Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 47: Mengambil Kembali Milik Sendiri


__ADS_3

"Kalau kau membunuhnya, itu hanya akan menimbulkan lebih banyak masalah untukmu!"


Shen Yi memegang pergelangan tangan Feng Shang, mencoba menariknya agar perempuan itu melepaskan cengkramannya di leher Feng Ling. Feng Shang langsung melepaskannya, kemudian mendorong tubuh Feng Ling hingga membentur tembok pembatas.


"Xiao Shang, lebih baik kita bawa dia ke kantor polisi. Jangan pernah mengotori tanganmu untuk urusan kecil seperti ini."


"Tidak perlu. Apa yang aku inginkan sudah tercapai. Shen Yi, kau turunlah lebih dulu. Aku ingin berbincang sebentar dengan saudara sepupuku," usir Feng Shang.


"Kau yakin tidak akan membunuhnya?" tanya Shen Yi tidak percaya.


"Ya."


Setelah itu, Shen Yi kembali. Pria itu menunggu di depan pintu lift. Feng Shang menghampiri Feng Ling, ia berjongkok di hadapannya. Tangannya meraih dagunya, lalu mendongakkannya. Sinar matanya menyala kembali disertai seringaian yang masih terlihat menyeramkan.


Feng Shang tidak akan membunuh sampah kecil ini. Ia ingin Feng Ling merasakan penderitaan tak berujung akibat menyinggungnya. Feng Shang ingin Feng Ling merasakan lebih baik mati daripada hidup, membuatnya terpenjara dalam kungkungan yang dibuatnya sendiri.


Bukankah perempuan ini begitu suka tinggal di Kediaman Feng? Kalau begitu, Feng Shang akan mengabulkannya.


Ia mengambil suara Feng Ling, membuatnya bisu. Tidak hanya itu, Feng Shang juga mengambil kakinya, yang membuat Feng Ling tidak akan bisa berjalan seumur hidupnya. Merasa belum puas, Feng Shang menyentuh pipi Feng Ling, membuat goresan memanjang di kulit mulus itu. Feng Ling meringis, namun suaranya tidak keluar.


"Sampah kecil, nikmatilah sisa hidupmu dengan baik," ucap Feng Shang. Matanya yang biru kembali jadi hitam.


Feng Ling panik. Mulutnya mangap-mangap, namun suaranya tidak keluar. Ia juga berusaha menggerakkan kakinya untuk menyerang Feng Shang, tetapi kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Pada situasi seperti itu, ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


Feng Shang menyentuh kening Feng Ling. Kemudian, setetes darah merah keluar dari sana. Darah tersebut adalah darah suci miliknya yang entah mengapa bisa ada di tubuh Feng Ling. Ia ingin mengambilnya kembali.


Feng Shang sudah merasakannya sejak awal. Saat ia melihat Feng Ling, ia merasa ada yang tidak beres dengannya. Feng Shang juga curiga mengapa Xiang Sun begitu tidak ingin melepas Feng Ling meski hubungan mereka sangat tidak sehat.


Tampaknya, hawa iblis dalam tubuh Xiang Sun membuat pria itu tahu ada darah suci di tubuh Feng Ling. Itulah alasan terkuat mengapa Xiang Sun terus bersama Feng Ling, karena ia ingin mengambilnya. Kemungkinan, tujuan Xiang Sun mengejar dirinya juga untuk ini.


Darah suci Maharani Langit memiliki kekuatan luar biasa. Setetes saja sudah mampu menawarkan seribu jenis racun, juga bisa memberikan kultivasi yang setara dengan sepuluh ribu tahun. Darah suci bisa menjadi elemen terpenting dalam penyempurnaan tubuh, terutama bagi para iblis.


Ia ingin melihat apakah Xiang Sun akan tetap mempertahankan Feng Ling jika tahu darah suci itu sudah tidak ada. Ia sekalian ingin melihat sampai mana pria iblis itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.


"Aku berbaik hati karena tidak mengambil inti jiwamu. Sampah kecil, selamat menikmati hidupmu yang baru tanpa suara dan kakimu, juga tanpa darah suci itu. Kau mungkin akan kehilangan kekasihmu yang brengsek itu."


Feng Shang lantas meninggalkan Feng Ling yang masih berusaha bangkit. Ia terkejut melihat Shen Yi berdiri di depan pintu lift, menunggunya. Kemudian, seulas senyum kecil tersungging di bibirnya.

__ADS_1


Shen Yi mengisyaratkan untuk segera kembali. Saat ia membuntuti Feng Shang dari belakang, ia bergumam, "Perempuan bodoh itu tersenyum setelah mencelakai saudara sepupunya sendiri?"


...***...


Malam harinya, Shen Yi dan Feng Shang duduk di taman bunga. Bulan di atas sana sedang bersinar cerah, bersama gemintang yang berkelap-kelip sesekali. Ada bintang biduk yang menandakan kalau bumi sedang mengalami musim semi.


Suasana begitu canggung. Shen Yi bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Semua kebingungan ini, semua keanehan ini, harus terjawab malam ini juga. Ia sudah tidak tahan menahan semua rasa penasaran yang menyengerubungi otaknya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Shen Yi setelah berpikir beberapa saat. Pertanyaan untuk memulai pencarian jawaban sudah dilontarkan. Feng Shang mengedikkan bahu sambil menatap bulan, memandanginya dengan sinar mata yang indah.


"Aku hanya mengambil benda milikku."


"Benda? Benda apa? Sore tadi aku menerima kabar kalau Feng Ling tiba-tiba lumpuh dan bisu. Wajahnya juga memiliki beberapa goresan panjang. Apa kau yang melakukannya?"


"Kalau kau sudah tahu, mengapa masih bertanya?"


"Tidak, maksudku, bagaimana caramu melakukannya? Membuat seseorang lumpuh dan bisu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang sangat singkat."


Feng Shang menolehkan kepala, beralih menatap Shen Yi. Ia tahu, pria itu pasti diliputi penasaran dan kebingungan yang besar. Namun, semua penjelasannya akan sia-sia selama pria itu tidak bersedia percaya padanya.


"Aku sudah pernah bilang. Aku akan mengatakannya saat kau merasa siap dan bersedia percaya padaku," tukas Feng Shang.


Ia mungkin harus mempercayainya. Siap tidak siap, cepat atau lambat, akhirnya akan sama. Lalu, untuk apa dia menahan diri begitu lama?


"Tidak peduli bagaimana aku menyangkalnya, semuanya tak masuk akal. Xiao Shang, bisakah kau memberitahuku siapa kau sebenarnya?"


"Kau... Sungguh bersedia mempercayaiku?"


Shen Yi mengangguk. Feng Shang tersenyum. Langit telah membuka jalan untuknya. Akhirnya, ia bisa memberitahu segalanya kepada pria itu.


"Aku sudah pernah menunjukkannya padamu. Apa yang kau lihat setelah kecelakaan hari itu, pantulan dari Alam Sembilan Langit di Tiga Alam. Kau mungkin tidak pernah tahu, atau tidak percaya ada kehidupan lain selain di bumi."


"Apa kau benar-benar Maharani Langit?"


"Ya."


"Lalu mengapa kau bisa turun ke bumi?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Seingatku, aku sedang terluka setelah memperbaiki segel Raja Iblis. Mungkin, Si Ming yang mengirimku kemari tanpa tahu apa-apa."


Shen Yi mengernyitkan dahinya. Si Ming? Ia ingat kalau nama itu adalah nama seorang dewa pengatur takdir yang sering disebutkan dalam beberapa film. Melihat wajah Feng Shang, ia yakin perempuan itu sedang tidak berbohong.


"Raja Iblis? Maksudmu, makhluk terjahat di alam semesta?"


"Ya. Raja Iblis memiliki hawa iblis yang sangat kuat. Hawa itu bisa membunuh semua makhluk hidup ketika tersebar luas."


"Mengapa ada hawa seperti itu?" tanya Shen Yi penasaran.


"Hawa iblis muncul dari sisi tergelap hati makhluk hidup. Kau mungkin menjumpai banyak orang jahat di dunia ini. Mereka yang memiliki hati seperti itu adalah sumber terbesar munculnya hawa iblis. Dan apa kau tahu, kalau di bumi ini hawa itu juga ada?" tutur Feng Shang.


Shen Yi menggeleng.


"Xiang Sun. Aku melihatnya di tubuh pria itu."


Mata Shen Yi membelalak. Xiang Sun? Mengapa?


"Apa dalang dari kejadian kemarin adalah dia?"


Feng Shang mengangguk. Saat ini Xiang Sun pasti sedang marah-marah karena rencananya tidak berhasil. Shen Yi emosi, kemudian bangkit. Ia mengepalkan tangannya sampai kuku jemarinya memutih. Feng Shang menahannya, kemudian bertanya, "Kau mau ke mana?"


"Membalas Xiang Sun. Beraninya dia menyakitimu!"


"Dengan kemampuanmu ini, memangnya bisa? Dia punya hawa iblis, sedangkan kau? Itu sama saja dengan mengantarkan diri ke kandang macan, Shen Yi bodoh!"


Perkataan Feng Shang menyadarkannya. Perempuan itu benar. Kalau ia menantang Xiang Sun yang punya hawa iblis kuat, dia bisa mati. Shen Yi kembali duduk, lalu meminta Feng Shang melanjutkan ceritanya.


"Mungkin, ini ada hubungannya dengan tujuanku datang kemari. Aku harus segera membereskan orang itu sebelum membuat kekacauan yang lebih besar," jelas Feng Shang.


"Apa pelaku yang menewaskan karyawanmu juga dia?" tanya Shen Yi setelah ia mengingat seorang karyawan Feng Shang yang meninggal misterius tempo hari. Feng Shang kembali mengangguk.


"Hawa iblis itu melukaimu. Bukankah itu artinya keberadaan Xiang Sun begitu berbahaya?" tanya Shen Yi lagi.


"Mungkin. Kejadian kemarin hanya reaksi biasa dari tubuhku. Aku bisa pulih dalam waktu yang singkat. Shen Yi, apa kau mau tahu mengapa aku bisa pulih sesingkat itu?"


"Aku sangat ingin tahu," jawab Shen Yi.

__ADS_1


Feng Shang tersenyum. Kemudian, ia berdiri. Tangannya bergerak. Cahaya biru yang sangat banyak dan misterius melayang di udara seperti butiran kristal.


__ADS_2