
Bayangan Raja Iblis dalam formasi dibawa kembali ke Lembah Shansui dan dikurung di sana bersama tubuh emasnya. Lembah itu kembali diselimuti ribuan formasi, sehingga suasananya menjadi lebih tidak menyenangkan. Penjagaan di sana juga diperketat dengan penambahan jumlah prajurit surgawi sebanyak sepuluh ribu orang.
Sementara itu, Feng Shang masih terbaring tak sadarkan diri di Istana Fengyun. Usai pertarungan itu, Yongheng langsung membawanya pulang ke Istana Langit dan merawatnya. Aliran energinya ia berikan kepada Feng Shang, namun wanita itu tak kunjung sadar.
"Mengapa bisa begini?"
Yongheng terus menerus mengalirkan alerginya kepada Feng Shang dengan harapan wanita itu bisa bangun. Energinya berputar. Tabib Dewa sudah memeriksanya, namun dia juga kebingungan karena tubuh Feng Shang baik-baik saja.
Di Istana Fengyun, Yongheng didampingi Yue Ming. Dia bersedih karena maharaninya tiba-tiba pulang dalam keadaan tak sadarkan diri. Yue Ming sudah memeriksa lentera kehidupannya, dan masih menyala seperti biasa. Hanya saja Feng Shang tidak mau membuka mata.
Yue Ming kemudian meminta Yongheng menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lantas, sang dewa agung membeberkan semuanya, bahwa mereka bertarung untuk menangkap bayangan Raja Iblis. Yongheng juga menjelaskan kalau dia sebenarnya tidak setuju, tapi Feng Shang terus memaksanya.
"Lihat dirimu! Kau terlalu keras kepala. Tidak pernah berubah. Maharani, bagaimana dengan dunia?" tangis Yue Ming pecah saat ia melihat Feng Shang di ranjangnya.
"Dia terkena serangan Raja Iblis. Berdasarkan kemampuannya, luka itu tidak akan berarti apa-apa. Tetapi, mengapa kondisinya jadi begini?" ucap Yongheng.
"Yue Ming, kau adalah orang terlama yang berada di sisinya. Kau tahu sesuatu?"
"Aku tahu apa? Takdir Maharani tidak tertulis di buku takdir manapun dan baru terbentuk lima ratus tahun lalu. Bagaimana aku bisa memprediksinya?"
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa. Aku yakin ada yang salah dengan putaran energi spiritual di dalam tubuhnya."
Yue Ming mencoba memikirkan sesuatu. Perkataan Yongheng sepertinya mengingatkan dia pada sesuatu, tapi apa? Yue Ming itu pelupa, dan dia bisa melupakan apa yang dikatakan orang beberapa menit setelah dikatakan. Apa mungkin ada sesuatu yang dia lupakan?
__ADS_1
"Ah, aku ingat! Dewa Agung Yongheng, apa akhir-akhir ini kalian sangat dekat?" tanya Yue Ming.
"Mengapa kau menanyakan itu?"
"Jawab saja!"
"Kami dekat sejak dahulu. Jauh sebelum pergi ke alam fana, aku dan dia telah saling mengenal," jawab Yongheng.
"Itu dia! Pelayan! Pergi ke Kuil Si Ming dan bawa dia kemari!" perintah Yue Ming.
"Untuk apa kau memanggil Si Ming?"
"Si Ming punya jawaban atas apa yang terjadi pada Maharani Feng."
Si Ming langsung memeriksa denyut nadi Feng Shang. Aneh, padahal dia bukan tabib, tapi lupakan saja itu. Si Ming mengernyit, merasa menemukan sesuatu yang aneh. Sepertinya prediksinya menjadi kenyataan.
"Pohon perasaan dan hati Maharani Feng mulai bersemi. Itu sebabnya tubuhnya melemah," tutur Si Ming. Semua orang tidak bisa tidak terkejut. Apa maksudnya?
"Bagaimana mungkin?" tanya Yongheng tak percaya. Dia sungguh tidak mempercayai ucapan Si Ming sama sekali.
Yongheng pernah mendengar bahwa pemimpin surga seperti Kaisar Langit dan Maharani mempunyai pohon perasaan dan hati yang agak berbeda dari makhluk abadi yang lain. Legenda mengatakan bahwa itu semacam sebuah oase di tengah gurun pasir, atau sebuah pulau di tengah lautan kecil.
Pohon perasaan itu mewakili hati pemiliknya. Jika membeku atau mengering, maka pemiliknya merupakan orang yang berhati dingin dan tidak tersentuh. Jika bersemi dan tumbuh subur, maka perasaan seperti cinta, kasih sayang, kemarahan, dan sebagainya merupakan sebuah perpaduan yang saling melengkapi.
__ADS_1
Hati pemimpin surga tidak seperti itu. Mereka memiliki pohon perasaan yang membeku sepanjang hidup. Itu semua terjadi karena takdir tidak memperbolehkan mereka memiliki perasaan yang berlebih, dan mencegah mereka pilih kasih terhadap makhluk lain.
Dewa Chang Yuan juga memiliki pohon perasaan yang membeku. Itulah sebabnya dia bisa menjadi Kaisar Langit Pertama yang baik. Dia bisa mengatur dunia, namun tidak bisa memiliki seseorang yang dicintai.
"Jika pohon perasaan Maharani Feng bersemi, maka kekuatan di dalam dirinya akan melemah sedikit demi sedikit. Itu hukum alam, karena seseorang yang memimpin dunia tidak boleh tergerak oleh hal-hal kecil. Jika pohon perasaannya menjadi subur, maka kekuatan di dalam dirinya akan sirna," terang Si Ming.
"Aku juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu. Garis di buku takdir Maharani Feng berubah lagi. Aku tidak yakin ini adalah hal yang baik atau buruk," tambahnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Maharani tidak bisa terus berbaring," ujar Yue Ming sambil menangis.
"Mungkin inilah alasan mengapa dia terluka oleh serangan Raja Iblis," lirih Yongheng.
"Dewa Agung, kau bisa menyembuhkannya, bukan? Maharani Feng tidak bisa terus seperti ini. Hanya kau yang dapat menyelamatkannya!" Yue Ming memohon sambil terus menangis.
"Dewa Agung Yongheng, pohon perasaan Maharani Feng bersemi karenamu. Hanya kau yang dapat membangunkannya," Si Ming ikut menimpali.
Yongheng tahu. Dan dia pasti akan melakukannya tanpa diminta. Feng Shang adalah wanita paling berharga untuknya. Dia tidak akan memaafkan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Kalaupun dia harus mati, dia rela selama Feng Shang bisa membuka mata.
Anggap saja itu sebagai penebusannya. Feng Shang membangkitkannya dan membuatnya hidup kembali. Yongheng mempedulikannya, mencintainya walaupun ia tak mengungkapkannya secara langsung. Sungguh, bahasa cinta para dewa memang rumit. Mereka tidak mengungkapkan, tapi hati yang berbicara tahu lebih dari siapapun.
"Kalian keluarlah."
***
__ADS_1
...Haloo pembaca kesayangan Otor! Lama tak jumoa! Ada yang kangen sama Otor? Kalau enggak, gapapa Otor kuat kok, hehe. Oh iya, Otor sekalian mau bawa pengumuman nih. Kisah Feng Shang & Shen Yi alias Yongheng sebentar lagi akan berakhir. Jadi, jangan lupakan dulu ya kisahnya. Sampai jumpa di episode berikutnya!...