Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluhdua


__ADS_3

Sarapan pagi dengan ikan bakar segar terasa sangat nikmat walaupun sederhana. Tiga orang yang terasing ditempat sepi ini selalu bersyukur untuk apapun yang mereka dapatkan. Bahkan sedetik saja udara yang mereka hirup, itu sudah lebih dari segalanya.


Bagi orang-orang yang pernah berada diambang kematian, harta dan kemewahan tidak ada artinya sama sekali. Pun begitu bagi Alex, lelaki yang tak pernah kekurangan sebelumnya. Bergelimang harta dan punya kedudukan sosial yang tinggi dikehidupan sebelumnya. Sekarang dia harus merasakan hidup yang sangat sederhana dibawah belas kasih orang yang tidak dia kenal. Sungguh satu pelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya.


Ditempat yang serba kekurangan ini, dia mempelajari banyak hal. Memperhatikan dan meniru apa saja yang Darman lakukan. Tidak ada rasa sungkan. Dia lakukan dengan penuh keikhlasan dan keingintahuan yang tinggi.


Suara kapak membelah kayu terdengar dibagian samping pondok Darman. Disana nampak Darman sedang membuat kayu bakar. Mengisi waktu luang karena tidak dapat menjual ikan, dia manfaatkan dengan membuat kayu bakar. Kebetulan tidak jauh dari pondoknya ada pohon besar yang tumbang. Dia memotongnya menjadi ukuran kecil dan membelah batang pohon yang terlalu besar.


"Boleh saya coba pak?" Denis yang sedari tadi memperhatikan mendekati Darman. Rambutnya yang panjang dibagian atas sudah diikat jadi satu dan menampakan rambut potongan pendek dibagian bawahnya. Nampak sangat macho ditambah anting-anting bulat ditelinga kirinya. Ternyata dibelakang telinga kirinya itu ada sebuah tattoo kecil selain dipunggung tangan kanannya.


Darman menyerahkan kapak besar itu ketangan Denis. Mengajarkan cara memegangnya dan juga posisi kaki Denis saat mengayunkan kapak. Denis mengikuti petunjuk pria itu dan mulai mengayunkan kapaknya. Tumbukan mata kapak yang tajam membelah kayu seketika. Denis tersenyum puas. Darman memuji hasil kerja Denis untuk pertama kalinya.


Alex memperhatikan tidak jauh dari mereka. Nampaknya dia cukup tertarik untuk mencobanya nanti.


Kembali Denis mengayunkan kapaknya dan membelah beberapa kayu menjadi beberapa bagian.


"Kamu kelihatan sudah seperti ahli, Denis." Darman menepuk bahu Denis sambil tertawa. Denis meringis, mengusap keringat yang menetes dikeningnya. Wajahnya tidak menunjukan rasa lelah sama sekali.


"Ini pertama kali saya pegang kapak lho, pak."


"Kamu hebat. Betul kata Alex. Saya percaya ucapannya sekarang." Darman tertawa. Denis mengerutkan keningnya.


"Dia bilang begitu? Kenapa?"


"Yaa.. Karena kamu memang begitu. Semua hal kamu bisa lakukan. Kamu juga memiliki hati yang sangat baik dibalik sikap kamu yang pendiam dan angkuh. Saya juga suka dengan sikap kamu." Ucap Darman terus terang.


Denis terdiam dengan menopang tangannnya diujung kayu penyangga kapaknya. Matanya yang dalam menatap pria tua itu sesaat.


"Saya tidak sebaik itu hingga harus disukai oleh semua orang." Denis kembali mengayunkan kapaknya. Tangannya nampak sangat bertenaga.


"Saya yakin semua orang yang berada disekitarmu pasti akan selalu menyukaimu, baik laki-laki maupun perempuan."


"Pak Darman salah. Saya tidak pernah disukai bahkan oleh ibu saya sendiri." Denis memukulkan kapaknya sekuat tenaga sehingga mata kapak menancap ditanah. Kayu yang terbelah terpental jauh kearah yang berbeda. Denis meninggalkan kapak itu ditempatnya dan berlalu dari sana. Darman menatap punggung Denis yang pergi begitu saja.


Alex yang dari tadi hanya menyimak, datang mendekati Darman.


"Kenapa dia?"


"Biarkan saja. Dia mungkin perlu sendiri."


*****


Duduk diatas batang pohon tumbang dibibir jurang menghadap pemandangan aliran sungai dibawah sana. Dengan kaki terbuka dan siku berada dikedua lututnya. Mata Denis menatap jauh entah kemana.


"Aku ditinggal pergi mamaku ketika berusia lima tahun." Suara Alex menyentakkan kesadarannya. Tapi dia tidak menunjukan rasa terkejutnya. Seperti biasa, dia selalu nampak datar tidak terlalu suka menunjukkan ekspresinya. Diliriknya sedikit dengan sudut mata pria yang sekarang telah duduk disampingnya.


"Beliau meninggal dalam sebuah kecelakaan. Aku bersamanya ketika kecelakaan itu terjadi. Aku sangat kehilangan beliau dan rasanya ingin ikut pergi bersamanya saat itu." Suaranya lirih terbawa kenangan masa kecilnya. Denis mencabut sebatang rumput yang tumbuh didepannya dan memutar-mutar ditangannya. Dia diam tak bersuara, namun telinganya menyimak setiap kata yang terucap dari bibir Alex.


"Akibat kecelakaan itu, aku mengalami trauma yang parah hingga harus melakukan terapi psikologi. Mama adalah orang yang sangat kusayangi dan juga sangat menyayangiku. Aku dapat mengingat dengan jelas hari-hari yang kulalui bersamanya. Dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Dia juga sangat berbakti kepada papaku. Dia adalah sosok wanita sempurna yang aku ingat."


Alex menghela nafas. Menatap aliran sungai dibawah sana dengan mata berkabut. Hening sesaat diantara mereka. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Denis. Lidahnya seperti terkunci. Hanya tangannya tak henti memainkan rumput dengan gelisah.


"Kamu tahu?" Alex kembali bersuara."Ketika aku mengalami trauma itu, yang dibutuhkan ternyata teman bicara. Kita hanya perlu untuk mengungkapkan apapun masalah kita kepada orang yang kita percayai. Kita tidak memerlukan apapun selain teman yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Sebelum mamaku pergi, dialah yang setia mendengarkan celotehku, dialah temanku. Selain mendengarkan dia juga menjadi penasehat yang baik. Semua yang dikatakannya selalu benar menurutku dan aku sangat tergantung padanya. Sehingga ketika dia pergi, aku merasa sangat kehilangan sosok itu."

__ADS_1


"Aku sempat berpikir bahwa andai saja mamaku hadir kembali, aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Aku akan menuruti semua kata-katanya. Aku akan berbakti padanya dan tak akan mengecewakannya."


"Dan aku menunaikan janjiku ketika aku kembali memiliki mama. Walaupun dia bukan mama asliku, tapi aku menghormati dan menyayangi beliau seperti kepada mamaku sendiri. Aku tak ingin kehilangan sosok mama untuk kedua kalinya."


"Selagi kita memiliki waktu untuk berbakti, maka lakukanlah. Jangan sampai menyesal datang disaat yang sudah tak ada gunanya lagi."


Alex menghembuskan napasnya. Bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Denis yang masih mematung.


"Alex." Suara Denis menahan langkah Alex. Dia terdiam ditempatnya menunggu suara Denis berikutnya.


"Kamu beruntung karena dapat merasakan kasih sayang."


Alex membalikan tubuhnya melangkahkan lagi kakinya mendekati Denis. Berdiri disampingnya dan memasukkan kedua tangannnya kedalam saku celana.


"Semua anak pasti pernah merasakan kasih sayang. Sekecil apapun itu."


Denis tertawa sumbang.


"Kamu salah. Aku gak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari keluargaku. Kamu gak akan percaya karena kamu gak ngalamin apa yang aku alami."


"Yah. Aku tidak bisa membayangkan hal itu benar-benar terjadi." Alex menghela napas. Duduk kembali ditempat semula. Menyapukan pandangannya disepanjang fatamorgana.


"Aku bukanlah anak yang diinginkan oleh siapapun." Suara Denis serak dan pelan. Terdengar sangat berat. Sesak lebih dulu menyeruak dari dasar dadanya. Alex diam menahan napas. Tak ingin membuat Denis mengurungkan niatnya untuk membuka diri tentang masa lalunya. Tatapannya tertuju pada satu titik dibawah sana.


"Kedua orangtuaku melakukan kesalahan dimasa mudanya. Dan aku hadir tanpa diinginkan oleh keduanya. Mereka berusaha untuk membunuh janin yang ada didalam perut perempuan itu. Tapi tidak berhasil. Dan aku lahir sebagai aib bagi keluarga mereka." Denis menarik nafas dalam-dalam. Mengenyahkan rasa sakit yang menghujam relung jiwanya.


"Hanya ada pertengkaran selama yang aku ingat. Aku tumbuh begitu saja ditangan pengasuh yang untunglah punya rasa kasihan untukku. Dua orang asing itulah yang telah memberiku kasih sayang. Sedangkan orangtuaku, mereka sibuk dengan ego mereka masing-masing."


"Pasti hari-harimu sangat berat." Alex menatap wajah Denis dari samping. Dia mengepalkan tangannya didalam saku celananya. Sekuat tenaga menahan keinginan untuk merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya.


"Sangat. Ditambah lagi perselingkuhan keduanya. Keluarga yang benar-benar hancur. Aku membenci kedua orang itu. Aku merasa tidak punya orang tua. Aku tidak punya siapa-siapa."


Alex merasa ikut sesak didadanya. Membayangkan masa-masa yang dilalui seorang Denis. Entah apa yang akan dia lakukan jika ada diposisi itu.


"Bagaimana dengan kakek dan nenekmu? Mereka pasti masih ada kan?"


"Mereka sama saja. Mereka tak pernah mengakuiku sebagai cucunya. Aku selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari mereka. Tak pernah ada yang menginginkan kehadiranku disana." Denis menghembuskan nafasnya. Menekan kedua sudut matanya.


"Thanks. Kamu sudah mau mendengarkan ceritaku. Kamu benar, ini membuat sedikit lega."


Alex tersenyum. Bahkan dia merasa aneh ketika Denis tidak lagi lo-gue. Tapi merubahnya jadi aku-kamu. Ini sebuah kemajuan yang bagus.


"Aku senang bisa menjadi orang pertama yang kamu percaya untuk mengetahui kisah hidupmu. Kita telah melalui masa sulit bersama-sama. Dan setelah ini entah apa yang akan terjadi dengan kita. Aku harap, kamu akan tetap percaya padaku, dan kita akan menjadi teman yang baik."


"Teman?"


"Ya."


"Bukan ide yang buruk."


Denis mengulurkan tinjunya didepan Alex. Alex mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana dan mengadukan tinjunya dengan tinju Denis tanda persahabatan mereka dimulai. Senyum tulus terukir dibibir Denis. Sebuah senyuman yang untuk pertama kalinya dilihat oleh Alex. Nampak begitu manis.


"Aku baru ingat, dulu, sebelum bertemu bang Theo, aku berniat untuk pergi ke rumah pengasuhku. Aku merasa bosan saat itu dan pergi dari rumah. Namun bang Theo menawarkan tempat tinggal dan pekerjaaan untukku. Aku membatalkan niat awalku."

__ADS_1


"Lalu?"


"Bagaimana kalau kita pergi ke rumah pengasuhku itu dan kita mengatur rencana disana? Pasti orang-orang itu tak akan menyangka kita ada disana."


"Bagaimana caranya kita pergi kesana? Kita bahkan tidak punya uang sepeserpun."


Keduanya saling beradu tatap. Satu hati mereka menyebut nama yang sama. Satu-satunya orang yang bisa membantu mereka.


*****


"Kalian yakin dengan niat kalian?"


Darman menatap bergantian dua orang yang duduk dihadapannya. Alex telah menceritakan rencananya yang dia sepakati bersama Denis. Mereka akan pergi ke kota tempat tinggal pengasuh Denis.


"Kami yakin pak. Lagipula, lebih cepat lebih baik. Lebih lama kami disinipun hanya menambah beban bapak saja. Kami sudah cukup merepotkan pak Darman selama ini." Alex yang mewakili bicara.


"Jangan pernah bicara seperti itu, nak. Bapak ikhlas menolong kalian. Bapak malah senang ada kalian disini. Bapak jadi tidak merasa kesepian." Mata Darman nampak berkaca-kaca. Rasa haru tiba-tiba menyeruak mengingat kedua orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya itu malah akan pergi meninggalkannya.


"Kami tak akan pernah melupakan jasa pak Darman yang besar pada kami. Budi baik pak Darman tak akan bisa dibalas dengan harta benda. Begitu urusan kami selesai, saya janji, saya akan menjemput pak Darman pergi dari tempat ini." Alex menumpangkan telapak tangannya dipunggung tangan Darman. Matanya begitu dalam menatap wajah tua pria yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.


"Itu tidak perlu kamu lakukan. Bapak sudah betah tinggal disini. Bapak merasa nyaman dan aman berada disini. Kalian pergilah, tidak usah khawatir dengan bapak. Bapak doakan semoga urusan kalian cepat selesai dan lancar. Berhati-hatilah diluar sana. Musuh kalian mungkin ada dimana-mana. Kalian harus tetap waspada. Jangan terlalu percaya dengan orang walaupun dia sangat dekat denganmu. Jadikan kejadian lalu sebagai pelajaran." Panjang lebar Darman memberikan nasehatnya kepada Alex. Anggukan kepala Alex menunjukan keseriusan Alex mendengarkan wejangan dari pria itu.


"Denis, tetaplah bersama dengan Alex. Kalian harus saling menjaga satu sama lain. Apapun yang terjadi." Darman menoleh ke arah Denis yang sejak tadi diam seribu bahasa. Darman sudah tidak merasa aneh lagi dengan sikap Denis.


"Ya pak." Hanya itu kata yang terucap dari bibir Denis.


Darman bangkit dari duduknya. Mengambil tas ransel butut yang selalu ia bawa kemanapun dia pergi. Merogoh kedalamnya dan mengeluarkan satu bungkusan dari sana.


"Bapak tidak memerlukan ini disini. Kalian lebih membutuhkannya. Terimalah." Darman menyodorkan bungkusan itu kepada Alex.


"Apa ini pak?" Ragu Alex menerima bungkusan itu. Membukanya perlahan dan dalam sekejap dapat melihat isinya. Alex terkejut. Matanya langsung menerpa wajah Darman. Menoleh sesaat kearah Denis yang sama terkejut melihat isi bungkusan itu. Namun seperti biasa, wajah datar Denis selalu bisa menutupi ekspresi yang sebenarnya.


"Ambilah. Kalian akan membutuhkan itu."


"Kami memang membutuhkan ini. Tapi saya akan mengambil secukupnya saja. Ini pasti jerih payah bapak setiap hari hingga bisa terkumpul sebanyak ini. Bapak pun pasti akan membutuhkannya untuk menyambung hidup."


"Sudah bapak bilang, kalian tidak udah mengkhawatirkan bapak. Bapak bisa mendapatkannya lagi selagi bapak mau berusaha. Lagipula, tujuan hidup bapak sekarang bukan itu. Bapak baik-baik saja walaupun hidup seadanya. Ambillah semuanya. Itu akan lebih bermanfaat jika kalian yang menyimpannya." Tatapan Darman yang penuh ketulusan meluluhkan perasaan Alex. Hatinya begitu tersentuh dengan semua kebaikan yang ditunjukkan oleh pria itu. Alex menggenggam erat tangan tua Darman.


"Saya tak akan pernah bisa membalas semua kebaikan pak Darman. Hanya Tuhan yang bisa membalasnya. Semoga bapak diberikan panjang umur dan kita bisa bertemu lagi."


"Amin."


Darman tersenyum. Menepuk punggung tangan Alex yang menangkup tangannya. Kemudian berbalik kearah Denis dan mengusap bahunya penuh kasih sayang. Denis tersenyum tipis menatap pria itu. Ada rasa hangat yang disalurkan tangan tua itu dibahunya. Rasanya meresap sampai kehati. Denis sangat menyukai rasa ini. Tak ingin rasanya dia kehilangan rasa ini. Namun apa daya, jalan hidupnya masih sangat jauh dan mau tidak mau, dia harus meninggalkan tempat ini untuk menyusuri jalan hidupnya sendiri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2