Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 67: Menemui Roh Langit


__ADS_3

Alam Ketiadaan bergejolak. Semua inti-inti jiwa yang sebentar lagi akan musnah beterbangan tak tentu arah. Roh langit Dewa Chang Yuan sebagai penguasa Istana Ketiadaan merasakan sebuah getaran spiritual yang begitu dahsyat. Lamat-lamat, dia tersenyum di atas singgasananya, mengusap janggut putihnya yang panjang.


Seorang pemuda kemudian berjalan memasuki aula utama Istana Ketiadaan dengan bingung. Saat matanya menemukan sesosok manusia dengan cahaya duduk di atas singgasana, keningnya mengernyit. Pemuda itu mendekatinya, sampai ia benar-benar sampai di depannya. Ia semakin bingung tatkala orang yang duduk di singgasana itu tersenyum padanya.


"Rupanya kawan lama," ucap Dewa Chang Yuan. Si pemuda semakin kebingungan.


"Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?" tanya pemuda itu. Dewa Chang Yuan tertawa.


"Pertemuan kita jauh lebih tua daripada umur dunia. Ah, rupanya takdir telah menuliskan kembali garis hidupmu dengan jalan yang berbeda," jawab Dewa Chang Yuan.


"Apa kau telah menemukan sesuatu yang tidak pernah kau temui selama hidupmu?" tanyanya.


"Sesuatu yang tidak pernah kutemui?" Pemuda itu berpikir. Apa maksudnya? Jika sesuatu yang tidak pernah dia temui telah ditemukan, maka hanya ada satu jawaban: Feng Shang dan segala tentangnya.


Namun, ia sendiri bingung. Seingatnya dia sedang duduk di samping Feng Shang, melihat keajaiban sihir perempuan itu. Ketika ia membuka mata, dia tiba-tiba ada di sini. Ini seperti sebuah alam yang tidak pernah ada, sebuah alam yang tidak pernah terbayangkan dalam benak manusia. Lalu, ia semakin dibuat bingung dengan perkataan pria tua di singgasana itu, yang berbicara seolah-olah keduanya telah saling mengenal sejak lama.


"Tempat apa ini?" tanya Shen Yi, memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Dewa Chang Yuan.


"Alam Ketiadaan," jawab sang dewa.


"Apa ini bagian dari alam dewa yang diceritakan Xiao Shang?"


Roh langit Dewa Chang Yuan menggelengkan kepala.


"Alam ini tidak dapat dimasuki oleh makhluk apapun yang masih memiliki inti jiwa hidup. Selain Maharani Langit yang ditakdirkan, tidak ada dewa yang mampu masuk kemari," ujar Dewa Chang Yuan.


"Lalu mengapa aku bisa masuk kemari? Bukankah hanya Xiao Shang yang bisa? Mengapa aku ada di sini?"


"Karena takdir. Tidak ada makhluk yang mengetahui takdirnya dengan pasti. Shen Yi, kau memiliki kasih sayang yang tak terbatas pada dunia, dan itu akan menjadi gerbang untuk menemukan kembali jalan pulang."


"Jalan pulang? Rumahku ada di bumi, ke mana lagi aku bisa pergi?"

__ADS_1


"Apa kau tidak menyadari ikatan takdir yang terjalin antara kau dan Maharani Feng? Dia ada karena kau ada. Dia datang karena sebagian inti jiwanya telah terikat takdir dengan inti jiwamu di bumi. Kau tahu apa artinya?"


"Tidak."


"Memang seperti Dewa Agung Yongheng, begitu sama persis. Ketahuilah, jalan hidupmu sebenarnya lebih panjang dari yang kau bayangkan."


"Siapa Dewa Agung Yongheng? Apa hubungannya denganku? Lalu, siapa sebenarnya kau?"


Dewa Chang Yuan tidak akan menjawab pertanyaan Shen Yi. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya sudah ada jawabannya jika Shen Yi bisa membacanya sejak awal. Seharusnya pria itu mengerti alasan mengapa Feng Shang ada di sisinya, dan mengapa ia begitu terikat dengan perempuan itu. Andai dia bisa mengaitkan mimpi-mimpinya setelah kedatangan Feng Shang, dia tidak akan sebingung ini.


Belum tuntas rasa penasarannya, sebuah kabut putih yang tebal tiba-tiba menyelimuti Istana Ketiadaan. Tubuh Shen Yi digulung kabut, lalu menghilang dalam sekejap mata. Dewa Chang Yuan tersenyum, menatap hilangnya sahabat lamanya dengan tatapan senang. Entah permainan takdir seperti apa lagi yang akan dialami olehnya. Ratusan ribu tahun seperti satu hari, membawa ingatan masa lalu ketika tubuh aslinya masih hidup dan Alam Sembilan Langit masih di bawah kepemimpinannya.


"Kuharap semuanya segera berakhir," gumam Dewa Chang Yuan. Setelah itu, dia memejamkan matanya, kembali memusatkan pikiran dan bersemedi. Alam Ketiadaan menjadi damai seperti sedia kala.


***


Yongheng terbangun di tengah malam yang sunyi. Di dalam kamar yang cukup luas itu, dia menatap langit-langit dengan aneh. Dia bingung atas mimpi yang baru saja menyambangi tidurnya. Ada ingatan yang sepertinya bukan miliknya datang padanya, namun ia tidak tahu itu milik siapa.


Ada apa ini sebenarnya?


Yonghen kemudian memutuskan untuk menanyakannya pada maharani. Dia menuruni tangga, lalu menemukan Feng Shang yang tengah duduk di taman bunga sambil memejamkan mata. Maharani tengah bermeditasi dan memulihkan diri, setelah bertarung melawan Raja Iblis Xiang Sun yang kabur. Aura spiritual mengelilinginya, sangat kuat dan dipenuhi cahaya biru.


Kehadirannya membuat Feng Shang membuka matanya. Ia menatap Yongheng sejenak, lalu menghentikan meditasinya. Tengah malam begini, mengapa pria itu datang padanya?


"Jika kau datang untuk bertanya tentang Shen Yi, maka kembalilah. Aku tidak akan menceritakannya padamu," ucap Feng Shang.


"Tidak, bukan itu. Aku tidak akan bertanya tentangnya, karena mungkin itu bisa membuatmu marah. Aku kemari karena suatu mimpi yang aneh dan ingatan yang bukan milikku," ujar Yongheng.


"Katakan."


"Aku melihat diriku dalam versi lain memasuki Alam Ketiadaan."

__ADS_1


Feng Shang agak terkejut.


"Alam Ketiadaan? Mengapa kau ada di sana?"


"Entahlah. Sepertinya aku berbicara tentang sesuatu pada Dewa Chang Yuan, tetapi aku tidak dapat mengingatnya. Aku merasa diriku yang lain ada di sana. Lalu, ada ingatan lain yang datang menghampiriku," terang Yongheng. Feng Shang memejamkan mata sesaat. Mungkinkah itu Shen Yi?


"Aku merasa aku adalah orang itu - Shen Yi, sebelum ini. Ada beberapa kilasan tentangnya melintas dalam ingatanku," tutur Yongheng.


"Alam Ketiadaan hanya bisa dimasuki oleh Maharani Langit yang ditakdirkan, pemilik jiwa murni dan darah suci. Maharani Feng, apa kau tahu mengapa aku bisa masuk ke sana?"


"Tidak. Itu hanya mimpimu," tukas Feng Shang. Dia tidak ingin membahasnya lebih jauh. Baginya, misteri seperti itu tidak akan ada jawabannya. Itu hanya akan selesai jika tugasnya di bumi sudah tuntas.


"Aku juga berpikir begitu. Tetapi, jika benar Shen Yi adalah diriku sebelum ini, mengapa kau membangkitkanku? Bukankah kau bisa tetap bersamanya jika kau tidak membangkitkanku?"


Feng Shang mendengus. Kapan dewa yang satu ini akan mengerti? Jelas-jelas ia sudah memberikan jawabannya. Tugas, itu karena tugas. Dunia terlalu penting, tidak mungkin ia hanya berpangku tangan dan menikmati hidup bersama seseorang yang mengisi hidupnya.


"Bodoh," ucap Feng Shang.


"Ah?"


"Bukankah aku sudah memberitahumu alasannya?"


Yongheng terdiam. Benar, Feng Shang sudah memberinya jawaban beberapa waktu lalu. Dunia terlalu penting. Dia memilih menanggung sakit untuk tanggungjawab ketimbang kebahagiaan dirinya sendiri. Hanya saja, hanya saja hati Yongheng tidak enak setelah mendengar ini. Dia seperti seorang penjahat yang merenggut sesuatu yang berharga dari korbannya.


Sebagai dewa agung yang lahir dari kekuatan alam, melindungi dunia memang tanggungjawabnya. Alasan ia mengorbankan diri dan mati saat itu juga untuk ini. Namun, Yongheng sama sekali tidak menyangka kalau kebangkitannya untuk melawan kembali Raja Iblis harus ditukar dengan kehidupan seseorang, seseorang yang begitu penting bagi seorang dewi agung seperti Maharani Langit.


"Jangan bertanya lagi. Bantu aku mencari jejak keberadaan Xiang Sun," ucap Feng Shang. Dia kembali bermeditasi sambil mencari keberadaan Xiang Sun dengan kekuatannya. Raja Iblis itu telah menghilang tanpa jejak saat kepulan asap mengepung dia dan Yongheng di ruang bawah tanah.


Yongheng menatap Feng Shang sangat dalam. Sosok maharani yang tampak agung, sebenarnya hanya wanita yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia menutupinya dengan sikap dingin dan mendominasinya, bersikap seolah-olah dia tegar dan hatinya begitu keras. Yongheng semakin tidak enak hati, namun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Kebangkitannya membawa kekuatan besar, dan bahaya di dunia ini belum selesai diatasi.


Yongheng mengikuti Feng Shang, bermeditasi dan memulihkan diri. Dia juga sedang berusaha mencari keberadaan Raja Iblis Xiang Sun.

__ADS_1


"Maharani, aku tidak akan mengecewakan pengorbananmu," gumam Yongheng.


__ADS_2