Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluhempat


__ADS_3

"Kamu?"


Pria itu melebarkan tatapannya menelisik wajah Denis. Setengah tidak percaya dia melihat orang yang sedang berdiri dihadapannya sekarang. Kemudian dia berbalik kedalam rumah dan berteriak memanggil istrinya.


"Mak'e! Mak' e! Sini lihat siapa yang datang!" Pria itu segera menyingkir dari depan pintu dan mempersilakan Denis untuk masuk. Tangan tuanya merangkul bahu Denis dengan penuh kerinduan dan mengusap-usapnya disana.


"Ayo masuk. Ini bener kamu? Ya ampun. Makin ganteng saja." Denis terkekeh mendengar celoteh pria tua itu. Seorang wanita seusia pak Mijan datang tergopoh dari arah dalam.


"Ada siapa pak'e?" tanyanya dengan mata menyipit memperhatikan tamu yang sedang bersama suaminya.


"Coba tebak ini siapa? Pasti kamu gak kenal 'kan?" Pak Mijan malah menggoda istrinya. Wanita itu semakin mendekat dan kemudian terpekik kaget sekaligus terharu ketika menyadari siapa yang kini berada dihadapannya.


"Ya Allah ini beneran kamu, Nak?" Bu Darmini memeluk tubuh Denis dengan tangannya yang bergetar. Tangis bahagia keluar dari matanya. Dia mendongak melihat wajah Denis yang jauh diatasnya. Menggapai dengan tangannya yang keriput. Denis menundukkan wajahnya, membiarkan tangan itu mendekap kedua pipinya.


"Kamu makin tinggi saja. Ibu sampai susah begini." Bu Darmini menciumi wajah Denis, meluapkan kerinduannya pada anak yang dia rawat sejak bayi.


Denis kembali terkekeh mendapat perlakuan begitu dari ibu asuhnya. Alex yang dari tadi hanya memperhatikan, tersenyum haru melihat pemandangan didepannya. Ada perasaan lain ketika melihat sisi lain dalam kehidupan Denis. Melihat adegan demi adegan didepan matanya, membuat ia bisa sedikit mengetahui satu persatu rahasia yang disembunyikan oleh Denis.


"Ayo duduk. Ini dari tadi gak disuruh duduk apa?" Bu Darmini menarik tangan Denis yang tidak dia lepaskan sejak tadi. Membawa Denis duduk dikursi sederhana ruang tamu miliknya. Dia duduk disebelah Denis seakan tidak ingin jauh dari anak asuhnya itu.


"Ini sama siapa?" Bu Darmini baru menyadari kehadiran Alex setelah semuanya duduk.


"Kenalkan pak, bu. Ini temanku, Alex."


Alex menyalami pak Mijan dan bu Darmini bergantian. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan.


"Kapan dari Jakarta?" Tanya bu Darmini sambil terus mengelus punggung Denis.


"Bukan dari Jakarta bu. Ceritanya panjang."


"Woalah. Ceritanya panjang mak'e. Besok aja ceritanya, sekarang biarkan Nak Denis istirahat dulu. Dia pasti capek seharian dijalan." Pak Mijan menginterupsi obrolan istrinya yang nampak sangat antusias dan tak ingin melepaskan Denis. "Udah makan belum nih? Siapkan makanan dulu mak'e. Pasti mereka lapar."


"Gak usah pak. Kita langsung istirahat aja." Denis merasa segan juga kalau harus membuat tuan rumah kerepotan karena kedatangannya. Apalagi ini sudah terlalu malam.


"Sudah. Duduk diam disini. Ibu siapkan makanan dulu ya. Bapak benar. Kamu pasti lapar. Ibu mau bikin nasi goreng kesukaan kamu." Bu Darmini bangkit dari duduknya dan beranjak pergi kedapur tanpa menunggu persetujuan Denis. Pak Mijan segera bangkit dan mengajak Denis untuk masuk kedalam sebuah kamar.


"Nanti kamu istirahat disini. Biar temanmu tidur dikamar sebelah." Pak Mijan menunjukan kamar lain untuk ditempati Alex.


"Gak usah repot-repot pak. Biar saya tidur satu kamar dengan Denis saja." ujar Alex ketika pak Mijan menunjukan kamar untuknya. Reaksi pak Mijan diluar dugaannya. Pria itu nampak kaget dan menoleh kearah Denis yang sedang meringis dan menggaruk tengkuknya.


"Apa? Kalian...?"


"Itu..Dia cuma gak mau merepotkan aja pak. Ini kamar siapa pak? Mas Anwar dimana kok gak ada?" Denis segera mengalihkan pembicaraan. Yang ditanyakannya adalah putra sulung pak Mijan yang biasa menemaninya jika dia sedang berada dirumah ini.


"Dia sudah menikah. Sudah punya anak dua. Sekarang tinggal dikampung istrinya. Sudah lama. Pulang kesini kadang-kadang saja." jelas pak Mijan. Mereka kembali duduk dikursi ruang tamu setelah menunjukkan kamar untuk tamunya istirahat.


"Kalau Mbak Asih?" Itu adalah anak kedua pak Mijan. Dia empat tahun lebih tua dari Denis.


"Dia juga sudah menikah. Suaminya masih orang sini. Dia tinggal tidak jauh dari sini. Besok bapak kasih tahu dia kalau kamu datang. Pasti dia senang."


Bu Darmini datang menyela. Dia memberitahukan kalau nasi goreng sudah siap. Mereka pindah ke ruang makan.


"Ayo makan dulu. Habis ini langsung istirahat. Kalian pasti capek."


"Ibu sama bapak makan sekalian."


"Kami sudah makan tadi."


Dengan cekatan bu Darmini melayani tamunya. Nampak sekali kalau dia merasa senang dengan kedatangan Denis.


Denis tersenyum menatap ibu asuhnya yang nampak sangat bahagia bertemu dengannya. Dia pun merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang dirasakan oleh wanita itu.


"Saya senang melihat ibu dan bapak dalam keadaan sehat." Ucap Denis disela suapannya.


"Alhamdulillah. Bapak juga senang masih dikasih umur sama Allah dan bisa bertemu denganmu. Terima kasih karena masih mengingat bapak." Pak Mijan tersenyum memandang Denis. Bu Darmini mengangguk-angguk mengamini ucapan suaminya.

__ADS_1


Alex hanya menjadi pemerhati saja. Dia dapat merasakan aura yang berbeda dari Denis yang baru dikenalnya selama kurang lebih satu bulan ini. Tidak ada tatapan tajam dan dingin dari mata itu. Yang ada hanyalah pancaran kebahagiaan dan perasaan yang tulus. Baru kali ini Alex melihat itu.


Selesai makan, Denis membersihkan diri dan mendapat baju ganti dari bu Darmini. Begitu juga dengan Alex.


"Maaf ya, nduk. Adanya baju bekas Anwar. Besok ibu beli yang baru buat kamu." wanita itu nampak merasa sangat segan karena tidak bisa menyediakan baju yang layak untuk anak bekas majikannya. Mereka duduk ditepi tempat tidur di kamar yang disediakan pak Mijan untuk Denis istirahat. Sedangkan Alex sudah berada dikamar sebelah.


"Gak papa bu. Ini lebih dari cukup." Wanita itu menatap Denis dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu sudah berubah ya? Ibu sangat senang melihatmu seperti ini." Bu Darmini mengusap bahu Denis dengan lembut. Dia begitu terharu melihat kepribadian yang ditunjukan Denis sekarang. Sangat berbeda ketika dulu dia masih bekerja dirumah orangtuanya.


"Ya ampun bu. Aku lupa." Denis tersentak ketika mengingat sesuatu.


"Apa?"


******


Pagi yang hangat. Pak Mijan sudah berada di halaman belakang rumahnya. Menebarkan pakan ikan ketengah kolam yang langsung disambut kecipak ikan yang berbagai ragam. Suara ayam dalam kandang di sisi sebelah barat kolam terdengar sangat riuh meminta jatah makan pagi itu.


Bu Darmini sibuk didapur menyiapkan sarapan lebih banyak dari biasanya karena ada tamu istimewa di rumahnya. Gerakannya yang masih gesit walau tidak ada yang membantunya menandakan dia masih sangat bugar diusia senjanya.


Denis baru saja keluar dari kamar mandi yang ada didekat dapur. Dia menggosok rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk. Alex yang sudah menunggu giliran kemudian masuk kedalam kamar mandi. Dia harus sabar mengantri karena dirumah ini hanya memiliki satu kamar mandi saja.


"Bikin apa bu?" Denis mendekati Bu Darmini. Tubuhnya terasa segar setelah mandi di tempat yang semestinya. Sejak beberapa hari ke belakang dia merasa tidak bisa mandi dengan benar karena keterbatasan tempat ketika berada di pondok Darman. Sekarang dia bersyukur karena bisa kembali mandi di kamar mandi yang sesungguhnya walaupun sangat sederhana.


"Maaf ya, ibu enggak bisa menjamu yang semestinya. Gak bisa mewah kayak dulu dirumah Tuan dan Nyonya."


"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu nerima aku disini aja aku sudah seneng banget."


Pak Mijan masuk ke dalam rumah bersamaan dengan keluarnya Alex dari kamar mandi. Alex nampak begitu segar dengan rambutnya yang basah. Wangi sabun menguar dari tubuhnya ketika mendekati Denis.


"Sudah siap mak'e sarapannya?" Tanya pak Mijan sambil melihat meja makan yang sudah penuh dengan makanan.


"Sudah. Ayo kita sarapan dulu." Bu Darmini meletakan piring didepan Denis dan Alex. Tak lupa dia menyerahkan satu piring untuk suaminya.


"Assalamualaikum." Seseorang mengucap salam dari pintu belakang. Seorang anak kecil berlari masuk dan menubruk kaki Bu Darmini.


"Denis!" Wanita itu memekik gembira sambil meluru mendapatkan Denis.


"Mbak Asih." Denis bangkit dari duduknya menyalami wanita yang baru datang itu. Asih memeluk Denis dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Ya ampun kayak mimpi aku. Ini beneran kamu? Kok kayaknya jadi makin ganteng aja nih." Asih meneliti tubuh Denis dari ujung kaki ke ujung rambut. Denis terkekeh diikuti pak Mijan dan bu Darmini.


"Kamu ini Asih, ada-ada saja." Bu Darmini menegur putrinya dengan membelalakan sedikit matanya. "Sudah, jangan ganggu. Nak Denis mau sarapan dulu. Kamu mau ikut sarapan?"


"Enggak mak'e. Aku sudah makan tadi sama Mas Trisno." Asih tersenyum. "Ayo Denis. Jangan terganggu ya."


Asih menganggukan kepalanya kearah Alex yang tersenyum kepadanya. Dia ikut duduk dimeja makan walaupun tidak ikut makan.


"Ijal sudah makan belum? Ayo makan sama mbah uti." Bu Darmini menawari cucunya untuk makan. Tapi anak kecil itu menggelengkan kepalanya sambil menatap Denis dan Alex malu-malu. Ia berlindung dibalik tubuh ibunya.


"Asih tahu dari siapa ada Nak Denis disini? Bapak ngasih tahu ya?" Tanya bu Darmini sambil menyendokkan nasi ke piring Denis.


"Enggak ada Mak'e. Tiba-tiba saja aku pengen kesini. Ini Ijal dari tadi malam pengen ketemu sama mbah kakung. Pagi-pagi nagih ngajak kesini."


"Oh, begitu. Tadinya mak'e mau nyuruh pak'e buat ngabarin kamu kalau ada tamu jauh." Bu Darmini mengisi nasi ke piringnya sendiri setelah melayani semua orang.


"Bagaimana kabar tuan dan nyonya di Jakarta?" Tanya pak Mijan setelah mereka mulai menyantap makanannya. Denis tidak segera menjawab. Dia menelan makannya dan minum air putih yang ada dihadapannya.


"Aku tidak tahu kabar mereka." Jawabnya pelan.


"Pak'e. Nanti aja tanya-tanyanya. Biar Nak Denis habiskan dulu makannya." Bu Darmini menegur halus suaminya. Dia dapat melihat kalau Denis enggan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Gak papa bu." Denis melirik pak Mijan.


"Lama sekali kita gak ketemu mereka." Pak Mijan menghentikan sejenak suapannya. Ditatapnya Denis sesaat. Seakan sedang menerawang masa yang lalu. Saat dia masih bekerja di rumah keluarga Denis.

__ADS_1


Denis melanjutkan makannya tanpa menghiraukan tatapan pak Mijan. Mereka menghabiskan sarapan dalam diam. Setelah semua orang menyelesaikan sarapannya, mereka pindah ke halaman belakang. Ada satu set kursi rotan diteras belakang menghadap kolam ikan yang cukup luas. Ada saung kecil diatas kolam ikan itu.


Mereka memilih untuk duduk dikursi rotan dengan camilan khas kampung terhidang dimejanya.


"Kalau Nak Alex ini, teman dimana? Bapak pikir kalian.."


"Teman dijalan, pak." Denis segera memotong ucapan pak Mijan. "Ceritanya panjang..." Denis mulai menceritakan kisahnya dan Alex. Tentang perjalanannya dari mulai menyelamatkan Alex dari dalam jurang hingga mereka diganggu oleh orang-orang yang memburu Alex. Semuanya Denis ceritakan tanpa ada yang terlewat hingga bagaimana mereka bisa sampai dirumah pak Mijan.


Denis juga menceritakan tentang percobaan perampokan yang dilakukan sopir mobil dan temannya yang membawanya tadi malam.


"Jadi mobil yang ngantar kalian semalam itu, mereka mau rampok kalian?" Pak Mijan nampak sangat terkejut. "Tapi tadi malam sepertinya mereka nurut banget sama kalian?"


Pak Mijan ingat tadi malam Denis hampir melupakan dua orang yang menunggu mereka di luar rumah. Mereka mungkin akan tetap berada di depan rumah kalau saja Denis tidak menyuruh mereka pergi.


Denis kemudian menceritakan perlawanan dirinya dan Alex terhadap orang-orang itu.


"Kamu itu memang, dari kecil suka berantem. Sudah besar gini, ternyata ada manfaatnya ya." Pak Mijan tertawa mengenang masa kecil Denis yang sangat pemberani dan tidak suka diatur.


"Dia suka berantem sejak kecil, pak?" Tanya Alex dengan takjub. Matanya membulat menatap Denis. Yang ditatap hanya bisa meringis.


"Sering banget. Anak-anak cowok semua takut sama dia. Haha.." Pak Mijan kembali terbahak. "Anak-anak sini juga sudah pada kenal. Awal-awal kesini, musuhnya banyak. Anak-anak sini pada gak suka. Denis kecil itu, sombong, angkuh, gak suka ditentang, suka ngatur orang. Tapi dia kan banyak duitnya. Jadi ya..semua anak pada manut."


Alex tertawa mendengar penuturan pak Mijan. Dia bisa membayangkan bagaimana Denis kecil seperti yang digambarkan pak Mijan.


"Pak'e..kalau ngomong gak pake rem. Itu Nak Denis sampai malu begitu, rahasianya diketahui teman barunya." Bu Darmini mendelikkan matanya ketika mendengar ucapan suaminya. Dia baru ikut gabung setelah merapikan meja makan di sambung dengan mencuci piring, dibantu oleh Asih anaknya.


Denis hanya terdiam menipiskan bibirnya. Dalam hatinya dia membenarkan semua yang dikatakan oleh pak Mijan. Dulu dia juga kadang bersikap arogan terhadap pak Mijan dan bu Darmini. Tapi kedua orang itu selalu sabar menghadapi sikapnya. Dan dia merasa sangat kehilangan kedua orang itu setelah pak Mijan dan bu Darmini memutuskan untuk berhenti bekerja.


Sejak saat itu dia semakin tidak terkendali. Dia mulai jarang pulang ke rumah. Balapan liar dan kehidupan malam menjadi temannya sehari-hari. Tentu dengan teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. Tidak ada lagi yang selalu menegurnya dengan penuh kasih sayang. Yang ada hanyalah cercaan dan kata-kata yang merendahkannya yang keluar dari mulut orang-orang yang seharusnya menjadi pengayomnya.


"Oya, pak. Kami boleh kan tinggal disini untuk beberapa hari? Kami butuh tempat untuk menenangkan diri untuk sementara waktu." Denis menatap pak Mijan penuh harap. Mengalihkan tatapannya pada bu Darmini dengan sorot mata yang sama.


"Nak Denis. Berapa lamapun nak Denis mau, bapak akan dengan senang hati menerima nak Denis. Rumah ini rumah nak Denis juga. Bapak sangat senang jika bapak bisa membantu nak Denis." ujar pak Mijan dengan suara lembut.


"Nak Denis dan nak Alex bisa mengandalkan bapak. Apapun yang kalian butuhkan, katakan saja jangan sungkan." tambahnya lagi.


"Terima kasih banyak, pak." Hampir bersamaan Denis dan Alex mengungkapkan rasa terima kasihnya. Mereka saling menatap setelah mengatakan itu.


"Oya, pak. Kami mau mencari kebutuhan kami. Kami mau ke kota sebentar." Denis mengalihkan topik pembicaraan.


"Pergilah. Pakai motor bapak saja." Kata pak Mijan. Lalu dia beralih kepada istrinya untuk memberikan kunci motornya pada Denis. Bu Darmini beranjak masuk untuk mengambil kunci motor yang tersimpan dikamarnya.


"Kalian hati-hati di jalan. Jangan terlalu lama, nanti langsung pulang." Ujar bu Darmini ketika menyerahkan kunci motor pada Denis.


"Iya bu."


"Jalannya tahu kan?"


"Tahu bu. Siang kelihatan, kalau malam aku memang keliru. Lagian sudah lama tidak kesini, pangling semua." ujar Denis.


Pak Mijan mengeluarkan sebuah motor matic dari ruangan kecil disebelah rumahnya. Dua buah helm dia serahkan untuk dipakai Denis dan Alex. Keduanya segera memakai alat keselamatan itu dan segera berlalu dari rumah pak Mijan setelah pamit padanya.


Denis mengendarai motor secara dia yang lebih mengetahui jalanan disana walaupun tadi malam mereka dibawa nyasar oleh dua orang preman terminal. Alex membonceng dibelakangnya mengingatkan Denis saat dia mengantarkan Alex bertemu penjahat untuk ditukar dengan Sisil.


Tiba-tiba dia teringat gadis cantik itu. Bagaimana kabar dia sekarang? Apa yang terjadi dengan keluarga bang Theo? Apa mereka baik-baik saja?


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2