Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 41: Cara Kerja Maharani Langit


__ADS_3

"Di mana perempuan itu?"


Jingjing mendongakkan kepala saat seseorang bertanya padanya. Jingjing terdiam sesaat melihat Shen Yi berdiri dengan setelan kerjanya, menenteng sekantong makanan dan minuman mahal. Beberapa detik kemudian, Jingjing tersadar. Ia mengedipkan mata, lalu melirik ke ruang rapat.


"Direktur Feng sedang rapat bersama dewan direksi, Presdir Shen."


Meski tidak tahu mengapa presdir dari Xize datang kemari, Jingjing harus melayaninya dengan baik. Ia menyuruh Shen Yi menunggu di ruangan Feng Shang sampai pemiliknya kembali. Sembari menunggu, Shen Yi melihat-lihat ruang kerja Feng Shang yang rapi. Setelah beberapa saat, ia berdecak. Menurutnya, Feng Shang begitu tidak punya selera sampai ruangan ini pun begitu biasa saja.


Tapi, letaknya lumayan strategis. Ruangan ini dilapisi kaca tebal yang kedap suara. Selain itu juga menghadap langsung ke luar gedung, hingga bisa menatap pemandangan Kota Cheng dengan leluasa. Tidak heran, pikirnya. Pakaian Feng Shang yang dipakai sehari-hari juga hanya setelan kerja formal. Bahkan saat di rumah pun, ia paling-paling memakai gaun panjang. Perempuan itu tidak pernah memakai pakaian yang terbuka.


Memang aneh di zaman ini. Shen Yi berpikir selera fashion sekelas direktur sepertinya terlalu rendah. Di luar sana, mitra-mitranya selalu memakai pakaian mewah setiap harinya. Shen Yi justru malah teringat saat Feng Shang berteriak karena tidak bisa mematikan kran shower yang berujung keduanya tercebur ke dalam bathtub. Tiba-tiba saja telinganya memerah tanpa sadar.


Jingjing kembali masuk ke ruangan lima belas menit kemudian.


"Apa dia sudah selesai?" tanya Shen Yi.


"Belum. Direktur Feng menyuruhku mengambil berkas yang tertinggal," jawab Jingjing.


"Oh. Baiklah."


"Jika Presdir Shen penasaran, Anda boleh ikut bersama saya."


Merasa bosan menunggu, Shen Yi akhirnya ikut bersama Jingjing. Di ruang rapat, dia duduk paling belakang, sementara wanita yang ingin ditemuinya berada di barisan paling depan. Di dekat proyektor, seseorang sedang mempresentasikan grafik pendapatan perusahaan  selama satu bulan ke belakang lengkap dengan segala indeks resikonya.


Shen Yi melihat Feng Shang mengajukan beberapa pertanyaan. Dari bobotnya, tampak sekali kalau perempuan itu begitu menguasai bidang ini, begitu memahami segalanya. Bisa dibilang pertanyaannya juga kritis dan tanggapannya memiliki nilai. Feng Shang benar-benar tampak seperti seorang direktur yang sudah lama bekerja di perusahaan.


Ini pertama kalinya ia melihat Feng Shang bekerja secara langsung. Selama ini dia dan perempuan itu selalu bekerja di perusahaan masing-masing. Sesekali bertemu secara kebetulan pada pertemuan-pertemuan pemimpin perusahaan dengan mitra, selebihnya hanya interaksi biasa di rumah. Itu pun jika Shen Yi lupa kalau dia sedang menghindari Feng Shang. Sekarang, entah mengapa ia malah ingin menemui perempuan itu di sini.


"Dia cukup profesional juga," gumam Shen Yi.


Jingjing yang berada di sampingnya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Presdir Shen tidak tahu. Saat Direktur Feng baru beberapa hari di perusahaan, dia sudah merusak proyektor sebanyak enam buah. Dia juga merusak empat komputer perusahaan. Untungnya datanya bisa diselamatkan," ucap Jingjing.


"Benarkah?"


Jingjing mengangguk. Shen Yi menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata gadis itu memang pengacau. Tidak di mana-mana, ia pasti merusak sesuatu. Feng Shang bagaikan peri yang ajaib, yang tindakannya tidak disangka-sangka. Ia seperti orang bodoh, padahal isi otaknya begitu cerdas. Tak tanggung-tanggung dia bahkan berani membujuk kakeknya untuk memutuskan kerja sama dengan perusahaan lain.


Apa anak ajaib ini benar-benar anak istimewa yang disebutkan oleh Feng Zheng?


Sampai sekarang pun ia tak berani mempercayainya. Shen Yi sedang berusaha melindungi Feng Shang sekuat yang ia bisa, tetapi bukan berarti ia percaya. Pada dasarnya, keinginan itu muncul di hatinya, bukan atas dorongan atau permintaan Feng Zheng. Sepertinya, ia memang punya ikatan takdir dengan perempuan itu.


"Lalu kekacauan apa lagi yang dia buat?" tanya Shen Yi.


"Direktur Feng pernah mematikan kran air sampai satu gedung mengomel. Untung saja dia pemiliknya. Kalau bukan, Direktur Feng mungkin sudah habis jadi bulan-bulanan karyawan."


"Apa dia selalu sebodoh itu?"


"Tidak. Mungkin, saat itu Direktur Feng hanya sedang linglung saja. Asal Presdir tahu, setelah Direktur Feng memimpin Lingjing, perusahaan terus mengalami kenaikan dan memperoleh keuntungan yang besar. Beberapa direktur dan karyawan yang tidak becus bekerja juga disingkirkan supaya tidak menjadi benalu."


Jingjing kemudian menceritakan hal lain yang berkaitan dengan Feng Shang. Mereka sesekali tertawa kecil sambil membekap mulut. Padahal, saat itu sedang berlangsung rapat dewan direksi. Ia sebagai penanam saham seharusnya bersikap hormat dan duduk dengan patuh.


"Maaf, apa yang di belakang bisa diam sebentar?"


Shen Yi dan Jingjing langsung menghentikan perbincangan kecil mereka begitu pertanyaan seseorang dilontarkan. Orang yang sedang presentasi menatap keduanya, diiringi tatapan dewan direksi yang lain. Jingjing berdiri, lalu meminta maaf. Saat ia berjalan hendak menyerahkan dokumen, mata Feng Shang menatap Shen Yi dari depan, lalu dahinya mengernyit.


"Shen Yi?" ucapnya tanpa sadar.


"Sedang apa kau di sini?" tanyanya.


"Hanya datang berkunjung. Silakan lanjutkan," jawab Shen Yi.


Sebelum melanjutkan rapat, Feng Shang mengenalkannya terlebih dahulu. Di antara dewan direksi memang ada yang belum mengenal Presdir Shen, pemilik Perusahaan Xize yang kebetulan bekerja sama dengan Lingjing. Sekalian saja pada momen ini ia memperkenalkannya agar menghemat biaya dan waktu. Lagipula, rapat ini hanya membahas hal-hal yang menurutnya membosankan.

__ADS_1


"Kalian lanjutkan," titah Feng Shang.


"Baik, Direktur Feng."


Feng Shang menghampiri Shen Yi di bangku belakang. Tatapan matanya memicing seperti burung bersiap memakan mangsa. Feng Shang sungguh tidak mengerti dengan sikap pria tersebut akhir-akhir ini. Kadang bersikap baik dan patuh penuh perhatian, terkadang begitu sombong dan menyebalkan.


Mendapati tatapan tajam tersebut, Shen Yi tersenyum kecil. Bahaya apa yang belum pernah dia hadapi? Feng Shang seperti itu seperti seekor burung pipit kecil yang kehilangan mangsa, menganggapnya sebagai musuh karena merebut makanannya. Di matanya, Feng Shang itu hanya gadis menggemaskan yang selalu membuatnya kebingungan.


"Mengapa kau kemari? Bukankah kau sedang menjauhiku akhir-akhir ini?" todong Feng Shang. Shen Yi jadi canggung. Perempuan ini menyadarinya ternyata.


"Hanya mengantarkan makanan."


"Itu bukan gayamu. Sejak kapan Presdir Xize menjadi pengantar makanan siap saji?"


Andai saja suara mereka keras, dewan direksi pasti akan tertawa.


"Menurutmu bagaimana? Apa aku cocok menjalani profesi itu?"


Feng Shang memutar bola matanya malas. Bercanda, ya? Mana ada inkarnasi Dewa Agung Yongheng menjadi kurir pengantar makanan! Feng Shang pikir, Shen Yi si bodoh ini kebodohannya sudah tidak tertolong. Perlu usaha lebih keras untuk menyadarkannya.


"Ah baiklah. Aku tidak bercanda lagi denganmu. Makanannya ada di ruanganmu."


"Oh."


Wah, hanya oh saja? Shen Yi sudah jauh-jauh mengantar makanan dan rela mengantri selama beberapa menit untuk memesannya, tapi hanya 'oh' yang ia dapat dari perempuan ini? Shen Yi menghela napas. Seharusnya ia tidak boleh melupakan kalau perempuan yang satu ini terkadang begitu irit bicara.


Feng Shang berjalan keluar. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh kepada Shen Yi yang masih duduk di kursi direksi.


"Kenapa malah diam? Ayo makan bersama!" ucap Feng Shang. Shen Yi terpaksa mengikutinya dari belakang.


...***...

__ADS_1


...Holaaaa! Otor balik lagi nih setelah absen sekian hari! Akhir-akhir ini tugas kuliahnya numpuk, jadi nggak sempat up. Tapi tenang, Otor tetap akan lanjutin ceritanya kok. Makasih buat yang udah setia & stay nungguin ceritanya. Sampai jumpa di episode berikutnya! ...


__ADS_2