
"Kau masih marah?"
Yongheng tidak menjawab dan memalingkan wajahnya ke samping. Ia rasa Feng Shang sudah cukup keterlaluan karena bersikap egois lagi. Yongheng jelas marah, bukan hanya tidak ingin melihatnya berkorban, ia juga takut Raja Iblis menyakitinya. Hanya bayangan saja sudah bisa berbuat sampai sejauh ini, itu menandakan bahwa kekuatan yang dibawanya benar-benar tidak bisa diremehkan.
Meski kini merasuki wujud manusia, namun bukan berarti segalanya menjadi mudah. Sebaliknya, pertarungan di dunia manusia itu lebih sulit daripada pertarungan di dunia dewa. Ada banyak makhluk tanpa kekuatan spiritual di sini, yang ketika terkena percikan sedikit saja bisa mati. Yongheng tidak ingin Feng Shang menanggung hukuman langit karena bertindak gegabah.
"Sebenarnya, aku juga tidak ingin melakukannya," ucap Feng Shang. "Sama seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, dunia terlalu penting. Tetapi, kali ini aku tidak terlalu khawatir."
"Mengapa?"
"Karena kau ada di sisiku."
Yongheng menatap Feng Shang. Rasanya ia sangat penasaran. Benarkah wanita ini senang kalau ia berada di sisinya?
"Kau tahu, aku selalu sendirian. Di dunia itu, aku juga sendirian. Siapa bilang Maharani Langit tidak punya rasa takut? Ketakutanku justru lebih besar dari makhluk apapun di dunia ini. Aku takut melangkah ketika jalan yang kulalui gelap dan panjang. Aku takut meraih tangan orang lain ketika diriku sendiri tidak bisa bangkit. Aku takut dunia ini musnah karena ketidakmampuanku mengurusnya. Aku terlahir dengan takdir Maharani, jadi aku harus menerima dan berusaha semaksimal mungkin. Aku takut, jika suatu saat aku tidak mampu, siapa yang akan mengurus dunia ini?" tutur Feng Shang. Semua perasaan yang dipendamnya meronta-ronta, ingin segera diungkapkan. Namun, ia masih mencoba menahannya.
"Kupikir aku akan selamanya sendirian. Tapi, setelah Si Ming mengirimku ke dunia fana yang lain, aku tahu bahwa dunia yang kupimpin tidak hanya satu. Aku juga tahu kalau masih banyak orang yang bisa membantuku. Ah, tiba-tiba saja aku merasa senang dan takut di waktu yang bersamaan. Aku senang karena kau akhirnya bangkit, karena akhirnya masih ada orang yang bisa memimpin dunia selain aku. Aku juga takut jika pilihan yang kubuat ternyata salah."
Yongheng paham betul. Ia sangat tahu kalau menjadi pemimpin dunia itu sangat berat. Terlalu banyak masalah dan bebannya terlalu besar. Dewa Chang Yuan, Kaisar Langit pertama yang kini tinggal di Alam Ketiadaan juga merasakan itu. Dulu dia sering membantunya mengurus dunia, karena Dewa Agung memang terlahir untuk itu. Kalau Dewa Chang Yuan saja yang seorang pria mengalami kesulitan, apalagi Feng Shang. Saat dewi-dewi lain menikmati waktunya bermain bersama yang lain, dia harus diam dan mengamati dunia. Feng Shang tidak bisa tidur nyenyak seperti wanita kebanyakan.
"Jika kau merasa senang aku ada di sisimu, maka dengarkan aku. Xiao Shang, sudah berapa kali kukatakan? Jangan selalu menanggung semuanya sendiri. Lihat, kau masih punya orang di dekatmu. Yue Ming, Ji Nuo, aku, apa itu tidak berarti bagimu?"
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin kalian terluka."
"Jika terjadi sesuatu padamu, menurutmu kami akan baik-baik saja?"
"Aku yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri," ucap Feng Shang pelan. Yongheng menghela napasnya, mencoba bersabar atas keras kepalanya Feng Shang.
"Xiao Shang, aku baru bangkit dan kekuatanku belum pulih sepenuhnya."
Feng Shang jadi bingung. Benar juga kata Yongheng. Kekuatannya pasti belum pulih sepenuhnya meski sudah lima ratus tahun berlalu. Yongheng tertidur ratusan ribu tahun, banyak energinya yang tersimpan dan perlu pemulihan. Namun, Feng Shang juga kehabisan waktu. Bayangan Raja Iblis sudah keluar, jika tidak diatasi, tidak menutup kemungkinan sosok Raja Iblis yang sebenarnya akan keluar dari Lembah Shansui. Jika sudah begitu, itu kacau. Raja Iblis akan menuntut balas dendam dan kembali mengacaukan dunia.
Yongheng bukannya tak ada jalan lain. Hanya saja Feng Shang sangat berharga untuknya, begitu pula sebaliknya. Ia tahu mereka kehabisan waktu. Beberapa hari lalu Si Yun datang dan memberitahu kalau Laut Timur tidak bisa ditinggalkan lagi. Yongheng juga tahu kalau Feng Shang mendapat pesan dari Yue Ming yang menyuruhnya segera kembali ke Istana Langit.
"Sekali ini saja. Tidak akan ada lain kali," Feng Shang mencoba membujuk kembali Yongheng agar mau mengizinkannya bertindak. Ia tidak akan menyerah.
"Aku tidak sepenuhnya mengizinkanmu. Tapi, aku akan selalu mengawasimu," putus Yongheng.
Feng Shang menyunggingkan senyumnya untuk pertama kali setelah lima ratus tahun di hadapan Yongheng. Senyuman itu membuat hati Yongheng menghangat. Feng Shang sangat cantik, dan dia lebih cantik jika tersenyum. Seandainya senyum itu bertahan selamanya, maka tidak akan ada makhluk di dunia ini yang tidak tertarik. Tidak ada dewi manapun yang lebih cantik dari Feng Shang.
"Jangan pernah menunjukkan senyum itu kepada dewa lain," ucap Yongheng. Feng Shang berpura-pura tidak mendengar. Dia kemudian berdiri, sebelum berbalik dia berkata, "Besok adalah waktunya."
Yongheng hanya mengangguk.
__ADS_1
***
Si Ming berlari menyusuri pelataran Istana Fengyun menuju pintu utama. Pakaiannya yang indah terbang terbawa angin yang berhembus dari surga. Ia sedang terburu-buru mencari Maharani Langit, karena ia punya sesuatu yang harus diberitahukan kepadanya. Sayangnya, dia tidak menemukan Feng Shang di manapun. Hanya ada prajurit surgawi dan pelayan peri yang hilir mudik di istana itu.
"Apa kau melihat Maharani Feng?" tanya Si Ming pada pelayan. Pelayan itu menggelengkan kepala. Si Ming sudah cukup lama berkeliling, tapi tidak seorang pun yang tahu ke mana Feng Shang pergi.
Si Ming kemudian masuk ke ruangan milik Feng Shang. Barang-barang di sana tertata dengan rapi, menandakan bahwa pemiliknya tidak menyentuhnya selama beberapa waktu. Hiasan-hiasan yang memperindah ruangan itu juga masih bersinar. Itu berarti pemiliknya tidak pergi terlalu lama. Si Ming jadi bingung karena keberadaan Maharani Langit tidak bisa dilacak sembarangan dengan cermin langit.
"Dewi Takdir Si Ming?" tanya seseorang. Si Ming menoleh dan mendapati Yue Ming baru tiba sembari membawa beberapa helai kertas.
"Yue Ming! Akhirnya aku bertemu seseorang. Di mana Maharani Feng?"
"Kau mencarinya? Ada apa?"
"Aih, katakan saja. Ke mana Maharani Feng pergi?"
Yue Ming menyuruhnya duduk terlebih dahulu. Setelah tenang, dia baru bertanya lagi, "Sebenarnya ada apa? Tidak biasanya kau kemari tanpa dipanggil."
"Ada sesuatu yang harus diketahui Maharani Feng."
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Tentang pohon perasaan dan kekuatannya, juga timbal balik di antara keduanya."
Si Ming lalu membisikkan sesuatu kepada Yue Ming. Ekspresi Yue Ming sulit ditebak. Entah berita yang dibawakan Si Ming ini baik atau buruk, ia tidak tahu.