
Zhang Bi menghela napasnya berkali-kali.
Sembari bersikap patuh seperti biasa, ia tak henti-hentinya menatap atasannya yang duduk termangu sambil memandangi sekantong kepingan perak di meja. Sudah dua jam lamanya ia dipaksa berdiri di depan meja, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Atasannya tidak berbicara sama sekali. Zhang Bi mengeluh karena ia harus menjadi korban pelampiasan emosi atasannya lagi.
Shen Yi tidak peduli pada penderitaan seperti apa yang dialami sekretaris sekaligus asistennya itu. Apa yang penting baginya sekarang adalah mengetahui asal usul kepingan perak ini. S
hen Yi mungkin terlalu konyol karena terus memandanginya selama dua jam. Pria itu masih penasaran mengapa Feng Shang memiliki ini dan bersikap begitu misterius ketika ia tanya.
"Menurutmu, apa kepingan perak ini asli?" tanya Shen Yi.
"Tuan, presdirku yang terhormat, Anda sudah menanyakan itu sepuluh kali sejak dua jam terakhir."
Ya, ia sudah menanyakannya sepuluh kali tetapi masih tidak yakin. Atau mungkin, ia sengaja menanyakannya berulang kali untuk menutupi ketidakpercayaan dan rasa penasarannya yang tinggi. Perak itu perak asli dengan kualitas tertinggi. Zhang Bi sudah memastikannya dengan memanggil ahli perhiasan beberapa saat yang lalu. Jika diuangkan, harganya bisa mencapai ratusan milyar.
"Tidak bisa. Panggil ahli perhiasan terbaik di dunia dan pastikan sekali lagi!"
Zhang Bi mengangguk pasrah. Sikap menyebalkan atasannya muncul di saat yang tidak tepat. Padahal, ia masih punya dokumen penting yang harus ia laporkan. Tetapi melihat kondisinya saat ini, Zhang Bi hanya akan terkena omelannya alih-alih mendapat pujian. Zhang Bi merasa sikap atasannya semakin lama semakin aneh.
"Mengapa Anda begitu tidak yakin?" tanya Zhang Bi.
"Bukan tidak yakin. Aku hanya tidak terima kalau dia lebih kaya dariku."
Jawaban itu sungguh tidak terduga. Konyol bagi seorang presdir sepertinya merasa miskin dan tidak terima ketika seorang wanita lebih kaya darinya, apalagi wanita itu tinggal di rumahnya. Zhang Bi menyerah.
Ia membawa sekantung kepingan perak itu keluar, meninggalkan atasannya yang masih menampilkan ekspresi tidak percayanya. Mungkin, Zhang Bi lebih malas meladeni tingkah aneh atasannya.
Shen Yi tak beranjak sedikit pun. Selesai dengan kepingan perak, ia malah terpikirkan kejadian yang menimpanya saat bertatapan dalam jarak dekat dengan Feng Shang.
Kepalanya tiba-tiba sakit, lalu ia berpikir kalau migrain-nya kambuh. Tetapi setelah dipikirkan, penyakitnya itu sudah tiga tahun sembuh. Sebesar apapun tekanan kerjanya saat ini, penyakit lamanya itu tidak akan kembali dengan mudah.
Selain itu, dia juga melihat perempuan itu kesakitan di dadanya. Tidak mungkin jika hawa dingin yang terpancar ketika mereka saling beradu tatap sampai menjalar ke dalam hatinya dan melukainya.
Juga, ekspresi saat itu tidak dibuat main-main. Itu benar-benar ekspresi sungguhan ketika seseorang menahan rasa sakit yang begitu hebat, yang terasa menusuk hingga ke tulang belulang.
Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?
Sejak ia tinggal bersama perempuan itu, bukan hanya mimpi-mimpi aneh yang datang padanya setiap malam. Kualitas tidur Shen Yi juga malah semakin membaik padahal ia bermimpi aneh. Rumah yang ia tinggali malah terasa lebih nyaman dan lebih menenangkan dibandingkan sebelumnya. Hanya saja pemikirannya belum sampai pada akar permasalahan yang menjadi penyebab mengapa semua itu bisa terjadi.
Atensi Shen Yi teralihkan ketika seseorang masuk ke dalam ruangannya. Jiang Li datang membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani. Wanita itu heran melihat Shen Yi yang biasanya sigap menjadi seperti orang yang sedang linglung. Perlahan, ia tersenyum.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Shen Yi.
__ADS_1
"Tidak biasanya Presdir Shen termenung. Apa kau sedang memikirkan seseorang?"
"Jangan sembarangan!"
Tawa Jiang Li pecah. Rupanya benar, Shen Yi pasti sedang memikirkan wanita itu. Jiang Li menggelengkan kepalanya. Presdir Shen yang terkenal tegas dalam bertindak dan begitu kaku saat berinteraksi dengan wanita memiliki saat yang terlihat konyol seperti saat ini. Jiang Li salut pada Feng Shang yang mampu membuat pria kaku seperti Shen Yi menjadi orang bodoh yang linglung.
Dia saja tidak mampu melakukannya meski sudah berada di dekat pria itu selama bertahun-tahun.
"Ini adalah berkas terkait kontrak kerja sama dengan Lingjing. Oh, aku melihat Direktur Feng naik ke mobil Presdir Xiang tadi," Jiang Li sengaja mengeraskan suaranya dan menekankan kata 'Direktur Feng'. Dengan senyuman khasnya, ia berjalan pergi tanpa menoleh.
"Perempuan bodoh itu sudah bisa bermain-main rupanya!" gerutu Shen Yi.
Shen Yi tersenyum miring. Perempuan seperti Feng Shang mungkin tidak tahu jika dia hendak dimanfaatkan. Orang seperti Xiang Sun, yang sama-sama bergelut dalam dunia bisnis perbankan sepertinya bukan orang yang tulus.
Sama sepertinya, Xiang Sun bukanlah orang suci yang memiliki hati semurni giok. Tangan dan kakinya sama seperti tangan dan kaki Shen Yi, kotor dan banyak dilumuri kelicikan yang sengaja dibuat.
Strategi saingannya boleh juga. Pembatalan kontrak kerja sama mendorong saingannya itu untuk mencari cara lain. Hanya saja dia tidak tahu bahwa Shen Yi selangkah lebih maju daripada Xiang Sun.
Ibaratnya, Xiang Sun baru saja melangkah sementara Shen Yi sudah berlari beberapa ratus meter. Xiang Sun tertinggal, didahului garis startrnya oleh Shen Yi.
Tidak ingin hanyut dalam pemikirannya yang berlebihan, Shen Yi beranjak, mengambil jasnya lalu menyambar kunci mobilnya. Ruang kerjanya mengapa terasa begitu panas sekarang?
...***...
"Seharusnya benda ini bernama bathtub," ucapnya ketika melihat benda putih seperti mangkuk panjang berukuran besar, muat untuk dua orang.
Memang, selama tinggal di bumi, selain saat ia menceburkan diri ke kolam air mancur, Feng Shang belum pernah menyentuh kamar mandi. Ia menggunakan sihir pembersihan untuk membersihkan dirinya karena dianggap lebih praktis dan lebih cepat. Namun, tubuh barunya ini rupanya tidak bisa bertahan hanya dengan sihir pembersihan. Ia harus tetap menyentuh air untuk membersihkan diri.
Jika ada yang mengetahui Maharani Langit tidak mandi berhari-hari, dunia mungkin akan menertawakannya.
Feng Shang menyalakan kran air. Tidak asing baginya karena ia sudah mempelajarinya lewat ingatan orang lain. Bathtube itu perlahan terisi penuh. Feng Shang menambahkan kekuatan spiritual, hingga air itu beraroma sangat harum.
Sia-sia saja ada sabun mandi mahal tersimpan di sana. Feng Shang lebih percaya pada kekuatannya ketimbang menggunakan produk asing yang dibuat manusia bumi.
Ia merendam tubuhnya di dalam bathtub. Sensasi dingin nan menyegarkan masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Aroma air mandi spiritual seperti spa, memanjakan dan begitu menenangkan. Seandainya ini adalah air dari Kolam Tianhui, kekuatannya mungkin bisa pulih lebih cepat.
Mata Feng Shang menatap sebuah botol berwarna hitam yang terletak di dekat wastafel. Botol hitam itu memiliki gambar seorang pria dengan rambut berbusa bertelanjang dada.
Tangannya tergerak mengambil botol dengan sihir, lalu membolak-balikannya. Botol itu adalah shampo khusus yang digunakan Shen Yi untuk keramas. Harganya ratusan Yuan, begitu mahal dan edisi terbatas.
Tanpa menunggu lama, Feng Shang menggunakannya pada rambutnya. Krim shampo yang ia tuangkan setara dengan satu tutup botol, membuat rambut panjangnya dipenuhi busa yang sangat banyak.
__ADS_1
Aromanya memang wangi, tapi tidak sewangi bunga-bunga di Alam Sembilan Langit. Feng Shang hendak membilasnya dengan air, tetapi ia tidak mungkin menggunakan air bathtube yang sudah dicampur kekuatan spiritual untuk membersihkannya.
Feng Shang lalu berjalan merayap menuju kran yang letaknya ada di dekat dinding kaca, yang memisahkan bathtube dengan ruangan mandi lain. Busa di kepalanya semakin banyak, bercampur dengan air. Busa itu turun ke mata, mengenainya dan membuat matanya perih. Feng Shang tidak bisa melihat apa-apa, ia memejamkan matanya.
Seperti orang buta, ia meraba-raba sekitar. Lantai kamar mandi yang licin membuatnya terpeleset dan tanpa sengaja menekan kran shower. Air dari dalam shower itu keluar sangat deras, membasahi tubuh Feng Shang yang kini sudah dipenuhi busa shampo.
"Hujan? Mengapa tiba-tiba turun hujan?"
Feng Shang masih tidak bisa membuka matanya. Ia bergidik saat suhu air yang terpancar perlahan naik. Tubuhnya yang tak ditutupi sehelai benang seketika merasakan panas.
"Hujan air panas? Bagaimana cara menghentikannya?"
Tangan perempuan itu meraba-raba tembok keramik. Matanya perih, ia tidak bisa menggunakan kekuatannya tanpa melihat. Air hujan yang hangat ini terus membasahi tubuhnya, membuat Feng Shang seperti terbakar.
Di Alam Sembilan Langit, ia tidak pernah mandi air panas. Tubuh feniks apinya akan berbalik memancarkan panas jika bersentuhan dengan suhu air yang sedikit tinggi. Jika dibiarkan, Feng Shang bisa terluka.
"Shen Yi! Shen Yi! Cepat tolong aku!" teriak Feng Shang.
Shen Yi yang baru saja sampai di ruang utama langsung terkejut. Teriakan itu berasal dari lantai atas, suaranya milik perempuan bodoh itu. Shen Yi mendapati pintu kamarnya terbuka. Lalu, ia berlari menuju kamar mandi.
Seketika ia membalikkan tubuhnya, tidak ingin melihat lebih lama tubuh Feng Shang yang dipenuhi busa tanpa busana. Sebuah reaksi yang normal ketika melihat seorang wanita berdiri tanpa sehelai benang pun.
Apa dia terlihat seperti orang mesum sekarang?
Feng Shang bergerak seperti orang buta, tidak tentu arah. Ia sungguh sudah tidak kuat menahan panas di tubuhnya yang tersiram shower hangat. Wanita itu tidak menyadari kalau Shen Yi berada di dekatnya, membalikkan tubuhnya ke pintu masuk.
"Ap..Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Shen Yi gugup.
"Hentikan hujan air panasnya!" jawab Feng Shang.
Perempuan bodoh ini! Shen Yi berjalan menyamping menuju kran shower, masih menutup matanya. Shower air panas itu mati. Dia pikir masalahnya sudah selesai.
Namun, siapa yang tahu cara berjalannya yang seperti kepiting dengan mata tertutup malah membuatnya menabrak Feng Shang yang sama-sama masih memejamkan mata. Tubuh Shen Yi menubruk Feng Shang, terpeleset lantai licin lalu keduanya jatuh tercebur ke dalam bathtub.
Busa di tubuh dan kepala Feng Shang langsung hilang begitu jatuh hingga ia bisa membuka matanya. Shen Yi yang ikut masuk ke dalam bathtube mengusap wajahnya yang basah, menahan kekesalan.
Sekarang, giliran mata Shen Yi yang perih. Namun, Feng Shang justru tertegun kala ia melihat tanda teratai berwarna emas yang sama samar-samar kembali terlihat di dahi Shen Yi.
"Feng Shang! Lihat masalah yang sudah kau timbulkan!" seru Shen Yi.
Memanfaatkan kesempatan ketika pria itu mengusap wajahnya, Feng Shang menggunakan kekuatannya untuk mengambil handuk, bergerak cepat menutupi tubuhnya.
__ADS_1
...***...