
Raja Laut Utara, Dewa Sui Jian mendatangi Istana Laut Timur beberapa hari setelah Yongheng tiba. Dia meminta penjelasan atas hukuman putrinya, Sui Jin yang dijadikan pelayan pembantu di Kuil Yue Lao selama lima ratus tahun oleh Maharani Feng. Dewa Sui Yang sudah menjelaskannya, namun ayahnya itu bersikeras tidak percaya dan malah mendatangi Istana Laut Timur.
Yongheng sebagai penguasa Laut Timur lantas menjelaskan bahwa itu benar adanya. Sui Jin dihukum karena menduduki kursi Dewa Agung dan tidak mau mengaku salah. Bahkan di hadapan Feng Shang, Sui Jin begitu keras kepala. Ia sendiri tidak bisa membantu karena Feng Shang memiliki kuasa menertibkan dewa-dewi. Dewa Sui Jian tidak terima, lalu malah memarahi Yongheng di hadapan dewa-dewa Laut Timur.
"Kau hanyalah penguasa baru. Mengapa begitu sombong sampai tidak mau membantuku?" tanya Dewa Sui Jian dengan emosi. Bagaimana tidak, Sui Jin adalah putri semata wayangnya yang sangat disayangi. Umurnya memang terbilang masih belia, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memberinya hukuman yang tidak masuk akal ini. Bagaimana mungkin seorang putri Laut Utara menjadi pelayan dewa tua? Jelas harga diri Laut Utara dilukai atas hukuman ini.
"Jika kau tidak menerimanya, pergi sendiri ke Istana Langit. Temui Maharani Feng dan minta keadilan padanya," ucap Si Yun, pelayan dewa baru Yongheng.
"Heh, begitu sombong? Laut Utara tidak akan terima jika putri kerajaannya dihukum seperti itu. Di mana letak harga diri kami?"
"Dewa Sui Jian, itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh Putri Sui Jin. Dia sendiri yang bersalah dan membuat Maharani Feng marah. Seharusnya kau pergi ke Istana Fengyun saja, mengapa malah memarahi Dewa Agung Yongheng?"
Agaknya, Dewa Sui Jian belum tahu banyak perihal Yongheng. Dia pernah mendengar kabar kalau ada seorang dewa agung yang baru bangkit, namun tidak tahu di bagian langit yang mana. Mendengar Si Yun mengucapkan Dewa Agung Yongheng, Sui Jian seketika terdiam. Kakinya seperti dipaku di tempatnya berdiri, dan wajahnya begitu menampakkan kekhawatiran.
Orang-orang yang ada di Aula Istana Laut Timur semuanya memperhatikan Sui Jian. Bagaimana bisa seorang Raja Laut Utara yang terkenal penyabar menjadi begitu arogan di hadapan Dewa Agung Yongheng? Tidakkah dia menyadari posisinya yang berada jauh di bawah Yongheng? Sui Jian hanya Raja Laut Utara, bukan seorang dewa agung. Ia harusnya berpikir ribuan kali untuk berbicara kepada Yongheng.
Yongheng menggelengkan kepalanya pelan. Ketenangannya begitu mempesona, apalagi saat dia menyeduh teh dengan santai ketika Sui Jian mencak-mencak lalu terdiam setelah mendengar namanya. Di zaman dewa kuno, tidak banyak dewa yang menjadi penguasa wilayah, namun tidak bodoh seperti Sui Jian. Ia heran mengapa orang dengan temperamen aneh seperti Sui Jian bisa bertahan puluhan ribu tahun di atas takhta Laut Utara.
"Kau sudah selesai bicara?" tanya Yongheng tenang. Auranya kini mendominasi.
"Dewa Agung, kau Dewa Agung Yongheng?"
"Ya."
Seketika Sui Jian langsung berlutut. Sungguh, dia menyesali kebodohannya yang tidak tahu apa-apa. Seharusnya dia meminta informasi jelas sampai ke akar sebelum datang kemari. Sui Jian hanya berpikir kalau dewa agung yang baru bangkit itu memang ada di Laut Timur, tapi tidak berpikir bahwa dewa itu sendiri adalah penguasa Laut Timur yang sebenarnya. Beberapa waktu lalu ia sempat mendengar kabar kalau takhta Laut Timur sudah dikembalikan kepada pemiliknya, dan dia berpikir mungkin penggantinya hanyalah keturunan Raja Laut Timur sebelumnya. Karena selama puluhan ribu tahun ini, takhta Laut Timur dipegang oleh wali dari Istana Langit.
"Kau masih ingin aku memintakan keadilan atas putrimu?" tanya Yongheng sekali lagi.
"Aku tidak berani. Harap Dewa Agung memaklumi kecerobohan dewa tua yang tidak tahu apa-apa ini," ucap Sui Jian dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Usiaku bahkan jauh lebih tua darimu. Sui Jian, Istana Laut Timur bukan tempat yang bisa sembarangan kau datangi. Apa kau mau memulai perang?"
"Sungguh, aku tidak berani." Kali ini, Sui Jian sudah sepenuhnya bersujud. Aura keagungan Yongheng menguar, membuat dewa-dewa bawahannya terkesima. Ini pertama kalinya mereka melihat kemarahan Dewa Agung Yongheng sejak pertama kali bangkit.
"Sudahlah. Kembalilah dan tunggu sampai hukuman putrimu selesai," ucap Yongheng sembari melambaikan tangannya. Dia kemudian pergi meninggalkan singgasananya.
Yongheng mencari tempat bersantai. Seperti biasa, dia kembali menikmati kesendiriannya di sebuah pendopo yang dulu dibangun olehnya sendiri. Ah, itu sudah ratusan ribu tahun yang lalu. Selain beberapa ornamen yang ditambahkan, tidak ada hal lain yang berubah dari pendopo itu. Para pengurus istananya merawatnya dengan baik setelah dia tiada sampai bangkit kembali.
Yongheng menyeduh tehnya sendiri. Layaknya seorang kaisar, dia adalah pria bermartabat yang dipenuhi keagungan. Sui Jian memang membuatnya marah, akan tetapi itu tidak akan berlangsung lama. Entah mengapa pengendalian dirinya menjadi lebih baik akhir-akhir ini. Mungkin karena dia mulai terbiasa dengan dunia barunya, atau karena seseorang yang jauh di sana.
"Apa sebenarnya yang kulupakan? Maharani Feng jelas ada di sana bersamaku. Mengapa dia tidak menyadarinya? Mengapa aku juga tidak merasakannya?" tanyanya pada angin.
Entah sedang apa wanita itu sekarang. Yongheng kembali diusik oleh ingatan samar yang menampilkan kejadian itu. Jelas sekali bahwa mereka berdua sama-sama terlibat, namun seperti sama-sama tidak menyadari dan tidak mengenali satu sama lain. Si Ming tidak mengetahui jawabannya, dan itu membuat Yongheng sedikit frustasi. Dia jelas ingin tahu kebenarannya.
"Feng Shang yang membangkitkanku. Tapi, mengapa?"
Sebelum pertanyaannya melebar ke pertanyaan lain, Si Yun datang kepadanya dan mengatakan bahwa dia mendapat kabar kalau Maharani Feng tidak sadarkan diri. Yongheng mengernyit, lalu menanyakan detailnya. Si Yun lantas menceritakan bahwa pada hari perpisahan itu, Maharani Feng pergi ke kolam langit. Yue Ming mendapatinya tengah menangis dengan tatapan kosong dan dia dibawa kembali ke Istana Fengyun. Setelah direbahkan, Feng Shang tidak sadarkan diri dan sampai sekarang masih dalam proses penyelidikan.
"Berikan kelopak teratai emas kepada Yue Ming. Minta dia menjadikannya sup untuk menyadarkan Maharani Feng," titah Yongheng. Kelopak teratai emas Laut Timur terkenal sangat berkhasiat, dan hanya Dewa Agung Yongheng serta orang yang setingkat dengannya yang bisa menumbuhkannya. Kebetulan, dia menanamnya sebelum pergi ke jamuan langit. Seharusnya sudah tumbuh karena kolamnya dipenuhi aura spiritual.
"Baik, Dewaku."
***
Di Istana Fengyun, Feng Shang diawasi Yue Ming. Wanita itu masih belum bangun, namun kondisinya jelas sangat baik. Feng Shang seperti terjebak di sebuah alam mimpi dan kesulitan untuk bangun. Yue Ming mencoba menyadarkannya, namun kekuatannya tidak sebesar itu. Si Ming mengatakan bahwa Feng Shang mungkin memerlukan waktu untuk memutuskan sikapnya terhadap kembalinya ingatan itu.
Feng Shang mungkin terlalu syok. Yue Ming menyadari kedalaman perasaan dan eratnya ikatan takdir yang melilit Feng Shang dan Yongheng. Seumur hidupnya, dia belum pernah melihat Maharani Langitnya menangis dengan tatapan kosong dan menggumamkan nama orang lain seperti beberapa waktu yang lalu. Bisa dipastikan bahwa ikatan itu telah menyentuh dasar hatinya.
"Dewi Yue Ming, Si Yun dari Laut Timur mengirimkan delapan kelopak teratai emas. Dia berkata bahwa Maharani mungkin membutuhkan ini," ucap pelayan peri. Dia menyodorkan kelopak teratai emas kepada Yue Ming.
__ADS_1
"Mungkin Dewa Agung Yongheng sudah menerima kabarnya. Buatkan sup dan antarkan kemari."
"Baik, Dewi."
Beberapa saat kemudian, pelayan peri itu datang kembali dengan semangkuk sup kelopak teratai emas. Yue Ming perlahan menyuapkannya ke mulut Feng Shang dengan hati-hati. Totem dewi berwarna perak di kening Feng Shang menyalakan cahaya, kemudian perlahan bulu mata Feng Shang mulai bergerak. Yue Ming segera membangunkannya dan membuat tubuh Feng Shang setengah bersandar.
"Kau sudah sadar?"
Feng Shang menghirup udara sejenak. Dia memejamkan mata dalam-dalam, menahan sesak di dalam dadanya.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Hanya dua hari. Apa kau baik-baik saja?"
Feng Shang mengangguk meski keadaannya tidak baik-baik saja. Selama dia tidak sadar, roh langitnya itu kembali menyusuri Alam Ketiadaan dan menemukan semua kehidupan tersembunyi miliknya di sana. Kenyataan bahwa dia memiliki ikatan dalam dengan Yongheng membuatnya harus berpikir berulang kali. Hubungan ini dimulai di bumi, dan telah berakhir di bumi. Akan tetapi, entah mengapa rasanya dia tidak rela meski dia sendiri yang mengakhirinya.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Si Ming memberitahuku kalau kau tidak pergi ke alam fana, tapi ke dunia lain. Kebangkitan Dewa Agung Yongheng berhubungan erat dengan penebusanmu."
"Aku tahu. Hanya saja aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Yongheng... Tidak, dia adalah Shen Yi."
"Yongheng atau Shen Yi, keduanya orang yang sama. Maharani, aku rasa pola takdirmu adalah yang paling misterius di Tiga Alam."
Itu terdengar seperti keluhan yang sangat indah. Ya, Feng Shang juga merasa begitu. Dia membangkitkan Yongheng dengan mengorbankan Shen Yi, seorang manusia fana yang memiliki kesadaran dewa samar-samar. Dia mengorbankan perasaannya sendiri untuk menyelamatkan bumi dan membasmi Raja Iblis yang entah mengapa bisa ada di sana bersama mereka. Benang takdirnya kusut dan tidak teruraikan.
"Kisahku sudah berakhir dengannya saat di bumi. Mungkin sangat baik jika aku dan dia hidup dalam jalan takdir masing-masing."
Yue Ming tertegun. Apa? Itu artinya, Maharani Langit telah mengambil keputusan. Feng Shang memutuskan untuk mengakhiri kembali hubungannya dengan Yongheng di Tiga Alam ini. Yue Ming melihat tanda kesedihan mendalam yang sedang dicoba ditahan oleh Feng Shang, juga ketidakberdayaan yang sangat nyata. Hati wanita itu pasti sedang sakit, namun seperti biasa, dia selalu menyembunyikannya dengan baik.
"Kau yakin akan mengakhirinya kembali?" tanya Yue Ming.
__ADS_1
"Aku yakin."
Perkataan Feng Shang jelas dan lugas, namun Yue Ming jelas tahu kalau wanita itu mengatakannya dengan tidak sungguh-sungguh.