Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 92: Tidak Mengizinkan


__ADS_3

"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri."


"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri."


"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri."


Feng Shang menghindari setiap sapaan yang sebenarnya ditujukan kepada Ji Nuo. Usai menemui kaisar manusia, dia membawanya mengunjungi Istana Belakang, untuk melihat-lihat seberapa banyak selir yang dimiliki oleh kaisar. Feng Shang sungguh terkejut karena wanita yang ada di sini lebih banyak ketimbang pelayan peri di Istana Langit. Jumlahnya sangat banyak dan mereka semua sangat cantik dan segar, seperti kuntum bunga yang baru mekar.


Sayang sekali hidup mereka diikat di sangkar emas ini. Feng Shang yakin mereka masuk kemari bukan atas kehendak mereka sendiri. Ji Nuo bilang dia harus mencari gadis yang murni, dan itu cukup sulit sampai dia harus membujuk orang tua wanita-wanita ini agar mengizinkan putrinya masuk istana dan menjadi selir kaisar. Rasanya konyol karena Feng Shang sungguh tidak mengira kalau hal seperti ini terjadi di dunia manusia.


"Mereka baru tinggal di istana sekitar satu sampai dua tahun. Yang sebelah sana adalah para selir senior," ucap Ji Nuo sambil menunjuk area istana yang jaraknya tidak seberapa jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


"Kaisar manusia sialan itu benar-benar cabul!" dengus Feng Shang. Yongheng yang ada di sisinya mengiyakan, karena ia pikir kaisar manusia itu juga benar-benar cabul.


Bayangkan saja, ada lebih dari empat ratus selir tinggal di sini. Kaisar manusia itu pasti tidak tahu siapa saja yang pernah tidur dengannya. Ia pasti tidak ingat dengan siapa ia bermain semalam, atau bagaimana wajah selir yang melayaninya saking banyaknya. Apalagi selalu ada yang baru.


Kaum dewa dikenal dengan satu pasangan abadi sepanjang hidupnya. Dalam sejarah, satu dewa hanya punya satu pasangan saja. Adapun selir, itu hanyalah sebuah nama yang sebenarnya tidak berarti. Pasangan dewa-dewi dikenal sebagai makhluk yang setia, dan hubungan mereka berlangsung selama ratusan bahkan ratusan ribu tahun. Tidak seperti manusia. Wajar saja Yongheng dan Feng Shang terkejut.


Feng Shang tidak habis pikir mengapa Ji Nuo begitu suka bermain dengan manusia. Ia pernah bilang kalau ia menikahi kaisar manusia dan menjadi permaisurinya karena tidak ada kerjaan. Yang benar saja! Di dunia ini begitu banyak hal yang bisa dilakukan oleh saudarinya itu. Mengapa ia begitu suka merepotkan dirinya sendiri?


"Baiklah. Mari kita diskusikan cara menangani bedebah cabul itu!" seru Ji Nuo setelah selesai berkeliling. Mereka kembali ke istana yang disediakan Ji Nuo untuk Feng Shang dan Yongheng.


Mereka lantas duduk melingkar. Sudah saatnya mengatasi perilaku cabul kaisar manusia ini. Kalau tidak segera diatasi, dinasti manusia ini bisa hancur dalam hitungan tahun. Itu bisa mempengaruhi tatanan dunia yang telah diatur sedemikian rupa. Feng Shang kesal karena bayangan Raja Iblis justru malah hadir dan mengacaukan keadaan. Padahal sudah jelas-jelas ia dan Yongheng telah menyegelnya dengan kuat.


Apa mungkin seseorang telah melonggarkannya?

__ADS_1


Tapi, Feng Shang tidak tahu siapa. Lembah Shansui dilindungi oleh formasi yang kuat dan berlapis. Kaum abadi biasa tidak akan bisa masuk ke sana. Kecuali jika kaum abadi itu memiliki sesuatu yang membuatnya bisa memasuki Lembah Shansui, seperti barang milik Maharani Langit dan Dewa Agung Yongheng atau darah atau sisa kekuatan mereka.


"Bagaimana bisa bayangan Raja Iblis lolos dari formasi?" tanya Feng Shang. Seharusnya ia memikirkan ini jauh sebelum datang ke alam fana, begitu pula Yongheng.


"Benar juga. Lembah Shansui dilindungi formasi yang kuat. Apa seseorang melonggarkannya?" tanya Yongheng.


Feng Shang dan Yongheng larut dalam pemikiran mereka. Ji Nuo hanya memperhatikan. Ia tahu seberapa besar kekuatan Raja Iblis meskipun hanya bayangannya saja. Kalau bayangan Raja Iblis terbangun dan mengetahui ada tiga makhluk abadi yang mengincarnya, dunia ini akan hancur seketika. Dampaknya akan luar biasa dan banyak manusia yang akan jadi korban. Tetapi, untung saja bayangan Raja Iblis selalu terbangun ketika menginginkan pelayanan. Ditambah lagi mereka menyembunyika aura kedewaan mereka, yang membuat Raja Iblis tidak akan menyadarinya.


"Diskusikan itu nanti. Kita harus menyelamatkan umat manusia dari nafsu bedebah itu!" sulut Ji Nuo berapi-api.


"Heh, tingkahmu sudah seperti seorang Dewi Agung," celetuk Yongheng. Feng Shang yang mendengarnya seketika menoleh. Ada yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Benar, ia dan Ji Nuo memiliki darah yang sama. Jika suatu saat terjadi sesuatu padanya, Ji Nuo mungkin bisa menggantikannya.


"Aku tidak tertarik. Aku lebih suka menjadi dewi pengangguran yang mengembara ke ujung dunia."


"Baiklah. Jadi, bagaimana cara kita menanganinya?" tanya Yongheng.


Ji Nuo dan Yongheng langsung menggelengkan kepala. Tidak, Feng Shang tidak boleh jadi umpan. Statusnya sunggguh tidak pantas disandingkan dengan reputasi Raja Iblis yang buruk selama ratusan ribu tahun. Maharani Langit tidak boleh mengumpankan diri sendiri, apalagi ini sangat membahayakan. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bagaimana jika kekuatan Feng Shang tiba-tiba melemah saat menghadapi bayangan Raja Iblis?


Yongheng tidak mau itu terjadi. Baginya, untuk berada di sisi Feng Shang saja sudah sulit. Ia tidak mau wanita itu mengalami penderitaan hanya untuk menghadapi Raja Iblis. Sudah cukup ia berkorban di bumi, kini Yongheng tidak ingin Feng Shang berkorban lagi. Kali ini, biarkan dia saja yang berkorban. Lagipula, hidupnya sebagai dewa agung tidak akan bermakna apa-apa jika dia tidak bisa menyelamatkan dunia.


"Tidak! Aku tidak setuju!" tolak Yongheng.


"Benar. Aku juga tidak setuju!" susul Ji Nuo.


"Mengapa?" tanya Feng Shang.

__ADS_1


"Kau masih bertanya? Saudariku, kau ini Maharani Langit. Bagaimana bisa mengumpankan diri sendiri? Saudariku, bukankah pengorbanan ini terlalu besar? Apalagi saat ini Raja Iblis ada di tubuh manusia. Masuk akal jika ia berada di tubuh dewa, itu masih bisa dianggap setara," ucap Ji Nuo. Dia juga tidak rela saudarinya mengorbankan diri.


"Apa nilai dari seorang Maharani Langit? Aku juga bisa mengorbankan diriku untuk hal lain. Aku bahkan pernah melakukan pengorbanan yang lebih besar dari ini."


"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menjadi wanita persembahan untuk kaisar manusia itu!" seru Yongheng. Ia marah karena Feng Shang bertindak egois lagi.


Yongheng lalu pergi meninggalkan Ji Nuo dan Feng Shang. Feng Shang sendiri masih tertegun karena nada bicara Yongheng yang naik. Entah mengapa rasanya begitu tidak nyaman. Padahal saat di bumi, pria itu sering memarahinya. Rasanya sungguh berbeda ketika keduanya kembali pada identitas masing-masing. Shen Yi, tidak, Yongheng seperti suami yang marah kepada istrinya.


"Kau tidak ingin menyusulnya?" tanya Ji Nuo.


"Untuk apa aku menyusulnya?"


Ji Nuo menghela napas. Benar kata kabar burung, hati Maharani Langit sangat keras dan dingin.


"Meskipun aku tidak tahu kisah apa yang pernah terjadi kepada kalian berdua, tapi aku dapat memastikan kalau Dewa Agung Yongheng tulus menaruh hati padamu. Dia benar-benar tidak ingin kau mengorbankan diri lagi."


"Aku pernah mengorbankannya. Aku tidak akan mengorbankannya lagi kali ini," ujar Feng Shang.


"Kalian berdua benar-benar serasi," ucap Ji Nuo sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menunggu keputusan kalian," tambahnya. Ji Nuo akan menunggu keputusan apa yang akan diambil Feng Shang dan Yongheng. Ia rasa mereka perlu mendiskusikannya secara matang. Kebetulan, Ji Nuo juga punya agenda yang harus dikerjakan. Kaisar manusia cabul itu membuatnya sibuk sepanjang hari. Sambil menunggu, ia akan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu. Ji Nuo kemudian pergi meninggalkan Feng Shang.


Feng Shang asyik berpikir sendirian. Hatinya menyuruhnya menyusul Yongheng dan memintanya mempertimbangkan kembali keputusannya. Namun, logikanya yang menyuruhnya tetap diam di sana. Hati dan pikiran ternyata tidak selalu selaras. Feng Shang hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin, lalu kembali ke Istana Langit. Berlama-lama di alam fana membuatnya semakin mengingat kenangan yang perlahan menggerogoti hatinya.


Akan tetapi, lama kelamaan egonya kalah. Feng Shang menuruti kata hatinya dan pergi menemui Yongheng. Pria itu tampak sedang duduk di tepi kolam sambil meminum anggur. Feng Shang berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya secara perlahan. Ketika Yongheng menyadari kehadirannya, ia memalingkan wajah.

__ADS_1


"Kau masih marah?"


Yongheng tidak menjawab.


__ADS_2