Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 20: Rumah Sakit


__ADS_3

Lorong rumah sakit elit Kota Cheng dikejutkan dengan segerombolan perawat yang mendorong brankar dengan cepat, menerobos kerumunan orang yang tengah menunggu giliran. Suasana pagi yang biasanya masih tampak sepi menjadi ribut.


Sebagian orang yang tahu dari kejauhan segera menyingkir, menghindari tertabrak brankar atau berpapasan dengan perawat yang tengah mendorong brankar tersebut.


Di atas brankar itu, tubuh Feng Shang berbaring seperti tidak bernyawa. Ia ditemukan tidak sadarkan diri jam tujuh pagi ketika Shen Yi baru saja terbangun.


Shen Yi mengira perempuan itu sedang berpura-pura ingin mempermainkannya, namun setelah lima belas menit dibangunkan dia tetap tidak mau membuka mata. Shen Yi mengecek napas dan denyut nadinya, dia menemukan denyutannya begitu lemah dan napasnya begitu rendah.


Shen Yi bukan dokter, jadi dia langsung membawa Feng Shang ke rumah sakit. Saat brankar itu masuk ke ruang IGD, Shen Yi menunggu dengan gelisah di luar. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, memenuhi otaknya, membuatnya semakin gelisah tak menentu.


Mengapa Feng Shang tiba-tiba pingsan di kamarnya?


Padahal, kemarin dia baik-baik saja. Saat Shen Yi mengajarinya pun, perempuan itu tampak sehat, tidak ada tanda-tanda lain yang menunjukkan kondisi tubuhnya sedang melemah selain umpatan dan gumaman kesal yang terlontar dari mulutnya. Tidak mungkin jika dia kelaparan juga, karena Shen Yi sudah menyediakan banyak makanan di dapurnya.


Mungkinkah dia terkena penyakit misterius?


Pikiran konyolnya tertepis dan terlempar keluar dari kepalanya ketika dokter dan perawat keluar dari ruangan tempat Feng Shang ditangani.


Shen Yi menyerang mereka dengan pertanyaan "Bagaimana keadaannya?" yang justru membuat dokter dan perawatnya kebingungan.


"Kondisinya baik-baik saja. Kami tidak menemukan penyakit atau keadaan darurat di tubuh pasien," jawab dokter. Kini giliran Shen Yi yang kebingungan.


"Apa kau salah memeriksanya?"


Dokter itu menggeleng. Mana mungkin dia berani sembarangan memeriksa. Dia dokter profesional yang tersertifikasi dan telah mendapat banyak penghargaan di dalam dan di luar negeri.


Menyelamatkan nyawa adalah prioritas hidupnya. Dokter itu tidak mungkin salah memeriksa dan berbohong, apalagi di hadapan Presdir Shen, pemilik Perusahaan Xize yang sahamnya juga tertanam di rumah sakit ini.


"Presdir Shen, kami benar-benar tidak menemukan kondisi darurat."


Shen Yi mengabaikan dokter dan perawatnya, lalu menerobos masuk ke dalam IGD. Di brankar, Feng Shang masih tak sadarkan diri. Selang infus menempel di tangan kirinya.


Shen Yi melihatnya dalam jarak yang lebih dekat. Nadi perempuan ini masih lemah dan napasnya belum stabil, mengapa dokter itu mengatakan dia baik-baik saja?


Tiba-tiba, ada perasaan aneh muncul di sudut hatinya yang kecil. Perasaan itu seperti api yang dipantik, membakar tempat di sekitarnya. Shen Yi baru menyadari kalau ia terlalu peduli pada perempuan yang ia anggap bodoh ini.


Hatinya tidak tenang melihat tubuh itu terbaring, tidak seperti biasanya. Shen Yi seperti kehilangan orang yang suka merecokinya selama ini.


Namun, sudut hatinya yang lain berkata sebaliknya. Katanya, ini juga bagus. Setidaknya dia bisa tenang beberapa saat, tidak selalu dipusingkan dengan masalah yang dibuat perempuan ini.


Kedua sisi hati itu saling berlawanan, saling berdebat hingga membuat Shen Yi kesal sendiri. Padahal, hati itu miliknya sendiri, tetapi ia bahkan tidak bisa mengendalikannya.


Shen Yi berbalik hendak memanggil dokter yang lain. Namun, tangannya tiba-tiba seperti dicekal sesuatu dan ia refleks menoleh. Dilihatnya Feng Shang yang sudah membuka mata, menatapnya tanpa sinar mata dan begitu redup.

__ADS_1


Begitu lemah dan tak bertenaga, tidak seperti pancaran mata yang selalu membuat Shen Yi seperti berada di tengah-tengah hamparan es yang banyak.


"Tempat apa ini? Mengapa ada ular tak berwarna di tanganku?" tanya Feng Shang lemah. Suaranya parau dan hampir tidak terdengar jika saja Shen Yi tidak mendekatkan telinganya.


"Kau di rumah sakit," jawab pria bermata indah itu.


"Oh. Siapa yang sakit?"


"Seorang perempuan yang bodoh," ucap Shen Yi.


"Di mana perempuan itu? Apa dia adalah kekasihmu? Atau istrimu? Apa dia akan memarahiku karena tinggal di rumahmu?" tanya Feng Shang beruntun. Shen Yi mengerutkan keningnya, bingung sekaligus heran dengan pertanyaan Feng Shang.


"Apa kebun bungaku masih ada? Semalam aku menggundulinya. Oh, lihat, di atas sana ada galaksi."


Situasinya tidak benar. Shen Yi baru sadar kalau Feng Shang tidak seperti biasanya. Dia aneh. Perkataannya aneh, lebih mirip seperti sebuah racauan yang tidak jelas.


Semakin lama, racauannya semakin banyak dan semakin mengada-ada. Langsung saja Shen Yi memencet bel yang terhubung dengan dokter. Ketika dokter tiba, Feng Shang masih meracau.


"Dia mungkin mengalami gangguan halusinasi," ucap dokter. "Kami akan memberinya suntikan penenang."


Saat dokter hendak menyuntik Feng Shang, perempuan itu langsung berteriak sangat keras, "Benda apa itu?"


"Shen Yi! Jauhkan benda tajam itu! Seumur hidup aku paling membenci jarum! Cepat singkirkan dari hadapanku!"


Perkataan tidak jelasnya tadi hanya sebuah ungkapan yang terlontar tanpa bisa ia kendalikan. Dia tidak gila. Feng Shang hanya sedang kelelahan saja.


"Menurutlah," ucap Shen Yi.


Feng Shang menjentikkan jarinya. Masih ada sisa sedikit kekuatan spiritual untuk menyelamatkan hidupnya dari jarum suntik. Tangan si dokter tiba-tiba bergerak sendiri.


Pada kesempatan itu, Feng Shang memutar jarinya dan tangan si dokter juga ikut berputar searah dengan pergerakannya. Beberapa detik kemudian, jarum suntik berisi cairan obat penenang mendarat di tubuh Shen Yi. Pria itu ambruk setelah obatnya bereaksi.


Dokter dan perawat saling pandang. Kenapa malah Presdir Shen yang terkena suntikannya?


Tidak peduli dengan kebingungan yang dialami oleh kedua petugas medis, Feng Shang melepas selang infusan yang menempel di tangan kirinya. Ia bangkit dari brankar, persis seperti mayat yang baru hidup kembali.


Ditatapnya dokter dan perawatnya, lalu ia beralih menatap Shen Yi yang tergeletak di lantai IGD.


"Oh, sudah tertidur rupanya. Ah, antarkan Presdir Shen kembali ke rumahnya," ucap Feng Shang, meninggalkan sejuta kebingungan akan situasi yang dialami kedua orang itu.


"Presdir Shen? Presdir Shen?"


Si dokter dan perawat memindahkan Shen Yi ke atas brankar, menunggu pria itu siuman dan menerima kemarahan.

__ADS_1


...***...


"Aku ingin mendekatinya."


Ucapan singkat itu terlontar seperti kapas dari mulut Xiang Sun. Reaksi Feng Ling saat itu seperti melihat seorang pecundang melarikan diri. Ucapan yang singkat dan ringan, namun memiliki makna yang lebih dalam ketika ia tahu apa maksud dari ucapan itu. Feng Ling mendecih, menatap remeh pada kekasihnya.


"Bermimpi saja. Teruslah bermimpi sampai kau tidak bisa bangun!" seru Feng Ling sambil menyeruput jus stroberinya.


Pria brengsek ini memang sangat brengsek. Sayangnya, Feng Ling tidak bisa melepasnya begitu saja setelah apa yang ia korbankan selama ini. Xiang Sun memanfaatkannya, Feng Ling juga berbalik memanfaatkannya.


Pertengkaran yang tidak biasa menjadi bumbu pelengkap hidangan yang menyuguhkan romansa asmaranya yang naik turun, sebentar musim semi, sebentar musim dingin, sebentar tanpa musim sama sekali.


Feng Ling menahan emosinya. Wajahnya yang hampir merah masih terpoles bedak tebal dan pemerah pipi. Kekasih brengseknya mengutarakan niat secara terang-terangan untuk mengkhianatinya.


Feng Ling tidak mempermasalahkan ketika pria itu bermain dengan banyak wanita, tetapi tidak dengan yang satu ini. Feng Ling jelas tahu kalau kekasih brengseknya ingin memulai kembali peperangan.


"Kau pikir Feng Shang akan tertarik padamu? A-Sun, ambisimu terlalu besar!" remeh Feng Ling.


Ya, Xiang Sun berkata ingin mendekati kakak sepupunya. Dalam hatinya Feng Ling tertawa sekaligus berteriak. Dia tertawa karena mimpi kekasih brengseknya terlalu tinggi, dia juga berteriak karena nama Feng Shang selalu menghantuinya di mana-mana. Di rumah, di tempat kerja, di kafe, di setiap tempat yang ia kunjungi, nama Feng Shang selalu terngiang-ngiang.


Feng Ling masih tidak suka atas sikap kakeknya yang lebih menyayangi Feng Shang. Mengetahui kekasih brengseknya ingin mendekati wanita itu, Feng Ling otomatis akan berjuang mati-matian untuk mencegah niat kekasihnya terlaksana.


Tidak akan ia biarkan pria brengsek itu mendapatkan apa yang ia inginkan. Bukan ia ingin membantu Feng Shang, Feng Ling hanya tidak suka jika Xiang Sun mendapatkan apa yang diinginkannya.


Sesederhana itu. Tidak peduli bagaimanapun caranya, ia akan pastikan Xiang Sun tidak akan mendapatkan keinginannya.


"Karena itulah aku membutuhkan bantuanmu, Ling'er," ucap Xiang Sun.


"A-Sun, apa kebrengsekanmu masih belum cukup? Sekarang kau berlagak tidak tahu malu juga?"


Xiang Sun tersenyum miring. Feng Ling, kekasihnya itu sudah tersulut emosi. Hubungan tidak sehat ini seharusnya diakhiri sejak lama.


Xiang Sun dan Feng Ling hanya bertengkar setiap bertemu, berbaikan beberapa saat lalu bertengkar kembali. Entah sudah berapa banyak cacian dan makian yang terlontar dari mulut keduanya.


Orang bilang sepasang manusia ini sudah gila. Jika mereka waras, untuk apa mempertahankan sesuatu yang menyakiti diri sendiri seperti ini. Tetapi siapa yang peduli pada hubungan yang pasang surut dan sangat beracun ini. Tidak saling membunuh pun itu sudah untung.


"Bukankah kau menyukai pria brengsek sepertiku?" tanya Xiang Sun sambil menatap lekat wajah Feng Ling.


"Benarkah? Tingkat percaya dirimu tinggi sekali."


Feng Ling dan Xiang Sun saling menumpahkan emosi lewat tatapan. Di kafe yang sudah menjadi langganan mereka, orang-orang menatap dengan malas. Feng Ling keras kepala, tidak akan mengalah pada Xiang Sun yang suka memaksakan kehendaknya.


Pelayan kafe yang kebetulan melintas bergumam, "Kedua orang gila ini mulai lagi."

__ADS_1


...***...


__ADS_2