
Dua hari kemudian, rombongan dewa yang belum pergi setelah perjamuan langit berkumpul di gerbang depan Istana Langit. Mereka tengah bersiap untuk kembali ke tempat masing-masing setelah menyelesaikan urusan di tempat agung ini. Sebagian lagi langsung terbang dan menghilang, sebagian masih berbincang dengan yang lain. Mungkin, itu sebuah perpisahan untuk mereka.
Di sudut Istana Fengyun, Feng Shang malah merenung di meja belajarnya. Yue Ming menatapnya dengan heran. Seharusnya maharani mengantar kepergian para dewa di depan gerbang, bukan malah termenung di sini sendirian. Yue Ming membujuknya, tapi Feng Shang tetap tidak mau pergi.
"Kalau kau terus diam di sini, kau mungkin akan melewatkan perpisahan dengan Dewa Agung Yongheng."
Yue Ming mencoba membujuknya agar ikut mengantarkan kepergian para tamu dewa. Namun, sepertinya Feng Shang sama sekali tidak tertarik dengan itu. Entah karena ia benar-benar tidak terlalu suka aroma perpisahan, atau karena ia tidak ingin melihat orang itu pergi.
"Diantar atau tidak, pada akhirnya akan tetap berpisah pula, bukan?" ucapnya pada Yue Ming.
"Kau yakin akan melewatkan kesempatan ini?"
"Memangnya kenapa? Dewa Agung Yongheng tidak punya hubungan yang dalam denganku. Pergi atau tidak rasanya sama saja."
"Kau membohongi dirimu sendiri lagi."
Yue Ming menyerah untuk membujuknya. Feng Shang yang keras kepala itu dibiarkan sendirian dengan egonya di Istana Fengyun, sementara dia sendiri pergi untuk melihat rombongan itu. Di gerbang Istana Langit, satu persatu dewa mulai menghilang.
"Dia tidak datang?" tanya Yongheng. Yue Ming menggeleng pasrah.
"Maharani tidak mau pergi meski aku sudah membujuknya."
Yongheng tersenyum kecil. Ia tahu ini akan terjadi. Meskipun hubungannya dengan Feng Shang lumayan baik akhir-akhir ini, itu tidak berarti kalau keduanya benar-benar akrab. Hubungannya dengan Feng Shang memang belum cukup dekat, dan dia tidak bisa berharap banyak.
Yongheng ingin memperdalamnya, namun takdir tidak mengizinkannya. Kini ia harus berpisah dengannya untuk waktu yang lama, karena meskipun Laut Timur tidak seberapa jauhnya, masih banyak hal yang harus diurus setelah ratusan ribu tahun ini. Entah kapan ia memiliki waktu luang untuk kembali ke istana ini. Ini bahkan lebih sulit daripada dunia manusia.
"Setidaknya dia bisa mengantarku sebagai Maharani Langit. Dewi Yue Ming, sampaikan salamku padanya, juga mohon agar kau mau menyerahkan benda ini kepadanya," seloroh Yongheng sambil menyerahkan sebuah kipas daun teratai yang indah.
Yue Ming mengangguk, kemudian berbalik untuk kembali ke Istana Fengyun. Yongheng sudah menghilang di balik awan bersama beberapa bawahannya. Alam Sembilan Langit saat itu begitu cerah, bahkan burung-burung surgawi saja beterbangan ke sana kemari dengan riang. Para dewa utusan sudah pergi, dan hanya tinggal menteri dewa dan yang lainnya di istana ini.
Ketika Yue Ming kembali ke Istana Fengyun, dia tidak mendapati keberadaan Feng Shang di manapun. Sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan ke mana wanita itu pergi. Tidak ada yang tahu kalau Feng Shang diam-diam menyamar menjadi serangga dan terbang ke gerbang masuk Istana Langit.
Mungkin dia malu menampakkan diri di hadapan Yongheng, atau mungkin dia tidak bisa melihat orang itu pergi. Bagaimanapun, beberapa hari yang singkat ini memberikan cukup kesan untuknya. Feng Shang melihat kepergiannya, melihat tubuh kekar yang dibalut sutera putih yang sangat halus itu perlahan menghilang di balik awan.
Entah mengapa hatinya terasa kosong. Istana Langit yang cerah dan ramai terasa sepi seperti tak berpenghuni. Feng Shang tidak dapat merasakan keramaian seperti biasa, atau saat-saat ketika jamuan langit berlangsung. Mungkin tidak juga, karena hatinya terpaut pada sosok seorang dewa agung itu.
__ADS_1
"Ada apa denganku hari ini?" tanyanya pada diri sendiri. Feng Shang menenggelamkan dirinya di kolam langit lalu sesekali menyembulkan kepalanya. Air di sini begitu segar dan dingin dipenuhi aura spiritual, dan itu merupakan tempat favoritnya.
Entah sejak kapan dia mulai terbenam dalam suasana nyaman itu. Sambil memejamkan mata, roh langitnya tanpa sadar telah berkelana ke Alam Ketiadaan, ke tempat yang pernah didatanginya namun tidak membekas dalam ingatannya.
Di sana, dia bertemu lagi dengan roh langit Dewa Chang Yuan yang sebentar lagi musnah. Rasanya seperti deja vu, dan Feng Shang tidak mampu mendeskripsikannya. Dia melihat roh langit Dewa Chang Yuan tersenyum padanya dan berkata, "Shang'er, takdirmu belum terputus."
Feng Shang benar-benar lelah dipermainkan. Ingatan itu jelas sekali menunjukkan bahwa dia terlibat dalam pembangkitan Yongheng, dan keagungannya telah menjadikan sosok itu terikat dengannya. Namun sekeras apapun dan sejelas apapun ingatan itu, Feng Shang selalu merasa ada yang tidak beres. Lebih tepatnya, dia ragu pada ingatannya sendiri.
"Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Feng Shang pada Dewa Chang Yuan.
"Bukankah sudah jelas? Yang kau lihat adalah kenyataannya."
"Aku benar-benar membangkitkannya? Lalu, apakah orang itu bisa kembali?"
Maksud perkataannya merujuk pada seseorang bernama Shen Yi. Ingatan itu memberitahu bahwa sosok Dewa Agung Yongheng sebelum bangkit adalah seorang manusia fana bernama Shen Yi, yang entah mengapa memiliki kesadaran dewa yang samar. Jelas itu adalah keanehan, dan Feng Shang lebih aneh lagi karena dia merasakan hatinya bergetar begitu mengingat nama Shen Yi.
Dewa Chang Yuan tertawa. Baginya, Maharani Langit dan Dewa Agung Yongheng benar-benar sebuah kesatuan. Mereka sudah diberikan kilasan ingatan kehidupan mereka, namun tidak berani menyimpulkan sendiri. Feng Shang dan Yongheng sama-sama tidak memahami dan menyadari perasaan mereka sendiri.
Dewa Chang Yuan kemudian mengumpulkan kilasan ingatan dan memberikannya pada Feng Shang. Kilasan mirip cahaya keemasan itu perlahan memasuki kepala Feng Shang. Wanita itu memejamkan mata dan mulai menyerap semuanya. Bukan hanya otaknya, tetapi tersambung ke dalam hatinya juga.
Feng Shang tiba-tiba tersadar. Dia menyembulkan kepalanya dari kolam. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan. Mulutnya terkunci rapat seolah dia tidak diperkenankan untuk bicara. Tangannya mengusap wajah basah itu, dan tanpa terasa ada yang menetes dari mata yang sedang menatap kosong kolam langit tersebut.
Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Air mata itu meleleh seperti anak sungai, namun tatapannya masih kosong. Keningnya berkerut dalam, lalu dia memegangi dadanya yang terasa sakit. Tanda sayap feniksnya menyala dan kekuatan itu membuat kolam langit bergolak.
Feng Shang mengingatnya. Dewa Chang Yuan membuatnya mengingat jelas kejadian itu. Semuanya. Semuanya tergambar sangat jelas dan kini terasa meninggalkan bekas. Ia yang sebelumnya tidak yakin pada diri sendiri dan tidak berani mempercayai kilasan ingatan kini tahu segalanya.
Dia adalah Feng Shangyue, dan Yongheng adalah Shen Yi!
Keduanya adalah sepasang insan yang telah terikat takdir, dan pernah menjalani hari-hari penuh suka duka bersama-sama! Tempat itu, tempat itu juga ia mengingatnya! Ingatannya tentang kehidupan di bumi bersama Shen Yi telah kembali!
Melihat kolam langit tiba-tiba bergejolak, Yue Ming segera menghampiri Feng Shang. Dia terkejut melihat Maharani Langit tengah menangis sambil menatap kosong air yang bergejolak, ia juga melihat tanda-tanda cahaya feniks di tubuhnya.
"Maharani! Apa yang terjadi?" tanya Yue Ming panik.
"Yue Ming... Shen Yi... Yongheng...."
__ADS_1
Karena Feng Shang meracau tidak jelas, Yue Ming segera membantunya keluar dari kolam. Dia memapahnya kembali ke Istana Fengyun dan menidurkannya di ranjang. Segera, ia memanggil Si Ming meski tahu kalau dia bukan dewa tabib. Perasaannya mengatakan kalau ia harus memanggil Dewi Takdir.
Si Ming datang tidak lama setelah itu. Keadaan Feng Shang cukup mengkhawatirkan ketika ia tiba di sana. Feng Shang tampak sedang tertidur, namun wajahnya jelas tidak damai sama sekali. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, ada sesuatu yang mengusik jiwanya hingga seperti itu.
Si Ming langsung membuka catatan di buku takdir Feng Shang yang baru terbentuk beberapa waktu lalu. Matanya membelalak melihat sekumpulan tulisan tergores di dalam buku yang sebelumnya kosong itu. Perlahan aksara demi aksara muncul berurut, membentuk sebuah catatan kisah.
"Si Ming, ada apa?" tanya Yue Ming.
"Maharani... Dia tidak pergi ke alam fana..."
"Apa maksudmu? Bukankah dia pergi ke alam fana untuk memulihkan diri? Tidak pergi? Bukankah kau sendiri yang mengantar inti jiwanya keluar dari Alam Sembilan Langit?"
"Bukan alam fana di sini. Tapi alam fana yang lain. Maharani telah menemukan sisa inti jiwa Dewa Agung Yongheng dalam inkarnasi manusia. Mereka pernah bersama."
"Maksudmu, Maharani yang membangkitkan Dewa Agung Yongheng?"
Yue Ming mengangguk. Dia juga tidak menyangka kalau kisah perjalanan Feng Shang dalam pemulihan dirinya ternyata terhubung dengan kebangkitan dewa agung. Apalagi, di tempat yang berbeda dengan Alam Sembilan Langit.
"Apa dia mengingatnya?" tanya Yue Ming kembali.
"Dilihat dari keadaannya, sepertinya Maharani telah mendapatkan ingatannya kembali," jawab Si Ming.
"Lalu apakah Dewa Agung Yongheng mengingatnya?"
Si Ming menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi seharusnya ia mulai mengingatnya walaupun samar. Tidak heran, mereka berdua datang ke tempatku kala itu. Rupanya ini yang ingin mereka ketahui."
"Dewi Si Ming, apa Maharani dan Dewa Agung telah bersama di dunia itu?"
"Mungkin."
"Pantas saja belakangan keduanya begitu dekat. Ternyata, takdir mereka sudah bermula sejak di dunia itu. Lalu, apakah ini adalah hal baik atau buruk? Maharani memegang kendali atas tiga dunia, Dewa Agung adalah penguasa Laut Timur. Jika mereka bersama, apakah itu akan berdampak pada semuanya?"
"Aku tidak bisa menjawabnya. Maharani dan Dewa Agung di luar kuasaku. Tapi, aku berharap itu hal baik."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Dia sepertinya sangat sedih setelah ingatannya kembali. Dewi Si Ming, apa kau bisa menghapus ingatannya?"
__ADS_1
"Tidak bisa. Ingatan kehidupan Maharani Feng adalah keajaiban. Kita tidak bisa menghapusnya," ucap Si Ming. Tapi, Yue Ming juga khawatir itu akan menyiksa Feng Shang secara perlahan.
"Aku yakin Maharani Feng cukup tahu bagaimana dia harus bersikap. Laut Timur jelas bukan tempat dengan kenangan indah untuknya. Juga, dia pasti menyadari tanggungjawabnya terhadap dunia dan tidak akan larut dalam perasaan pribadinya sendiri.'