
Di sebuah ruang bawah tanah yang sunyi dan lembab, Xiang Sun mematut dirinya di depan sebuah cermin besar berornamen kayu. Sekilas cermin itu sudah usang, tetapi bayangan yang ditimbulkannya benar-benar luar biasa.
Jika ada yang menyatakan bahwa cermin penyihir putri tidur itu hanya fantasi, maka cermin di hadapan Xiang Sun adalah cermin asli. Dia berbicara di depan cemin itu, seolah bicara pada orang lain. Tatapan matanya yang tajam dan penuh kelicikan terpancar begitu mengerikan. Bayangan di cermin tua itu mengikutinya, menirukan segala pergerakannya.
Ia meraih sebuah buku usang yang kertasnya sudah berwarna cokelat dari dalam sebuah kotak kayu persegi. Xiang Sun tersenyum miring, memikirkan kembali beberapa hal yang ia temui akhir-akhir ini.
Buku itu adalah buku keramat berisi ramalan takdir Klan Feng dari zaman ke zaman. Usianya sudah ratusan tahun, tetapi karena perawatan yang baik dari pemilik sebelumnya, buku itu tetap terjaga kemurniannya. Isisnya adalah tulisan mengenai sejarah dan nasib keluarga bermarga Feng di Kota Cheng.
Xiang Sun mendapatkan buku itu tanpa sengaja. Tujuh tahun lalu, ia tidak sengaja tersesat ke gudang Kediaman Feng saat mengunjungi Feng Ling. Ia menemukan buku tua itu tersimpan di atas sebuah peti yang dipenuhi debu. Karena tertarik, Xiang Sun lantas membuka halaman pertamanya.
Menurutnya, halaman awalnya sangat menarik karena berisi sejarah awal berdirinya Klan Feng. Itu dimulai sejak ratusan tahun lalu. Di sana juga terdapat data mengenai siapa saja musuh Klan Feng dan klan apa saja yang sudah berhasil dimusnahkan.
Semakin ke tengah, isi bukunya semakin tidak dapat dimengerti. Xiang Sun hendak menyimpannya kembali, namun entah mengapa ia membawanya pulang ke rumahnya tanpa sadar.
Pada purnama di bulan kelima lima tahun lalu, Xiang Sun mendadak tidak sadarkan diri di rumahnya. Ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya, lalu mengatakan hal-hal yang tidak ia mengerti. Duplikatnya masuk ke dalam tubuhnya lalu Xiang Sun tersadar ketika sudah dikelilingi banyak pelayan yang mencoba membangunkannya.
Sejak saat itu, secara ajaib dia mengerti isi buku Klan Feng yang sebelumnya tidak ia pahami itu. Ada semacam kekuatan lain yang mengikutinya sepanjang waktu.
Itu berdampak pada perubahan perilaku dan sikap Xiang Sun, terutama terhadap Keluarga Feng. Hubungannya dengan Feng Ling juga mulai tidak benar sejak saat itu.
Duplikat yang ada di dalam dirinya seperti sebuah jiwa yang terkadang muncul tanpa sadar. Xiang Sun sering melakukan sesuatu yang tidak ia sadari, lalu melupakan segalanya.
__ADS_1
Setiap purnama membulat, dia seperti menggila. Seluruh tubuhnya terasa panas terbakar. Dia hanya bisa memadamkannya dengan menyalurkan napsunya. Dalam beberapa tahun, semua pelayan di rumahnya mengundurkan diri, lalu menghilang tanpa jejak.
Dari buku Klan Feng, ada sebuah ramalan yang mengatakan bahwa pada suatu hari nanti, Keluarga Feng yang bertahan lama di Kota Cheng akan mendapatkan anugrah. Anugerah itu berupa kekayaan dan kejayaan sepanjang hayat, yang bisa diwariskan turun temurun.
Tetapi yang benar-benar dipedulikan oleh Xiang Sun adalah sebuah ramalan lain, yakni Keluarga Feng akan memiliki keturunan berdarah suci, yang dititiskan langsung dari dewi di langit.
Awalnya Xiang Sun tidak percaya dan menertawakan ramalan konyol ini. Menurutnya, mana ada dewi di langit. Leluhur Klan Feng terlalu mengada-ngada. Dunia ini mempercayai teknologi dan kekayaan. Sama sekali tidak ada darah suci atau apapun.
Namun, kemudian Xiang Sun bertemu kembali dengan duplikatnya di dalam mimpi. Ia mengatakan bahwa Xiang Sun harus mempercayai ini, karena di tubuhnya juga mengalir darah yang berlainan sifat dengan darah suci Klan Feng.
Xiang Sun harus mendapatkan darah suci tersebut, memurnikannya dan menggunakannya untuk menyempurnakan kekuatan tersembunyi di dalam tubuhnya.
Duplikatnya juga mengatakan bahwa jika Xiang Sun tidak mendapatkannya, maka ia akan berubah menjadi manusia yang tidak terkendali. Itu terbukti ketika Xiang Sun bertindak gila dan membunuh kakaknya sendiri.
"Feng Ling, apa kau sungguh tidak tahu alasan mengapa aku terus mempertahankanmu?" ucap Xiang Sun di depan cermin. Ia kemudian tertawa sendirian.
Lewat petunjuk dirinya yang lain di mimpi, Xiang Sun akhirnya tahu kalau darah suci Klan Feng menitis pada tubuh Feng Ling. Xiang Sun semakin tidak bisa melepaskannya. Keinginan yang besar dan egois membuatnya menjadi monster di mata Feng Ling.
Ia sendiri merasa aneh mengapa Feng Ling selalu melupakan keinginan berpisah dengannya setiap selesai bertengkar. Mungkin, itu karena efek dari hadirnya 'dirinya' yang lain.
Xiang Sun membeli banyak benda kuno yang katanya memiliki aura magis, menempatkannya di ruang bawah tanah kediaman megahnya. Semua benda itu ia dapat berdasarkan petunjuk dari buku Klan Feng yang berkaitan dengan proses pemurnian jiwa seseorang.
__ADS_1
Selain sejarah dan ramalan, buku itu ternyata memiliki bagian yang membahas perihal ritual tidak masuk akal yang mungkin hanya ada di dalam drama televisi.
"Apa aku harus membunuhnya sekarang?" tanya Xiang Sun pada bayangan dirinya di cermin.
Bayangan di cermin itu bergerak sendiri, seolah dia adalah orang lain. Jika ada yang melihatnya, mungkin akan berpikir itu adalah cermin yang isinya setan.
"Tidak. Wanita itu masih terlalu kecil," Xiang Sun menjawab pertanyaannya sendiri.
Belakangan, Xiang Sun baru tahu kalau cucu pertama Feng Zheng adalah perempuan. Ia tidak pernah tahu kalau Feng Zheng punya cucu kesayangan yang disekolahkan di luar negeri dan menjalankan bisnisnya di sana.
Saat bertemu pertama kali dengan Feng Shang, Xiang Sun merasakan bahwa wanita itu tampak berbeda. Kemudian, duplikatnya memberitahunya bahwa Feng Shang memiliki darah suci yang sama dengan Feng Ling.
Dia jadi berpikir, jika dua wanita Klan Feng yang punya darah suci dimurnikan, akan sebesar apa kesempurnaan yang ia dapatkan?
Oleh karena itu, Xiang Sun berniat mengejar Feng Shang dan mendapatkannya. Setelah dapat, dia akan memurnikannya bersama dengan Feng Ling sesuai petunjuk di buku.
Kebetulan, Feng Shang membuat Feng Zheng membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaannya. Xiang Sun jadi mendapat alasan yang lebih kuat mengapa ia harus menargetkan wanita ini. Ia berencana memanfaatkan mereka terlebih dahulu, lalu menggunakan darah suci mereka untuk menyempurnakan diri.
Jika dipikirkan, memang seperti dongeng. Tetapi hati Xiang Sun sudah terlampau percaya pada perkataan duplikatnya yang bersembunyi di mimpi. Obsesinya berubah menjadi sebuah tinta hitam yang terus menelan kemurnian jiwa manusianya.
Masih mematut diri di depan cermin, Xiang Sun kemudian berkata sambil menyeringai, "Aku akan mendapatkan kalian berdua!"
__ADS_1
...***...