
Feng Shang dan Yongheng memasuki sebuah jalan kecil yang cahayanya temaram. Jalan di balik pintu itu hanya muat untuk dua orang dan sekelilingnya dipasangi obor kecil sebagai penerang. Jika dilihat dengan saksama, jalan ini sepertinya adalah sebuah jalan rahasia dan dibuat di bawah tanah. Dinding-dindingnya jelas menandakan bahwa lapisannya keras namun terdapat pasir yang berhamburan ketika bergetar atau tersenggol sesuatu.
"Manusia-manusia ini sama seperti tikus," gumam Feng Shang sambil terus berjalan menyusuri area tersebut diikuti Yongheng. Mereka penasaran ke mana tujuan dan di mana jalan ini akan berakhir. Feng Shang dan Yongheng sudah berjalan cukup lama, namun belum ada tanda-tanda ujung dari jalan rahasia ini.
"Ya. Tikus besar yang lebih kejam dan licik daripada iblis," Yongheng membalas gumaman Feng Shang dengan ringan. Betul juga kata wanita itu. Jalan ini bisa jadi dibuat oleh seseorang untuk menjalankan sesuatu yang jahat dan licik.
Setelah cukup lama, Feng Shang dan Yongheng melihat anak tangga yang mengundak naik. Di ujung tangga itu ada sebuah pintu berwarna hitam. Feng Shang dan Yongheng menaiki tangga tersebut, kemudian pintunya dibuka dengan cara digeser. Seberkas cahaya yang berasal dari ruangan di balik pintu ini cukup menyilaukan mata. Tampaknya di depan sana merupakan sebuah tempat dengan pencahayaan yang bagus.
Kini, ruangan itu terlihat dengan jelas. Feng Shang dan Yongheng memasuki sebuah ruangan dengan cahaya keemasan yang dominan. Ada benda-benda berharga dan berkilau di beberapa sudut ruangan. Tirai-tirainya terbuat dari sutera murni kualitas premium. Aroma cendana menguar dari beberapa tungku pembakaran kecil di setiap meja. Terdapat pula beberapa rak kayu berisi gulungan buku dan sebuah meja dan kursi lengkap dengan alat tulis.
Pintu tadi tertutup kembali dan langsung membaur bersama warna dinding yang lain hingga sama persis. Ini mungkin alasan mengapa pintu itu menyilaukan. Ada mekanisme yang membuatnya menutup secara otomatis setelah seseorang keluar dari jalan rahasia tersebut. Feng Shang berpikir orang yang membuatnya cukup pintar, hanya saja tidak sepintar Yue Ming yang bisa membuat pagoda mekanis dari emas menggunakan kekuatan spiritual.
"Pemilik ruangan ini pasti orang besar," ucap Yongheng. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Meskipun dunia dewa lebih mewah dari ini, tapi tampilan dari ruangan ini cukup membuktikan bahwa pemiliknya bukanlah manusia biasa.
"Kau mengenal cukup banyak rupanya," balas Feng Shang. Yongheng hanya menatapnya sekilas dan bergumam bahwa Feng Shang sepertinya harus diberi seorang guru yang pandai berbicara agar wanita itu bisa berkomunikasi dengan benar dan tidak selalu mengatakan sesuatu yang membuat orang lain kesal. Bagaimana tidak, Feng Shang tidak pernah berhenti menyindirnya sejak pertama kali mereka bertemu.
Yongheng dan Feng Shang kemudian mendengar suara aneh yang sayup-sayup merasuki gendang telinga. Suaranya berasal dari ruangan di samping yang hanya dihalangi oleh sebuah rak kayu dan dinding dari bambu, yang tertutup tirai berwarna biru muda. Penasaran dengan suara tersebut, keduanya perlahan mendekat dengan langkah ringan.
Sesaat kemudian keduanya terpaku. Beberapa meter di hadapan mereka terdapat sebuah ranjang besar dengan tirai berwarna putih yang tipis. Namun, yang membuat mereka mematung bukanlah itu, melainkan sesuatu yang ada di atas ranjang tersebut. Di sana, terdapat sepasang manusia yang sedang bergumul beradu keringat dengan penuh semangat. Beberapa potong pakaian teronggok di lantai dengan letak sembarangan.
__ADS_1
Feng Shang langsung menutup mata dan wajahnya dengan tangan, lalu berusaha menulikan pendengarannya. Sementara itu, Yongheng masih terpaku dengan tatapan polos dan dengan bodohnya dia bertanya, "Kau melihatnya?"
"Aku tidak buta."
Yongheng dan Feng Shang menyesal telah menuruti rasa penasaran mereka. Apa yang terjadi malam ini sungguh memalukan jika diceritakan. Apa kata dunia ketika mengetahui Maharani Langit dan Dewa Agung Yongheng mengintip sepasang manusia yang sedang melakukan 'itu'? Bukankah itu sama saja dengan memberi mereka kotoran di depan mata mereka sendiri?
Siapa yang menyangka bahwa mereka akan menyaksikan siaran langsung seperti ini. Meskipun begitu, tampaknya sepasang manusia yang sedang diserang gelombang gairah itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Feng Shang dan Yongheng. Mereka tidak tahu bahwa ada sepasang orang dari langit yang menyaksikan kegiatan malam mereka.
"Kita harus pergi dari sini," ujar Yongheng.
"Ya. Kita harus pergi."
Ada orang yang sedang berjaga di luar. Kalau mereka keluar sekarang dalam keadaan tampak, maka semuanya kacau. Orang yang berjaga di luar sepertinya merupakan prajurit manusia. Yongheng dan Feng Shang langsung menyimpulkan bahwa tempat ini merupakan sebuah istana berdasarkan situasi dan kondisi yang mereka lihat. Tidak, mereka tidak boleh tahu kalau Feng Shang dan Yongheng ada di dalam.
"Sepertinya kita harus menggunakan sihir kita," gumam Feng Shang yang diikuti anggukkan kepala Yongheng.
"Benar. Ayo, segera pergi."
Kedua orang itu baru bisa keluar dari sana dengan aman setelah menggunakan sihir penyamaran yang membuat diri mereka tidak terlihat oleh siapapun. Feng Shang dan Yongheng menarik napas lega ketika sampai di sebuah taman yang jauh dari istana tersebut. Di tempat sekarang hanya ada beberapa lentera penerang dan jalan berbatu yang tersusun dengan indah.
__ADS_1
Dilihat dari situasinya, kawasan ini tampaknya sebuah taman milik manusia itu. Feng Shang dan Yongheng juga melihat ada beberapa istana lain yang berdiri dengan megah di beberapa tempat, yang jaraknya tidak cukup jauh dari istana tadi. Keduanya langsung menyimpulkan bahwa mereka kini sedang ada di istana kekaisaran, tempat pemimpin manusia yang disebut kaisar dan keluarganya tinggal.
"Xiao Shang, mengapa hari ini kita sangat sial?" keluh Yongheng. Padahal seharusnya sekarang dia sedang istirahat di penginapan yang dipesankan oleh Si Yun. Tidak disangka ia malah harus melewati malam yang panjang dengan berbagai peristiwa yang tidak terduga. Tadi perkelahian opera dan penjara, sekarang istana. Kedatangannya ke alam fana sepertinya tidak direstui takdir.
"Kau menyesal sekarang? Jika kau tidak berkelahi dan menuruti perkataanku, kita tidak akan sampai di istana."
Feng Shang memikirkan cara untuk keluar dari istana kekaisaran. Ia tahu, istana kekaisaran milik manusia sebenarnya adalah tempat suci yang tidak bisa sembarangan dimasuki makhluk abadi. Karena tempat ini merupakan tempat pemimpin yang mengatur dan dituruti oleh manusia di wilayah ini, maka istana kekaisaran dilindungi oleh kekuatan yang berasal dari seribu prajurit surgawi yang kekuatannya setara dengan sembilan ratus tahun kultivasi.
Jika ada makhluk abadi yang masuk tanpa izin, maka akan segera diketahui oleh dewa yang mengaturnya. Sebentar lagi mungkin itu akan terjadi, karena Feng Shang dan Yongheng menggunakan kekuatan dewa mereka untuk keluar dari istana tadi. Getarannya pasti sudah dirasakan oleh dewa penjaga. Feng Shang turun ke alam fana tanpa memberitahu siapapun, dan jika itu menjadi kabar hangat di Istana Langit, akan sangat merepotkan.
"Kalian siapa?"
Yongheng dan Feng Shang terkesiap saat mendengar seseorang bertanya kepada mereka. Suara wanita, tapi sudah agak tua. Feng Shang dan Yongheng berbalik dan mereka melihat beberapa orang sedang memandang mereka penuh curiga. Dari pakaian yang dikenakan, orang-orang ini sepertinya para pelayan dan kasim.
"Xiao Shang, haruskah kita menggunakan kekuatan kita kembali?" tanya Yongheng pelan. Feng Shang mengangguk karena menurutnya itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri. "Ya. Kita lakukan saja."
Yongheng dan Feng Shang serentak mengipaskan tangan mereka, menyebarkan aura spiritual yang kental ke hadapan pelayan dan kasim. Pelayan dan kasim berkedip beberapa saat, lalu pandangan mereka berubah. Para pelayan langsung tersenyum. Pandangan mereka berubah tersapu aura spiritual yang ditaburkan Feng Shang dan Yongheng.
"Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Puteri, mengapa kalian ada di sini?" tanya pelayan tadi. Nada bicaranya menjadi lebih lembut dan sopan.
__ADS_1
"Kembalilah bekerja. Kami akan kembali ke istana kami," jawab Yongheng. Pelayan dan kasim kemudian mengangguk dan pergi dengan langkah penuh hormat. Yongheng dan Feng Shang kembali bernapas lega. Kali ini, mereka benar-benar harus keluar dari istana ini sebelum masalah lain datang.