Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 97: Ungkapan


__ADS_3

Setelah Yongheng menyerahkan setengah hidupnya untuk Feng Shang, dia tetap berdiam di Istana Fengyun untuk memastikan wanita itu sembuh. Yongheng ingin orang yang pertama kali dilihat oleh Feng Shang ketika membuka mata adalah dirinya.


Yue Ming mengalah dan membiarkan pria itu mengawasi Feng Shang sepanjang waktu. Walau masih khawatir, tapi jika Yongheng ada di sana, semuanya pasti baik-baik saja. Dia malah pergi ke Kuil Si Ming untuk melihat seperti apa garis perubahan di buku takdir Feng Shang.


Perlahan, bulu mata Feng Shang yang lentik bergerak lembut. Wanita itu membuka matanya, dan menangkap langit-langit istana ini. Yah, dia mengenalinya. Ini langit-langit Istana Fengyun, istana miliknya. Kepalanya perlahan menoleh ke samping, lalu ia melihat Yongheng tengah tertidur di sisi ranjangnya.


Tangannya yang masih lemah bergerak perlahan mendekati wajah Yongheng. Jarinya lembut membelai wajah tampan yang tampaknya sangat lelah itu. Gerakan itu membuat pemilik wajah terbangun. Ketika matanya terbuka, dia langsung terperanjat dan segera menyadarkan dirinya.


"Xiao Shang, akhirnya kau sadar juga!" ucap Yongheng sambil memeluk Feng Shang.


Feng Shang membalas pelukan itu. Itulah pelukan pertamanya pada Yongheng. Selama dia tidak sadarkan diri, dia mendengar apa yang dikatakan oleh Yongheng dan Yue Ming, begitu pula Si Ming. Feng Shang hanya tidak bisa bergerak atau membuka mata, karena tubuhnya seperti terkunci.


"Bodoh. Berapa tahun yang kau habiskan untuk mengobatiku?" tanya Feng Shang.


"Aku tidak menghitungnya. Aku juga tidak peduli. Aku hanya ingin kau bangun," jawab Yongheng.


Pelukannya mulai melonggar setelah beberapa saat. Yongheng menatap Feng Shang dengan intens. Pancaran cahaya matanya lebih indah daripada bulan purnama. Feng Shang tersenyum. Memang seindah itulah mata Yongheng, baik ketika dirinya menjadi Shen Yi maupun sekarang. Mata itu tetap bersinar dan membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


Yongheng sungguh sangat senang akhirnya Feng Shang siuman. Setiap detik ia merasa takut, takut jika ternyata usahanya sia-sia. Tapi, takdir ternyata masih memberinya kesempatan. Wanita itu membuka matanya seperti harapannya.


Ada banyak hal yang ingin dikatakan. Kedua insan itu sudah lama memendam perasaan masing-masing. Mereka tidak bicara, tapi hati mereka ribut. Yongheng tidak bisa memendamnya lagi, dia beringsut mendekatkan wajahnya dan wajah Feng Shang, lalu menciumnya dengan lembut.


Feng Shang tersenyum kecil ketika bibirnya disentuh bibir Yongheng. Itu hanya sebuah kecupan dan tidak berlangsung lama. Sisanya, hanya mata Feng Shang dan Yongheng yang saling membiaskan perasaan mereka.


Bunga-bunga di taman Istana Fengyun bermekaran. Langit kesembilan menjadi sangat cerah. Kekuatan spiritual mengalir bersama udara, memberikan kehangatan dan kenyamanan pada para penghuni Istana Langit.


"Terima kasih. Terima kasih karena kau masih mau membuka matamu," ucap Yongheng.


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Aku tidak akan pernah tahu perasaanku sendiri jika kau tidak menumbuhkan pohon perasaanku."


"Jadi, apa sekarang kau masih ingin membuangku jauh-jauh?"

__ADS_1


"Yah, lihat sikapmu ke depannya."


Feng Shang dan Yongheng tertawa bersama. Benar, perasaan itu tidak bisa dibohongi. Selama ini Feng Shang selalu berusaha membohongi dirinya sendiri, bersikap dingin dan kejam. Namun, Yongheng membuatnya menyadari bahwa itu semua hanyalah sebuah alasan untuk menyakiti dirinya sendiri.


Dunia memang penting. Tetapi, bukankah Feng Shang hanyalah seorang wanita? Terlepas dari kedudukannya sebagai Maharani Langit, dia juga tidak bisa lepas dari kodratnya. Feng Shang tidak bisa mencegah perasaan yang datang padanya.


"Bagaimana dengan Raja Iblis? Apa dia sudah dikembalikan ke Lembah Shansui? Apakah kaisar manusia itu sudah sadar kembali?" tanya Feng Shang.


"Yah, untuk hal kedua aku tidak tahu. Tapi, Feng Ji Nuo pasti sudah membereskannya," jawab Yongheng.


Feng Shang bernapas lega. Yang terpenting bayangan Raja Iblis sudah ditangkap dan dikurung lagi bersama tubuh aslinya. Tidak sia-sia dia kehilangan sebagian kekuatannya. Setidaknya dunia akan aman selama beberapa waktu ke depan.


"Di mana Yue Ming?"


"Aku menyuruhnya keluar. Mungkin dia pergi ke Kuil Si Ming untuk melihat catatan takdirmu."


"Tubuhku pegal. Bagaimana kalau kau membawaku jalan-jalan?"


"Ke tempat yang menyenangkan."


"Tapi, kau tidak boleh protes."


"Aku berjanji."


Yongheng membawa Feng Shang jalan-jalan sekalian memulihkan tubuhnya. Meskipun warna rambutnya sebagian sudah memutih, tapi tidak mengurangi kharismanya. Yongheng tetap menawan meski dalam keadaan seperti itu. Feng Shang menyunggingkan senyumnya beberapa kali ketika melihat penampilan Yongheng sekarang, sekaligus hatinya tercubit.


Yongheng tetap bodoh di matanya. Dia seorang dewa agung, tapi malah menyerahkan setengah dari dirinya untuk mengobati wanita seperti Feng Shang. Feng Shang tahu pria itu melakukannya secara sukarela, tapi tetap saja.


Kedua penguasa dunia itu ternyata pergi ke Laut Timur. Yongheng sengaja membawanya ke sana sekalian ingin membereskan simpul di hati Feng Shang. Wanita itu harus segera menyudahi dendam lamanya terhadap Laut Timur, karena sebentar lagi dia juga akan menjadi menantu penduduk Laut Timur.


Sesuai janji, Feng Shang tidak protes. Langkah yang diambil Yongheng membuatnya sadar bahwa selama ini ia terlalu penakut. Simpul di hatinya sudah kusut selama ribuan tahun, dan bisa diselesaikan seandainya dia mau.

__ADS_1


"Bukankah itu Maharani Langit?"


"Benar. Dia sepertinya datang bersama Dewa Agung Yongheng. Ini sebuah keberkahan untuk kita!"


"Dewa Si Yun sudah memberitahu. Maharani datang untuk menyelesaikan urusan lamanya dengan kita."


"Setelah puluhan ribu tahun, akhrinya akan berakhir juga."


"Ya. Kurasa hubungan mereka tidak sederhana. Jika tidak, bagaimana mungkin Maharani yang sudah memendam benci selama itu mau menginjakkan kaki kemari?"


"Haish, sudahlah. Untuk apa membahas itu? Yang terpenting sekarang Laut Timur sudah tidak ada masalah lagi dengan Langit Kesembilan."


Di menara Laut Timur, rakyat Laut Timur sudah berkumpul. Mereka diberitahu oleh Si Yun bahwa Dewa Agung Yongheng akan pulang. Mereka datang untuk menyambut, sekalian melihat Maharani Langit yang selama ini tidak menyukai mereka.


Rakyat Laut Timur sebenarnya sudah lama sekali menyadari kesalahan mereka. Mereka diam karena Maharani Langit diam. Dewa Agung Yongheng yang menjadi pemimpin mereka sekarang membawa Maharani Langit kemari, itu bisa menjadi sebuah kesempatan untuk memohon pengampunan secara langsung.


"Kau melihat sinar mata mereka?" tanya Yongheng.


"Ya. Aku melihatnya."


"Kau ingin mengatakan sesuatu?"


Feng Shang tidak menjawab pertanyaan Yongheng. Dia mengulurkan tangannya, lalu membuat langit di atas Laut Timur dipenuhi dengan hujan butiran kekuatan spiritual. Wangi dan nyaman, membuat rakyat Laut Timur bersorak gembira.


Itu tandanya simpul yang telah kusut akibat hubungan masa lalu yang buruk telah terurai. Tidak ada lagi dendam kesumat antara Maharani Langit dan Laut Timur. Kebahagiaan yang terpancar itu membuat Feng Shang merasa hangat. Tidak perlu diungkapkan dengan kata, karena masing-masing lebih tahu dari siapapun.


"Kau mau ke mana lagi?" tanya Feng Shang.


"Bagaimana jika pergi ke alam fana?"


"Baik. Setuju!"

__ADS_1


__ADS_2