Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 26: Antara Nyata atau Tidak


__ADS_3

Esok paginya, Shen Yi terbangun saat cahaya matahari menerobos lewat kaca yang menutupi bagian atas taman bunga. Pria itu mengucek matanya, tiba-tiba saja hari sudah terang.


Ia terkejut saat melihat detail tempat ia berbaring. Rerumputan hijau, bunga-bunga yang mekar, juga ada semilir angin yang bertiup halus menepuk wajah paginya.


"Kau sudah bangun?"


Feng Shang menyuapkan sepotong apel ke mulutnya ketika tahu Shen Yi sudah terbangun. Feng Shang tidak memindahkan Shen Yi ke kamar, membiarkan pria itu tidur semalaman di taman bunga tanpa selimut.


Ia tak perlu khawatir pria itu akan sakit karena masuk angin, karena formasi di atas rumah ini sudah menghalau hawa dingin dari luar. Bahkan jika tidur tanpa busana pun, tidak akan apa-apa.


"Mengapa aku tertidur di sini?" tanya Shen Yi kebingungan. Seingatnya, semalam ia tidur di ranjangnya yang besar dan empuk.


"Kau tidur sambil berjalan. Apa kau tidak menyadarinya?"


"Aku tidak punya gangguan tidur sambil berjalan. Feng Shang, apa kau mengerjaiku lagi?" tanya Shen Yi curiga.


"Untuk apa aku membuang tenaga untuk mengerjaimu?"


"Bukankah kemarin kau mengerjaiku? Aku tidak percaya!" tegas Shen Yi. Ia yakin perempuan ini yang memindahkannya.


"Hei, Tuan Shen Yi yang bodoh, apa menurutmu perempuan bertubuh kecil sepertiku mampu mengangkatmu dari lantai atas menuju taman bunga? Terserah jika kau tidak percaya," tukas Feng Shang, berpura-pura kesal. Padahal, ia tertawa dalam hati melihat kebingungan Shen Yi.


"Benar juga. Tubuhmu kecil dan tidak bertenaga. Mana mungkin kuat mengangkat tubuhku," ucap Shen Yi.


Ia meregangkan tubuhnya. Ototnya terasa pegal. Feng Shang mungkin benar, ia tidur sambil berjalan. Shen Yi tak melihat ekspresi bohong di wajah perempuan yang terkadang sangat dingin itu. Shen Yi merebut garpu Feng Shang, lalu menyuapkan sepotong apel ke mulutnya. Samar-samar ia seperti mengingat sesuatu.


"Sepertinya semalam aku bermimpi bertemu malaikat," ucap Shen Yi tanpa sadar.


"Malaikat? Malaikat seperti apa?"


"Entahlah, aku tidak mengingatnya dengan jelas. Tapi, ia punya sepasang sayap berwarna biru yang sangat indah."


Feng Shang berpura-pura tak tahu. Konyol sekali, pikirnya. Sayap feniks birunya yang paling indah di Tiga dunia dikira malaikat, pemikiran manusia misterius ini begitu sederhana. Feng Shang menanggapi dengan kekehan kecil, yang masih dapat didengar dan dilihat Shen Yi.


"Sayang sekali itu hanya mimpi," ucap Feng Shang.


"Itu lebih baik daripada mimpi-mimpi anehku sebelumnya."

__ADS_1


Shen Yi melirik jam yang telah menunjuk angka delapan. Bagus, dia terlambat satu jam lagi hari ini. Sejak bermimpi aneh-aneh, Shen Yi jadi sering bangun terlambat. Itu juga didukung oleh suasana rumah yang terasa nyaman, seolah-olah ada kekuatan gaib yang melindunginya.


Shen Yi hanya tidak tahu kalau suasana nyaman itu tercipta karena banyaknya kekuatan spiritual yang berkumpul lewat formasi.


Untung saja pekerjaan di kantor bisa dihandle oleh Zhang Bi. Saat ini, perusahaan sedang memantau perkembangan investasi di beberapa perusahaan besar di negeri ini.


Biasanya, para direktur dari berbagai perusahaan akan berkumpul di suatu tempat, membahas kerja sama dan pekerjaan. Pada event tersebut, semua orang biasanya menjadi paling sibuk, karena semua laporan harus selesai dengan benar dan tepat pada waktunya.


Kebetulan, acara perkumpulan direktur mitra tahun ini akan dilangsungkan beberapa minggu lagi. Shen Yi mulai mengatur para karyawannya dan para direkturnya. Hari ini seharusnya ia pergi rapat, tetapi tubuhnya terasa pegal.


Shen Yi tidak punya suasana hati yang baik yang bisa mendorongnya pergi ke kantor, meski ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Beberapa hari lagi akan ada pertemuan direktur. Kau juga harus hadir," ucap Shen Yi pada Feng Shang.


"Biarkan sekretarisku saja yang mengatasinya untukku."


"Tidak bisa. Itu adalah pertemuan penting. Kuharap kau tidak membuat masalah dan mengecewakan kakekmu," ujar Shen Yi. Ia melirik Feng Shang yang hanya mengedikkan bahunya.


Feng Shang malah ingin pergi ke acara ulang tahun yang dikatakan kakeknya semalam. Saat ini, mendapatkan bahan-bahan untuk membuat cermin Baihuang lebih penting baginya ketimbang menghadiri acara pertemuan perusahaan.


Feng Shang tidak bisa membayangkan betapa membosankannya acara itu, mungkin seperti acara pengadilan istana yang sering ia lihat di alam manusia. Ia akan menyuruh Jingjing mewakilinya.


"Shen Yi," panggilnya.


"Ya?"


"Apa kau adalah manusia?" tanya Feng Shang.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu?"


"Ah, maksudku, apa keluargamu adalah orang-orang terkenal?" tanya Feng Shang. Ia lupa kalau di dunia ini tidak ada makhluk lain selain yang terlihat oleh mata.


"Ya. Ayahku pengusaha, ibuku seorang model. Kenapa kau penasaran?"


"Apa kau tidak pernah mendengar cerita tentang leluhurmu?"


Shen Yi mengernyit. Orang yang sudah meninggal untuk apa ditanyakan?

__ADS_1


Ia menggelengkan kepalanya. Orang tuanya tidak pernah mengatakan seperti apa leluhur mereka. Shen Yi sejak kecil sudah hidup mandiri, sudah tinggal sendiri di apartemen dan menjadi direktur dengan kerja kerasnya sendiri. Walaupun Xize didirikan oleh kakeknya, tetapi Shen Yi tidak pernah menerima posisi itu hanya dengan mengandalkan status di keluarganya.


Ia seorang yang terbilang anti bergaul. Sejak pisah rumah, Shen Yi jarang berkumpul dengan keluarga. Jadi, ia tidak punya waktu dan kesempatan untuk mengetahui cerita tentang leluhur di keluarganya. Mungkin saja kesempatan dan waktu itu ada, tetapi Shen Yi melewatkannya hingga ia tak tahu apapun.


Feng Shang mengangguk mengerti. Ia kira pertanyaan ini terlalu frontal. Orang modern seperti Shen Yi mana mungkin peduli dengan leluhur yang hidup di masa lalu. Bisa saja ia peduli, tetapi hanya sebatas tahu dan mengingat saja. Tidak mungkin sampai menelusuri jejak bagaimana keturunannya bertahan hingga saat ini.


"Kupikir kau tahu," ujar Feng Shang.


"Mungkin saja leluhurku juga orang terhormat. Apa mungkin mimpiku semalam juga ada hubungannya dengan itu? Feng Shang, coba kau pikirkan, mungkinkah leluhurku adalah keturunan ningrat?"


Feng Shang tersedak. Ia pikir Shen Yi sudah melupakan kejadian semalam. Padahal pria itu sendiri yang mengatakan kalau itu hanyalah sebuah mimpi. Sungguh tidak disangka seorang Shen Yi ternyata juga memikirkan kejadian aneh yang memang lebih mirip disebut mimpi itu.


"Kau hanya mimpi. Tidak ada kepastian bahwa itu ada kaitannya dengan leluhurmu," tukas Feng Shang. Setelah itu, ia pergi ke dapur untuk menyimpan piring buah yang isinya lebih cepat habis dari biasanya. Sementara itu, Shen Yi hanya menatap punggung perempuan itu dengan malas.


...***...


Ruangan Presdir Xiang diselimuti hawa mencekam yang berasal dari sang pemiliknya. Sejak beberapa jam yang lalu, Xiang Sun marah-marah dan melempar semua dokumen laporan perkembangan saham di berbagai perusahaan yang bekerja sama dengan Xiang. Sekretaris dan beberapa direktur menjadi sasaran kemarahan sang presdir yang meluap-luap seperti lava panas dari gunung berapi.


Xiang Sun mencak-mencak karena laporan-laporan itu membuatnya begitu emosi. Bagaimana tidak, dalam waktu sebulan, tidak ada perkembangan signifikan dari perusahaan yang diajak kerja sama, hingga laba yang dihasilkan juga tidak meningkat dan cenderung pasif. Target yang dicanangkan olehnya selama beberapa waktu ini jadi tidak tercapai.


"Tidak berguna! Jika kalian tidak sanggup bekerja, pergi saja! Aku tidak butuh orang bodoh yang lamban seperti kalian! Menganalisis peluang saja salah, apa kalian ingin aku bangkrut, hah?"


Beberapa direktur yang ada di ruangan menundukkan kepala. Xiang Sun yang seperti ini sangat menyeramkan. Temperamennya memang buruk, seringkali marah karena hal sepele. Menurut mereka, kejadian seperti ini merupakan hal lumrah dalam bisnis investasi. Presdir mereka saja yang terlalu berekspektasi tinggi.


"Apa sudah ada kabar dari Lingjing?" tanya Xiang Sun pada sekretarisnya. Sekretarisnya menggelengkan kepala, hingga Xiang Sun menggertakkan giginya.


Kemarahannya kian memuncak tatkala ia ingat kekalahan saat bertaruh harga cermin Baimeng dengan Feng Shang. Xiang Sun juga marah saat gadis itu menolaknya dengan tegas.


Bayangan yang bersembunyi di dalam dirinya sempat muncul di mimpi dan mengatainya tak berguna. Itu membuat Xiang Sun tersulut, merasa direndahkan dan tidak terima.


Meskipun Feng Shang menolaknya dengan tegas, Xiang Sun bersumpah tak akan menyerah. Ia pasti akan mendapatkan wanita itu, lalu memurnikannya bersama-sama dengan sepupunya. Setelah itu, ia bisa mendapatkan perusahaannya. Sekali tepuk dua lalat mati, pikirnya.


"Keluar!"


Suasana mencekam itu berakhir ketika Xiang Sun menyuruh semua orang pergi. Xiang Sun menggebrak meja, melampiaskan kemarahan yang masih tersisa. Ia pikir sudah saatnya ia menjalankan rencananya untuk mendapatkan Feng Shang. Hati Xiang Sun sudah gerah dan tak tahan.


Karena Feng Shang menolak dengan tegas dan menunjukkan keengganannya, maka Xiang Sun akan menyerang dengan terang-terangan. Tidak peduli akan seburuk apa reputasinya kelak, tidak peduli seberapa besar pertengkaran yang akan terjadi antara dia dengan Feng Ling nanti, Xiang Sun akan tetap menjalankan aksinya. Lagipula, ia bukan orang yang memedulikan gosip.

__ADS_1


Xiang Sun menelepon seseorang, lalu memberi perintah, "Kirimkan ke kantor Lingjing sekarang."


...***...


__ADS_2