
Mbak Fani berdiri mematung diambang pintu. Matanya terbuka lebar melihat kejadian luar biasa yang baru saja dilihatnya. Beberapa buku dan berkas-berkas berceceran dibawah kakinya.
Alex menghampirinya dengan gugup.
"Mbak."
Alex memunguti buku dan kertas yang berserakan. Si pemilik nampaknya masih shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia masih mematung sambil menatap Alex dengan matanya yang melebar. Bahkan saat Alex menyodorkan buku dan berkas miliknya, tangannya tidak bergerak untuk menyambutnya.
"Mbak Fani."
"I..iya..Maaf. Mbak hanya kaget aja." Mbak Fani tergagap.
"Bagaimana keadaan Denis? Apa sudah ada perubahan?" Mbak Fani berusaha untuk bersikap biasa saja. Walau hatinya masih penuh dengan tanya, begitu juga dengan ekspresi wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa canggungnya terhadap Alex. Tangannya mengambil buku dan kertas miliknya dari tangan Alex.
"Mbak, kita bicara diluar sebentar." Alex melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti oleh mbak Fani. Dia merasa harus menjelaskan sesuatu kepada wanita itu. Alex menoleh sebentar kearah ranjang tempat Denis terbaring sebelum menutup pintu dibelakangnya.
"Maaf kalau sudah membuat mbak terkejut dengan melihat kejadian tadi."
"Jadi, apa penjelasan kamu?"
Alex mengambil nafas sesaat.
"Saya mencintainya."
Bruk!!
Buku ditangan mbak Fani kembali berjatuhan.
Untuk kedua kalinya Alex memunguti buku dan berkas-berkas itu dari lantai. Dia tidak segera memberikannya ketangan mbak Fani.
"Mbak pasti salah dengar kan?" Mata mbak Fani membulat.
"Enggak mbak. Mbak gak salah dengar. Itulah yang sebenarnya."
Mbak Fani menekan keningnya cukup keras. Dia tertawa sumbang.
"Maaf. Mbak hanya kaget aja. Ya, seharusnya mbak gak terlalu kaget begitu. Memang ada beberapa orang yang punya ketertarikan pada sesama jenis, dan mbak menghargai itu walaupun mbak tidak mendukung hal seperti itu..."
"Mbak.."
"Mbak sudah menganggap Denis sebagai keluarga mbak, dan ya, dia memang tidak pernah suka pada seorang perempuanpun selama yang mbak kenal. Jadi, mungkin itu sebabnya.."
"Mbak, ini tidak seperti yang mbak pikirkan. Denis itu bukanlah seorang pria seperti yang kita kira selama ini. Dia perempuan, sama seperti mbak."
"Apa? Kamu jangan mengarang cerita, Alex. Mbak sudah mengenalnya cukup lama, lebih lama dari kamu."
Mbak Fani menahan suaranya agar tidak berteriak.
"Tapi itu yang sebenarnya. Saya juga baru tahu tadi malam."
"Dan langsung jatuh cinta?"
"Saya sudah menyukainya sejak lama. Saya bahkan menyangka diri saya seperti yang mbak sangkakan kepada saya. Saya benar-benar frustasi, sehingga saya mengambil keputusan untuk meminang seorang gadis untuk mengalihkan perasaan saya kepada Denis. Tapi saat saya hendak melamar gadis itu, peristiwa penembakan itu terjadi. Sasarannya adalah saya. Tapi Denis telah melindungi saya jadinya dia yang terkena tembakan. Saat itulah saya tahu kalau Denis itu seorang perempuan. Mamanya berada disana dan menangisi Denis."
Mbak Fani terpana mendengar penuturan Alex yang panjang lebar. Tak dapat dipercaya orang yang selama satu tahun lebih bersama hidup dengannya ternyata menyimpan rahasia yang begitu besar. Dia tak pernah menyangka sedikitpun kalau Denis itu seorang perempuan. Postur tubuhnya dan gesturnya benar-benar maskulin. Begitu juga dengan suaranya yang berat.
"Rasanya mbak tidak mempercayai ini." Mbak Fani menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi itulah yang sebenarnya. Kedua orangtuanya ada tadi malam. Itu yang membuat saya juga percaya kalau Denis itu seorang perempuan."
"Dia masih memiliki orang tua?"
"Ya. Dan saya cukup mengenal papanya."
Alex terdiam sesaat. Mengingat seorang pria jahat yang telah mencelakai dirinya dan juga Denis. Bagaimanakah reaksi Denis seandainya dia tahu yang sebenarnya?
"Ya, Tuhan. Benarkah? Ternyata dunia ini sangat sempit, ya."
Mbak Fani tak hentinya berdecak mendengar semua yang dikatakan Alex. "Bagaimana sekarang keadaan dia?"
"Sedikit lebih baik. Tapi kenapa dia tidur terus ya?"
"Itu reaksi obat. Mbak sengaja memberi dia obat tidur biar tubuhnya bisa istirahat. Itu akan mempercepat proses penyembuhannya."
Alex mengangguk.
"Berapa lama dia akan tidur?"
"Mungkin satu jam. Mungkin juga lebih. Tidak bisa dipastikan juga."
Alex nampak bimbang.
"Kamu ada urusan lain? Pergilah, biar mbak jagain dia. Jam kerja mbak juga sudah selesai." Mbak Fani mengambil alih berkas-berkas yang masih berada ditangan Alex.
"Betul mbak mau jagain Denis?"
"Iya. Mbak juga mau nelepon Bang Theo nanti mau ngasih tahu dia kalau mbak tidak langsung pulang hari ini. Dia juga pasti akan sangat terkejut kalau tahu yang sebenarnya."
"Baiklah kalau begitu. Saya akan pergi sebentar. Nanti saya akan menyuruh anak buah saya buat berjaga disini."
"Bukan begitu mbak. Saya hanya tidak mau merepotkan mbak."
"Ya ampun Alex. Mbak sudah nganggap Denis itu seperti adik mbak sendiri. Mbak gak merasa repot sedikitpun. Kamu pergilah. Jangan khawatirkan Denis."
Alex mengangguk. Setelah meyakinkan dirinya kalau Denis akan aman ditinggal bersama mbak Fani, Alex akhirnya pergi menuju kantor polisi dimana Bisma dan Tania ditahan.
*****
Setelah memberikan keterangan yang diperlukan oleh pihak kepolisian, Alex meminta ijin untuk bertemu dengan Bisma.
Pria itu nampak sangat tertekan dan wajahnya penuh dengan penyesalan. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam dihadapan Alex.
"Maaf." Suaranya tercekat hampir tidak terdengar.
Alex menelan salivanya. Pria dihadapannya adalah orang yang telah lama dia kenal. Sejak dia masih kecil. Orang kepercayaan papanya yang ternyata berkhianat entah sejak kapan. Pernah mencoba membunuhnya berulangkali dan ternyata dia adalah ayah biologis dari wanita yang dicintainya. Sungguh sangat miris. Entah takdir apa yang sedang mempermainkan hidupnya saat ini.
Alex memejamkan matanya. Menetralkan perasaan benci dan marah yang menyeruak begitu kuat. Semua sepak terjang pria ini tak mungkin dapat dia lupakan.
"Semua yang pernah saya lakukan sama kamu dan papa kamu, memang tak layak untuk dimaafkan. Saya ikhlas menerima apapun yang akan kamu lakukan terhadap saya. Saya bahkan sudah mendapat hukuman yang sangat luar biasa dengan mengetahui fakta kalau Denis itu adalah anak saya. Saya tidak tahu bagaimana cara saya untuk menghadapi dia."
Pria itu bicara dengan suara tersendat-sendat menahan segala rasa yang berkecamuk didalam dadanya. Tak sedikitpun dia menaikkan pandangannya dari meja yang menjadi pemisah antara dirinya dan Alex.
"Saya tidak tahu, apakah masih pantas untuk menyebut dia sebagai anak saya. Pastinya dia tidak akan pernah mau menerima saya sebagai ayahnya." Dan setetes cairan bening jatuh mengenai tangannya yang terlipat diatas meja. Alex melihatnya.
Alex masih membisu. Sengaja dia membiarkan pria itu untuk mengungkapkan semua yang ingin dia katakan. Alex sendiri masih bingung dengan perasaannya. Dia sangat membenci pria yang kini duduk dihadapannya. Dulu, dia sangat ingin membalas dendam atas semua penderitaan yang dialami oleh papanya. Dia ingin memaki pria itu sepuas hatinya. Ingin melakukan semua hal yang buruk sehingga pria itu benar-benar menyesal karena sudah bermain-main dengan kehidupan orang lain.
__ADS_1
Tapi kini dia dihadapkan pada satu kenyataan yang membuat dia shock. Pria jahat itu adalah ayah dari Denis. Bagaimana bisa. Bagaimana mungkin. Dan ini nyata.
Sampai Bisma berlalu dari hadapannya, Alex masih diam membisu. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada pria itu. Haruskah cacian yang dia ucapkan, ataukah kata penghiburan untuk membesarkan hati pria itu? Rasanya hal terakhir itu tidak mungkin dia lakukan.
"Pak, mari kita pulang." Sentuhan kecil dibahunya. Faisal berdiri disampingnya.
Alex seperti baru mendapat kesadarannya. Dia segera bangkit dan spontan melihat jam ditangannya.
"Aku harus kembali ke rumah sakit."
"Baik."
Merasa tidak akan bisa konsentrasi dijalan, Alex meminta Faisal untuk mengantarkannya kembali ke rumah sakit.
Baru saja mobil melaju, ponselnya berbunyi menampilkan barisan nomor yang tidak dia dikenali.
"Hallo?"
"Pak Alex, saya Andres, papa tirinya Denis."
"Oh, ya pak Andres. Ada perlu apa ya pak?"
"Maaf saya menelepon pak Alex. Ini mengenai Denis."
"Iya pak?"
"Istri saya tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar tentang Denis."
Alex menghela nafas.
"Maafkan saya Pak Andres, sebenarnya Denis melarang saya untuk memberitahu istri anda tentang keadaan dirinya." Dengan berat hati mengatakan itu.
"Kalau begitu, katakan saja pada saya. Dia hanya melarang anda untuk mengatakan kepada istri saya kan?"
Alex terdiam. Menimbang apa yang harus dia lakukan.
"Pak Alex?"
"Ya..sebenarnya, dia sedang dirawat dirumah sakit. Dia demam tinggi. Tapi sekarang dia sudah lebih baik." Akhirnya.
"Di rumah sakit mana?"
Alex menyebutkan nama rumah sakit tempat Denis saat ini dirawat.
Setelah mendapatkan informasi yang diinginkannya, Andres memutuskan sambungan telepon.
"Maafkan aku Denis. Aku sudah memberitahu keluargamu tentang keadaanmu." Batin Alex. Dia menyandarkan punggungnya dan menatap jalanan yang dilalui. Malam sudah menyapa, dan mereka masih berada dijalanan. Sepertinya mereka harus lebih bersabar menghadapi lalu lintas yang lumayan padat malam ini. Perjalanan dari kantor polisi kerumah sakit tempat Denis dirawat terasa sangat lama.
Ponselnya kembali berbunyi tidak lama kemudian. Alex segera menggeser fanel warna hijau untuk menjawab panggilan.
"Alex.."
"Mbak Fani. Ada apa?"
"Maafkan mbak. Denis tidak ada dikamarnya!"
"Apa?"
__ADS_1
*****