
Pagi harinya, Ji Nuo sudah menunggu Feng Shang dan Yongheng di luar istana bersama beberapa pelayan dan pengawal. Hidup di alam fana dan menjelma menjadi seorang permaisuri memang benar-benar luar biasa. Ke manapun ia pergi, maka ekor itu akan selalu mengikutinya tanpa henti. Ji Nuo terkadang sebal tapi tidak bisa berbuat banyak.
"Kalian sudah siap?" teriak Ji Nuo dari luar. Pelayan dan pengawalnya bertatapan, bertanya-tanya siapakah sebenarnya dua orang di dalam sana. Mereka heran karena permaisuri mereka tiba-tiba memilih satu istana dan menempatkan mereka di sana. Padahal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Yongheng yang pertama kali keluar, namun ekspresinya tidak begitu menyenangkan untuk dilihat. Wajah tampannya memang bersinar, tetapi tidak ada senyum sedikit pun terukir di sana. Sebaliknya, wajah itu justru sangat cemberut dengan bibir terkatup rapat, tampak lelah dan benar-benar lelah. Bagaimana tidak, sejak dini hari ia harus membereskan kekacauan yang dibuat Feng Shang, sementara si pelakunya justru tertidur.
"Tampaknya saudariku telah membuatmu kelelahan," sindir Ji Nuo dengan nada candaan.
"Aku tidak akan memintanya minum lagi lain kali," ujar Yongheng. Ji Nuo menahan tawanya. Semalam, ia juga ada di sana untuk mengawasi Feng Shang dan Yongheng. Ji Nuo melihat semuanya, kecuali ketika Feng Shang dan Yongheng sudah ada di dalam ruangan istana. Ia menduga Feng Shang telah membuat Yongheng kewalahan.
Tidak lama kemudian, Feng Shang juga keluar dalam setelan putri. Ji Nuo sengaja memberinya setelan itu agar Feng Shang tidak kehilangan wibawanya. Pada dasarnya, ia memang seorang putri. Bahkan statusnya sangat mulia dan tinggi. Setelan itu membuatnya menjadi lebih cantik dari biasanya. Feng Shang sudah kembali sadar, dan sikapnya menjadi seperti biasa.
"Ayo. Aku akan membawa kalian menemui Kaisar," ajak Ji Nuo. Kemudian, rombongan itu pergi ke sebuah istana yang tampaknya tidak asing untuk Feng Shang dan Yongheng.
Di depan gerbang, Feng Shang dan Yongheng berhenti sejenak. Keduanya saling bertatapan, dan itu cukup untuk mengartikan keterkejutan mereka. Istana ini, istana yang berdiri megah di depan mereka adalah istana yang beberapa hari lalu mereka tinggalkan. Kalau begitu...Bukankah itu artinya, manusia yang malam itu sedang melakukan 'itu' dengan seorang wanita adalah kaisar manusia?
Entah mengapa wajah Feng Shang dan Yongheng jadi memerah. Mengingat momen yang memalukan itu membuat mereka merinding dan menjadi malu kembali, meskipun mereka menyaksikannya tanpa sengaja. Tetap saja, rasanya sungguh tidak pantas.
Ji Nuo kemudian memakaikan sebuah cadar putih di wajah Feng Shang. Tujuannya agar kaisar manusia itu tidak mengenalinya. Bisa gawat jika suami Ji Nuo melihat kecantikan wajah Feng Shang. Bisa-bisa, kaisar itu menargetkannya dan memintanya menjadi selir. Ji Nuo tidak akan rela saudarinya menjadi istri ke sekian dari suami manusianya. Ia sudah cukup muak dan tidak mau lagi mencarikan istri.
Setelah mengumumkan kedatangan, pintu utama istana itu lalu terbuka. Feng Shang dan Yongheng mengikuti Ji Nuo dari belakang. Mereka lantas sampai di depan sang kaisar manusia, yang saat itu tengah duduk di kursi emasnya sambil membaca laporan. Ji Nuo memberi hormat khas manusia, diikuti Feng Shang dan Yongheng.
__ADS_1
"Kau ingin mengenalkan siapa?" tanya kaisar tanpa mengalihkan pandangan dari buku laporan. Entah itu sungguhan, atau hanya pura-pura karena Feng Shang merasa kaisar ini begitu jelas menunjukkan keengganan.
"Saudara dan saudariku. Mereka datang dari jauh."
"Begitukah? Sepertinya akhir-akhir ini Permaisuri sangat senggang. Bagaimana dengan perintahku? Kau sudah mendapatkannya? Bahkan jika harus ke langit pun, kau harus membawakanku wanita lagi."
Feng Shang ikut muak. Ingin sekali ia merobek wajah kaisar itu, atau menyihirnya menjadi siput. Pantas saja Ji Nuo sangat kesal, perangai kaisar ini sungguh buruk. Bisa-bisanya Ji Nuo menikahinya dengan alasan tidak ada kerjaan. Bagaimana dia bisa tahan selama ini?
"Jika kau ingin saudariku membawakanmu wanita, kau setidaknya harus berbicara dengan cara yang baik dengannya," ucap Feng Shang.
Kaisar itu tertarik, lalu menyimpan buku laporannya. Pandangannya beralih ke depan, ke seberang meja kerjanya. Lebih tepatnya, ia memandangi wanita bercadar yang ada di belakang Ji Nuo. Kaisar ingin tahu siapa yang begitu berani berbicara kasar padanya di istananya. Wanita ini pasti sangat ingin mati, pikirnya.
"Apa yang dikatakan saudariku benar. Kau harus bicara dengan cara yang baik padaku jika kau masih ingin tidur nyenyak bersama wanitamu setiap malam," sergah Ji Nuo.
"Baiklah. Kau sudah mengenalkan mereka, sekarang apa maumu?" tanya kaisar.
Ji Nuo mengulur waktu agar Feng Shang dan Yongheng bisa menyelidiki apakah bayangan Raja Iblis masih ada di tubuh kaisar manusia atau tidak. Perlu waktu sedikit lebih lama, ia perlu cara agar mereka bisa bertahan lebih lama di dalam istana kaisar.
"Aku mengunjungimu. Bukankah itu yang sering kulakukan sejak dulu?" ucap Ji Nuo. "Yah, setidaknya sebelum selirmu bertambah banyak. Yang Mulia, istana harem tidak mampu lagi menampung yang baru."
"Kalau begitu keluarkan yang lama. Lagipula mereka sudah tua dan sangat tidak menyenangkan bermain bersama mereka. Energiku habis, tetapi aku tidak mampu merasakan puncaknya."
__ADS_1
Yongheng ingin menonjok kaisar itu dengan tangannya sendiri. Si kaisar ini selain sangat cabul, juga bermulut kotor. Ia pasti sangat buruk sebelum ini. Pantas saja bayangan Raja Iblis begitu betah berada dalam tubuhnya. Mereka punya karakteristik dan sifat yang sama dan sangat cocok ketika disandingkan.
Ji Nuo menghela napas.
"Ah, kau juga harus mengawasi mereka dengan ketat. Beberapa malam yang lalu ada wanita yang menyusup dan keluar dari istanaku bersama seorang pria. Aku akan membunuh mereka karena telah menganggu kesenanganku!" seru kaisar tiba-tiba.
Ji Nuo, Feng Shang dan Yongheng sama-sama terkejut. Terutama Feng Shang dan Yongheng. Bagaimana tidak, orang yang dimaksud oleh kaisar ini adalah mereka berdua. Kaisar cabul itu tidak tahu kalau dua orang itu adalah orang yang kini berdiri di hadapannya. Ji Nuo menatap mereka dari samping, lalu sepertinya ia menyimpulkan sesuatu dalam hatinya.
"Pergilah. Jangan menggangguku," ucap kaisar. Ji Nuo juga tidak ingin berlama-lama di sini. Ia membawa Feng Shang dan Yongheng keluar, lalu berjalan dengan anggun layaknya permaisuri yang agung.
Setelah jauh dari istana kaisar, Ji Nuo mengusir pelayan dan pengawalnya pergi. Dia menyuruh Feng Shang dan Yongheng mengikutinya ke taman istana, menikmati teh dan sarapan. Hidangan sudah tersaji, aromanya wangi. Ditambah lagi, cahaya matahari kala itu sangat hangat.
"Jadi, kalian mengintip bedebah itu?" tanya Ji Nuo.
Feng Shang dan Yongheng tersedak.
"Itu...Bukan disengaja," sangkal Yongheng. Feng Shang hanya diam, berpura-pura tidak tahu dan memilih kembali meminum tehnya.
Ji Nuo tertawa. Sungguh, ini bukan sesuatu yang bisa disangka-sangka!
***
__ADS_1