
Sesampainya di rumah, Shen Yi memberikan ceramah kepada Feng Shang. Pria itu berkata lain kali Feng Shang tidak boleh sembarangan berkelahi. Dia juga marah karena beberapa hari ini Feng Shang menghilang tanpa jejak. Katanya, perusahaan bisa bangkrut kalau ia pergi lama-lama.
Selain itu, Shen Yi juga menyinggung masalah Xiang Sun yang mengirimkan banyak hadiah dan menumpuknya di lobi kantor Lingjing. Pria itu bicara tanpa henti, persis seperti seorang suami yang menceramahi istri yang ketahuan selingkuh.
Padahal, Feng Shang juga tahu semua itu. Tidak perlu diceritakan hingga detail. Namun, kalimat terakhir Shen Yi membuat Feng Shang mengalami bug sesaat. Pria itu berkata, “Tanpa seizinku, kau tidak boleh menerima barang atau hadiah dari pria manapun!”
“Mengapa?” tanya Feng Shang.
“Tidak apa. Jika kau menerimanya, aku akan mengusirmu dari rumah ini!”
Feng Shang melemparkan sandal rumahnya kepada Shen Yi. Ia bosan mendengar ancaman itu. Sejak ia tinggal di sini, Shen Yi selalu mengatakan akan mengusirnya kalau ia tidak patuh. Sudah ratusan kali terucap, tapi Shen Yi tidak juga membuatnya menjadi kenyataan. Jadi, bagaimana Feng Shang bisa percaya?
“Aku lelah. Kau beristirahatlah dengan baik, selesaikan urusanmu dengan Xiang Sun esok hari,” tukas Shen Yi. Ia meninggalkan ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah memastikan Shen Yi tidur dengan nyenyak, Feng Shang kembali ke taman bunga. Formasi pengumpul kekuatan spiritual bereaksi, memberinya kekuatan spiritual. Feng Shang mengeluarkan pecahan cermin Baimeng, anggrek dewa, lalu liontin giok roh dan meletakkannya di tengah taman, tepat berada di mata formasi.
Ia menyibak lengan bajunya. Feng Shang membutuhkan bulu makhluk abadi. Di dunia ini tidak ada, maka ia terpaksa menggunakan bulu feniksnya sendiri untuk menyempurnakan cermin Baihuang. Meskipun harus menahan rasa sakit, Feng Shang sudah bertekad akan menanggungnya.
Mencabut bulu dari wujud asli secara sengaja sama saja dengan mencabut tulang sendiri. Setiap dewa-dewi yang melakukannya kebanyakan akan lumpuh, tubuh terluka, atau paling parah sampai ada yang jatuh ke dalam tidur abadi. Setiap bagian dari wujud asli dewa adalah bagian dari inti jiwa dan roh langit.
Kali ini, Feng Shang mencabut bulu feniksnya sendiri. Dia meringis menahan sakit saat ia menyayat tangannya sendiri dengan kekuatan sihirnya. Tulang lengannya seperti dicabut paksa dari sendinya, terasa akan putus seketika. Rasanya begitu menyakitkan.
__ADS_1
Ia baru berhenti meringis saat sehelai bulu sayapnya sudah berhasil ia cabut. Kini, bahan-bahan untuk menyempurnakan cermin Baihuang sudah lengkap. Tidak ingin membuang waktu, Feng Shang memulai ritual penyempurnaan. Ia membentuk formasi baru di bawah mata formasi feniks, menggunakan segenap kekuatannya untuk membentuk cermin ajaib itu.
Untung saja kekuatannya sudah pulih. Ia bisa bertahan meskipun tangannya terluka karena kehilangan sehelai bulu abadi. Proses penyempurnaan cermin Baihuang memerlukan kekuatan spiritual yang besar. Hanya Maharani Langit sepertinya yang mampu melakukannya.
Beberapa saat kemudian, kekuatan sihir berkumpul pada satu titik. Cahayanya menggulung, lalu membentuk setetes air berwarna biru. Tetes air itu adalah wujud asli dari cermin Baihuang.
Feng Shang segera mengambilnya, meletakkannya di telapak tangan dan menyembunyikannya dengan sihirnya. Wajahnya pucat karena terlalu banyak mengeluarkan sihir spiritual.
Ia berjalan pelan ke kamar Shen Yi. Kamar itu hanya diterangi lampu tidur yang temaram. Feng Shang segera meneteskan air dari perwujudan cermin Baihuang ke dahi Shen Yi. Teratai emas kembali muncul. Tetesan air bereaksi dengan tanda teratai, lalu mengeluarkan cahaya keemasan.
Cahaya itu membentuk sosok seseorang berparas serupa dengan Shen Yi namun pakaiannya berbeda. Sosok tersebut memakai jubah berwarna perak, di kepalanya terdapat tusuk rambut yang terbuat dari kayu persik ribuan tahun. Ada aura dewa yang terpancar di sekeliling sosok itu.
Kemudian, cahayanya membentuk bayangan istana dewa ratusan ribu tahun lalu. Di istana itu, sosok tersebut disembah dan sangat dihormati. Feng Shang juga melihat sosok Dewa Chang Yuan membungkukkan tubuh, memberi hormat kepada sosok tersebut. Seseorang yang begitu dihormati dan posisinya lebih tinggi dari Kaisar Langit zaman dewa kuno hanyalah….
Tanpa sadar Feng Shang berucap. Dugaannya selama ini benar. Shen Yi bukanlah manusia biasa. Ia istimewa, karena hanya Shen Yi-lah yang bisa membuat seorang Maharani Langit seperti Feng Shang merasakan sakit ketika menatapnya lebih lama. Rupanya, bayangan runyam yang ia lihat tempo hari adalah sosok Dewa Agung Yongheng, dan bayangan lainnya adalah gambaran kehidupannya.
Takdir benar-benar mempermainkan semua orang! Sesuatu yang disebut takdir membuat seorang Dewa Agung Yongheng memiliki inkarnasi di dunia yang sangat jauh. Sesuatu bernama takdir membuat Maharani Langit yang ditakdirkan memasuki dunia itu untuk menyusulnya dan menemukannya. Sesuatu bernama takdir telah menciptakan ikatan kusut yang harus diselesaikan oleh mereka berdua, dalam situasi yang sangat berbeda.
“Takdir benar-benar mempermainkanku,” gumam Feng Shang.
Perkataan Dewa Chang Yuan menjadi kenyataan. Dewa Agung Yongheng memang berada sangat dekat dengannya, bahkan tinggal bersamanya. Hanya saja setelah ini Feng Shang bingung harus melakukan apa. Di sini, Shen Yi adalah manusia biasa, meskipun memiliki kesadaran dewa dan ia adalah inkarnasi Dewa Agung Yongheng. Feng Shang tidak bisa memberitahunya secara langsung.
__ADS_1
Bisa-bisa pria itu pingsan dan menganggapnya gila. Shen Yi saat ini tidak punya ingatan dewa, tidak tahu bahwa jati dirinya yang sebenarnya adalah seorang makhluk abadi. Seseorang yang berasal dari dunia yang sama dengan Feng Shang, yang telah menghilang selama ratusan ribu tahun.
“Mengapa harus kau?” tanya Feng Shang.
Bukannya ia tak senang. Ada sedikit ketidakrelaan saat ia tahu takdir apa yang harus dihadapinya setelah ia menemukan inkarnasi Dewa Agung Yongheng. Shen Yi adalah orang terdekatnya, manusia pertama yang berani mendebatnya dalam puluhan ribu tahun. Ia pula yang telah membangkitkan kekuatannya dan telah membuat Feng Shang menyadari adanya misteri takdir.
Jika Dewa Agung Yongheng bangkit, maka ingatannya sebagai Shen Yi akan lenyap. Ia akan melupakan kalau dirinya pernah menjadi Shen Yi, menjadi manusia dan melupakan segalanya. Akan menjadi keuntungan jika ia bisa menerima dirinya berada di luar dunia dewa, tetapi bisa menjadi bencana jika ia tidak bisa menerimanya.
Feng Shang dilanda kebingungan yang luar biasa. Membangkitkan Dewa Agung Yongheng adalah tugas dan takdirnya, tetapi menjalaninya tidak akan semudah itu. Untuk saat ini, ia memutuskan akan merahasiakannya sampai ia menemukan cara kembali ke Alam Sembilan Langit.
Feng Shang juga harus menyembunyikan jati diri Shen Yi dari semua orang. Terutama dari Xiang Sun. Hawa iblis di tubuh pria itu mungkin saja ada kaitannya dengan Raja Iblis. Urusannya bisa runyam kalau Raja Iblis benar-benar ada di dunia ini, ia pasti akan melenyapkan inkarnasi Dewa Agung Yongheng.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?”
Shen Yi tiba-tiba terbangun. Antara sadar dan tidak sadar, ia melihat bayangan Feng Shang berdiri di samping tempat tidurnya. Feng Shang tidak tahu harus bereaksi apa. Kepalanya tiba-tiba pusing, kemudian matanya berkunang-kunang. Di ujung kesadarannya, ia hanya bisa berucap, “Dewa Agung Yongheng….”
“Xiao Shang!” teriak Shen Yi.
Pria itu langsung bangkit, menangkap tubuh Feng Shang yang hampir terjatuh ke lantai. Shen Yi terkejut melihat begitu banyak darah mewarnai lengan baju Feng Shang. Saat ia menyingkapnya, ia melihat luka goresan memanjang yang terbuka.
...***...
__ADS_1
...Yeay! Akhirnya jati diri Shen Yi terungkap! Eits, tapi jangan lupa kalau ada misteri lain penyebab Feng Shang terikat sama Shen Yi. Tunggu episode selanjutnya, kita sama-sama ungkap misteri takdir mereka berdua! ...