Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 38: Tidak Boleh Mati


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau seorang wanita, mengapa masuk ke kamar mayat sendirian?"


Sosok pemegang tangan itu rupanya Shen Yi. Ia baru saja tiba di rumah sakit ini beberapa menit yang lalu. Shen Yi baru menerima kabar kalau ada seorang karyawan Lingjing yang meninggal misterius. Itulah sebabnya ia ingin menemui Feng Shang dan menanyakan kebenarannya.


Tetapi, perempuan itu bahkan tidak mengangkat teleponnya meski sudah berpuluh kali ia panggil. Shen Yi bergegas kemari setelah ia bertanya pada Jingjing. Tidak disangka, Feng Shang ternyata benar-benar ada di rumah sakit seharian.


Shen Yi tidak habis pikir dengan tingkah perempuan ini. Sebenarnya seberapa besar keberanian yang ia miliki? Atau mungkin, seberapa besar kebodohan yang bersemayam di otaknya itu?


Seorang wanita, pemilik perusahaan besar di Kota Cheng, malah menyelinap masuk ke kamar mayat di tengah malam! Sendirian pula!


Perawat saja perlu ditemani petugas lain jika ingin memasuki kamar mayat. Shen Yi heran mengapa Feng Shang begitu berani melakukan ini sendirian. Ia mengerti korban adalah karyawannya, tetapi urusan seperti itu sebaiknya diserahkan kepada pihak kepolisian dan pihak yang berwenang saja.


"Dia tidak mati karena dehidrasi. Hasil autopsinya salah!" ucap Feng Shang mantap.


"Kau tidak mengangkat teleponku hanya untuk menyimpulkan ini? Feng Shang, aku rasa keberanianmu terlalu besar!"


Hampir saja mereka cekcok jika tidak ingat situasi dan kondisi. Shen Yi terpaksa membawa Feng Shang keluar dari sana, membawanya kembali ke mobil. Ia tidak bisa membiarkan perempuan bodoh itu berada di tempat mengerikan itu lama-lama.


Feng Shang mendengus. Lagipula, ia juga hendak keluar. Ia sudah selesai menyelidiki mayat wanita itu, juga sudah memberikan balasan atas dedikasinya selama ini. Tidak perlu menunggu Shen Yi datang dan memaksanya seperti ini.


"Lain kali jika kau ingin menyelidiki, tidak boleh sendirian! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu?"


Nada bicara Shen Yi terdengar khawatir. Aneh juga, pikir Feng Shang. Beberapa waktu ini, ia dan Shen Yi sepertinya semakin dekat. Meskipun sering berdebat, tetapi itu membuat keduanya dipertemukan dalam berbagai situasi, baik itu di rumah maupun di kantor.


"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Feng Shang polos.


"Tidak," jawab Shen Yi singkat. Namun, wajahnya mengkhianati jawabannya.


Mobil melaju di tengah jalan raya yang sepi. Kecepatannya di atas rata-rata, disebabkan karena jalanan begitu lengang hingga Shen Yi bisa leluasa mengemudikan mobilnya. Saat itu, mungkin sudah pukul satu malam.


"Aku akan meminta mereka mengautopsi ulang mayatnya," ujar Shen Yi. Namun, Feng Shang menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak perlu. Biarkan jenazahnya diambil keluarganya. Aku akan memberikan tunjangan seumur hidup pada mereka sebagai bentuk tanggungjawabku sebagai atasan."


"Mengapa kau begitu yakin kalau itu adalah pembunuhan dan bukan karena dehidrasi?"


"Karena jiwa dan energi wanita itu dikeluarkan secara paksa dan dicuri."


Shen Yi menatap Feng Shang lewat spion depan. Perkataannya begitu tenang tanpa beban. Shen Yi tertawa kecil. Menurutnya itu cukup konyol karena perkataan Feng Shang menunjukkan seolah-olah dunia ini adalah dunia dewa yang bisa mengambil dan menyerap inti jiwa.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Feng Shang heran.


"Kau."


"Apa?"


"Kau pikir ini negeri para dewa? Feng Shang, sepertinya kau tidak boleh terlalu banyak menonton drama fantasi milikku."


Feng Shang ingin kemudian mengganggu konsentrasi Shen Yi dengan mencoba merebut stir mobil. Ia kesal karena pria itu tidak mempercayainya. Efeknya pada laju mobil cukup mengejutkan. Di jalan yang sepi itu, mobil Shen Yi melaju kencang dan berkelok-kelok.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Shen Yi. Ia mencoba fokus dengan memegang erat stir mobil. Tetapi sia-sia saja karena Feng Shang terus menggangunya.


"Feng Shang! Apa kau ingin kita mati bersama?"


"Siapa suruh kau tidak percaya padaku! Kau harus mati dulu baru akan percaya kata-kataku!"


"Feng Shang, kau gila ya?"


Tiba-tiba, sebuah truk bermuatan bahan baku makanan beroda delapan melaju dari arah berlawanan. Bunyi klakson terdengar begitu keras dan berulang. Shen Yi mengucek matanya karena lampu depan truk tersebut menyorot langsung ke mobilnya.


Menyadari ada bahaya yang datang, otak Feng Shang berputar cepat. Ia memaksa Shen Yi memutar stirnya ke kiri, menghindari tabrakan dengan truk tersebut. Memang berhasil, namun masih ada bahaya lain yang mengintai.


Mobil itu sekarang kehilangan kendali. Shen Yi tidak bisa menghentikannya karena remnya tidak berfungsi. Kalau seperti ini terus, mereka mungkin akan mati menabrak mobil yang mungkin datang dari arah berlawanan jika muncul lagi.


"Feng Shang, apa kita akan mati?" tanya Shen Yi panik.

__ADS_1


Feng Shang menepuk jidatnya sendiri. Tidak bisa, Shen Yi tidak boleh mati sekarang. Meskipun Feng Shang tidak takut mati karena tubuhnya abadi, tetapi ia juga merasakan ketakutan itu. Seolah-olah perasaan mereka telah terhubung satu sama lain.


Ia berpikir bahwa Shen Yi tidak bisa mati. Meskipun dia adalah Dewa Agung Yongheng, tetapi kekuatan di dalam dirinya masih tersegel dan belum bangkit. Kalau pria itu mati, maka kemungkinan untuk menemukannya kembali akan sulit. Selain itu, Feng Shang juga tidak akan pernah mengizinkan pria itu mati di hadapannya.


"Inkarnasi Dewa Yongheng benar-benar merepotkan!"


Feng Shang kembali memaksa Shen Yi memutar stirnya ke kiri. Shen Yi berteriak panik karena mereka akan menabrak pembatas jalan yang terbuat dari beton. Apakah ia benar-benar akan berakhir malam ini?


Tepat saat mobil Shen Yi membentur pembatas jalan dengan sangat keras, sepasang sayap feniks milik Feng Shang muncul, membentang melindungi dia dan juga Shen Yi.


Tubuh keduanya terlempar keluar lewat kaca depan yang pecah. Kemudian, Feng Shang memeluk Shen Yi, melingkupkan kedua sayapnya untuk melindungi pria itu. Mereka berdua terlempar sejauh sepuluh meter.


Sayap Feng Shang terkena pecahan kaca dan terseret-seret di aspal. Helaian bulunya yang halus berceceran di sepanjang jalan, bercampur dengan debu. Rasanya sedikit sakit.


Ia meregangkan sayapnya, kemudian perlahan melepaskan pelukannya pada Shen Yi. Pria itu memejamkan mata, menganggap dirinya akan mati dan tidak sadar kalau ia sudah mendarat di aspal dengan selamat.


Dengan sedikit sihir, Feng Shang membuat kecelakaan itu seolah-olah terjadi secara alami. Ia merasa lelah, lalu tergeletak di samping Shen Yi. Saat Shen Yi membuka mata, ia sangat terkejut karena dirinya sudah berada di luar mobil tanpa luka.


"Xiao Shang!"


Shen Yi berseru panik begitu melihat Feng Shang tergeletak di sampingnya. Tangan perempuan itu mengalami memar. Shen Yi tidak sempat memikirkan keanehan itu, ia berpikir untuk menyelamatkan wanita itu terlebih dahulu.


Shen Yi mengodok saku celananya, mengambil ponselnya yang kebetulan tidak hancur. Ia segera menguhubungi Zhang Bi agar menyuruh beberapa bawahan datang ke lokasi kecelakaan.


"Mengapa mereka lama sekali?"


Lima belas menit kemudian, mobil bawahan Shen Yi tiba. Tanpa menunggu lama, ia langsung menggendong Feng Shang dan membawanya ke dalam mobil.


"Lain kali, lebih baik bawa helikopter saja!"


***


^^^Duh, padahal Feng Shang cuma kelelahan aja. Aduh Shen Yi, Shen Yi. ^^^

__ADS_1


__ADS_2