
Lima ratus tahun kemudian.
Istana Langit diselimuti kabut putih beraroma wangi. Jutaan kelopak bunga beterbangan di udara, melambai membentuk selendang sejuta warna. Burung-burung surgawi berkeliaran, melintasi Istana Langit yang paling agung di seluruh dunia. Di bawah kumpulan awan spiritual, ratusan dewa-dewi tengah sibuk beraktivitas.
Hari ini adalah hari peringatan kemenangan klan dewa melawan Raja Iblis dan seluruh pasukannya. Perjamuan paling agung di Tiga Alam diadakan untuk mengenang pertempuran itu, sekaligus mengingatkan semua orang tentang betapa mengerikannya sebuah peperangan. Terutama peperangan antar makhluk abadi yang seharusnya saling mengasihi.
Semenjak Maharani Langit mengorbankan diri bersama Dewa Agung Yongheng, takhta kepemimpinan Alam Sembilan Langit jatuh ke tangan Pangeran Pertama Kerajaan Langit, Ying Yuan.
Dia sang putra pertama maharani. Dewa Ying Yuan meneruskan takhta ibunya, sementara adiknya, Dewi Chong Hua memimpin kerajaan di Laut Timur, mewarisi takhta ayahnya. Sepasang dewa kembar itu masing-masing mewarisi mahkota kerajaan dan memimpin para dewa.
Beberapa tahun setelah kematian keduanya, duka menyelimuti Tiga Alam. Kain putih bertebaran di Istana Fengyun. Maharani dan Dewa Agung telah memenuhi takdir, menyelamatkan Tiga Alam dari kekacauan.
Para dewa-dewi bersedih, para perlayan peri berduka. Mereka kehilangan sosok yang agung yang telah memimpin mereka. Namun, kesedihan itu perlahan menghilang sejak takhta diduduki keturunan keduanya.
Usia mereka masih muda, namun karena mereka adalah putra-putri Maharani dan Dewa Agung, mereka mempunyai kekuatan yang sangat besar. Ying Yuan memiliki darah feniks api biru ibunya, dan Chong Hua mewarisi darah naga emas ayahnya.
Pada awalnya tidak ada yang tahu kalau Maharani Feng dan Dewa Agung Yongheng memiliki putra. Keduanya menyembunyikannya demi mengamankan mereka dari peperangan besar.
Ketika mengetahui bahwa sepasang remaja kembar yang ditemuinya di Alam Fana adalah keturunan Maharani Langit dan Dewa Agung Yongheng, Ji Nuo langsung membawa mereka ke Alam Sembilan Langit. Para dewa begitu gembira karena pemimpin mereka ternyata memiliki keturunan.
__ADS_1
Ying Yuan dan Chong Hua lantas dibimbing untuk mengendalikan kekuatan semesta mereka secara teratur sampai mereka dimahkotai sebagai Kaisar Langit dan Ratu Laut Timur. Sepasang remaja kembar itu menjadi penguasa baru yang menggantikan orang tua mereka.
"Dewi Yue Ming, Yang Mulia Kaisar tidak ada di istananya," ucap pelayan peri kepada Yue Ming.
"Yang Mulia dari Laut Timur juga tidak ada," ucap pelayan peri yang lain.
Yue Ming menepuk keningnya sendiri. Kedua putra-putri Feng Shang dan Yongheng mewarisi sifat orang tua mereka yang suka bepergian tanpa pemberitahuan. Lagi-lagi seperti ini. Setiap tahun, pada setiap upacara peringatan kematian Maharani Feng dan Dewa Agung Yongheng, Ying Yuan dan Chong Hua selalu menghilang sebelum kembali pada sore hari.
"Baiklah. Kembalilah bekerja," ucap Yue Ming.
"Lalu, bagaimana dengan perjamuannya?"
Di lain tempat, Ying Yuan dan Chong Hua tengah asyik makan di pondok kayu. Ini adalah tempat favorit mereka. Setiap tahunnya, mereka selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat ini meski hanya satu kali. Kenangan bersama orang tua mereka yang singkat cukup membekas dalam ingatan dewa mereka.
Biasanya, mereka akan kembali setelah selesai makan. Mereka masih harus memimpin perjamuan dan upacara agung peringatan kematian orang tua mereka. Ying Yuan selalu memimpin di sisi kanan, sementara Chong Hua memimpin di sisi paling kiri. Pada saat upacara agung dimulai, Menara Qiankun selalu bersinar.
Akan tetapi, hari ini sepertinya berbeda. Ying Yuan sejak pagi telah menunjukkan bahwa ia memiliki minat lain dan tidak berencana kembali untuk memimpin upacara. Gelagatnya begitu aneh sampai Chong Hua heran. Chong Hua jadi curiga kalau kakaknya ingin berbuat sesuatu.
"Chong Hua, kau ingin jalan-jalan?" tanya Ying Yuan saat keduanya selesai makan.
__ADS_1
"Ke mana kau ingin membawaku pergi?"
"Ke tempat yang tidak ada di sini."
Kemudian, Ying Yuan menggerakkan tangannya. Sebuah lubang kekuatan yang besar muncul dan di dalamnya seperti semesta di malam hari. Chong Hua terkejut, lalu bertanya, "Kau berhasil membuka portalnya?"
Ying Yuan tersenyum cerah dan mengangguk. Lantas sepasang kakak beradik kembar itu memasuki portal dan tubuh mereka seperti melayang. Sebuah cahaya terang datang, dan ketika mereka membuka mata, mereka telah sampai di sebuah dunia yang sangat berbeda dengan Alam Sembilan Langit.
"Lihat, mereka di sana!" tunjuk Ying Yuan. Jarinya menunjuk sepasang suami istri yang tengah bergandengan tangan dengan mesra. Raut kebahagiaan terpancar di wajah keduanya.
Chong Hua ikut tersenyum. Dari kejauhan, dia memperhatikan sepasang suami istri tersebut.
"Rupanya mereka hidup di sini," gumamnya. Ying Yuan mengangguk. Setelah lima ratus tahun, akhirnya dia bisa menemukan keberadaan kedua orang itu.
"Kau ingin menyapa mereka?"
"Sepertinya menarik. Ayo!"
Ying Yuan dan Chong Hua kemudian turun dan mengubah pakaian mereka menjadi pakaian yang digunakan di dunia ini. Mereka menghampiri kedua orang itu. Saat mereka berada di hadapannya, kedua orang itu tampak terkejut. Namun, senyum mereka yang cerah kemudian terbit dan itu sangat indah.
__ADS_1
...----------------TAMAT----------------...