denis menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan mendapati Viola dengan langkah lebar mendekatinya.


Dia baru saja keluar dari ruangan tempat papanya Alex dirawat. Alex tertidur disofa setelah makan siang bersama dengan Denis. Sedangkan Viola berkata pada Denis kalau dia yang akan menjaga Arga Dinata selama Alex tidur.


Denis menatap dingin gadis itu tanpa bersuara sampai gadis itu tiba dihadapannya.


"Bisa kita bicara sebentar?" Nafas gadis itu terdengar sedikit memburu. Mungkin karena dia berjalan tergesa menyusul Denis.


Denis mengerutkan keningnya.


"Bicara?" Maksudnya adalah apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu. Matanya memicing menatap Viola. Merasa heran karena tiba-tiba pengagum Alex itu ingin bicara dengannya.


"Bukannya lo mau jagain papanya Alex? Kenapa lo malah keluar?"


"Sebentar saja. Please."


"Cepat. Gue gak punya banyak waktu buat lo." Denis melarikan pandangannya ke segala arah. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Viola.


Viola menghela nafas dalam-dalam. Sebenarnya dia ragu untuk mengatakan hal ini pada Denis. Tapi hatinya tidak akan merasa tenang sebelum dia mengetahui yang sebenarnya.


"Cepatlah. Gue harus pergi." Mata Denis berkilat kesal karena gadis itu tak kunjung membuka suara.


"Aku cuma pengen tahu hubungan kamu dengan Alex.."


"Apa??" Denis tersentak. Matanya melebar menatap Viola.


"Apa kamu..seorang...gay?" Tanya Viola setelah menarik nafas terlebih dahulu sebelum menanyakan itu.


"What?? Apa maksud lo?" Sorot mata Denis berubah drastis. Tajam dan dingin.


"Aku tidak suka melihat kamu terlalu dekat dengan Alex. Kalau kamu merasa masih menjadi cowok normal, sebaiknya kamu jauhi Alex. Dia bukanlah orang yang bisa kamu jadikan sebagai benda mainan." Gadis itu semakin berani.


Denis menyeringai, merasa lucu dengan pemikiran gadis itu. Jadi gadis itu menyangka dia seorang laki-laki. Awalnya dia pikir Viola cemburu karena mengetahui kalau dirinya adalah seorang yang memiliki gender yang sama dengan Viola.


Viola menghentakkan kakinya, merasa kesal karena diabaikan oleh Denis.


Dia kembali ke dalam ruangan tempat Arga Dinata dirawat. Didalam sana juga ada Alex yang sedang tidur karena terlalu letih setelah semalaman hingga pagi tadi mengurus masalah Bisma dan Tania.


Belum lagi Reno yang memberi perlawanan ketika dibawa masuk ke ruang penyekapan oleh anak buahnya. Hampir saja Alex merasa kasihan ketika melihat Reno yang dihajar oleh anak buahnya. Namun mengingat adiknya itu lebih membela Bisma dan Tania, dengan terpaksa Alex mengeraskan hatinya.


Alex tidur hanya sekejap saja. Dia terbangun karena pikirannya tidak tenang. Keadaan papanya yang tak kunjung membaik, juga masalah Bisma dan Tania yang masih belum tuntas, membuat tidurnya tidak nyenyak.


Dilihatnya Viola masih setia duduk disamping papanya. Sesaat Alex menatap gadis itu. Ada perasaan haru didalam hatinya mendapati kenyataan kalau Viola sangat penuh perhatian kepadanya dan juga keluarganya. Dia dapat merasakan kalau gadis itu benar-benar tulus kepadanya.


Alex mengusap wajahnya. Menepis semua kegamangan yang dia rasakan. Dia tidak pernah mencintai gadis itu. Tapi sekarang dia punya rasa kasihan melihat kesungguhan dan kesabaran Viola. Disisi lain dia juga tahu kalau Reno, adiknya, memiliki perasaan istimewa terhadap gadis itu.


Ahh! Ya, Reno! Kenapa dia malah mengurung adiknya itu? Pasti sekarang dia sangat marah dan semakin membenci dirinya. Sebelum masalah ini mencuatpun, sangat jelas kalau Reno selalu ingin bersaing dengan dirinya. Dia selalu menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Alex. Terlebih lagi gadis yang dia sukai malah selalu mengejar Alex.


Alex beranjak dari sofa tempat dia merehatkan tubuhnya. Masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya dengan air.


"Kamu pulang aja. Kamu pasti capek dari tadi berada disini." Katanya kepada Viola, setelah dia selesai membasuh wajahnya di kamar mandi.


Viola menatap Alex sesaat. Tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Gapapa. Aku gak capek kok. Aku mau disini menemani om Arga. Beliau itu sudah kuanggap seperti papaku sendiri."


Alex menghela nafas perlahan.


"Terima kasih Vio. Karena kamu selalu ada saat keluargaku sedang dalam masalah. Kamu gadis yang sangat baik."


"Tidak cukup baik untuk bisa mendapatkan perhatianmu." Gadis itu mendesah.


"Aku yang merasa tidak cukup baik untukmu. Sebaiknya kamu membuka hatimu untuk pria lain. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."


"Tak ada yang lebih baik dari kamu." Viola menatap tepat manik mata Alex. Tatapan yang penuh harapan dan cinta.

__ADS_1


"Aku tidak pantas untukmu, Vio. Aku.."


"Apa maksudmu, Alex? Kamu adalah pria yang sangat sempurna. Semua wanita memimpikan untuk bisa bersanding dengan pria sepertimu. Termasuk aku."


"Tapi aku tidak sesempurna itu. Aku tidak pantas untuk kau cintai, Vio. Berhentilah berharap padaku. Kita berteman saja, seperti sebelumnya."


'Apa kurangnya aku, Lex? Kenapa kamu gak pernah menyukaiku? Atau kamu memang tidak menyukai perempuan?' Kata-kata itu hanya ada didalam hatinya saja. Ingin sekali dia melontarkan kata-kata itu langsung kepada Alex. Namun dia urungkan niat itu dan menyimpannya dalam-dalam dilubuk hatinya. Dia takut kalau dugaannya salah. Atau mungkin dia hanya salah faham akan hubungan Alex dan Denis.


"Kamu yakin gak mau pulang?" Tanya Alex untuk mengalihkan topik pembicaraan. Viola menggeleng. "Kalau gitu, aku tinggal gapapa? Aku ada urusan sebentar."


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau menemui seseorang."


Gadis itu nampak berfikir sebentar.


"Pergilah. Aku akan menjaga papamu disini."


"Kalau perlu apa-apa, panggil saja anak buahku diluar." Ujar Alex sebelum meninggalkan kamar itu. Viola mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Alex. Dia menatap pria itu yang melangkah keluar, sampai daun pintu kembali tertutup melenyapkan bayangan Alex dibaliknya.


*****


Hari beranjak malam. Alex mengendarai mobilnya dengan tatapan lurus kedepan. Namun yakinlah, isi kepalanya penuh dengan berbagai macam persoalan. Tentang semua permasalahan yang sedang dia hadapi. Tentang keadaan papanya yang tidak kunjung membaik. Tentang pembicaraannya dengan Viola yang terus menantikan kata cinta darinya.


Alex menggelengkan kepalanya pelan. Wanita dan percintaan bukanlah sesuatu yang menjadi prioritasnya sekarang ini. Dia tak pernah memikirkan hal itu selama ini. Bahkan dia tak pernah punya perasaan apapun kepada Viola yang dia tahu selalu setia menunggu balasan cinta darinya.


Dan Denis? Ada apa dengan Denis? Dia selalu merasa nyaman jika bersama Denis. Apakah ini yang membuat dia tidak bisa menerima seorangpun wanita dalam hidupnya? Mungkinkah dirinya..??


Arghh!! Tidak mungkin! Dia hanya bersimpati saja kepada Denis. Dia hanya kagum saja kepada pria itu yang sangat kuat dan tangguh menghadapi kehidupannya yang keras. Dia hanya merasa kagum saja karena Denis telah beberapa kali menyelamatkan hidupnya. Pasti karena itu!!


Alex memukulkan tangannya di atas steer mobilnya. Apa aku harus mencoba menerima Viola? Batinnya berkecamuk.


Melewati jalanan yang cukup lengang membuat mobilnya melaju dengan lancar Deringan telepon dari Denis membuat jantungnya sedikit berdegup. Baru saja dia menyebut nama itu dalam hatinya, tiba-tiba dia menelepon. Alex segera menjawab panggilan itu.


"Ada apa, Den?" Tanyanya sambil tetap fokus dengan jalanan didepannya.


"Cepat kemari! Ada masalah disini!"


Belum sempat Alex menanyakan masalah apa yang dimaksudkan oleh Denis, panggilan sudah terputus. Alex mengerutkan keningnya. Melihat ponselnya untuk memastikan kalau sambungannya memang sudah terputus.


Alex menambah kecepatan mobilnya. Hatinya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Denis. Dia jadi merasa tidak tenang.


Tiba dirumah yang dia jadikan tempat menyekap Bisma dan Tania juga Reno, dia segera memasukinya. Beberapa anak buahnya nampak sedang terhuyung dan meringis. Sepertinya telah terjadi perkelahian disana. Tempat itu juga sangat berantakan.


"Ada apa ini?" Tanyanya pada seorang anak buahnya yang sedang memegangi perutnya. Ada darah dibagian belakang kepalanya. Sepertinya dia mendapat hantaman benda tumpul ditempat itu.


"Maaf, boss. Mereka melarikan diri.." Pria itu mendesis ketika bicara. Mungkin menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Apa??" Mata Alex membuka lebar. Rahangnya mengeras. Segera dia menuju ruang bawah tanah tempat dia menyekap ketiga orang itu. Tempat itu sudah kosong.


Alex kembali keluar.


"Dimana Denis??"


"Lagi mengejar mereka."


Alex meremas rambutnya dengan gusar. Dia segera menuju mobilnya. Menelepon beberapa orang sambil melajukan mobilnya.


Ponsel Denis tidak bisa dihubungi. Namun seorang anak buahnya memberitahu dia lokasi tempat mereka membuntuti mobil yang membawa Bisma dan Tania. Reno berada terpisah dengan mereka.


Deringan telepon masuk membuat Alex segera menerimanya. Namun bukan suara anak buahnya yang terdengar. Suara Viola terdengar panik dan menangis.


"Alex..segera ke rumah sakit..Om Arga kritis.."


Alex merasa dunianya terbalik. Tubuhnya lemas dan pikirannya kalut. Dia menepikan mobilnya untuk menenangkan dirinya sejenak.


"Vio..."


"Cepatlah kesini.."

__ADS_1


Alex memutar balik mobilnya. Dia harus melupakan tujuan awalnya untuk mencari Bisma dan Tania sementara waktu. Papanya lebih penting dari segalanya.


*****


__ADS_2