
Suasana di dalam gedung Xize mencekam. Aura kemarahan yang begitu mendominasi keluar dari sosok sang presdir yang telah dikuasai amarah yang membara. Karyawan di sana tidak berani mengangkat kepala, merasakan tubuhnya seperti ditelanjangi di hadapan banyak orang.
Shen Yi murka. Feniks kesayangannya hilang tanpa jejak sementara orang-orang ini tidak bisa menemukannya. Sudah berjam-jam berlalu, tidak ada petunjuk yang didapatkan. Bahkan sehelai bulunya pun tidak ditemukan. Shen Yi tidak percaya burung itu kabur, karena gedung ini begitu tertutup.
“Periksa kembali kamera pengawasnya!” seru Shen Yi dengan suara tinggi.
Petugas yang bertanggungjawab atas kamera pengawas di semua bagian gedung dikerahkan. Beberapa menit kemudian baru ditemukan petunjuk. Tiga orang pekerja asing masuk ke taman dengan mengendap-endap, gerak geriknya begitu mencurigakan. Setelah dizoom, tampaklah wajah mereka.
Berkat petunjuk kamera pengawas di dalam dan luar gedung, Shen Yi akhirnya melacak keberadaan mobil yang membawa Feng Shang. Arahnya menuju pinggiran Kota Cheng. Butuh satu jam baginya untuk mengakses lokasi tersebut. Sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya memukul stir mobil.
Berani-beraninya mereka menculik burung kesayangannya! Meskipun burung itu bukan miliknya, tetapi karena Feng Shang meninggalkannya, maka ia yang menjadi majikannya. Orang-orang itu begitu ingin mati rupanya. Mereka tidak tahu kalau sosok seorang presdir Xize adalah orang yang mengerikan.
Titik itu berhenti di depan sebuah gedung yang terbakar. Shen Yi segera menabrak pintu pagarnya dengan mobil sport mahalnya. Di dekat kolam yang kotor, ia menemukan tiga orang pria tercebur dan mencoba naik. Meski pakaiannya compang-camping, Shen Yi mengenali wajahnya. Mereka adalah orang yang menculik burung feniksnya.
“Di mana burung feniks milikku?” tanya Shen Yi sambil menatap marah ketiga orang itu.
“Monster! Jauhkan monster itu dari kami!” seru salah satunya.
Mereka trauma. Tidak disangka, burung kecil yang mereka culik adalah seekor monster yang mengerikan. Mereka tidak percaya pada hal seperti itu, tetapi apa yang mereka alami adalah nyata. Aksi penculikan dengan bayaran harus diganti dengan malapetaka seumur hidup.
Shen Yi meninggalkan ketiga orang itu, lalu berlari ke dalam gedung. Ia melihat asap sudah membumbung tinggi. Hatinya tidak enak, ia yakin burungnya ada di dalam sana. Shen Yi menaiki tangga, mencari ruangan tempat perwujudan Feng Shang disandera. Suhu udara panas, asap mengepul menghalangi pandangan.
Shen Yi sampai di depan sebuah ruangan yang asapnya paling tebal. Ia melihat kobaran api seperti gelombang. Sepertinya dia ada di sana. Shen Yi mendobrak pintu, asap membuat napasnya sesak dan matanya perih. Setelan kerjanya kotor. Api itu begitu membawa, membakar hampir semua bagian dalam ruangan.
Ia melihat burung feniksnya tergeletak di lantai. Bulu birunya yang indah menjadi kelabu. Shen Yi melirik ke pojok, ia melihat Mu Xixi tak sadarkan diri. Sambil menahan kemarahan, ia menggendong Feng Shang sambil menahan api, lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Di bawah, pemadam kebakaran sudah sampai. Zhang Bi juga sudah tiba bersama beberapa petugas kepolisian. Melihat atasannya menggendong burung feniks, Zhang Bi menarik napas lega. Setidaknya atasannya berhasil menemukan burung itu walau kondisinya tampak tak baik-baik saja.
“Bawa Mu Xixi ke penjara dan panggil Direktur Mu!” seru Shen Yi. Zhang Bi terbelalak, di dalam sana ada Nona Mu Xixi?
Saat hendak bertanya, mobil Shen Yi sudah melaju meninggalkan lokasi tersebut. Pria itu membawa Feng Shang ke rumah sakit, mengejutkan semua orang karena ia datang dengan tampilan yang acak-acakan. Shen Yi membuat bingung dokter karena ia meminta dokter itu memeriksa seekor burung.
“Presdir Shen, saya bukan dokter hewan. Saya tidak bisa mengobati burung Anda,” ucap dokter pasrah. Dokter itu menahan takut akan kemarahan presdir yang satu ini.
“Kalau begitu panggilkan dokter hewannya kemari! Jika kalian tidak bisa menyembuhkan burungku, aku akan menghukum kalian semua!” bentak Shen Yi.
Pria itu seperti sedang kesetanan. Melihat feniks biru menutup mata, Shen Yi tidak bisa tenang. Ada semacam perasaan tidak rela dan takut jika burung itu mati. Entah kapan dan mengapa, tetapi ia merasa burung itu punya keterikatan dengannya. Sama seperti yang ia rasakan ketika Feng Shang ada di rumahnya.
Sementara itu, Zhang Bi sibuk menangani urusan di kantor polisi. Sesuai perintah, ia membawa Mu Xixi bersama tiga orang penculik ke kantor polisi dan melaporkannya atas kasus penculikan dan percobaan perdagangan illegal. Mu Xixi yang baru tersadar linglung, sering berteriak melihat monster. Sementara tiga yang lainnya tidak banyak bicara karena dalam kondisi terluka.
“Sekretaris Zhang, mohon bantulah aku. Putriku ini masih kecil, dia hanya ceroboh sesaat,” mohon Direktur Mu pada Zhang Bi.
“Sekretaris Zhang, bantulah. Pertimbangkan hubungan kerja sama kita yang sudah berlangsung bertahun-tahun,” mohonnya sekali lagi.
“Direktur Mu, kau pikir Presdir Shen itu orang seperti apa? Dia tidak akan peduli pada hubungan kerja sama ini jika seseorang berani menyentuh barang miliknya. Selain itu, putrimu ini hampir saja membunuhnya dan membakar habis gedung itu!”
Zhang Bi, sebagai sekretaris sekaligus orang kepercayaan Shen Yi sudah terlatih. Ia bisa bertahan di samping pria itu karena ia bukan orang bodoh yang mudah terpengaruh orang lain. Zhang Bi adalah tangan kedua Shen Yi, ia menangani banyak urusan penting perusahaan. Tidak jarang ia bersikap seperti Shen Yi ketika menangani permasalahan yang sangat besar.
Meski terkadang ia bertindak layaknya orang bodoh yang hanya menuruti perintah, sosok itu benar-benar hebat. Menghadapi orang seperti Direktur Mu, ia sudah berpengalaman. Selama ini banyak orang yang memohon ampun dan memintanya mempertimbangkan hubungan baik selama bertahun-tahun. Tetapi karena didikan Shen Yi, Zhang Bi juga tidak suka berbelas kasih. Jika atasannya memerintahkan demikian, maka itulah yang ia lakukan.
“Hanya demi seekor burung saja Presdir Shen sampai memenjarakan putriku?” ucap Direktur Mu.
__ADS_1
“Direktur Mu, asalkan Anda tahu, burung feniks biru itu adalah sesuatu yang paling dipedulikan Presdir Shen setelah Direktur Feng. Burung feniks biru itu adalah milik Direktur Feng dari Lingjing. Apa Anda berani mempertanggungjawabkannya?”
Direktur Mu tertegun. Sejauh yang ia tahu, Presdir Shen adalah orang yang sangat dingin dan acuh tak acuh pada wanita. Putrinya yang cantik saja tidak bisa mendapatkannya meski sudah mengejar selama bertahun-tahun. Selain pekerjaan, pria itu tidak mementingkan apapun lagi.
Bisa menjadi yang dipedulikan Presdir Shen adalah sebuah berkah besar. Apalagi, orang yang dipedulikan olehnya adalah sosok direktur pemilik perusahaan Lingjing. Jika itu benar, maka putrinya benar-benar telah menyinggung orang-orang besar. Direktur kecil sepertinya tidak akan mampu menanggung konsekuensinya!
“Untuk apa berdebat lagi? Bukankah perintahku sudah jelas?”
Shen Yi tiba-tiba muncul di belakang Direktur Mu. Menurutnya, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi terkait hukuman yang harus didapatkan Mu Xixi. Biarkan gadis itu menerima akibat dari menyinggungnya. Selama ini ia cukup bersabar dengan perilakunya yang tidak senonoh. Shen Yi tidak akan memperhitungkan saat-saat ketika ia dibuat tidak nyaman oleh Mu Xixi.
Tidak masalah jika ia harus memutus kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Direktur Mu. Untung ruginya bisa diperhitungkan nanti. Shen Yi ingin membalas perbuatan Mu Xixi yang hampir membunuh burung kesayangannya, itu tidak bisa dimaafkan. Ia paling benci seseorang mengusik barang miliknya.
Lagipula, ia bertanggungjawab atas burung itu. Shen Yi harus menjaganya seperti ia menjaga Feng Shang, sampai perempuan bodoh itu kembali. Jika tidak, hidupnya akan dibuat tidak tenang, mengingat temperamen Feng Shang yang suka meledak sewaktu-waktu. Belum lagi tatapan tajamnya yang terasa menusuk hingga ke tulang, membuat kepalanya sakit.
“Presdir Shen, saya mohon. Ampunilah putriku kali ini saja.”
Permohonan sia-sia Direktur Mu hanya angin lalu yang lewat di telinga Shen Yi.
“Bereskan semuanya. Aku tidak mau mendengar ada kesalahan seperti ini lagi,” tukasnya.
“Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya,” ucap Zhang Bi patuh. Ia kemudian melihat atasannya pergi lagi.
Pada akhirnya, Mu Xixi menerima hukumannya. Ia ditahan di penjara selama tujuh hari untuk masa percobaan, sementara ketiga preman divonis hukuman lima belas tahun. Berkat kejadian itu, kejahatan-kejahatan ketiga preman itu ikut terkuak mulai dari pencurian, perampokan, penjarahan, hingga pelecehan kepada wanita. Mereka mendekam di sana tanpa ada yang membela.
Awalnya semuanya berjalan dengan baik. Namun, karena kondisi Mu Xixi semakin hari semakin mengkhawatirkan, ia akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Pihak kepolisian terpaksa memindahkan tahanan karena setiap hari ia berteriak, mengganggu penghuni sel yang lain. Mu Xixi selalu mengatakan kalau ia melihat monster yang mengeluarkan api dari mulutnya dan hendak memakannya hidup-hidup.
__ADS_1
Direktur Mu terkena imbas dari perbuatan putri manjanya. Perusahaan Xize memutus kontrak dan menarik semua sahamnya, menyebabkan perusahaannya mengalami inflasi besar-besaran. Reputasi keluarganya juga hancur karena kabar kegilaan Mu Xixi menyebar begitu cepat.
Shen Yi tidak benar-benar tidak main-main dalam menghukum orang.