
"Kau... Maharani Langit?"
Feng Shang melepaskan kendali formasi kala suara seseorang yang familiar menyapa telinganya. Itu suara Shen Yi, tetapi nada dan intonasinya jelas bukan miliknya. Suara itu menusuk dan merasuk lewat pundaknya, menjalar ke dalam hatinya. Seperti racun. Feng Shang menoleh.
Ia melihat seorang pria dengan wajah yang sama dengan Shen Yi berdiri menatapnya. Ada serpihan es yang meluncur lewat tatapan itu, bercampur dengan kebingungan yang cukup kentara. Feng Shang menahan napasnya sejenak, mencoba menggerakkan tubuhnya. Ini terlalu mengejutkan. Tidak peduli sesiap apapun ia sebelumnya, ketika ia sampai di titik ini, ia malah tidak bisa bereaksi apa-apa.
Satu-satunya hal yang disadari olehnya ialah: Dewa Agung Yongheng telah bangkit.
Sebuah penegasan nyata untuk dirinya sendiri. Sosok pria yang kini berdiri di hadapannya adalah Dewa Agung Yongheng, sang dewa agung zaman kuno yang telah tertidur lebih dari seratus ribu tahun. Darah sucinya berhasil membangkitkan kekuatan itu dan mengembalikan ingatan sang dewa, lalu menghapus ingatan manusianya.
"Ya," ucap Feng Shang setelah terdiam cukup lama.
Dewa Agung Yongheng menatap sekeliling. Ia melihat formasi feniks raksasa di atas tempat ini, berputar dan mengumpulkan kekuatan. Ia bisa mengenali dewi di hadapannya sebagai Maharani Langit, karena dia telah melihat tanda-tanda itu sejak pertama kali ia membuka mata. Hanya saja Dewa Agung Yongheng belum mengetahui di mana ia sekarang, karena dunia ini tampak berbeda dengan alam dewa beberapa ratus ribu tahun lalu.
"Apa kau tahu dunia apa ini?" tanya Dewa Agung Yongheng. Feng Shang bukannya menjawab, ia malah menatapnya.
"Maharani, kau baik-baik saja?" tanyanya lagi, membuat Feng Shang tersadar dan berkedip. Sungguh, perasaannya tak karuan sekarang. Apakah ia harus bersyukur atau bersedih?
"Ah, ya."
"Mengapa kita ada di sini?"
"Aku tidak tahu. Aku kemari karena harus membangkitkanmu," ucap Feng Shang.
"Kau yang membangkitkanku?"
Feng Shang mengangguk. Feng Shang bisa saja menceritakan semuanya, siapa dewa sebelum bangkit dan apa saja yang telah dilaluinya. Tetapi, untuk apa? Shen Yi sudah hilang dan tidak akan kembali. Kalau pun Dewa Agung Yongheng mempercayainya, memangnya mengapa? Itu tidak akan merubah apapun, karena pada akhirnya Shen Yi telah hilang.
__ADS_1
Dia mungkin egois karena tidak memberitahu Shen Yi sebelumnya. Namun, ia juga tidak bisa menghindari takdirnya yang rumit ini. Masalah di bumi ini sudah sangat banyak dan parah, ia tidak bisa menundanya lebih lama. Biarkan dia sendiri yang menanggung rasa sakit sebagai konsekuensi dari keputusannya.
Dewa Agung Yongheng masih merasa bingung. Aneh, pikirnya. Seingatnya, ia telah musnah setelah mengorbankan diri saat peperangan besar klan langit dengan iblis. Inti jiwanya seharusnya hancur dan tersebar. Kemungkinan untuk bangkit kembali sangat kecil, bahkan untuk bereinkarnasi pun pasti sulit. Terutama bagi para dewa agung sepertinya yang memiliki inti jiwa murni dan hanya hidup sekali.
"Apa takdir sedang mempermainkanku?" tanyanya.
"Entahlah. Kau bisa menganggapnya ya atau tidak. Aku juga tidak mengerti," jawab Feng Shang. Dia juga tidak bisa menjelaskan mengapa ini semua bisa terjadi.
"Tetapi, mengapa kau bisa mengenaliku?" tanya Feng Shang. Maksudnya, ia bertanya mengapa dewa ini tahu kalau dia adalah Maharani Langit.
"Formasi feniks ini hanya bisa dibuat oleh klan feniks api biru. Ramalan itu mengatakan kalau seorang maharani dari klan feniks api biru terakhir akan lahir dan menjadi pemimpin Tiga Alam," jawab sang dewa. Feng Shang tertawa sumbang. Rupanya, ramalan tentang dirinya memang benar. Nasibnya sudah ditentukan jauh ratusan ribu tahun yang lalu, sampai Dewa Agung Yongheng pun mengetahuinya. Pantas saja roh langit Dewa Chang Yuan juga mengenalinya.
"Ramalan sialan itu! Aku sudah bosan mendengarnya," ketus Feng Shang yang membuat Dewa Agung Yongheng agak terkejut. Ternyata, maharani ini orang yang kasar dan tidak sopan.
"Karena kau baru bangkit, kau harus mendengarkanku. Ada yang harus kita selesaikan di sini agar bisa kembali ke Alam Sembilan Langit," ucap Feng Shang.
Bel tiba-tiba berbunyi. Feng Shang terkejut, lalu berlari untuk melihat jam. Gawat! Ternyata sudah pukul tujuh pagi! Feng Shang kembali berlari ke arah pintu, lalu melihat siapakah orang yang telah memencet bel. Di luar, Zhang Bi yang baru kembali setelah mengantar Nyonya Yin berdiri, menunggu pintu dibuka. Zhang Bi kembali memencet bel dan memanggil-manggil penghuni rumah.
"Dengarkan aku! Kau adalah Shen Yi. Di luar adalah manajer dan asisten pribadimu. Sekarang pergilah ke kamarmu dan ganti bajumu. Ingat, jangan bicara jika aku tidak menyuruhmu bicara!" ucap Feng Shang. Dia mendorong Dewa Agung Yongheng naik tangga, lalu mengambilkan pakaian kantor Shen Yi.
"Mengapa diam saja? Cepat pakai!" seru Feng Shang. Sang dewa memakainya dengan ragu.
Butuh waktu beberapa menit sampai Feng Shang menyempurnakan penampilan Dewa Agung Yongheng. Kini, pria itu sudah sama persis dengan Shen Yi, dengan setelan pakaian yang sama dengannya. Melihatnya ia seperti melihat Shen Yi. Tapi bukan itu yang penting, ia harus memberikan arahan pada dewa ini terlebih dahulu sebelum keluar.
"Ingat, jangan bicara jika aku tidak menyuruhmu," tegas Feng Shang sekali lagi. "Kau adalah presdir, namamu Shen Yi."
Feng Shang kemudian kembali ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan pakaian formalnya. Feng Shang membawa Dewa Agung Yongheng turun, lalu ia membuka pintu. Zhang Bi hampir terjatuh karena tubuhnya menempel di pintu. Raut wajahnya canggung saat melihat Feng Shang dan atasannya berdiri sejajar.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya Yin sudah tiba dengan selamat," ucap Zhang Bi. Feng Shang berbisik, "Mengangguklah," yang kemudian dituruti oleh pria itu.
"Presdirmu sedang tidak enak badan. Kau sebaiknya tidak banyak bertanya atau kau akan kehilangan satu tahun gajimu," ucap Feng Shang.
Zhang Bi bergidik. Baik atasannya maupun nonanya, dua-duanya sama-sama menyeramkan. Mengapa mereka sama-sama suka mengancam dengan gaji? Benar-benar pasangan yang ditakdirkan!
Zhang Bi kemudian mempersilakan agar keduanya naik ke mobil. Ia menebak kalau hari ini atasan dan nonanya itu pasti akan menyuruhnya menjadi sopir. Limousin mewah meluncur ke jalanan, membelah keramaian Kota Cheng yang padat seperti biasa. Di dalam mobil, Dewa Agung Yongheng terus menerus gelisah, duduknya tampak tidak nyaman.
"Tuan, apa perlu saya memanggilkan dokter?"
"Tidak. Teruskan saja," ucap sang dewa. Feng Shang menghela napas lega.
Yongheng mencoba mencerna segala hal yang ia lihat di dunia aneh ini. Sikapnya sama seperti sikap Feng Shang ketika pertama kali tiba di sini. Bedanya, di sini ia punya pemandu. Tidak main-main, pemandunya adalah Maharani Langit yang ditakdirkan, dewi tertinggi di Tiga Alam.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di kantor Xize. Setelah Zhang Bi memarkirkan mobil, dia membawa atasannya dan Feng Shang ke ruangan kerja seperti biasa. Yongheng berkali-kali terkejut atas perilaku manusia-manusia berpakaian aneh yang menyapanya dengan nama Shen Yi dan embel-embel 'presdir'.
"Direktur Feng, apa perlu saya mengantarkan Anda ke Lingjing?" tanya Zhang Bi setelah ketiganya tiba di ruangan Shen Yi.
"Tidak perlu. Aku akan mendampinginya di sini."
Zhang Bi lantas meninggalkan ruangan. Di dalam, Feng Shang langsung memberikan instruksi terkait apa saja yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Karena Yongheng tidak memiliki kemampuan melihat ingatan, semuanya harus Feng Shang yang menjelaskan. Yongheng meskipun tampak mengerti, namun sebenarnya sama sekali tidak. Ia mengangguk agar maharani segera menyelesaikan pembicaraannya saja.
"Kau sudah mengerti?" tanya Feng Shang.
"Ya."
"Tidak, aku tidak percaya padamu. Aku masih harus mengawasimu."
__ADS_1