Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 89: Tidak Ada Jalan Kembali


__ADS_3

Ji Nuo menyiapkan sebuah istana yang letaknya tak jauh dari istananya untuk ditempati Feng Shang dan Yongheng. Rencana penangkapan bayangan Raja Iblis di tubuh kaisar manusia harus direncanakan dengan teliti dan memerlukan persiapan yang sangat matang. Hal itu dikarenakan tubuh kaisar manusia merupakan tubuh emas titisan surga, yang tidak bisa dilukai oleh makhluk abadi secara sembarangan. Bahkan Feng Shang sebagai Maharani Langit pun tidak bisa menyentuhnya tanpa izin surga.


Malam ini, Feng Shang dan Yongheng tengah duduk di taman istana. Feng Shang memandangi langit malam yang gelap dengan wajah dingin seperti biasa. Ada yang mengganjal hatinya, tetapi bukan perkara masalah bayangan Raja Iblis yang tinggal di tubuh kaisar manusia. Feng Shang gelisah karena malam ini ia harus tinggal bersama Yongheng, yang selama ini ia coba hindari dan batasi interaksinya. Takdir sepertinya malah asyik mempermainkannya, membuatnya terjebak bersama pria itu.


Di luar, ia mungkin tampak sangat dingin dan tidak tersentuh. Namun tidak ada yang tahu bahwa hatinya bahkan lebih rapuh dari sebuah ranting yang jatuh di musim gugur. Ia seorang wanita, tetapi tidak bisa menunjukkan kelemahannya di hadapan siapapun, termasuk Yongheng. Feng Shang tahu dirinya berhutang banyak penjelasan pada Yongheng, terutama tentang kejadian ketika keduanya berada di alam fana yang lain.


Tetapi memangnya kenapa? Tidak ada jalan kembali untuknya. Ia harus menjalani takdirnya dan menjalankan tugas dengan baik, tidak melibatkan hati dan perasaannya. Kehidupan pribadinya seolah telah musnah, dan yang ada di pikirannya sekarang hanyalah cara melindungi dunia meskipun hatinya sering sakit sendiri. Pria itu pasti juga mengerti, bahwa Feng Shang bukan hanya milik satu orang, tetapi milik Tiga Alam.


Yongheng menyodorkan segelas arak buatan tangan manusia kepada Feng Shang, namun wanita itu menolaknya dengan halus. Menurutnya, arak hanya akan membuat seseorang lupa dengan tujuannya dan ia tidak menginginkan itu terjadi. Lagipula, ia juga tidak suka meminumnya. Arak di Alam Sembilan Langit, yang kualitasnya seribu kali lebih baik dari arak buatan manusia saja ia simpan sampai menumpuk di gudang tanpa diminum setetes pun.


"Malam di alam fana tidak terlalu buruk," ucap Yongheng sambil meletakkan kembali gelasnya di meja. Ia sudah paham bahwa Feng Shang akan menolaknya, namun meskipun begitu ia tetap mencobanya.


"Jika kedamaian ini bertahan selamanya, itu jauh lebih baik," seloroh Feng Shang.


"Kau sudah menemukan caranya?"


"Ji Nuo akan mengaturkan pertemuan dengan kaisar manusia itu besok malam. Kurasa waktu untuk menyelesaikannya tidak akan terlalu lama."


"Sayang sekali. Padahal dunia manusia ini begitu menarik."


"Jika kau suka maka tinggallah. Aku tidak punya waktu untuk bersenang-senang."


Yongheng menatap langit. Biasanya di malam yang tenang seperti ini, ia akan bermeditasi sampai beberapa hari. Jika Laut Timur sedang berpesta atau merayakan festival, ia akan diam-diam keluar dan menyamar, berbaur bersama rakyatnya dan merasakan kehangatannya. Ia sudah melihat dunia, ia juga sudah melihat alam fana dan bagaimana manusia merayakan kebahagiaannya.


Kebahagiaan itu menular. Andai saja Feng Shang bisa membuka sedikit hatinya dan memberikan celah agar kehangatan itu menyusup ke sana, membuatnya hangat walau hanya sebentar saja. Sampai saat ini, Yongheng belum menemukan cara agar wanita itu mau membuka hatinya dan berhenti bersikap dingin. Terlalu rumit, namun bukan berarti sulit.

__ADS_1


"Apa bersikap dingin kepada orang lain membuat hidupmu terasa lebih baik?" tanya Yongheng.


"Maksudmu?"


"Kau selalu berkata tentang kepentingan dunia dan mengabaikan dirimu sendiri."


"Begitulah caraku melindungi Tiga Alam."


"Aku tahu. Tetapi, Xiao Shang, kau tidak boleh lupa bahwa dunia bukan hanya ada dirimu seorang. Lihat aku, lihat sekelilingmu. Ada banyak dewa dan makhluk abadi yang mampu membantumu melindungi dunia. Kau menutup hatimu, menjauhkan diri dari orang-orang dan menghindari semua bentuk perhatian yang diberikan padamu. Kau bahkan mengabaikan latar belakang dan nasib keluargamu sendiri. Apa kau sungguh berpikir kau bisa selamanya menanggung semua itu sendirian?"


"Jangan berkata seolah-olah kau tahu segalanya!"


"Aku tahu karena aku mengenalmu! Kau juga pasti mengerti bahwa hubungan kita itu istimewa. Aku sengaja berpura-pura hanya karena tidak ingin beban pikiranmu bertambah. Tapi, melihatmu yang selalu bersikap dingin dan berkata kejam setiap hari, bukan hanya padaku, tetapi juga pada orang lain membuatku tidak tahan. Aku tidak ingin kau terlalu memaksakan dirimu, Xiao Shang."


"Hilangkan penatmu sejenak," ucap Yongheng sambil menyodorkan kembali segelas arak. "Kalau kau menolaknya, itu artinya kau memang takut."


Feng Shang langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya sampai tandas. Entah mengapa provokasi Yongheng berhasil membuatnya tersulut emosi dan ia ingin melampiaskannya. Tidak, Feng Shang bukan orang yang mudah kalah dan bukan penakut. Yongheng sepertinya sengaja memprovokasinya karena dia menolak minumannya. Kalau begitu, akan Feng Shang tunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.


Yongheng tersenyum kecil. Ia rasa, Feng Shang telah terpancing. Yongheng memang sengaja memprovokasinya, namun tidak sepenuhnya ia asal bicara. Yongheng ingin sekalian mengutarakan isi hatinya yang telah mengganjalnya selama lima ratus tahun ini. Ia ingin Feng Shang tahu bahwa dirinya tidak sendirian dan jangan selalu memendam semuanya sendirian.


"Satu gelas saja tidak cukup," kekeh Yongheng. Feng Shang jadi kesal, lalu menyambar seteko arak dan meminumnya sampai habis. Yongheng tidak sempat mencegahnya karena gerakan Feng Shang terlalu cepat.


Awalnya baik-baik saja, namun tidak sampai sepuluh menit, wanita itu sudah mabuk. Pipinya merah dan kepalanya terasa berat. Yongheng menggelengkan kepala. Toleransi alkohol Maharani Langit ternyata buruk. Ia jadi teringat akan hari ketika Feng Shang dibawa  oleh Xiang Sun ke bar. Yongheng menciumnya agar Xiang Sun menyerah, dan membawa kembali Feng Shang pulang bersamanya.


"Aku ambilkan sup pereda mabuk. Tunggulah di sini," ucap Yongheng. Setelah itu, ia pergi ke bagian dapur dan meminta dibuatkan sup pereda mabuk.

__ADS_1


Ketika Yongheng kembali, dia tidak mendapati Feng Shang di tempat duduknya. Karena khawatir, Yongheng langsung mencarinya di sekitar istana. Sayup-sayup ia mendengar racauan seseorang dan suara cipratan air. Yongheng langsung berlari ke sumber suara. Ia sangat terkejut ketika melihat sesuatu yang aneh terjadi di sana.


Feng Shang tampak sedang duduk di tepian kolam. Tangannya masuk ke air dan sesekali digoyang-goyangkan. Di sekitarnya sudah menumpuk puluhan ekor ikan, ditambah beberapa ekor yang berserakan beberapa meter di belakangnya. Feng Shang mengangkat tangannya dari air, lalu melemparkan lima ekor ikan lain ke belakang dan membuatnya bergabung dengan teman-temannya. Ikan-ikan itu menggelepar kehabisan napas.


"Apa dia Maharani Langit?" gumam Yongheng. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Feng Shang bisa berbuat seperti ini ketika mabuk. Aneh tapi nyata. Mungkin di dunia ini hanya Yongheng satu-satunya orang yang tahu bagaimana kondisi Maharani Langit ketika mabuk.


"Xiao Shang, sudahi memancingnya. Kau harus beristirahat dan meredakan mabukmu," ucap Yongheng. Namun, Feng Shang menolak. Ia memasukkan kembali tangannya ke air, menguceknya lalu melemparkan kembali beberapa ekor ikan.


"Tidak. Yue Ming sangat suka ikan dari perairan manusia. Aku harus membawa lebih banyak dan membuatnya menjadi sup dan ikan kering."


"Baik, tapi jumlahnya sudah cukup. Ayo kembali."


"Tidak! Aku ingin menunjukkan kepada Dewa Agung Yongheng itu. Kalau dia berani macam-macam, penduduk Laut Timur akan bernasib seperti ikan-ikan ini!"


"Dia tidak akan berani. Ayo, kembali!"


"Tunggu! Kau siapa? Ah, kau pasti flamingo yang baru ditangkap oleh Yue Ming, kan? Dia selalu menangkap burung flamingo dan menjadikannya peliharaan di istana. Kau punya jiwa? Kulitmu halus dan kau punya wajah yang lumayan bagus," ucap Feng Shang sambil mencubit kedua pipi Yongheng dan bermain di wajahnya. Bau amis dari ikan dan bau air danau mengolesi kulit mulus Yongheng, membuat pria itu sedikit mual.


"Bukan, bukan. Kau tidak punya bulu flamingo. Kau apa? Naga? Ah, kau pasti anak naga dari Laut Timur yang ditangkap Lian Meng. Kau punya sisik? Oh, kau punya tanda teratai di dahimu. Pria, kau cantik. Apa kau mau jadi peliharaanku? Aku akan menjadikanmu hewan spiritualku!"


"Tidak. Aku tidak perlu jadi peliharaanmu. Xiao Shang, ayo kembali!"


Yongheng membopong tubuh Feng Shang yang sudah sangat mabuk. Wanita itu memberontak dan diam di tempat, bahkan Yongheng kesulitan untuk membawanya. Feng Shang bilang, dia tidak mabuk. Yongheng terpaksa menggotongnya di pundaknya, dan dia merasakan pukulan tangan Feng Shang datang bertubi-tubi di punggungnya. Sambil berjalan kembali ke istana, Yongheng tak henti-hentinya menghela napas.


"Hei! Ikannya! Aku harus membawa ikannya!"

__ADS_1


__ADS_2