Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 39: Tidak Yakin


__ADS_3

"Aneh, mengapa kita tidak mati? Padahal benturannya begitu keras," ucap Shen Yi sambil mengobati memar di tangan Feng Shang.


"Jangankan mati, luka sobek saja tidak ada. Menurutmu, apa mungkin malaikat yang kulihat di mimpi menyelamatkan kita?" tanya pria itu.


Feng Shang diam-diam menyunggingkan senyum. Pikiran pendek Shen Yi sebagai manusia memang tidak salah. Imajinasinya cukup bagus karena berpikir ada malaikat bersayap yang datang menyelamatkan. Jika dia percaya ada makhluk semacam itu, lalu mengapa dia meragukan ucapan Feng Shang?


"Shen Yi, apa kau percaya ada dunia lain selain dunia yang kau tinggali?"


Shen Yi menghentikan kegiatannya sesaat. Matanya beralih menatap Feng Shang dengan penuh tanda tanya. Dia tidak percaya ada dunia lain, dia hanya percaya pada apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Jika dunia seperti itu benar-benar ada, apa para dewa yang ada di mitos itu juga akan turun ke bumi?"


Ia menanggapinya dengan candaan. Hanya pemikiran kolot yang masih menganggap dunia lain seperti dunia dewa ada. Shen Yi melanjutkan aktivitasnya, mengoleskan obat ke tangan Feng Shang supaya memarnya tidak membengkak.


Ada banyak hal yang tidak dimengerti oleh pria ini. Shen Yi sama sekali tidak menyadari keberadaan makhluk dan kekuatan lain hidup berdampingan dengannya. Ia sekarang hanya manusia biasa, yang kelima inderanya tidak bisa digunakan untuk merasakan hal-hal di luar kendali manusia biasa.


Feng Shang penasaran mengapa inti jiwa Dewa Agung Yongheng membentuk seorang manusia fana bernama Shen Yi. Ia ingin mengetahui misteri itu, yang mungkin berhubungan dengan misteri takdirnya juga. Kemugkinan, mereka memiliki nasib yang sama.


Ia ingat, saat ia terluka, ia mendengar perkataan Si Ming yang akan mengirimnya ke dunia fana. Tapi, apakah Si Ming tahu kalau Maharani Langit-nya malah tersesat ke dunia yang lain?


"Mau kutunjukkan sesuatu?" tanya Feng Shang.


"Apa?"


"Pejamkan matamu."


Feng Shang menutup mata Shen Yi dengan telapak tangannya. Ia memperlihatkan dunia dewa lewat sihir ilusi langit, yang memungkinkan pikirannya terhubung dengan kekuatan di Istana Langit dan menyambungkannya dengan kelima indera Shen Yi.


Shen Yi seperti sedang berada di alam mimpi. Ia melihat sebuah istana megah dengan banyak pohon persik dan bunga-bunga yang sangat wangi tumbuh di pekarangannya. Ia juga melihat sinar-sinar biru cerah melayang, menyentuh setiap bangunan istana itu, menjadikannya terasa begitu nyaman.


Kemudian, ia melihat istana lain yang tidak kalah indahnya. Ada sebuah aula besar dan mewah, dipenuhi kekuatan dan aura yang begitu agung. Selesai dengan itu, Shen Yi melihat banyak orang berpakaian indah berjalan dan terbang, melakukan kegiatan dengan sesuatu yang disebut sihir.

__ADS_1


Di aula itu, Shen Yi mengenal sosok wanita yang tengah duduk di atas singgasana tertinggi. Ada mahkota indah di kepalanya. Pakaiannya terbuat dari sutera yang tidak ada di dunia, tampak anggun dan agung di waktu bersamaan.


Shen Yi juga melihat dunia lain yang tidak jauh berbeda dengan yang ia lihat beberapa saat yang lalu. Ada sebuah padang rumput yang sangat luas dan indah, juga ada sebuah hutan persik yang sangat luas. Ada pula danau yang begitu tenang, langit yang begitu biru, juga orang-orang berpakaian berbeda antara satu tempat dan tempat yang lainnya.


Feng Shang sengaja memperlihatkan Istana Fengyun miliknya dan Istana Dewa, juga beberapa tempat kediaman makhluk abadi yang lain. Karena Shen Yi adalah Dewa Agung Yongheng yang belum bangkit, maka membuatnya melihat pemandangan seperti itu merupakan hal mudah baginya. Bagaimanapun, tubuh sejati Shen Yi adalah dewa juga.


"Mengapa kau ada di sana? Siapa kau sebenarnya?" tanya Shen Yi setelah Feng Shang menurunkan tangannya dari mata Shen Yi.


"Maharani Langit."


Shen Yi menatapnya, dahinya berkerut. Tidak lama kemudian, ia berujar, "Kepalanya pasti terbentur hingga mengarang cerita seperti itu."


Secara otomatis, semua ekspektasi Feng Shang langsung hancur seketika. Setelah semua ia perlihatkan, pria itu malah menganggap dirinya gila!


"Ah, aku sepertinya juga sedang berhalusinasi. Pemandangan apa itu tadi? Istana?" ceracau Shen Yi.


Shen Yi seperti orang linglung. Ia berbicara kacau, menganggap dirinya mengalami gangguan otak akibat kecelakaan. Feng Shang kesal, tidak mau meladeni ocehan Shen Yi yang bodoh itu. Ia beranjak dari sana, lalu meninggalkan Shen Yi tanpa berkata apa-apa lagi.


Shen Yi tidak berani percaya kalau dunia seperti itu adalah nyata. Ia lebih tidak percaya pada Feng Shang yang menurutnya aneh akhir-akhir ini. Semuanya aneh, semuanya sangat aneh, termasuk mimpi aneh yang sering menghantui malamnya.


"Apa aku harus menemui psikiater?"


Bagi manusia fana seperti Shen Yi yang hidup di dunia modern, adanya kekuatan mistis dan dunia lain bukanlah sesuatu yang dapat dipercaya. Keyakinannya hanya sebatas pada apa yang ia lihat, bukan berdasarkan dongeng atau perkataan orang lain.


Jika mempercayainya semudah itu, maka Shen Yi bisa benar-benar gila. Jadi, dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu, menyembunyikan segala kebingungannya di balik wajah dinginnya yang terkadang terasa begitu manis saat tersenyum.


"Sepertinya aku memang harus berkonsultasi dengan psikiater."


...***...


Xiang Sun memandangi dirinya sendiri di hadapan cermin kuno di ruang bawah tanahnya. Balutan jas hitam formal menampakkan kesan bahwa ia benar-benar milyuner muda, tetapi bagi orang yang tahu, ia adalah monster yang menyeramkan.

__ADS_1


"Mengapa kau lebih sering muncul sekarang?"


Xiang Sun mencoba memanggil bayangan dirinya yang lain. Akhir-akhir ini, bayangannya selalu muncul, memintanya memberikan hawa kehidupan dari manusia. Terkadang sampai hilang kendali dan tubuhnya dikuasai oleh sosok lain yang bersemayam di dalam tubuhnya.


Kabar mengenai tewasnya salah seorang karyawan Lingjing telah sampai ke telinganya. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa waswas, namun kini ia malah khawatit. Xiang Sun khawatir lama kelamaan semuanya akan terungkap.


Apalagi, bayangannya menjadi lebih sering muncul. Saat kehilangan kendali, ia bisa menyerang siapa saja, tidak peduli apakah itu wanita atau pria, tua atau muda. Selama muncul di hadapannya, orang itu akan bernasib sama dengan karyawan Lingjing yang tewas tersebut.


Bola mata kirinya memerah. Dirinya yang lain muncul, menguasai separuh dari kendali tubuhnya. Dua jiwa dalam satu tubuh, saling terhubung dan saling berkomunikasi.


"Kau harus segera mendapatkan darah suci itu!" ucap si mata merah.


"Beri aku waktu! Wanita itu tidak mudah dihadapi," ucap Xiang Sun.


"Kuberitahu kau! Jika kau tidak bertindak cepat, kita hanya akan menjadi debu. Aku merasakan kehadiran pemimpin surga di dunia ini. Dia mungkin telah merasakan kehadiran kita!"


"Maksudmu, Maharani Langit yang telah menyegelmu itu?"


Si mata merah memelototkan matanya.


"Bukan hanya itu! Ada makhluk abadi lain yang jiwanya hendak bangkit!"


Xiang Sun yang memiliki ambisi membuat dunia berada di bawah kendalinya sudah tidak bisa sabar. Ia harus mendapatkan darah suci itu, menyempurnakan tubuhnya dan menyatukan jiwanya dengan si mata merah.


Benar, tidak bisa ditunda lagi. Apapun caranya, ia harus mendapatkan Feng Shang, bahkan jika harus melenyapkan seluruh Klan Feng di semua dunia. Darah suci itu harus menjadi miliknya.


"Baiklah. Kurasa sudah saatnya aku meminjam tangan kekasihku untuk melakukannya," ucap Xiang Sun. Seringaiannya begitu menyeramkan.


Si mata merah tertawa. Sangat puas pada tekad dirinya yang lain.


"Aku sangat menantikan itu."

__ADS_1


__ADS_2