
Feng Shang menyuapkan secuil daging ke dalam mulutnya.
Rasa makanan yang dibawa Shen Yi lumayan enak, tetapi penuh dengan lemak. Itu tidak bagus untuk kesehatan karena bisa berubah menjadi kolesterol. Feng Shang ingin berhenti makan, tapi tangan dan mulutnya tidak bisa diajak kompromi. Kedua bagian tubuh itu mengkhianatinya.
Shen Yi melongo. Tangannya memegang sumpit yang tergantung di udara, belum sempat mencapit makanan dan mencicipi rasanya. Ia menganga melihat Feng Shang begitu lahap menikmati makanan yang dibawanya, sampai-sampai hampir habis setengahnya. Orang yang tadi bilang ingin makan bersama ini justru menghabiskan semuanya.
"Apa begitu enak?" tanyanya tak yakin.
"Lumayan," jawab Feng Shang.
"Setidaknya ini lebih baik daripada sup seribu bunga yang dimasak Yue Ming," tambahnya lagi.
Shen Yi mengernyit. Yue Ming? Siapa itu Yue Ming? Apa Feng Shang punya teman lain? Kenapa namanya Yue Ming, mirip seperti nama karakter dalam drama?
"Siapa Yue Ming?"
Sadar kalau perkataannya refleks, Feng Shang menjawab sekenanya. Ia mengatakan kalau Yue Ming adalah salah satu temannya yang tempat tinggalnya sangat jauh. Shen Yi curiga, tapi tidak ada gunanya. Matanya dimanjakan dengan pemandangan Feng Shang yang seperti anak kecil. Nafsu makan perempuan itu besar juga, pikirnya.
Entah sudah berapa kali Shen Yi menyunggingkan senyum. Melihat Feng Shang yang terkadang terlihat menggemaskan ketika berwajah polos, hatinya seperti mengalami musim semi yang segar dan hangat. Seperti ada ribuan bunga yang mekar, memberikan keharuman yang tahan lama seperti iklan deterjen bubuk.
Jika dilihat-lihat, Feng Shang memang berparas jelita. Hidungnya bangir dan kulitnya seputih susu. Perempuan itu memiliki mata yang ketika menatap setajam elang, namun begitu hidup dan bersinar seperti permata. Pahatan wajahnya sempurna, menguarkan aura keanggunan dan dominasi yang menyisakan sedikit rasa hormat ketika melihatnya dengan saksama.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Feng Shang. Ia mulai tidak nyaman ditatap begitu intens oleh Shen Yi.
"Apa kau tahu tentang darah suci?"
"Darah suci? Maksudmu, darah bidadari?"
__ADS_1
Shen Yi mengangguk.
"Kakekmu memberitahu kalau kau adalah pemilik darah suci dan menyuruhku melindungimu. Apa kau percaya?"
"Entahlah. Aku memang memiliki darah suci, tapi bukan dari keturunan milik Keluarga Feng," ucap Feng Shang sambil terus menyantap hidangan di meja kantornya.
"Maksudmu?"
"Kau akan mengerti nanti. Tenanglah, kau tidak perlu menuruti si tua Feng itu. Aku bukan anak berumur lima tahun yang tidak bisa apa-apa."
Melihat kepercayaan diri Feng Shang yang begitu tinggi membuat Shen Yi terdiam. Benar juga. Selama ini perempuan itu selalu bisa melindungi dirinya sendiri, tidak pernah terlihat kalau dia membutuhkan perlindungan dari orang lain. Jangankan mengganggunya, orang yang melihat matanya sekejap bisa langsung kedinginan. Bahkan semut pun mungkin enggan mendekat padanya.
Dia sendiri sering kalap ketika beradu mulut dengannya. Tetapi, kian hari semuanya kian terasa aneh. Ia tidak hanya menjadi lebih dekat, bahkan muncul sebuah kepedulian yang belum pernah ia berikan pada orang lain. Shen Yi seperti sedang menumbuhkan bibit yang belum ditentukan masa depannya di dalam hatinya.
Dulu, ia tidak suka berdekatan dengan wanita. Ayah ibunya pernah menjodohkannya dengan seorang putri konglomerat kenalan lama keluarganya, tetapi Shen Yi dengan tegas menolak. Suatu ketika, ayah ibunya kembali mengatur kencan buta untuknya. Alih-alih menghadiri kencan tersebut, ia malah terbang ke luar negeri dan menetap di sana selama beberapa hari.
Saat ini pun jika mereka menelepon, Shen Yi jarang mengangkatnya. Karena setiap kali diangkat, keluarganya pasti bertanya apakah ia ingin menikah atau tidak. Shen Yi tidak pernah peduli pada urusan asmara, tidak tahu seperti apa punya perasaan pribadi pada lawan jenis. Feng Shang adalah yang pertama.
"Direktur Feng, Presdir Xiang datang lagi," ucap Jingjing ragu. Sekretaris itu masuk dengan terburu-buru.
"Lihat, penggemarmu baru saja tiba," ujar Shen Yi malas. Mendengar nama Xiang Sun, suasana hatinya jadi buruk seketika.
Jingjing berdiri dengan bingung. Ia sungguh tidak bisa menahan serangan Xiang Sun yang terus menerus ini. Hampir setiap hari pria itu mengirimkan hadiah. Hampir setiap hari pula Jingjing harus mengeluarkan uang, menyuruh orang untuk mengembalikan hadiah-hadiah itu kepada pengirimnya.
"Bakar saja hadiahnya. Aku tidak suka ada orang asing sembarangan membuang sampah di kantorku," tukas Feng Shang. Ia juga malas meladeni pria dengan aura iblis itu.
Jingjing lantas kembali untuk menjalankan tugasnya. Padahal dia seorang sekretaris, bukan asisten pribadi. Shen Yi menghela napas. Seorang Xiang Sun saja begitu punya nyali, pikirnya.
__ADS_1
"Habiskan makananmu. Aku harus kembali ke kantor."
Feng Shang mengangguk. Dia tidak tahu mengapa wajah Shen Yi tiba-tiba menggelap.
...***...
Hari berikutnya, giliran Feng Shang yang datang ke kantor Shen Yi.
Perempuan itu membuat keributan di lobi kantor Xize, memaksa resepsionis membiarkannya bertemu dengan Shen Yi tanpa harus membuat janji. Resepsionis yang tidak tahu identitas Feng Shang menolak tegas, mengatakan kalau Presdir Shen sedang sibuk. Itu membuat Feng Shang kesal, ingin sekali ia mencekik leher si resepsionis, mengangkat tubuhnya lalu melemparkannya ke kolam renang.
Feng Shang bisa saja menggunakan kekuatannya untuk menghentikan waktu, lalu menemui Shen Yi secara langsung. Tetapi, urusannya bisa gawat jika sampai ketahuan. Feng Shang mencoba berbaik hati, memberikan kesempatan pada resepsionis untuk mengizinkannya masuk. Jika tidak, ia benar-benar akan menggunakan kekuatannya untuk membuat kekacauan di sini.
"Mengapa sangat ribut?" tanya seorang wanita.
Feng Shang menoleh. Di belakangnya, seorang wanita muda berblazer pink muda berdiri membawa tas, menatap Feng Shang dan resepsionis bergantian.
Itu dia, wanita yang menolongku di toilet beberapa waktu lalu, ucap Feng Shang.
"Direktur Jiang, Nona ini memaksa ingin menemui Presdir Shen," tutur resepsionis.
"Ah, begitu. Direktur Feng, Anda bisa menemuinya. Tetapi untuk saat ini, Presdir Shen memang sedang sibuk di ruang rapat," ucap Jiang Li. Ia terperangah melihat pemilik Lingjing tiba-tiba datang ke Xize tanpa pemberitahuan.
Feng Shang tetap ingin masuk. Akhirnya, Jiang Li membawanya naik ke lantai atas, tempat mereka bekerja. Ini adalah jam sibuk. Beberapa kali Feng Shang tertubruk saat sedang berjalan. Setelah itu, ia duduk di ruangan Shen Yi, menunggu pria itu kembali.
Tetapi yang namanya Feng Shang selalu tidak bisa menunggu. Lama-lama ia bisa jamuran jika terus duduk di ruangan Shen Yi yang serba apik itu. Feng Shang berjalan keluar, kemudian berdiri di depan ruang kerja Jiang Li. Kebetulan, Jiang Li hendak keluar. Ia terkejut melihat Feng Shang berdiri di depan ruangannya.
"Direktur Jiang, aku bosan. Mari kita balapan."
__ADS_1