
Alam fana cukup menyenangkan. Feng Shang dan Yongheng tinggal di sebuah pondok kayu di tengah hutan yang tentram dan damai. Di sini, mereka menjalani hidup seperti manusia.
Yongheng rindu hari-harinya sebagai manusia biasa, begitu pula Feng Shang. Mereka membuat sebuah kebun dan danau, juga menghiasi taman di sekitar pondok sengan bunga-bunga dan beberapa jenis tumbuhan lain.
Tanaman-tanaman mereka tumbuh dengan kekuatan langit, subur dan sangat bagus. Demi melengkapi kebahagiaan, mereka suka menjualnya ke pasar, berbaur bersama manusia-manusia fana.
"Aku ingin membeli ini," ucap Feng Shang pada seorang pedagang gulali. Pedagang itu memberinya satu, tapi Feng Shang menggeleng. Pedagang tersebut heran, lalu Yongheng datang dan membantunya.
"Dia ingin semuanya."
"Ah, begitu rupanya. Silakan, Nona."
Feng Shang memborong semua gulali dari pedagang tersebut. Kedua tangannya sibuk memegang gulali, sambil memakannya perlahan. Yongheng berjalan di sisinya, ia menggelengkan kepalanya heran. Tingkah Feng Shang sangat mirip dengan anak kecil jika seperti ini.
"Jangan mengkritikku. Aku tidak punya masa kecil yang menyenangkan."
"Aku tidak mengkritikmu."
Feng Shang memanyunkan bibirnya, lalu memakan kembali gulalinya. Yongheng membawanya melihat-lihat kota sekitar, melepaskan penat lalu kembali ke pondok setelah sore hari. Rutinitas itu berlangsung selama beberapa waktu.
"Akan ada pertunjukan opera pada malam festival lentera nanti. Apa kau tertarik ingin menyaksikannya?" tanya Yongheng.
"Tentu saja. Jarang-jarang melihat pertunjukkan opera manusia. Pastikan dapat kursi paling depan."
Yongheng mengangguk, lalu pergi ke gedung tempat pertunjukkan berlangsung nanti. Dia memesan tempat paling depan dan berbicara dengan pengurusnya, lalu membayarnya dengan puluhan keping perak sampai membuat pengurus itu berterima kasih berulang kali.
Setelah keluar dari gedung, Feng Shang dan Yongheng pergi ke toko pakaian. Mereka membeli beberapa set pakaian dan membayarnya dengan uang yang berlebih tanpa meminta kembalian. Puas dengan pakaian, mereka lalu pergi ke toko makanan dan membeli beberapa kardus makanan ringan.
Di tengah jalan, seorang anak merengek minta dibelikan mainan kepada ibunya. Suaranya terdengar oleh Feng Shang, lantas dia memborong semua mainan itu dan memberikannya untuk anak tersebut. Anak kecil tersebut justru malah menangis semakin kencang karena jumlah mainannya terlalu banyak.
"Dia yang minta, dia juga yang menangis. Manusia memang aneh," ujar Feng Shang.
"Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Xiao Shang."
Feng Shang berdecih. Ia pikir seharusnya dia tidak akan punya anak jika menikah nanti. Mengurus anak itu merepotkan. Setiap malam pasti sulit tidur karena tangisan anak, belum lagi rewel ketika sakit. Feng Shang yang suka ketenangan tidak akan sanggup menanganinya.
__ADS_1
Kedua makhluk abadi tersebut lalu singgah di sebuah rumah makan. Mereka memesan tempat khusus yang ada di lantai dua. Menu yang dipesan juga menu spesial yang paling mahal. Tidak apa-apa, keduanya cukup kaya. Uang sebesar itu bukan masalah. Jika kurang, keduanya tinggal mengeruk harta di gudang penyimpanan Istana Langit dan Laut Timur saja.
"Ah, seandainya ada pizza atau chichken lava seperti di bumi," keluh Feng Shang. Ia ingat kalau dulu Shen Yi sering membawakannya makanan seperti itu.
"Kalau kita tahu jalannya, kita bisa mampir ke sana," tambah Yongheng, karena sampai saat ini mereka masih tidak mengetahui mengapa mereka bisa ada di dunia bernama bumi tersebut. Semuanya masih menjadi misteri.
"Biarlah jadi rahasia. Jika kita pergi ke sana, dunia itu mungkin akan berubah lagi."
"Aku hanya rindu rumah bunga itu. Setiap hari aku selalu berdiam di sana karena kekuatanku belum pulih," kenang Feng Shang.
"Dan aku akan memarahimu karena kau selalu mengacau. Zhang Bi sampai mengeluh karena tidak sanggup mengurusmu."
"Maharani Langit tidak perlu diurus oleh asistenmu."
"Apa mereka baik-baik saja setelah malam itu?" tanya Feng Shang.
"Siapa?"
"Feng Zheng, Zhang Bi, Jiang Li, dan juga semua orang."
***
Malam harinya usai menonton pertunjukkan opera, Feng Shang dan Yongheng pulang ke pondok. Sebelum sampai, Yongheng memintanya untuk memejamkan mata. Meski tidak tahu apa yang mau dilakukan olehnya, Feng Shang menurut. Dia menutup matanya dengan sehelai kain putih.
Yongheng menuntunnya. Keduanya berjalan di antara bunga-bunga yang bermekaran. Ketika sampai di depan gerbang kayu, Yongheng membuka ikatan kain itu dan menyuruh Feng Shang membuka matanya.
Di depan mereka, pondok kayu tersebut tampak berbeda. Di sepanjang jalannya yang terbuat dari batu, tergantung puluhan lentera yang menyala terang. Bunga-bunga ikut menyambut mereka. Kain-kain merah terpasang indah di sana-sini.
Yongheng juga memanggil kunang-kunang untuk mempercantik semuanya. Hasilnya sesuai dengan harapan. Feng Shang tersenyum, tidak menyangka kalau ini adalah sebuah kejutan. Meski sederhana, tapi sangat berharga dan bermakna.
"Kapan kau menyiapkannya?" tanya Feng Shang penasaran. Padahal selama ini Yongheng selalu bersamanya.
"Kau lupa? Aku ini Dewa Agung Yongheng. Aku bisa melakukan apapun."
"Dari mana kau mempelajarinya?"
__ADS_1
"Rahasia."
Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia meniru cara manusia dan hasil bertanya pada Ji Nuo, bukan? Itu agak memalukan untuk harga dirinya.
Yongheng lalu membimbing Feng Shang ke halaman utama. Di sana, sudah ada satu meja berisi satu set poci berisi anggur dan gelasnya beserta beberapa camilan. Yongheng memegang tangan Feng Shang, membuatnya berdiri berhadapan dengannya. Mata mereka bertemu dan saling menbaca.
"Xiao Shang, menikahlah denganku."
Sifat bodoh Feng Shang muncul lagi karena terkejut.
"Menikah? Siapa? Denganku? Sekarang? Di sini?"
Yongheng tertawa.
"Karena kita ada di dunia manusia, mari lakukan dengan cara manusia."
Pria itu lalu memakaikan sebuah kerudung untuk menutupi kepala Feng Shang. Lalu, mereka menyembah bumi dan langit, saling membungkuk dan menghormati satu sama lain. Yongheng mengambil cangkir yang sudah diisi anggur pernikahan, menyerahkannya pada Feng Shang dan satu lagi ada di tangannya.
"Tunggu! Hei, aku belum setuju!"
"Sudah terlambat. Kau tidak diberikan kesempatan untuk menolak."
Yongheng lantas meneguk anggur tersebut bersama Feng Shang. Feng Shang tidak diberikan kesempatan untuk berbicara, dan hanya pasrah ketika Yongheng menggendongnya masuk. Pria itu menidurkannya di ranjang setelah melepas kerudungnya.
Cukup lama mereka saling bertatapan. Gemuruh bertalu-talu di dalam diri mereka.
"Kau... Tidak boleh meninggalkanku. Baik menjadi Shen Yi, atau Yongheng," lirih Feng Shang.
"Xiao Shang, tetaplah bersamaku selamanya."
Setelah mengatakan itu, Yongheng langsung menciumnya. Bibir manis tersebut saling berpagut satu sama lain, mencari gula-gula yang tersembunyi di sana. Bendungan perasaan yang selama ini ada membuncah, mengalirkan kasih yang besarnya tiada bandingannya.
Perlahan, kain-kain di tubuh mereka mulai tanggal. Lilin-lilin bergoyang, nyanyian malam merdu mengiringi dua insan yang tengah dimabuk cinta. Dua bintang dari langit tersebut menemukan kebahagiaan masing-masing.
Ah, entah mengapa salju tiba-tiba turun di pondok itu.
__ADS_1