
Denis melayangkan pandangannya mencari orang yang sudah menyuruhnya datang ke tempat itu. Sebuah cafe yang sangat nyaman ketika dia memasukinya. Matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya disudut sana. Dia segera melangkahkan kakinya menghampiri pria itu. Menarik kursi dan duduk dihadapan Alex sambil menyapanya.
"Sendiri?" Alex tidak segera menjawab pertanyaan itu. Dia melambaikan tangannya memanggil seorang pramusaji yang segera datang menghampiri mereka. Menanyakan kepada Denis makanan yang akan dipesannya kemudian menyebutkannya kepada wanita itu.
"Jadi..Kamu gagal mengikuti mobil itu?" Tanya Alex ketika pramusaji itu sudah meninggalkan meja mereka.
"Itu gara-gara lo nelpon gue. Jadinya dia kabur dan gue kehilangan jejak."
"Maaf. Aku tadi benar-benar perlu ngomong sama kamu."
"Jadi gimana? Apa lo ketemu sama mereka?"
"Cuma lewat telepon. Intinya om Bisma menjamin keselamatan papa selagi kita gak melibatkan polisi. Mereka akan menyerahkan papa begitu mereka mendapatkan pasport dan tiket negara tujuan mereka. Mereka mau kita menyiapkan semuanya secepatnya."
"Mereka mau kemana?"
"Swiss.."
Denis mendengus mendengar permintaan orang-orang itu.
"Mereka benar-benar orang yang tidak tahu malu. Gimana bisa keluarga lo terlibat dengan orang seperti itu?"
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak akan mempermasalahkan itu sekarang ini. Yang terpenting bagiku adalah keselamatan papa. Aku sangat khawatir dengan keadaan papa saat ini."
Pembicaraan mereka terhenti ketika makanan yang mereka pesan datang. Pramusaji wanita meletakan semua pesanan Alex dan Denis diatas meja. Tersenyum sopan kepada dua orang itu kemudian berlalu untuk melayani pelanggan yang lain.
Alex dan Denis mulai menyantap makanannya.
"Gimana dengan rumah yang kalian intai itu? Apa ada sesuatu yang kalian dapatkan disana?" Alex mulai menyantap makanannya.
"Gak ada apa-apa didalam sana. Tapi anehnya, rumah itu dijaga dengan ketat. Juga mobil itu yang keluar dari dalam garasi. Dan lebih mencurigakan lagi, dia kabur begitu tahu ada kita disana. Bang Jack juga sangat yakin kalau dirumah itu ada aktifitas yang mencurigakan. Anak buahnya ngasih info setelah memperhatikan rumah itu beberapa hari."
"Lalu? Kamu bilang dua orang penjaganya bisa kalian lumpuhkan? Dimana mereka sekarang? Apa mereka tidak memberi sedikit saja informasi?"
"Bang Jack sama Nerrow yang urus mereka. Mereka gak mau ngasih tahu apa-apa. Mereka tetap bilang kalau itu rumah kosong dan mereka dibayar cuma buat ngejaga rumah itu karena ditinggal pemiliknya. Tadi sih gue suruh dilepas aja. Kita awasin lagi aktifitas mereka."
Alex menganggukan kepalanya. Dia mengunyah makanannya perlahan. Pikirannya masih dipenuhi dengan kekhawatiran akan papanya. Walaupun Bisma sudah berjanji akan merawat papanya dengan baik, tapi Alex tidak bisa percaya begitu saja kepada orang yang jelas-jelas sudah berkhianat kepada papanya itu. Bukan itu saja. Lebih dari itu, Alex bahkan sudah merasakan tangan kejam pria itu ketika menembakan timah panas ke dadanya. Apapun bisa saja dilakukan pria itu kepada papanya saat ini. Apalagi papanya ada dalam keadaan tidak berdaya.
Alex menghela napas. Menggelengkan kepalanya membuang bayangan buruk yang mungkin terjadi menimpa papanya. Kalau dia tidak cepat bertindak dan segera menemukan sang papa, bukan tidak mungkin kesehatan papanya akan semakin memburuk dan mungkin saja nyawa papanya tidak akan bisa diselamatkan lagi.
Membayangkan hal itu membuat Alex meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Diambilnya gelas dan meneguk cairan didalamnya hingga tandas.
__ADS_1
Denis memperhatikan tingkah Alex sambil mengunyah makanannya. Menelannya dengan susah payah dan ikut meletakkan sendok diatas piringnya.
"Apa kata pak Yunus tentang hal ini?" tanyanya sambil menatap Alex. Alex menggeleng pelan.
"Tadi aku habis menandatangani beberapa berkas tentang pemindahan kekuasaan beberapa saham atas namaku jadi milik Tania sama pak Yunus. Aku terpaksa melakukannya. Semuanya demi papa."
"Apa Reno tahu tentang hal ini?"
Alex tersenyum kecut.
"Entahlah. Dia seolah tidak peduli dengan hal ini." Alex nampak frustasi dengan masalah yang dihadapinya.
"Tentu saja dia bersikap seperti itu. Dia putra dari wanita itu." Denis mencebikan bibirnya. Teringat Reno rasa tak suka langsung menghinggapi pikirannya. Dalam sekilas saja dia sudah dapat menebak seperti apa cowok itu. Denis dapat melihat dari sikap Reno yang kurang bersahabat. Dan dia dapat melihat dengan jelas bagaimana Reno bersikap terhadap Alex yang merupakan kakaknya sendiri, walaupun berbeda ayah.
"Harusnya ini dibahas di rapat pemegang saham. Tapi ini keadaan darurat dan juga rahasia. Aku tidak ingin membuat kehebohan antar pemegang saham. Aku juga tidak mau sampai orang-orang tahu keadaan yang sebenarnya, sampai papaku benar-benar berada dalam keadaan aman." Alex menambahkan dengan suaranya yang lirih.
Denis menatap penuh rasa simpati cowok yang nampak sedang berada dalam keadaan terpuruk itu. Merasa diperhatikan, Alex mengangkat tatapannya. Sesaat mata keduanya beradu tatap. Namun beberapa detik kemudian keduanya sama-sama melemparkan pandangan ke tempat lain. Tiba-tiba saja ada perasaan canggung diantara keduanya. Sehingga keadaan menjadi hening untuk sesaat.
"Aku sudah selesai. Kita langsung pulang atau kamu masih mau pergi ke tempat lain?" Alex memecah keheningan diantara keduanya. Makanan masih tersisa banyak dipiringnya. Namun selera makannya sudah hilang tak tersisa. Dilihatnya makanan milik Denispun belum dihabiskan.
"Gue..mau ketemu sama bang Jack dulu. Lagian, gue pake motor penjaga rumah itu."
"Kamu mau mengembalikan motor itu?"
"Kalau gitu, aku akan ikutin motor kamu. Nanti kamu pulang bareng aku aja."
"Emang lo gak ada urusan lain?"
"Cukup untuk hari ini. Aku juga masih menunggu penyelidikan orang kepercayaanku. Sebenarnya Om Bisma memperingatkanku untuk tidak mengirimkan orang buat nyari papa. Tapi aku gak bisa diam gitu aja membiarkan papa dalam penguasaan orang itu."
"Semoga saja anak buah lo bisa nemuin papa lo secepatnya."
Alex mengaminkan ucapan Denis. Dia kemudian melambaikan tangannya kearah seorang pegawai cafe dan memberi isyarat untuk menghitung tagihannya. Dia merasa sangat malas untuk pergj ke kasir dan membayar makanan yang sudah mereka santap. Rasanya semua energinya terkuras habis setelah melewati hari ini dan memikirkan keadaan papanya. Sepertinya hanya dia sendiri yang mengkhawatirkan papanya, sedangkan Reno, dia sama sekali tak menghiraukannya.
Dipintu nampak dua orang baru saja memasuki tempat itu. Sekali mengedarkan pandangannya untuk mencari meja yang kosong, matanya langsung menangkap keberadaan Alex dan Denis dimeja pojok.
"Lihat siapa yang kita temukan ditempat ini." Pemuda itu menggamit tangan wanita cantik yang datang bersamanya. Dia menggerakkan dagunya menunjuk dua orang yang masih duduk saling berhadapan.
"Alex?" Bibir gadis itu menggumam.
"Lihat mereka. Bukankah itu sangat menjijikkan?"
__ADS_1
Gadis itu tidak menyahut. Dia melangkahkan kakinya menuju meja tempat Alex berada. Dia tiba disebelah Alex bertepatan dengan datangnya seorang wanita yang menyerahkan struk tagihan pembayaran.
"Alex?" Mata gadis itu menatap kedua orang dihadapannya bergantian.
"Vio?" Alex menyerahkan sejumlah uang sesuai dengan struk yang diberikan wanita pegawai cafe itu. Kemudian matanya beralih kepada Viola yang masih berdiri disamping meja.
"Kamu sama siapa?" Alex bangkit diikuti oleh Denis yang melakukan hal yang sama. Belum sempat Viola menjawab, pemuda yang datang bersamanya telah ada disebelahnya.
"Oh. Reno. Kalian mau makan juga? Sayang sekali, aku dan Denis baru saja selesai. Kami sudah mau pulang."
"Sayang sekali. Padahal jarang banget kita bisa bertemu ditempat seperti ini." Reno tersenyum tipis. Matanya melirik Viola yang terdiam dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Mungkin lain kali kita bisa makan bareng ditempat seperti ini. Sekarang, aku harus pergi." Alex melirik Viola, kemudian memberi isyarat pada Denis untuk segera meninggalkan tempat itu. Denis menganggukkan kepalanya dan segera berlalu meninggalkan Reno dan Viola, mengikuti langkah cepat Alex yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan tempat itu.
Untuk sesaat Viola masih berdiri mematung dan menatap kepergian Alex.
"Hei..ayo duduk." Reno memutuskan tatapan Viola pada bayangan Alex yang menghilang dibalik pintu.
"Reno. Tolong katakan padaku, apa kekuranganku sehingga Alex tak pernah sedikitpun tertarik padaku." Viola menghempaskan tubuhnya dengan lesu. Matanya buram diselimuti kepedihan menghadapi kenyataan yang teramat sulit untuk dia terima. Sekian lama dia memendam perasaan cinta untuk pria yang sudah dia kenal sejak dia kecil. Namun tak pernah sedikitpun rasa itu dibalas oleh Alex.
Memang selama ini Alex selalu bersikap baik padanya. Namun pintu hatinya seakan terkunci mati dan tak ada sedikitpun celah untuk dimasuki oleh Viola. Berbagai cara telah Viola lakukan untuk mendapatkan perhatian Alex. Namun semua sia-sia. Alex bahkan mulai menjaga jarak darinya. Bahkan sejak kembalinya Alex dari kecelakaan itu, dia semakin menjauh dari Viola. Seakan kehadiran Viola dihadapannya tak ada arti sama sekali.
Tak dapat dipungkiri, rasa sakit hati karena selalu diabaikan oleh Alex membuat Viola ingin menyerah dari rasa itu. Namun perasaan cinta yang dia miliki, merupakan perasaan yang tak mungkin bisa dihilangkan begitu saja. Tak akan bisa digantikan oleh siapapun untuk saat ini. Perasaan Viola terlalu dalam untuk pria itu.
"Kamu tahu? Kamu adalah wanita yang sangat sempurna. Tak ada wanita lain yang lebih dari kamu." Reno menatap lekat gadis cantik dihadapannya. Dia mengatakan itu bukan hanya karena ingin menghibur gadis itu. Tapi begitulah Viola dalam pandangan matanya. Dia mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.
Begitu dalam tatapan Reno menatap Viola. Wajah cantiknya nampak murung dan dengan jelas terlihat jika Viola sedang menahan airmatanya agar tidak luruh ditempat itu. Disentuhnya tangan Viola yang ada diatas meja. Sebuah sentuhan yang penuh dengan perasaan. Namun tidak disadari oleh Viola.
"Kamu pasti bohong, Ren. Kamu pasti bohong." Sergah Viola. Kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Aku gak bohong, Vio. Aku gak pernah ketemu sama gadis secantik kamu, sebaik kamu, sepinter kamu. Kamu itu idaman semua pria dimuka bumi. Dan, hanya pria bodoh yang sudah mengabaikan dan menyia-nyiakan wanita sesempurna kamu." Reno menggenggam jemari Viola. Matanya yang teduh menatap begitu dalam wajah Viola. Namun Viola tidak melihat tatapan yang penuh makna itu. Dia melarikan pandangannya ke sembarang tempat.
Viola tersenyum miris. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Tapi Alex tak pernah menyukaiku. Dia tak pernah memandangku sedikitpun." Suaranya bergetar menahan perasaan sesak dalam dadanya.
"Berarti dia bodoh 'kan?"
Viola menyeka ujung matanya. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan melalui mulutnya. Mencoba melepaskan beban perasaan yang terasa menghimpitnya.
"Kamu lihat tadi? Apa kamu masih mau membuang waktumu dengan menangisi pria seperti Alex? Ayolah Vio. Buka mata kamu. Dia bukan saja tidak tertarik padamu. Tapi dia juga tidak tertarik pada wanita lainnya. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Tidak ada yang salah denganmu. Kesalahannya ada pada dia. Kamu mengerti kan maksudku?"
__ADS_1
Reno berusaha untuk menghibur gadis itu. Dia tidak rela kalau Vio terus menerus menitikkan air mata untuk Alex. Dia sangat ingin melihat senyuman manis gadis itu untuknya. Reno sangat berharap gadis itu menyadari bahwa ada seseorang yang selalu mengharapkan balasan rasa yang sangat besar dia rasakan. Rasa cinta yang terpendam. Mungkin sebesar cinta Vio untuk Alex.
******