Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 10: Di Dua Sisi


__ADS_3

“Presdir Shen, Perusahaan Fengling menolak kerja sama penanaman modal dengan perusahaan kita.”


Shen Yi seketika melemparkan dokumen yang diserahkan Zhang Bi setelah mendengarkan penuturan lisan dari sekretarisnya. Shen Yi terlebih dahulu memijat pelipisnya, sementara Zhang Bi sudah menyiapkan mental untuk menerima kemarahan dan menjadi pelampiasan emosi atasannya. Selalu seperti ini sejak lima tahun terkahir.


Shen Yi tidak habis pikir mengapa Perusahaan Fengling menolak kerja sama penanaman modal. Berdasarkan analisis, perusahaan itu sedang berkembang dan masih membutuhkan banyak suntikan dana untuk mengepakkan dan melebarkan sayapnya di industry kesehatan dan produk kecantikan.


Perusahaan Xize, perusahaan perbankan terbesar di Kota Chen sudah berbaik hati menawarkan kerja sama. Xize adalah pilihan terbaik karena kontrak yang diajukan selalu ditandatangani sesuai kesepakatan kedua belah pihak, yang didiskusikan terlebih dahulu. Mengapa mereka malah menolaknya?


“Apa mereka sedang meremehkanku?” tanya Shen Yi kesal.


“Tuan, apa yang harus kita lakukan? Dewan direksi sudah sepakat melepaskan Perusahaan Lingjing, tetapi sekarang malah harus kehilangan Perusahaan Fengling,” tutur Zhang Bi.


Shen Yi sangat dongkol. Sekumpulan direktur bawahannya begitu tidak berguna hingga tidak berhasil membujuk Perusahaan Fengling yang notabenenya merupakan perusahaan newbie. Baru kali ini Shen Yi benar-benar merasa dipermalukan. Bisa-bisanya dua kali kehilangan kontrak kerja sama!


“Kali ini apa alasan mereka?” tanya Shen Yi.


“Perusahaan Xiang sudah lebih dulu menanamkan modalnya di sana, Tuan.”


Lagi-lagi Perusahaan Xiang!


Atmosfer udara di ruangan kerja Shen Yi memanas. Sang presdir sangat marah dan hendak menghancurkan isi meja sebelum Zhang Bi mencegahnya. Sifat pemarah sang atasan kembali kambuh setelah sempat padam beberapa waktu.


Jika berada di posisinya, Zhang Bi mungkin bisa melakukan hal yang gila. Beruntung atasannya hanya melampiaskan amarahnya untuk sesaat, tidak akan berkepanjangan.


Paling-paling, para direktur akan habis kena marah di rapat dewan direksi tiga hari lagi. Zhang Bi memungut sekumpulan dokumen yang dilemparkan Shen Yi, membereskannya dan meletakkannya kembali ke meja.


Atasannya berkacak pinggang sambil menatap pemandangan kota yang dibatasi kaca jendela gedung. Terlihat sekali kalau pria itu sedang menahan sesuatu.


“Bagaimana keadaan perempuan bodoh itu?”


Zhang Bi terperangah ketika atasannya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Tidak biasanya, pikirnya. Apa yang sedang berdiri di hadapannya ini masihlah Presdir Shen yang selalu fokus pada pekerjaan?


“Nona Feng beberapa hari ini tetap tinggal di kediaman Feng. Dia hanya bermalas-malasan sepanjang hari,” tutur Zhang Bi yang disambut kekehan kecil dari Shen Yi.


Sudah ia duga, perempuan bodoh itu tidak akan melakukan apapun setelah bertemu dengan keluarganya, meskipun dia hilang ingatan.


Shen Yi berniat mengunjungi perempuan itu untuk melihat apakah dia masih bodoh seperti sebelumnya atau tidak. Sejak Feng Zheng membawanya pergi, malam-malam yang dilalui Shen Yi tidak sedamai sebelumnya.

__ADS_1


Mimpi-mimpi aneh seperti di padang pasir dengan pakaian kuno seringkali datang hingga membuatnya terjaga. Bahkan lebih parah sejak perempuan itu pergi.


Semakin lama mimpi-mimpi itu semakin aneh saja. Shen Yi pernah bermimpi duduk di sebuah kursi singgasana berlapis emas, lalu ribuan orang bersujud kepadanya dan meneriakkan doa panjang umur dan kesejahteraan untuknya.


Dia juga pernah bermimpi menjadi seorang penyihir yang bisa berjalan di atas kepulan awan, bahkan tangannya bisa mengeluarkan api dan air. Lalu, malam kemarin dia bermimpi berubah menjadi seekor burung besar yang diburu oleh orang.


Mengingat mimpi-mimpi aneh itu membuat Shen Yi merinding. Shen Yi tidak menceritakan mimpinya pada siapapun karena dia pasti akan ditertawakan. Benar juga, namanya juga mimpi.


Jika tidak aneh, maka tidak bisa disebut mimpi. Tetapi, Shen Yi masih tetap yakin kalau mimpi-mimpi aneh itu datang karena pengaruh keberadaan Feng Shang.


“Atur waktu untuk mengunjungi Kediaman Feng,” ucap Shen Yi kemudian. Zhang Bi semakin terperangah, bahkan kedua bola matanya seperti hendak meloncat keluar dari mangkuknya.


“Tuan, bukankah sudah sepakat akan melepaskan Perusahaan Lingjing?”


“Kapan aku berkata akan mengunjunginya atas nama perusahaan?” Shen Yi malah bertanya balik, hingga Zhang Bi tidak bisa berkata apa-apa selain, “Baik, Tuan. Saya akan mengatur jadwalnya.”


...***...


Di Kediaman Feng, Feng Shang hidup sangat nyaman. Feng Zheng sangat memanjakannya. Setiap hari, kakek tua itu selalu mengiriminya banyak makanan lezat dan pakaian yang sangat bagus. Ada pelayan yang melayani segala kebutuhannya. Di sana, dia tidak kekurangan apapun.


Sungguh aneh tapi nyata. Hampir satu minggu ini dia mendapatkan pelayanan kembali seperti Maharani Langit-nya, namun Feng Shang malah merasa seperti cangkang kosong.


Dia seperti sebuah boneka yang begitu disayangi, membuatnya tampak seperti manusia fana yang mengandalkan orang lain untuk bertahan hidup. Dia tidak bisa menerimanya.


“Walau rumah ini sangat bagus, tetapi tidak memiliki aura spiritual sama sekali. Kekuatanku tidak akan pulih sepenuhnya jika terus berada di sini,” gumam Feng Shang suatu ketika.


Rumah Keluarga Feng tidak seperti rumah Shen Yi. Meskipun sangat bagus dan mewah, tetapi tidak ada aura spiritual yang mengitarinya. Feng Shang sudah mencoba mencarinya di setiap sudut rumah, namun aura itu tetap tidak ditemukan. Ini akan menjadi sulit baginya mengingat dia membutuhkan tempat dengan aura spiritual yang bisa memulihkan semua kekuatannya.


“Shen Yi si bodoh itu! Aku harus pergi!”


Feng Shang beranjak dari duduknya. Kakinya melangkah menuju garasi mobil. Begitu pintu garasi terbuka, berpuluh-puluh mobil mewah dengan berbagai tipe dan merk dagang berjejer rapi, seperti sebuah showroom yang besar. Berdasarkan ingatan yang dia lihat, mobil ini adalah aset milik Feng Zheng yang ditulis atas namanya. Jadi, ini miliknya juga.


“Nona Besar, Anda mau pergi ke mana?” tanya penjaga garasi.


Alih-alih menjawab, Feng Shang malah mengitari garasi sebanyak beberapa putaran untuk melihat apakah ada mobil yang cocok untuknya atau tidak. Si penjaga garasi setia menemaninya, lalu ketika Feng Shang berhenti di depan sebuah mobil berwarna hitam dengan sistem hyper straight-up, Lotus.


“Aku mau pakai yang ini!” seru Feng Shang.

__ADS_1


Si penjaga garasi kemudian mengangguk, lantas menyerahkan kunci mobil tersebut. Mobil tersebut merupakan mobil listrik dengan kekuatan setara dengan 1.973 tenaga kuda.


Mengandalkan ingatan orang lain, Feng Shang menaiki mobil tersebut dan menyalakan mesinnya. Akan tetapi, Feng Shang justru kebingungan harus melakukan apa setelah mesin menyala.


Ada begitu banyak benda-benda asing di dalamnya. Feng Shang tiba-tiba menyesal karena dia hanya melihat sekilas ingatan tentang mobil. Sungguh, dia tidak tahu cara mengoperasikannya.


“Ah, mungkin tekan yang ini saja,” ucapnya sambil menekan sesuatu di stir.


Si penjaga meloncat kaget karena Feng Shang malah menekan tombol klakson hingga berbunyi sangat keras. Dengan wajah tak berdosanya, Feng Shang hanya melengos.


“Menyingkirlah!” Si penjaga langsung mengamankan dirinya begitu Feng Shang memberi perintah. Feng Shang menginjak pedal gas, lalu memutar-mutar stir.


Alhasil, mobil itu melaju kencang dengan berputar-putar. Karena arahnya tidak tentu, Feng Shang menabrak beberapa mobil mewah di depannya hingga penyok.


Bukan hanya itu, dia juga memundurkan mobilnya. Mobil-mobil yang berada di depan dan belakangnya semuanya tertabrak.


Si penjaga berteriak, “Ya Tuhan! Nona Besar, injak pedal remnya!”


Namun, perkataan itu tidak didengar Feng Shang. Di dalam mobil, dia mencak-mencak karena benda ini lebih sulit dikendalikan ketimbang banteng siluman yang pernah dia tangkap.


Si penjaga mengalami dilema antara harus menyelamatkan sang nona besar atau kabur jika tidak ingin kena marah tuan besarnya. Jika sampai Feng Zheng tahu aset mobil mewahnya rusak ditabrak, kakek tua itu pasti akan membunuhnya.


Puluhan mobil mewah yang ada di sekitar sudah tertabrak. Beberapa bahkan ada yang bergeser dari tempatnya. Anehnya, Feng Shang justru tidak berteriak sama sekali.


Mobil yang dikendarai Feng Shang baru berhenti setelah menabrak Lamborghini Sian FKP 37, sebuah mobil mewah terbatas yang jumlahnya hanya 63 unit di dunia. Feng Shang menggunakan sihir perlindungan diri hingga dia tidak terluka walau menabrak dengan sangat keras.


Si penjaga segera menghampiri mobil itu. Dahinya berkerut setelah melihat nona besarnya ternyata baik-baik saja. Kemampuan perlindungan diri Feng Shang ternyata luar biasa di matanya. Bisa dibilang, ini adalah sebuah keajaiban ketika seorang wanita menabrak puluhan mobil tetapi masih hidup.


Feng Shang keluar dari mobil dengan linglung. Dia hanya sedikit pusing saja. Benda sialan, pikirnya. Mengapa manusia begitu repot mengendarai benda semacam ini? Menurutnya, menaiki hewan spiritual lebih praktis dan lebih mudah ketimbang harus menginjak sana-sini.


“Antarkan aku ke rumah Presdir Shen!” ucapnya kemudian. Si penjaga ragu, lalu melihat ke jajaran mobil mewah yang tertabrak.


Tiga puluh mobil keluaran terbaru dengan harga fantastis sudah penyok bagian depannya. Entah ratus milyar kerugiannya, si penjaga hanya tahu kalau hidupnya akan segera berakhir. Dia hanya bisa berkata, “Baik, Nona Besar.”


...***...


...Ckck... Feng Shang bener-bener cucu konglomerat, ya! Mobilnya pun sampai puluhan. Nah, kira-kira dia bisa sampai nggak ya ke rumah Shen Yi? Stay tune terus, sampai jumpa di episode berikutnya! ...

__ADS_1


__ADS_2