
Feng Shang tidak pernah bisa berhenti berpikir mengapa dirinya ada di dalam ingatan aneh itu. Yang lebih aneh lagi, dia melihat roh langitnya telah memasuki Alam Ketiadaan dan bertemu dengan roh langit Dewa Chang Yuan, sang Kaisar Langit pertama di zaman dewa purba. Hanya saja percakapan yang terjadi antara dia dengan sang roh langit tidak terlalu jelas. Namun, Feng Shang mendengar samar-samar dirinya dan Dewa Chang Yuan menyebut-nyebut nama dua orang: Shen Yi dan Yongheng.
Yongheng? Sekarang dia berpikir kalau itu benar-benar ada hubungannya dengan kepergiannya ke alam fana! Kebangkitannya benar-benar merupakan sebuah timbal balik terhadap penebusannya.
"Maharani, mengapa kau melamun?" tanya Yue Ming.
Belakangan ini, Yue Ming melihat maharani terus menerus melamun. Meski dia tidak tahu isi pikirannya, tapi itu pasti sesuatu yang berat. Tidak mungkin tidak begitu, karena kalau tidak berat, tidak mungkin Feng Shang sampai memaksa menemui Si Ming sampai harus berebut dengan Yongheng dan kalah. Hari ini saja, ekspresinya terlihat tidak berminat sama sekali.
Padahal ini adalah permulaan perjamuan langit. Ada banyak dewa yang hadir di Aula Fengyao, dan tari-tarian serta musikal surgawi telah dimainkan sejak beberapa saat yang lalu. Camilan dan minuman juga sudah dihidangkan di setiap meja, dan para dewa dari segala penjuru dunia itu menikmatinya sembari bercengkrama. Sayang, sang pemimpin justru malah terlihat tidak senang sama sekali.
"Ah? Aku melamun?" tanya Feng Shang kembali. Yue Ming mendelik. "Nikmatilah pestanya. Jangan sampai para dewa itu mengkritikmu," ucap Yue Ming sebelum kembali ke tempat duduknya.
Feng Shang membetulkan posisinya. Pakaiannya yang berwarna putih keemasan bersinar terang, paling mewah di antara busana para dewa yang ada di sini. Mahkotanya terbuat dari permata dan dihiasi berbagai ornamen indah. Di atas singgasananya, dia begitu agung dan berwibawa. Tetapi pada kenyataannya, tidak adayang benar-benar tahu kalau itu hanyalah sebuah sandiwara.
Setidaknya dia harus berpura-pura terlihat baik di depan bawahan, bukan?
Matanya menyipit kala ia melihat seseorang memasuki Aula Fuyao dari samping. Berdasarkan urutan, dia duduk di barisan kedua setelah tingkatan singgasana maharani. Itu berarti, orang itu menempati posisi dewa agung, dan satu-satunya dewa agung yang hadir di sini adalah Yongheng. Feng Shang menatapnya cukup lama, dan merasakan dirinya seperti sebuah besi yang ditarik medan magnet olehnya. Hari ini, Yongheng terlihat tampan dan bersahaja dalam balutan busana biru muda.
"Dia terlihat menawan," gumam Feng Shang. Di antara semua dewa tampan yang ada di sini, Yongheng sepertinya berada pada urutan teratas jika ada yang tidak punya pekerjaan mengurutkannya.
Beberapa saat kemudian, Feng Shang melihat seorang dewi datang dari pintu yang sama, lalu duduk di kursi yang ada di samping Yongheng. Anehnya, dewi itu terus mengajak Yongheng berbicara dan mengabaikan sajian tarian langit di hadapannya. Secara tidak sadar, dewi itu juga sedikit demi sedikit mendekatkan tempat duduknya dan merapatkannya ke dekat Yongheng.
"Siapa wanita itu?" tanya Feng Shang pada Yue Ming. Sebagai Maharani Langit yang 'sibuk', dia tidak mengurus nama-nama dewa yang hadir di perjamuan langit. Tapi hampir separuhnya ia hapal wajahnya. Hanya dewi yang satu itu yang baru dilihatnya pertama kali.
__ADS_1
"Itu Dewi Sui Jin. Dia putri duyung dari lautan utara," jawab Yue Ming.
"Laut Utara? Mengapa dia ada di sana?"
"Ah, kau mungkin tidak tahu. Sejak peperangan besar zaman kuno, Laut Utara dan Laut Timur menjalin hubungan baik. Raja Laut Utara menitipkan putra-putri mereka untuk belajar di Laut Timur karena lingkungannya lebih sesuai. Kudengar Sui Jin selalu menempel pada Dewa Agung Yongheng sejak mereka pertama kali bertemu di Istana Laut Timur. Yah, mungkin sekitar beberapa hari yang lalu."
"Tidak tahu aturan," gumam Feng Shang. Yue Ming melihat gelagat aneh, dan mendapat firasat kalau dewi itu akan mendapat masalah. Di dunia ini, tidak ada yang bisa lolos dari Feng Shang jika dia sudah menangkapnya.
Feng Shang berdehem kecil. Ia menegakkan perut dan bahunya, lalu memandangi semua orang dan menyapunya dengan tatapan dingin. Perangainya yang asli mulai muncul, dan aura perlahan berubah. Yue Ming menghela napas, dia tidak yakin ini akan berakhir baik atau tidak. Terutama untuk Sui Jin. Tetapi jika dipikirkan, mungkin Feng Shang punya alasan tersendiri hingga dia mengincarnya.
"Sudah berapa lama kalian hidup dalam keabadian ini?" tanya Feng Shang. Pertanyaannya seketika membuat semua menjadi terkejut. Musik tiba-tiba berhenti dan para peri itu tak lagi menari dengan indah. Sebaliknya, mereka memundurkan langkah dan keluar satu persatu dari Aula Fuyao. Ini memang bukan bagian dari pertunjukkan yang menjadi tugas mereka.
"Maharani, apa maksud perkataan Anda? Bukankah sudah tahu dengan jelas, bahwa semua orang yang hadir di sini sudah hidup lebih dari sepuluh ribu tahun?" jawab Dewa Bai Zian, dewa dari Gunung Baisheng.
"Ya," jawab mereka serentak.
"Sayangnya, seseorang tampaknya belum memahami aturan itu," ucap Feng Shang datar. Ia melirik dengan sudut matanya, mengarah kepada Sui Jin yang asyik mendekati Yongheng.
Semuanya lalu menatap Sui Jin. Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, dia berhenti bertingkah. Matanya menatap bingung pada semua orang dan menuntut penjelasan. Yongheng bersikap biasa saja, ia malah menikmati hidangannya dengan santai. Seolah-olah wanita di sampingnya tidak ada hubungannya sama sekali, bahkan bisa dibilang seperti debu yang tidak bisa dilihat.
"Ah, maksudku, seseorang mungkin lupa. Dewa Sui Yang, bisakah kau memberitahuku?" tanya Feng Shang pada Sui Yang, kakak dari Sui Jin. Katanya, dia adalah putra mahkota Laut Utara.
"Mohon maafkan adikku yang ceroboh ini. Dia masih muda, harap Maharani memaklumi," jawab Sui Yang. Dirinya akhirnya mengerti mengapa Maharani Feng berkata demikian. Rupanya, adiknya telah memancing ketidaksukaan di hati Feng Shang. Apalagi, dia duduk di tempat yang tidak seharusnya.
__ADS_1
"Sejak zaman Dewa Kuno, tingkatan kedua setelah singgasana Kaisar Langit atau Maharani selalu ditempati oleh Dewa Agung. Bahkan jika tidak ada satupun, atau mereka sudah tak bersisa, tempat itu tetap milik mereka. Tempat itu harus dikosongkan tidak peduli berapa abad lamanya," tutur Feng Shang. Sui Jin membeku. Wajahnya mulai memucat, tapi hatinya berteriak bahwa ini tidak adil.
Ada tempat bagus, mengapa tidak boleh diduduki? Kaisar atau Maharani saja bisa duduk di mana saja, mengapa dia tidak bisa? Apalagi, dorongan terkuatnya hingga berani punya nyali seperti ini ada di sana. Duduk di samping seorang Dewa Agung Yongheng yang tampan dan sangat kuat, siapa yang tidak tergoda?
"Mengapa? Aku hanya duduk di sini. Aku tidak datang untuk berbuat masalah. Lagipula, Dewa Agung Yongheng adalah guru baruku. Tidak bolehkah aku duduk menemani guruku sendiri? Maharani, apa kau tidak mengerti hubungan guru dan murid itu seperti apa?" ucap Sui Jin.
Sui Jin ini kelihatannya genit, tapi sebenarnya dia adalah wanita yang sangat fasih. Tinggal di Laut Timur selama bertahun-tahun mengajarinya kemampuan itu. Jika tidak, dia pasti sudah lama dipulangkan ke Laut Utara dan dipaksa menikah dengan dewa biasa. Hatinya yang tidak menerima selalu berusaha mencari jalan yang lain, dan secara kebetulan jalan itu tiba-tiba ada di depan matanya.
"Sudah bersalah, masih berani beralasan. Gagak memang selalu tidak tahu diri," ucap Feng Shang. Itu mengejutkan semua orang. Bagaimanapun, Sui Jin memang bersalah. Dia satu-satunya wanita yang berani duduk di tempat Dewa Agung dan mencoba menggoda salah satu dari dewa tersebut. Perilakunya ini menodai kesucian Aula Fuyao dan menggores sejarah aturan leluhur.
Tempat itu bukan hanya sebagai simbolisasi. Dewa Agung adalah dewa sejati yang lahir bersama penciptaan alam. Mereka punya kekuatan besar dan harus mampu melindungi serta menjaga keseimbangan Tiga Alam. Menjaga dunia yang berbeda, tentu memerlukan usaha dan tenaga. Ketika bencana datang, mereka adalah orang pertama yang maju dan berdiri di barisan paling depan. Itu menjadikan mereka begitu istimewa dan mulia. Jika tempat duduknya saja ditempati orang lain, maka penghormatan macam apa lagi yang bisa mewakilinya?
Sadar akan hal itu, Sui Yang langsung turun dan berlutut di tengah Aula Fuyao. Dia memohon pengampunan atas nama adiknya. Namun, Feng Shang semakin kesal karena Sui Yang sangat berisik. Dia membuatnya tidak bisa bicara. Setelah itu, Feng Shang menarik paksa Sui Jin dan membuatnya duduk di tengah aula bersama saudaranya. Itu memalukan bagi dewa dengan status putri sepertinya.
"Kesalahan mengharuskanmu mengintrospeksi diri. Kau bersalah dan tidak mengakuinya. Apa ini yang diajarkan gurumu padamu?" tanya Feng Shang. Tatapan matanya menusuk mata Sui Jin dan seketika tubuhnya terasa membeku. Maharani Feng terlihat sangat menakutkan saat marah.
"Aku lelah," ucap Feng Shang. Dia berdiri, kemudian berbalik. Sebelum melangkah, dia berkata dengan suara yang santai namun menusuk, "Ah, Yue Lao kekurangan orang akhir-akhir ini. Lima ratus tahun mungkin cukup untuk menemukan seseorang sebagai pesuruhnya. Lanjutkan perjamuannya."
"Terima kasih Maharani, selamat jalan," ucap semua orang. Feng Shang berjalan meninggalkan Aula Fuyao tanpa menoleh lagi. Yue Ming menatap kasihan pada Sui Jin. Tebakannya benar, tidak ada hal baik jika sudah ditangkap maharani. Gadis itu sebaiknya menurut, bukan melawannya. Sampai kapan pun, tidak akan ada orang yang bisa mengalahkan Feng Shang.
Pada akhrinya, Sui Jin mendapatkan hukuman. Dia harus menghabiskan waktu selama lima ratus tahun dengan menjadi pelayan di Kuil Yue Lao. Setiap hari dia akan memintal dan merapikan benang jodoh manusia. Studinya di Laut Timur dihentikan sementara dan semua identitasnya dibekukan sementara. Sampai masa hukuman habis, dia tidak diperbolehkan kembali ke Laut Timur atau Laut Utara, dan hanya boleh tinggal di kuil Yue Lao.
"Dia benar-benar memiliki hati yang dingin," gumam Yongheng usai pertunjukkan singkat berakhir. Dia memuta gelasnya, lalu meminum isinya sebagian dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Yongheng berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Aula Fuyao. Perjamuan masih tetap berlanjut, tetapi Maharani Feng dan Dewa Agung Yongheng sudah pergi.
__ADS_1
Mereka benar-benar tampak serasi.