
Alex menggulung ujung celananya dengan mata berbinar menatap air sungai yang jernih. Untuk pertama kalinya dia berada ditengah alam yang benar-benar alami. Air sungai yang jernih mengalir disela-sela bebatuan yang besar disepanjang alirannya. Gemuruh airnya begitu merdu terdengar ditengah sunyinya alam dari keriuhan kendaraan yang biasa dia dengar sehari-hari.
Pagi ini dia memaksa Darman agar membawanya dan Denis ke sungai untuk melihat cara Darman mengangkat bubu, yaitu alat untuk memerangkap ikan yang terbuat dari bambu yang dianyam. Benda itu akan disimpan disela bebatuan yang diyakini sebagai tempat ikan bergerak melawan arus. Sehingga benda itu akan diletakkan dengan bagian mulutnya menghadap mengikuti ke arah aliran air dan ikan akan bergerak berlawanan arah. Sehingga dia akan masuk kedalam bubu itu dan terjebak didalamnya.
Benda itu akan dibiarkan semalaman dan akan diangkat keesokan harinya. Kalau sedang mujur, Darman akan mengangkat bubu yang penuh dengan ikan sungai yang sangat disukai oleh penduduk sekitar karena berbeda dari ikan yang biasa dibudidayakan warga. Berapapun banyaknya yang dia dapat, biasanya akan habis terjual dipemukiman penduduk.
Darman sangat bersyukur karena dengan demikian dia dapat mencukupi kebutuhan hidupnya selama mengasingkan diri. Selama ini diapun merasa aman karena tidak ada warga yang menanyakan asal usulnya. Dia bisa menjawab sekedarnya saja bila ada yang bertanya dan tak ada yang mengusik kehidupannya selama ini.
Jauh dari bibir sungai, tepatnya dibawah pohon beringin yang tumbuh dipinggirnya, Denis duduk diatas batu besar memandangi Darman yang sedang sibuk memasang alat bubunya. Dia masih mengantuk sebenarnya. Ditambah udara yang sangat dingin sepanjang malam membuat dia malas untuk mengikuti keinginan Alex yang memaksa ingin melihat cara Darman menangkap ikan.
Sedangkan Alex hanya memperhatikan saja tidak jauh dari tempat Darman berada. Dia hanya turun ditempat yang tidak terlalu dalam. Hanya sebatas setengah betisnya saja. Sepertinya dia tidak begitu berani untuk masuk kedalam air sungai yang beraliran deras itu.
Hari sudah semakin terang walaupun matahari belum menampakan sinarnya ketika Darman selesai memindahkan ikan yang didapatnya kedalam wadah lain. Dia naik kedaratan dan memberi isyarat pada Alex untuk mengikutinya.
"Sudah selesai?" Tanya Alex.
"Sudah. Aku mau langsung naik untuk menjual ikan ini. Kalian langsung pulang aja. Masih ingat jalannya kan?" Darman menyampirkan tali tempat ikan tangkapannya dipundak. Bau amis menyeruak dari ikan-ikan segar yang ada dalam wadah.
"Kita pulang bareng aja." Alex melirik ke arah Denis yang masih duduk ditempatnya sambil memeluk tubuh dengan kedua tangannya. Rasa dingin memang sangat menusuk kulit. Kabut masih sangat pekat didasar lembah tapi cukup untuk melihat satu sama lain.
"Kalian tidak mau mandi air sungai dulu? Ini seger banget lho."
"Dingin banget pak. Nanti siang aja kita kembali kesini." Alex meringis. Baru kakinya saja yang masuk kedalam air rasanya seluruh tubuhnya sudah menggigil. Apalagi kalau sampai seluruh tubuhnya yang kena air sungai itu. Mungkin dia akan membeku kedinginan.
"Apa bapak tidak kedinginan tadi didalam air?"
"Justru didalam air rasanya hangat. Keluar dari air ini baru terasa dingin."
"Masa sih?"
"Kamu coba saja kalau tidak percaya." Darman terkekeh. Dia menyimpan ikan tangkapannya diatas batu. Dia mengambil tas ransel dan mengeluarkan pakaian ganti dari dalamnya. Dia kemudian pergi kebalik batu besar untuk mengganti bajunya yang basah.
Dia kembali tidak lama kemudian dengan baju yang sudah diganti dengan baju yang dia bawa tadi. Sedangkan bajunya yang basah, dia hamparkan diatas batu besar.
"Ini nanti siang sudah kering kalau bapak kembali dari kampung. Diatas batu ini cepat kering kalau kena panas." jelasnya tanpa diminta. Alex hanya manggut-manggut sambil terus memperhatikan yang dilakukan oleh Darman.
"Ya sudah. Ayo kita kembali ke pondok."
Darman berjalan terlebih dahulu. Diikuti Alex dan Denis dibelakangnya. Mereka menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui Darman setiap hari.
Mereka berjalan beriringan sambil sesekali Alex mengajukan pertanyaan tentang rutinitas Darman sehari-hari. Darman menjawab semua pertanyaan Alex dengan senang hati. Dibelakangnya Denis tidak mengeluarkan suara. Dia hanya mendengarkan pembicaraan Alex dan Darman tanpa menyela.
"Kalian jalanlah terus. Aku akan mengambil jalan lain untuk naik keatas." Darman berhenti disebuah persimpangan. Ia menunjukan jalan yang harus dilalui oleh Alex dan Denis.
"Kita gak akan tersesat 'kan?" tanya Alex ragu.
"Gak akan. Ini jalan satu-satunya menuju pondok. Kamu lupa ya tadi lewat jalan ini?"
Alex menggaruk tengkuknya sambil meringis. Dia memang lupa. Semua tempat kelihatan sama. Lagipula ini pertama kali dia keluar jauh dari pondok milik Darman.
Setelah meyakinkan dua orang itu untuk kembali kepondoknya, Darman berlalu menggunakan jalan yang berbeda.
Tinggalah Alex dan Denis berjalan menyusuri jalan setapak yang ditunjukkan Darman. Mereka berjalan menapaki jalan yang menanjak dan agak licin karena kabut yang membawa butiran embun.
Denis mengikuti langkah Alex dalam diam. Ini bukanlah pengalaman pertama kalinya dia berjalan dihutan. Dulu, ketika masih sekolah, dia sering mengikuti kegiatan lintas alam bersama teman-temannya sesama pecinta alam. Dia juga pernah belajar bagaimana cara bertahan hidup dialam liar.
Denis berjalan sambil menunduk karena memperhatikan jalan yang akan dilaluinya. Tiba-tiba saja Alex yang berjalan didepannya melompat mundur sambil memekik kaget. Denis yang fokus dengan langkah kakinya tersentak. Tapi terlambat, tubuhnya terlanjur tertabrak tubuh kekar Alex. Denis terjatuh kebelakang diikuti tubuh Alex yang kehilangan keseimbangan dan tak dapat menahan dirinya dari menimpa tubuh Denis.
"Awwh!" Denis meringis memejamkan mata menahan rasa sakit dibelakangnya yang membentur tanah. Ditambah lagi tubuh bagian depannya tertindih tubuh Alex yang berpostur lebih besar darinya.
Sesaat Alex terdiam menatap Denis yang sedang terpejam menahan sakit karena terjatuh dengan tiba-tiba. Wajah Alex yang berada dibagian dada Denis membuat Alex merasakan sesuatu yang berbeda. Namun sebelum dia menyadari hal itu, Denis segera mendorong tubuh Alex. Namun dorongannya tertahan didada Alex karena pria itu masih terdiam dan menatap Denis.
Sadar tatapan pria itu masih memaku wajahnya, Denis nampak sedikit gugup.
"Alex." Denis kembali mendorong tubuh Alex. Pria itu terhenyak dari pikirannya yang entah kemana.
__ADS_1
"Sorry." Alex segera mengangkat tubuhnya begitu sadar posisi tubuhnya yang setengah menindih Denis. Ringisan masih nampak diwajah Denis.
"Kamu gak apa-apa kan? Denis?" Denis segera bangkit. "Aku kaget banget tadi." Alex membalikan tubuhnya melihat kearah benda yang membuat dia kaget setengah mati.
"Emang ada apaan?" Denis masih meringis mengusap sikunya yang tadi dia gunakan untuk menahan beban tubuhnya.
"Ssttt!" Alex memberi isyarat pada Denis agar diam.
"Ada apa?" bisik Denis dibalik punggung Alex. Matanya mengintip kebagian depan tubuh Alex. Matanya melebar ketika melihat sesuatu dihadapan Alex. Seekor ular sanca sebesar lengan kekar Alex nampak sedang melintasi jalan yang akan mereka lalui.
Keduanya terdiam menatap binatang melata yang besar itu sedang menyeret tubuhnya memasuki semak belukar. Memerlukan waktu yang agak lama sampai binatang yang panjangnya lebih dari empat meter itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Alex menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya.
"Gila. Besar banget." Serunya pelan. Dia melanjutkan langkahnya menuju pondok Darman.
"Kamu gak takut, Den?"
"Ngapain takut. Ular itu cuma lewat aja 'kan?" Sahut Denis datar. "Lagian ular itu lebih dekat sama lo."
Alex tertawa pelan. Tidak merasa kaget dengan sikap dingin dan datar dari teman senasibnya itu.
Tidak lama berjalan, pondok Darman nampak dari kejauhan. Alex merasa lega. Ternyata mereka tidak tersesat. Lagipula, Darman bilang mereka memang tidak akan tersesat karena jalan yang mereka lalui adalah jalan satu-satunya menuju pondok.
Mereka duduk dibale bambu mengistirahatkan tubuh mereka yang baru saja berjalan melalui jalan yang menanjak dan cukup terjal. Untunglah hari masih sangat pagi dan kabut yang masih turun membuat suhu tubuh mereka tidak terlalu panas. Coba saja kalau mereka berjalan disiang hari, pastinya keringat akan bercucuran karena energi yang mereka keluarkan.
Sesekali Alex mencuri pandang kewajah Denis. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia kemukakan tapi hanya tertahan didalam hatinya saja. Alex malah memukul kepalanya sendiri untuk mengenyahkan hal yang melintas dipikirannya itu.
"Kenapa lo?" Denis yang menyadari sikap Alex, menyipitkan matanya menatap Alex.
"Gak ada apa-apa. Hanya sedikit pusing aja."
"Lo pasti kecapean habis jalan jauh barusan. Lo belum sehat seratus persen." Denis memperhatikan wajah Alex yang bersemu merah. Mungkin karena kelelahan setelah berjalan menanjak dari sungai sehingga wajahnya yang putih berubah jadi merah.
"Aku sudah merasa sangat sehat sekarang, Den. Kita bisa pergi dari sini secepatnya."
"Lo yakin mau keluar dari sini secepatnya? Apa gak sebaiknya kita tinggal dulu disini melihat dulu situasi diluar?"
"Aku harus segera bertemu keluargaku. Mereka harus mengetahui yang sebenarnya."
"Tentang apa?"
"Pria yang menembakku. Dia adalah orang kepercayaan papaku. Dia juga sangat dekat dengan keluargaku. Aku sendiri tak pernah menyangka kalau dia adalah orang dibalik semua ini."
"Oya? Kenapa dia lakuin itu sama lo?"
"Aku tidak tahu. Selama ini dia bersikap baik padaku. Aku tak pernah punya masalah sama dia. Dia itu asisten papaku, tangan kanan papa. Selama papa sakit, dialah yang telah mengurus segala yang berurusan dengan perusahaan." Ucap Alex getir.Matanya menerawang jauh menatap kearah lembah yang semakin jelas karena cahaya matahari telah sepenuhnya menerangi tempat itu. Kabut yang tadi tebal kini kian memudar diganti dengan benderangnya sinar mentari. Hangat sinarnya mulai menyingkirkan rasa dingin yang tadi membungkus kulit.
"Jadi dia yang sudah berusaha membunuh lo dengan membuang tubuh lo ke jurang pertama kali?"
"Aku yakin dia pelakunya." Alex menipiskan bibirnya. Nampak dia sangat geram setelah mengetahui bahwa orang kepercayaannyalah yang telah berusaha membunuhnya. Tapi alasannya apa dia belum tahu.
"Aku harus segera pergi dari sini. Aku harus memastikan keluargaku baik-baik saja. Aku sangat khawatir dengan keadaan papa dan mamaku." ucapnya pelan.
"Tapi kita gak tahu aman apa enggak kalau kita keluar dari sini sekarang." Sahut Denis. "Handphone gue juga gak ada. Jadi kita gak bisa ngehubungin bang Theo atau siapapun."
"Ah, iya. Bang Theo. Apa kabar dia sekarang? Aku harus minta maaf padanya karena sudah melibatkan dia dalam masalahku." Alex menghela nafas berat. "Aku juga minta maaf sama kamu, gara-gara aku, kamu berada ditempat ini sekarang."
"Gak usah minta maaf. Semua ini bukan salah lo."
"Kamu juga hampir mati karena nolong aku Den."
Denis tersenyum miris. Teringat lagi terakhir kali dibibir jurang ketika dia melihat tubuh Alex jatuh terlebih dahulu dengan luka tembak di dadanya. Dia pikir Alex meninggal saat itu juga. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Mereka masih bernyawa hingga ke hari ini.
"Lo lebih beruntung, udah ditembak didada tapi masih hidup." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Kita berdua beruntung dan berhutang nyawa sama pak Darman."
Keduanya terdiam sesaat. Menikmati desir angin yang mulai terasa, menyibakkan kabut yang mulai berpendar dan menipis. Apalagi cahaya matahari semakin benderang menyinari dasar lembah yang basah dan dingin.
"Bagaimana kalau kita jadikan pak Darman mata-mata kita sebelum kita keluar dari sini?" Denis melontarkan idenya setelah cukup lama mereka terdiam.
"Apa pak Darman mau?"
"Kita tanya dia nanti. Gue yakin pak Darman mau bantu kita. Saat ini harapan kita hanya pak Darman. Kita juga gak bisa mempertaruhkan keselamatan bang Theo dan keluarganya."
"Kita bahkan belum tahu keadaan bang Theo setelah kejadian itu. Semoga mereka baik-baik aja." Alex menghela nafas. Tak disangka kejadiannya akan seperti ini. Karena menolong dirinya, keluarga bang Theo jadi ikut terlibat dalam bahaya.
Dia juga teringat wajah pria yang telah menembaknya. Pria itu menyeringai penuh kebencian ketika menodongkan senjata api kearah dadanya. Tak banyak kata yang orang itu ucapkan, hanya senyum penuh kemenangan yang dia tunjukkan.
Alex tidak tahu, alasan apa yang membuat orang itu berusaha membunuhnya. Selama ini sikapnya cukup baik kepadanya. Dan sekarang dia baru tahu, kalau pria itu serigala berbulu domba. Setidaknya, sekarang Alex tahu musuh dia yang sebenarnya.
"Kita harus bikin rencana kalau mau keluar dari tempat ini." gumam Denis. Alex mengangguk setuju dengan ucapan Denis.
*****
Darman pulang dari menjual ikannya sebelum tengah hari. Keringat mengucur membasahi baju yang dipakainya. Dia duduk dibale bambu dan mengambil tempat air minum yang ada didalam tas ransel butut yang disandangnya.
Meneguk air minumnya hingga menimbulkan bunyi ditenggorokan. Nampak sekali kalau dia sangat kehausan.
"Pak Darman baru pulang?" Alex keluar dari dalam pondok.
"Iya."
" Ikannya habis ya, Pak?"
"Alhamdulillah semuanya habis. Jadi bisa beli beras buat kita makan beberapa hari kedepan." Pak Darman tersenyum senang. Menunjukan sekarung kecil beras yang dia letakan tidak jauh dari tempat dia duduk.
"Syukurlah pak, kalau begitu. Saya ikut senang, ternyata perjalanan bapak tidak sia-sia."
"Tidak ada yang sia-sia kalau kita mau berusaha. Oya, mana Denis?" Pertanyaan pak Darman menyadarkan Alex kalau sejak tadi dia tidak melihat Denis.
"Tadi dia disini. Kemana ya?" Alex malah seperti bertanya pada dirinya sendiri. Dia mengedarkan pandangannya kesekitar tempat itu. Tadi Denis masih ada dibale ini ketika Alex masuk kedalam pondok. Tadi dia merasa kelelahan sehingga membaringkan tubuhnya didalam sambil menunggu pak Darman pulang. Sedangkan Denis masih duduk dibale saat itu. Tanpa disadarinya dia terlelap. Sehingga dia tidak tahu Denis sudah tidak ada disekitar pondok.
Pak Darman mengeluarkan sesuatu dari dalam tas gendongnya. Selembar koran bekas yang sudah lusuh dia sodorkan kehadapan Alex.
"Coba kamu lihat ini."
"Apa ini pak?"
"Saya gak sengaja membaca berita itu. Coba kamu baca berita paling atas itu." Darman menunjuk berita yang dimaksud.
"Pengusaha Muda Meninggal Secara Tragis Dalam Sebuah Kecelakaan Tunggal."
Alex mendongak menatap Darman sesaat. Seolah bertanya melalui matanya. Darman mengangguk paham dengan tatapan Alex. Alex kemudian melanjutkan membaca berita dibawah judul itu.
"..Sebuah mobil dengan nomor polisi X650XX diduga mengalami rem blong masuk kedalam jurang sedalam duapuluh meter didaerah yang jauh dari pemukiman penduduk. Mobil yang diduga dikendarai oleh Alex Vinn Dinatta ditemukan oleh seorang yang melintas dikawasan tersebut dalam keadaan memprihatinkan. Pengemudi ditemukan tewas didalam mobil dalam keadaan yang sudah tidak bisa dikenali. Namun demikian, keluarga meyakini bahwa pengemudi mobil tersebut merupakan anggota keluarga mereka yang merupakan putra dari pengusaha terkenal, Arga Dinatta..."
Mata Alex terbelalak membaca berita yang tertulis di koran itu. Dilihat tanggal terbit koran itu adalah tiga hari setelah kejadian penembakan terhadap dirinya.
"Apa itu berita tentang kamu?" tanya Darman ketika dilihatnya Alex terpaku menatap lembaran koran yang sudah lusuh itu.
Tangan Alex bergetar. Diremasnya koran itu dengan emosi. Nafasnya nampak menderu menunjukan perasaannya yang tak menentu. Alex menaikkan tatapannya. Nampak matanya memerah menahan amarah. Rahangnya mengeras menimbulkan bunyi gemerutuk digiginya.
"Ya. Ini namaku yang tercantum disini. Jadi, aku sudah mati Pak Darman." Alex menggeram. Matanya tajam menatap penuh dendam. "Dan aku akan menghantui orang yang sudah membuatku mati!"
.
.
.
__ADS_1
.
*****