Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 55: Menghindar


__ADS_3

"Tuan, Nyonya Besar ingin berbicara," ucap Zhang Bi sembari menyodorkan sebuah ponsel kepada Shen Yi.


'Nyonya Besar' yang dimaksud Zhang Bi adalah ibu kandung Shen Yi, Nyonya Yin. Shen Yi melengos, menepis tangan Zhang Bi pertanda bahwa ia tidak ingin bicara. Sudah ia tebak apa yang ingin dikatakan ibunya itu. Pasti soal perjodohan lagi. Shen Yi salah mengira ibunya sudah menyerah mencarikannya istri karena tenang beberapa waktu ini.


"Tapi, Nyonya Besar bilang ada sesuatu yang penting. Tuan, maukah kau berbicara sebentar dengannya?" ulang Zhang Bi. Dirinya tak enak hati jika harus menolak permintaan Nyonya Yin.


"Kalau kau mau, kau saja yang bicara. Kau saja yang jadi anaknya, bukan aku," tolak Shen Yi.


Zhang Bi terpaksa memberitahu Nyonya Yin kalau putranya tidak ingin bicara. Dari seberang sana, suara Nyonya Yin menggelegar seperti marah. Zhang Bi sampai menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Dirinya pasrah menjadi kambing hitam atas perselisihan putra dan ibu tersebut. Beberapa saat kemudian, teleponnya ditutup.


"Apa yang dikatakan wanita cerewet itu?" tanya Shen Yi.


"Nyonya Besar bilang dua hari lagi akan terbang ke Kota Cheng. Dia ingin mengunjungi Xize sekaligus menemui Tuan," jawab Zhang Bi.


"Zhang Bi, atur jadwal perjalanan bisnis ke luar Kota Cheng selama satu minggu!"


Zhang Bi menggelengkan kepalanya. Shen Yi selalu bertindak konyol setiap kali Keluarga Shen ingin bertemu. Entah itu ibunya, ayahnya, kakeknya, atau beberapa anggota keluarga lainnya. Kapanpun dan di manapun, Shen Yi tidak pernah ingin bertemu dengan mereka. Alasannya karena mereka selalu mempertanyakan kapan ia akan beristri. Tidak jarang mereka juga menyodorkan beberapa nama untuk menjadi pendampingnya.


Karena itulah, setiap kali ada anggota keluarganya yang datang ke Kota Cheng, Shen Yi sebisa mungkin menghindar. Ia akan mengemukakakan alasan bahwa ia sangat sibuk dengan perusahaan, padahal ia seorang presdir. Atau, ia akan pergi ke luar kota dan baru kembali saat anggota keluarganya itu pulang ke rumah mereka.


"Tapi, bagaimana dengan Direktur Feng?"


Shen Yi menepuk jidatnya. Oh tidak, dia melupakannya. Perempuan itu tinggal di rumahnya, kalau ibunya datang, permasalahannya akan semakin rumit. Apalagi dia tahu, ibunya tidak menyukai perempuan yang mendominasi seperti Feng Shang. Kalau mereka bertemu, bisa-bisa rumahnya hancur. Keras kepala bertemu dengan keras kepala.


"Aku akan menyuruhnya pulang ke Keluarga Feng."


"Tapi, apa Tuan tidak takut dia marah? Melihat temperamennya, sepertinya dia memilih menghancurkan rumah daripada kembali ke Keluarga Feng."

__ADS_1


Benar juga, pikir Shen Yi. Feng Shang tidak akan mau kembali ke rumah Feng Zheng bahkan jika itu hanya sementara. Perempuan yang menemaninya itu pasti menolak dengan tegas. Feng Shang tidak akan mau meninggalkan rumahnya, yang notabenenya merupakan sumber pemulihan kekuatan untuknya. Rasanya dia sudah sangat terbiasa tinggal bersamanya.


Alasan lainnya karena Feng Ling. Sejak Feng Shang membuatnya cacat dan mengambil darah sucinya kembali, perempuan itu belum menemuinya lagi dan menolak semua kabar tentangnya. Feng Ling seolah menjadi musuh yang tidak perlu didengar kembali kabarnya. Kalau bertemu pun, Feng Shang hanya akan tersulut emosi karena mengingat kembali perlakuan Feng Ling yang mencelakainya dengan hawa iblis.


"Aku akan meminta Jingjing mengatur jadwalnya. Biarkan ia ikut bersamaku," putus Shen Yi.


Shen Yi hanya bisa membawa Feng Shang bersamanya. Bagaimanapun, perempuan itu tidak boleh bertemu dengan ibunya. Shen Yi tidak akan membiarkan Feng Shang terbebani karena kedatangan keluarganya ke rumah. Jadi, ia memutuskan untuk membawa Feng Shang keluar kota.


Shen Yi kemudian menelepon Jingjing dan memintanya agar ia mengatur jadwal untuk Feng Shang. Jingjing sempat bertanya penyebabnya, kemudian Shen Yi menjawab kalau akan ada perjalanan bisnis dan ia ingin Feng Shang ikut bersamanya. Jingjing keberatan karena di Lingjing sendiri sedang sibuk. Ada produk baru yang hendak diluncurkan beberapa hari lagi dan membutuhkan Direktur Feng untuk membuka peresmiannya.


Shen Yi tidak bisa memaksa. Ia mengalah dan tidak jadi membawa Feng Shang. Shen Yi berharap Feng Shang sangat sibuk sampai lupa pulang agar perempuan itu tidak berjumpa dengan ibunya.


Di sisi lain, Feng Shang tengah menandatangani kontrak peluncuran produk baru Lingjing. Jingjing benar, perempuan itu memang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Selesai menandatangani kontrak, Feng Shang membuka laptopnya, mencari email dari perusahaan lain yang belum selesai dibaca.


Pikirannya tidak fokus. Feng Shang membagi konsentrasinya menjadi dua, antara memikirkan cara membasmi iblis dan membangkitkan kekuatan di dalam tubuh Shen Yi serta memikirkan perusahaan. Ia sampai salah membalas email, untung saja Jingjing memeriksanya kembali.


"Direktur Feng, apa Anda ingin beristirahat sejenak? Sepertinya Direktur Feng sedang tidak fokus," tawar Jingjing.


"Oh, baiklah."


Feng Shang melirik Jingjing dan mendapati wajahnya yang menampilkan ekspresi aneh, seolah-olah sekretarisnya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Feng Shang mencium sesuatu yang tidak beres. Ia kemudian bertanya, "Apa yang kau sembunyikan?"


Terkejut dengan pertanyaan tersebut. Jingjing seketika panik. Atasannya mampu menebak kalau ia sedang menyembunyikan sesuatu. Jingjing maju selangkah, ragu-ragu. "Jangan menyembunyikan apapun dariku. Katakanlah," pinta Feng Shang.


"Itu... Tadi Presdir Shen menelepon."


"Apa yang dia katakan?"

__ADS_1


"Dia meminta saya mengatur ulang jadwal Anda. Katanya, Presdir Shen akan ke luar kota selama beberapa hari dan ingin membawa Anda. Tetapi, saya menolaknya karena beberapa hari lagi akan ada peluncuran produk baru dan Direktur Feng harus hadir," jujur Jingjing. Feng Shang seketika menutup layar laptopnya, lalu menatap Jingjing dengan tajam.


"Bukankah aku pernah memberitahumu untuk menanyakan terlebih dahulu keputusanku? Aku juga pernah memberitahumu kalau apapun yang terkait dengan Shen Yi harus segera dilaporkan padaku, bukankah begitu?"


Jingjing mengangguk. Hatinya merasa bersalah karena membuat keputusan tanpa mendisuksikannya dengan Feng Shang terlebih dahulu.


"Saya minta maaf, Direktur Feng."


Feng Shang bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan ruangannya. Jingjing tidak diperkenankan untuk ikut atau bertanya, tetapi ia tahu ke mana atasannya akan pergi. Jingjing lantas merapikan meja Feng Shang dan melanjutkan pekerjaannya yang lain sambil menunggu atasannya kembali dari urusannya.


Feng Shang berjalan menuju parkiran bawah tanah, kemudian melajukan mobilnya dengan kencang. Shen Yi pasti memiliki alasan mengajaknya ke luar kota selama beberapa hari. Ia tidak percaya kalau pria itu akan membiarkannya ikut dengannya dalam perjalanan bisnis Xize. Pasti ada alasan lain di balik ini.


Mobilnya melaju kencang menuju kantor Xize. Sesekali ia melirik jam di tangannya yang menunjukkan waktu istirahat makan siang. Mengingat itu, Feng Shang kemudian berbelok ke sebuah restoran. Beberapa menit kemudian, dia keluar dari sana dengan membawa beberapa kantong kertas berisi makanan yang ia pesan dari restoran tersebut.


Satu kilometer menuju lokasi gedung Xize, jalan raya mulai ramai. Kendaraan-kendaraan memadati badan jalan. Ketika lampu merah menyala, Feng Shang terpaksa ikut berhenti dan menunggu beberapa saat. Saat lampu hijau menyala, kendaraan lain kembali melaju, namun tidak dengan mobil mewah yang ada di depannya. Feng Shang membunyikan klakson berkali-kali, namun mobil tersebut tak kunjung bergerak.


Kesal karena menghalangi jalan, Feng Shang kemudian menabrakkan mobilnya ke mobil tersebut. Merasa mobilnya ditabrak, pemiliknya keluar dengan wajah marah. Feng Shang juga keluar, hendak memarahi si pemilik mobil. Namun, ia berdecak saat melihat wajah si pemilik mobil yang begitu menor. Bahkan lipstik merah menyala di bibirnya digambar sampai ke pipi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya si pemilik mobil.


"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan? Kau menghalangi jalanku!" balas Feng Shang.


Si pemilik mobil yang usianya lebih tua dari Feng Shang menggebrak kap belakan mobil dengan marah. Bisa dilihat bagian belakang mobilnya penyok karena ditabrak mobil Feng Shang. Jika diperhatikan, tampaknya dia bukan perempuan biasa.


"Apa kau tidak bisa bersabar? Aku sedang berdandan sebentar. Haish, anak muda zaman sekarang sangat tidak rendah hati!" ucap si pemilik mobil.


Feng Shang tidak menanggapi. Ia kembali ke mobilnya, kemudian menyalakan mesinnya. Si pemilik mobil yang tidak terima karena ditabrak dan diacuhkan mengetuk-ngetuk kaca mobil Feng Shang, menyuruhnya keluar dan bicarakan masalah ini sampai selesai. Bunyi klakson dari mobil di belakang terus berdengung meminta mereka berdua segera melaju.

__ADS_1


"Wanita cerewet!" gerutu Feng Shang. Ia menjentikkan jarinya, si pemilik mobil berhenti bicara. Si pemilik mobil memegangi lehernya, lalu mangap-mangap karena suaranya hilang.


Feng Shang mengubah posisi mobilnya ke ruas jalan kiri, kemudian melaju kencang meninggalkan si pemilik mobil yang masih berteriak tanpa suara.


__ADS_2