Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 59: Keanehan


__ADS_3

Pagi harinya, Nyonya Yin berdiri di depan pintu kamar Shen Yi. Dia menggedor-gedornya dengan keras dengan telapak tangan. Nyonya Yin dongkol karena putranya malah membiarkan perempuan itu tidur di kamarnya. Padahal selama ini putranya itu anti terhadap wanita. Mengapa bisa begini?


Di dalam kamar, Feng Shang berdiri di dekat pagar balkon. Senyum kecilnya tersungging begitu mendengar gedoran pintu yang begitu keras. Pagi-pagi begini Nyonya Yin sudah datang untuk memarahinya, maka Feng Shang membalasnya dengan membiarkannya. Dia menggunakan sihir tidur pada Shen Yi, membuat pria itu tidur sedikit lebih lama agara Nyonya Yin semakin kesal.


Semalam, Feng Shang tidak tidur terlalu nyenyak. Berada di ranjang yang sama dengan Shen Yi membuat jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia harus membuat Nyonya Yin menyerah dan segera pergi dari rumah ini agar dia bisa kembali tidur di kamarnya seperti semula. Tapi, tampaknya Nyonya Yin ini terlalu gigih.


Setelah satu jam berlalu, Feng Shang akhirnya membuka pintu kamar Shen Yi. Nyonya Yin berdiri dengan wajah memerah seperti tomat, ekspresinya sungguh mengesalkan. Dengan wajah datar tanpa ekspresinya, Feng Shang melengang melewati Nyonya Yin begitu saja. Merasa diabaikan dan dipermainkan, Nyonya Yin menahan langkah Feng Shang dengan mencengkeram lengannya.


"Lepaskan!" seru Feng Shang.


"Kau pikir kau sudah berhasil? Marga Feng, jangan pernah berpikir kau bisa mendominasi putraku! Dia hanya penasaran padamu hingga membuatmu tinggal di sini! Tetapi, kau harus tahu kalau tidak lama lagi kau pasti akan hengkang dari rumah ini!" ucap Nyonya Yin.


"Siapa yang kau bicarakan?"


"Tentu saja kau!"


"Sebelum itu terjadi, akan kupastikan kau yang lebih dulu keluar dari rumah ini, Nyonya Yin," balas Feng Shang sembari menghempaskan cekalan Nyonya Yin.


Nyonya Yin meraih sesuatu dari balik baju tidurnya, kemudian menyerahkannya pada Feng Shang. Dengan wajah penuh keyakinan, dia kemudian berkata, "Perempuan ini adalah calon istri putraku!"


Feng Shang menatap sosok perempuan cantik yang terdapat dalam foto. Dia tertawa remeh, membuat Nyonya Yin sedikit terkejut. Seharusnya perempuan ini marah, pikirnya. Di antara dia dan putranya pasti terjadi sesuatu sampai hubungan mereka begitu dekat dan khusus. Kalau Feng Shang mengetahui Shen Yi sudah punya calon istri, seharusnya dia akan segera pergi dari sini, bukan?


Sebaliknya, Feng Shang justru bersikap biasa saja, malah menertawakannya.


"Kau pikir aku tidak tahu berapa banyak perempuan yang kau kirimkan untuknya?" tanya Feng Shang. Dia meraih lembaran foto tersebut, kemudian merobeknya tepat di depan mata Nyonya Yin.


"Trikmu yang kecil ini tidak cukup untuk membuatku pergi dari sini, Nyonya Yin."


Nyonya Yin mengepalkan kedua tangannya karena marah. Sebenarnya sekeras apa hati perempuan itu hingga tidak mempan diuji?


Feng Shang berjalan menuruni tangga. Tujuannya saat ini adalah taman bunga. Ia ingin berlatih di sana sebentar sebelum berangkat ke kantornya. Sesampainya di sana, dia melihat beberapa kuntum bunga yang semula mekar dengan indah kini layu. Ia mengernyit, kemudian mencoba memikirkan mengapa bunga-bunga ini bisa layu dalam semalam. Padahal, kekuatan spiritual di sini jelas-jelas sangat stabil.


Feng Shang lantas menatap Nyonya Yin yang berdiri tak jauh dari pintu masuk taman bunga. Tatapannya menukik tajam kepada Nyonya Yin, yang juga tengah menatapnya dengan marah. Nyonya Yin belum mau melepaskan Feng Shang meski hari masih pagi begini.

__ADS_1


"Apa kau menyentuh bunga-bunga ini?" tanya Feng Shang.


"Memangnya kenapa? Rumah ini milik putraku. Taman bunga ini juga milik putraku. Memangnya hanya kau saja yang bisa masuk ke sana?" Nyonya Yin malah membalas pertanyaan Feng Shang dengan pertanyaan yang lain.


Mata Feng Shang sedikit membelalak. Tidak mungkin! Tidak mungkin bunga-bunga ini layu oleh ulah Nyonya Yin!


"Apa yang kalian ributkan?" tanya seseorang.


Di belakang, Shen Yi berdiri dengan wajah khas bangun tidurnya. Rambutnya acak-acakan dan pakaianya kusut. Entah mengapa dia tertidur begitu lama. Dia terbangun akibat suara perdebatan antara ibunya dengan Feng Shang. Padahal mereka ribut di taman bunga, tapi suara mereka sampai ke kamarnya.


"Yi'er, sebaiknya kau ajari perempuan ini sopan santun! Atau tidak, kau usir dia segera!" tegas Nyonya Yin sambil meninggalkan putranya. Shen Yi hanya menghela napas malas.


"Xiao Shang, mengapa ekspresimu begitu suram?" tanyanya.


Feng Shang langsung membawa Shen Yi masuk, mengunci pintu masuk taman bunga dan menutup gorden. Shen Yi mengerutkan dahinya karena terkejut sekaligus penasaran. Dia melihat Feng Shang berjalan terburu-buru dan seperti sedang menutupi sesuatu. Jika tidak, tidak perlu sampai seperti ini, bukan?


"Mengapa bunga-bunga ini layu?"


"Ibumu yang melakukannya," jawab Feng Shang.


"Apa maksudmu?"


"Bunga yang tumbuh dan mekar dengan kekuatan spiritual tidak akan layu meski tidak disiram air. Bunga ini hanya akan layu jika sesuatu yang mengandung hawa iblis menyentuh permukaan daun atau kelopaknya," terang Feng Shang. Shen Yi masih tidak mengerti.


"Maksudmu, ibuku punya hawa iblis?" tanya Shen Yi. Feng Shang tidak menjawab, ia sendiri tidak yakin.


"Ahahaha... Xiao Shang, apa kau terlalu khawatir akan hawa iblis itu? Ibuku hanya manusia biasa. Tidak mungkin dia mempunyai hawa iblis. Mungkin ini hanya kebetulan saja."


Feng Shang sungguh berharap ini sebuah kebetulan. Namun, tidak peduli sekeras apapun ia meyakinkan diri, ia masih tidak bisa mempercayainya. Bunga-bunga ini punya akar spiritual, tidak mungkin layu sembarangan.


"Kuharap juga begitu," ujar Feng Shang. Dia lantas mengeluarkan sihirnya untuk membuat bunga-bunga itu kembali mekar.


"Sudahlah. Kau beristirahatlah. Aku masih harus pergi. Jangan terlalu perhitungan dengan ibuku. Kalau kau mau marah boleh, tetapi jangan sampai kau membuatnya terluka," ucap Shen Yi.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Karena dia hanya ada satu. Aku tidak bisa menemukannya lagi jika ibuku mati."


Feng Shang kembali mengunci area taman bunga setelah Shen Yi pergi. Dia membiarkan tubuhnya diselimuti cahaya biru yang hanya bisa dilihat oleh seseorang yang punya kekuatan spiritual. Sementara itu, Nyonya Yin hanya mendengus melihat Feng Shang duduk seperti pengangguran di tengah taman bunga.


***


"Tuan, Pengurus Utama mengatakan kalau selama beberapa minggu terakhir, Nyonya Besar selalu kedatangan seorang tamu. Tamu itu seorang biksu muda yang tampan. Mereka biasanya berbincang beberapa jam, kemudian kembali bertemu satu atau tiga hari setelahnya. Setiap kali selesai bertemu, Nyonya Yin selalu membahas Tuan di setiap waktu dan memutuskan datang kemari." Zhang Bi menuturkan penjelasan dari informasi yang didapatnya dari pengurus utama Kediaman Shen di luar Kota Cheng pada Shen Yi.


"Selidiki latar belakang biksu muda itu!"


"Tuan, saya sudah menyelidikinya. Silakan kau lihat," ucap Zhang Bi. Dia menyodorkan beberapa lembar informasi yang didapatnya kepada atasannya. Shen Yi langsung melihat dan membaca laporan-laporan tersebut.


Berdasarkan informasi di sana, Shen Yi akhirnya mengetahui siapa biksu muda yang selalu menemui ibunya itu. Dia adalah seorang biksu dari sebuah kuil di pinggiran kota. Kuil itu selalu disuplai makanan dan kebutuhannya oleh Perusahaan Xiang, karena leluhur Keluarga Xiang pernah diselamatkan oleh biksu leluhur kuil tersebut. Hubungan mereka yang baik sudah berlangsung selama beberapa generasi.


Mungkin saja biksu tersebut adalah utusan yang dikirimkan Xiang Sun untuk memata-matai keluarganya. Mungkin juga biksu itu diutus untuk mempengaruhi ibunya. Jika tidak, tidak mungkin ibunya begitu membenci Feng Shang bahkan sebelum mereka bertemu. Xiang Sun ingin menggunakan ibunya untuk menyingkirkan Feng Shang dari sisinya, kemudian dia akan mengambil Feng Shang darinya.


Dia tidak akan pernah membiarkan keinginan Xiang Sun menjadi kenyataan! Bagaimanapun, selamanya dia tidak akan pernah melepaskan Feng Shang dari sisinya! Dia juga tidak akan membiarkan ibunya menjadi bidak catur Xiang Sun!


"Selidiki kegiatan ibuku selama beberapa hari ini," perintahnya pada Zhang Bi. Zhang Bi mengangguk. Kemudian, ponselnya berdering. Zhang Bi memohon izin sebentar, kemudian kembali dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Shen Yi.


"Tuan, gedung utama konstruksi Liotao runtuh. Kerugiannya mencapai sembilan ratus milyar," jawab Zhang Bi. Gedung yang disebutkan olehnya merupakan sebuah gedung yang akan diresmikan beberapa bulan lagi. Bagaimana mungkin bisa runtuh?


"Selain itu, terjadi pemecatan karyawan besar-besaran di perusahaan cabang," tambah Zhang Bi.


"Bagaimana bisa? Apa mereka sudah menganggapku mati?" ucap Shen Yi marah. Para direktur bodoh itu bertindak sesuka hati dan melangkahinya!


Zhang Bi menatap takut pada atasannya. Jika sudah marah, maka seluruh karyawan di Xize tidak akan ada yang selamat. Apalagi, masalah kali ini terjadi berturu-turut dan perusahaan mengalami kerugian sangat besar. Ia tidak yakin akan ada hari esok untuknya dan juga untuk semua orang di Xize.


"Ambil helikopternya! Aku sendiri yang akan membereskan mereka!" titah Shen Yi. Zhang Bi mengangguk patuh, lalu berlari keluar untuk menjalankan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2