Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 34: Feniks yang Hilang


__ADS_3

Feng Shang mendapati dirinya telah berubah ke bentuk manusia kembali. Padahal, wujudnya baru akan berubah satu hari kemudian. Feng Shang mencoba mengeluarkan sihirnya, ternyata ia bisa. Kekuatannya benar-benar pulih, Alam Ketiadaan telah mengembalikan seluruh kemampuannya.


Di sampingnya, Shen Yi tengah tertidur. Kepala pria itu bersandar di kepala kursi. Tampak sekali kalau pria itu kelelahan. Feng Shang menyentuh kening pria itu, kemudian tanda teratai emas kembali muncul. Anehnya, kali ini tidak disertai dengan rasa sakit seperti sebelumnya.


Tanda feniks di dadanya bersinar, namun tidak disertai rasa terbakar. Situasi tersebut membuat Feng Shang mengingat lagi perkataan Dewa Chang Yuan di Alam Ketiadaan. Ia saja belum bisa menjawab pertanyaan mengapa ia bisa sampai di sana, seolah-olah tempat bernama bumi ini benar-benar terhubung dengan Alam Sembilan Langit.


Apa mungkin pria ini adalah inkarnasi Dewa Agung Yongheng?


Tanda-tandanya muncul sejak pertama kali mereka bertemu. Mata Feng Shang terasa sakit saat pertama kali bertatapan dengan tajam, kemudian kekuatannya kembali, tanda teratai di dahi, dan cahaya yang sering muncul dari dalam tubuhnya, bukankah hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang memiliki jati diri istimewa?


Ia rasa, ia harus segera menyempurnakan cermin Baihuang jika ingin segera mengetahui kebenarannya. Serpihan cermin Baimeng dan anggrek dewa sudah ada, hanya tersisa giok roh dan bulu makhluk abadi yang belum ia dapatkan. Kemudian, ia berpikir hanya tinggal giok roh saja yang diperlukan.


Feng Shang menarik jarinya dari dahi Shen Yi saat pria itu menggeliat dan mengerjap.


“Kapan kau kembali?” tanyanya.


“Beberapa saat yang lalu,” jawab Feng Shang sekenanya.


“Oh. Burung itu! Di mana burung feniksnya?”


“Sudah terbang.”


“Kau melepaskannya?”


Feng Shang mengangguk. Dia tidak mungkin mengatakan kalau feniks itu sudah berubah menjadi manusia, bukan? Bisa-bisa Shen Yi pingsan dan itu akan lebih merepotkan. Raut wajah Shen Yi terlihat kesal. Tidak dipungkiri, Shen Yi memang sangat baik akhir-akhir ini.


Pria itu selalu menjaganya sejak ia ditemukan di gedung. Setiap pulang kerja, Shen Yi selalu menemani wujud feniksnya di rumah sakit ini. Orang mungkin berkata dia sudah tidak waras karena memperlakukan hewan layaknya manusia, bahkan sampai memesan kamar naratama untuk perawatan.


Shen Yi mengucek kedua matanya dengan tangan. Kali ini, penglihatannya jadi jelas. Feng Shang duduk di atas ranjang perawatan, memakai baju serba putih yang sangat panjang. Pakaiannya mirip seperti pakaian pemeran dewi di dalam salah satu drama yang pernah ditonton Shen Yi kala senggang, namun lebih indah dan lebih pantas di tubuh perempuan itu.


“Mengapa kau melepasnya? Tunggu, apa kau baru pulang dari pesta kostum?”


Ini adalah pakaian Maharani Langit milikku, Shen Yi bodoh!

__ADS_1


“Karena ia ingin bebas.”


“Aku susah payah menjaganya, kau malah melepasnya? Apa kau tahu berapa harga feniks biru itu?”


“Aku tidak peduli berapa harganya. Burung itu milikku. Untuk apa punya harga, tetapi ia tidak bisa terbang dengan bebas, sehari-hari hanya terkurung di taman kantormu yang sempit. Bahkan hampir mati terbakar karena kecemburuan teman wanitamu!”


Feng Shang bercerita seolah-olah dia seorang wanita yang cemburu kepada kekasihnya. Shen Yi melongo, bertanya-tanya mengapa perempuan ini marah. Padahal, seharusnya ia yang marah karena perempuan itu menghilang berhari-hari dan hanya meninggalkan seekor feniks saja.


“Dari mana kau tahu kalau feniks itu hampir mati terbakar?”


“Apa menurutmu aku bodoh? Kabar itu seperti jamur di mana-mana! Mana mungkin aku tidak mengetahuinya, Shen Yi bodoh!”


“Aku tidak bodoh! Feng Shang, kau yang bodoh!”


“Kau yang bodoh, Shen Yi!”


Mereka malah berdebat, mempermasalahkan siapa yang sebenarnya bodoh. Padahal jika dilihat, keduanya sama-sama bodoh. Shen Yi mudah terpancing, sementara Feng Shang seperti api yang disiram minyak tanah.


“Sudahlah. Aku ingin pulang!” seru Feng Shang.


Sampai di atas jembatan, lampu penerangan jalan tiba-tiba mati. Tersisa lampu mobil Shen Yi yang menyorot ke tengah jalan. Ia kesulitan menyetir, khawatir ada kendaraan lain dari arah berlawanan atau ada objek lain yang tidak terlihat. Shen Yi mengumpati petugas listrik dari jauh, memarahinya karena tidak becus bekerja.


Lampu penerangan fungsinya sangat penting. Bisa-bisanya mereka membiarkannya rusak dan mati tengah malam!


Kemudian, keduanya dikejutkan dengan benda keras yang tiba-tiba menghantap kaca depan mobil. Karena kaca itu anti peluru dan anti pecah, benda keras itu tidak berhasil menghancurkannya. Muncullah beberapa sosok berbaju hitam membawa senjata, mencegat mereka berdua.


Mobil Shen Yi terpaksa berhenti. Orang-orang itu berdiri di tengah jalan sambil berteriak padanya.


“Serahkan wanita itu jika kau ingin hidup esok hari!” teriak salah satunya.


Shen Yi memukul stir mobil, kemudian menelepon Zhang Bi agar mengirimkan bawahannya kemari secepat mungkin. Usai menelepon, Shen Yi terkejut karena Feng Shang tidak berada di tempat duduknya. Matanya kemudian menangkap sosok perempuan itu yang tengah berjalan menghampiri orang-orang jahat.


“Apa dia sudah bosan hidup?” ucap Shen Yi sambil keluar mengikutinya.

__ADS_1


Feng Shang tidak suka perjalanannya diganggu. Sekelompok semut ini hanya cari mati jika berurusan dengannya. Walaupun di sini ia tidak bisa mengeluarkan sihir dengan sembarangan, tetapi kemampuan bertarungnya adalah yang terhebat. Dia bisa mengalahkan beberapa dewa di Alam Sembilan Langit dengan tangan kosong. Lalu, apa dia harus takut dengan sekelompok manusia fana ini?


“Yo, wanitanya keluar. Kau benar-benar menyayangi kekasihmu rupanya!” si pendek dari yang lain berujar.


“Cari mati!” seru Feng Shang.


Sebelum Shen Yi sampai di belakangnya, Feng Shang sudah lebih dulu menerjang. Ia berkelahi dengan sekelompok orang jahat itu, memukuli mereka sampai babak belur. Beberapa orang sampai terkapar di atas aspal, entah masih bernapas atau tidak.


Shen Yi diam di tempatnya saking tak percaya. Gerakan perempuan itu begitu cepat dan lincah, menyasar tubuh orang-orang itu sampai membuat mereka tumbang dalam beberapa gerakan.


Melihat Feng Shang yang berkelahi memakai pakaian panjangnya menimbulkan kesan lain di hati Shen Yi. Perempuan itu lebih dari seorang master.


Feng Shang membersihkan tangannya dari debu. Saat ia menjentikkan jarinya, secara ajaib lampu penerangan jalan yang padam kembali menyala. Feng Shang mendekati tubuh para penjahat tersebut, lalu memeriksanya satu persatu. Di saku salah satunya, ia menemukan sebuah liontin berwarna hijau muda.


Mata Maharani Langit-nya memberitahu kalau liontin itu sangat berharga.


“Ternyata benar. Seseorang berusaha menangkapku,” ucap Feng Shang sambil mengambil liontin tersebut.


“Perempuan itu merampoknya setelah memukulinya,” gumam Shen Yi. Feng Shang tidak menjawab.


Feng Shang berbalik, menatap Shen Yi yang berdiri tak jauh darinya.


“Kau bisa bela diri?” tanya Shen Yi.


“Apa kau tidak melihatnya? Jika kau berdiri di sana sebentar lagi, aku tidak menjamin aku bisa melindungimu,” ucap Feng Shang. Perempuan itu masuk ke mobil, lalu Shen Yi terpaksa mengikutinya. Ia menyerahkan urusan penjahat-penjahat ini kepada anak buahnya yang baru sampai.


“Untuk apa kau memungut liontin itu?”


“Aku membutuhkannya.”


Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka untuk beberapa saat. Isi kepala Feng Shang kini dipenuhi rasa penasaran, karena ternyata liontin hijau muda itu adalah giok roh yang sedang ia cari. Begitu kebetulan, pikirnya. Ia juga yakin orang yang menyuruh mereka adalah orang besar, dan liontin itu adalah pemberian orang itu sebagai imbalan.


Shen Yi tidak tahu kalau Feng Shang menemukan jejak yang familier setelah perempuan itu menyentuh liontinnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2