
Di tengah Kota Cheng, tepatnya di sebuah bangunan megah bak istana raja, seorang kakek tua berusia enam puluh tahunan memukukl-mukulkan tongkatnya ke lantai berkali-kali. Di hadapannya, bersimpuh banyak orang dengan kepala tertunduk, tidak berani mengangkat kepala atau sekadar bergerak untuk menggaruk kulit yang gatal.
Kakek tua itu sedang marah besar. Semua orang yang ada di dalam rumah tersebut tidak berani menyela karena kemarahannya mampu membuat seluruh isi rumah seperti neraka. Sang kakek menatap marah pada seluruh anak cucunya, yang dia tatap satu persatu.
“Sudah berapa hari ini? Mengapa cucuku masih belum ditemukan, hah? Apa kalian benar-benar bekerja dengan benar, atau sengaja menunda waktu pencarian cucuku? Lihat bagaimana aku menghancurkan hidup kalian jika cucuku tidak berhasil ditemukan!”
Feng Zheng, kepala Keluarga Feng sekaligus pendiri Perusahaan Lingjing sudah beberapa hari ini marah-marah. Cucu kesayangannya yang baru pulang dari perjalanan bisnis dari luar negeri hilang tanpa jejak. Kapal laut yang membawanya pulang dikabarkan mengalami goncangan akibat terjangan ombak dan saat itulah cucu kesayangannya hilang.
Feng Zheng mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari keberadaan cucunya hidup atau mati. Feng Zheng begitu menyayangi cucu perempuannya tersebut karena dia adalah orang yang paling cerdas dan paling bertalenta, serta begitu lembut dan perhatian.
Putranya, Feng Gun telah meninggal dalam kecelakaan tragis bersama istrinya lima belas tahun lalu. Satu-satunya korban yang selamat adalah putrinya, yang kebetulan meringkuk dalam pelukan sang ibu ketika kecelakaan terjadi. Sejak kejadian itu, Feng Zheng menjadi sangat perhatian dan begitu menyayanginya. Tidak tanggung-tanggung, Feng Zheng sampai mengeluarkan biaya sangat besar demi mengirimnya belajar di sekolah bisnis luar negeri.
“Apa kalian iri padanya karena aku menjadikannya pewaris, hah? Apa kalian ingin membuatku mati lebih cepat?”
Pertanyaan kejam itu tidak ada yang berani menjawab. Seluruh anggota Keluarga Feng dan seluruh pegawai tidak kuasa melawan atau berani menahan kemarahan sang kepala keluarga. Usianya memang sudah tua, tetapi wibawa dan ketegasannya jauh melebihi orang yang berusia muda.
Suasana mencekam di ruangan itu berakhir ketika pegawai senior Feng Zheng datang bersama seorang pemuda berjas rapi bertubuh kecil. Bai Zhu, pegawai senior Feng Zheng melaporkan bahwa pemuda ini tahu di mana keberadaan cucu kesayangannya. Segera saja Feng Zheng mempersilakan pemuda itu duduk di kursi tanpa mengindahkan anggota keluarganya yang masih berlutut.
“Kau bilang, kau mengetahui keberadaan cucuku? Cepat katakan, di mana dia? Apa dia masih hidup. Tidak, meskipun dia meninggal, aku harus menemukan jasadnya!” cecar Feng Zheng tanpa sabar. Pemuda itu mengangguk.
“Saya pernah melihat wanita yang wajahnya mirip seperti cucu Tuan di kantor saya. Saya tidak tahu apa itu benar atau tidak, jadi saya memberanikan diri untuk datang dan memberitahu Tuan,” ucap pemuda itu.
“Di kantor mana kau bekerja?” tanya Feng Zheng.
“Perusahaan Xize, Tuan.”
__ADS_1
Feng Zheng bergeming sesaat. Entah apa yang dia pikirkan, tidak ada yang tahu pasti. Setelah terdiam selama beberapa saat, Feng Zheng kemudian berkata, “Baiklah. Bai Zhu, perisapkan mobil. Kita akan ke sana sekarang.”
Bai Zhu mengangguk dan berkata ‘siap’. Setelah itu, dia menyuruh si pemuda untuk ikut bersamanya. Sebelum berangkat, Feng Zheng terlebih dulu berkata pada semua anggota keluarganya dengan tegas.
“Tunggu sampai cucuku kembali, aku akan membuat perhitungan dengan kalian!”
...***...
“Tuan, Ketua Feng dari Perusahaan Lingjing datang ingin menemui Tuan,” ucap Zhang Bi.
Shen Yi yang tengah fokus menandatangani dokumen menjeda kegiatannya. Senyum di bibirnya tersungging kecil seperti seringaian, tetapi dia menundukkan kepalanya hingga Zhang Bi tidak melihat kalau atasannya sedang tersenyum. Shen Yi tidak menyangka hari ini akan menjadi hari yang berbeda.
“Secepat ini? Persilakan dia masuk,” tukasnya kemudian.
Beberapa menit kemudian, Feng Zheng masuk diiringi Zhang Bi. Shen Yi menyambutnya dengan ramah dan senyum khas seorang presdir seperti yang sering dia tampilkan ketika bertemu dengan klien atau calon mitranya. Feng Zheng, si kakek tua enam puluh tahun itu masih terlihat bugar meski sudah renta.
Feng Zheng dan Shen Yi duduk berhadapan. Shen Yi tahu maksud kedatangan orang ini ke sini. Beberapa hari yang lalu saat dia membawa Feng Shang kemari, ada seorang karyawan yang berkata bahwa dia seperti pernah melihat perempuan itu di suatu tempat. Jika disinkronkan dengan informasi dari Zhang Bi, kemungkinan informasi itu benar adanya.
“Presdir Shen, saya langsung berbicara pada intinya saja. Apa benar Presdir Shen menemukan cucuku yang hilang?” tanya Feng Zheng to the point.
Shen Yi suka gaya bicaranya yang tidak banyak berbasa-basi. Tidak heran seluruh anggota Keluarga Feng takut dan tidak berani melawannya. Feng Zheng meski sudah tua tapi masih bisa membuat orang-orang di sekitarnya takut. Inilah gaya pemimpin yang disukai Shen Yi. Orang seperti Feng Zheng-lah yang biasanya paling jujur dan terbuka.
“Boleh saya tahu siapa nama cucu Anda, Ketua Feng?”
“Feng Shangyue.”
__ADS_1
“Maaf. Saya tidak tahu siapa Feng Shangyue.”
Feng Zheng menghela napas. Pemuda tadi tidak mungkin membohonginya, bukan? Atau, Presdir Shen yang sengaja mempermainkannya? Tetapi, ini bukanlah sesuatu yang bisa dibuat main-main. Sekalipun harus mengobrak-abrik Perusahaan Xize dan masuk penjara, Feng Zheng harus tetap menemukan cucunya.
“Tapi, tidak tahu apakah perempuan yang saya temukan adalah cucu Anda atau bukan. Zhang Bi, bawa dia kemari.”
Zhang Bi keluar, lalu kembali lima menit kemudian bersama Feng Shang. Melihat Feng Shang, Feng Zheng seketika berdiri, lalu menghampiri Feng Shang yang sedang kebingungan. Feng Shang sedang tidur di pantry, tapi tiba-tiba dibangunkan Zhang Bi dan dibawa kemari.
“Shang’er! Ya ampun, cucuku benar-benar masih hidup!”
Feng Zheng langsung memeluk Feng Shang, membuat perempuan itu terbelalak seketika. Berani-beraninya manusia tua ini memeluk Maharani Langit! Feng Shang menatap penuh tanya pada Shen Yi, pria itu hanya membalasnya dengan seringaian kecil yang menyebalkan. Itu semakin memperparah kebingungan Feng Shang.
“Kakek tua, mengapa kau memelukku?”
Feng Zheng terkejut bukan main. Dia melepas pelukannya, memperhatikan wajah Feng Shang dengan saksama. Benar, ini adalah cucunya. Wajahnya dan tinggi badannya juga sama. Bingung dengan itu, Feng Zheng lantas mengalihkan pandangan pada Shen Yi, berharap pria itu bisa memberinya penjelasan.
“Cucumu kehilangan ingatan sejak aku menemukannya di Pulau Yonghe. Ketua, wajar jika dia tidak mengenali Anda,” jelas Shen Yi. Penjelasannya membuat Feng Zheng meratap, “Cucuku yang malang!”
Feng Shang masih belum mengerti bahkan sampai Feng Zheng membawanya dari kantor Shen Yi. Dari jendela kaca kantornya, Shen Yi menyaksikan Feng Shang perlahan menghilang seiring dengan cepatnya laju mobil. Sesuai dugaan, Feng Shang benar-benar cucu Keluarga Feng, seorang nona besar Feng yang dikabarkan hilang ketika perjalanan pulang setelah menjalankan bisnis.
“Tuan, Nona Feng sudah pergi. Apa yang akan Tuan lakukan sekarang?” tanya Zhang Bi.
Shen Yi hanya terdiam sejenak. Entah mengapa pikirannya buntu sesaat. Sambil terus memandang keluar, dia kemudian menjawab, “Jalankan sesuai rencana saja.”
...***...
__ADS_1
...Ehhh ternyata eh ternyata... Dia cucu konglomerat! ...
...Sesama konglomerat, bakal gimana ya kehidupannya ke depannya? ...