
Pagi-pagi sekali, semua anggota Keluarga Feng digiring ke ruang utama. Kejadian beberapa hari lalu pasti akan kembali menimpa mereka tepat satu hari setelah Feng Zheng pulang dari perjalanan bisnisnya. Bagaimana tidak, beberapa detik setelah menginjakkan kaki di rumahnya, Feng Zheng langsung marah karena cucu kesayangannya yang baru ditemukan menghilang lagi.
Benar-benar menakutkan.
Ini adalah kemarahan terburuk yang mereka terima seumur hidup.
“Baru satu hari kutinggalkan, kalian sudah membiarkan cucuku hilang?” tanya Feng Zheng, menatap satu persatu anggota keluarganya.
Mereka gemetaran. Mana mungkin mereka tahu ke mana Feng Shang pergi. Mereka juga sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas mereka masing-masing, tidak punya waktu untuk mengawasi dan memperhatikan Feng Shang selama dua puluh empat jam. Tidak ada yang mau melakukan kegiatan bodoh seperti itu di dunia ini.
Feng Ling, yang baru saja sadar setelah pingsan tiga hari hampir saja kembali pingsan. Jika dia tidak bangun hari ini, orang tuanya pasti mengirimnya ke rumah sakit. Gadis muda berusia dua puluh tahun itu seperti orang linglung, tidak inga tapa-apa selain malam ketika dia pulang dari klub sendirian.
Tahu-tahu ketika bangun, kakeknya marah-marah lagi.
“Ayah, kami sungguh tidak tahu ke mana Shang’er pergi,” ucap Feng Rouchen. Meski takut, dia tetap menjawab pertanyaan ayahnya untuk memberikan penjelasan agar keluarganya tidak dikata-katai lagi.
Mendengar itu, Feng Zheng menghela napas kasar. Anak bungsunya memang tidak bisa diandalkan!Selain tidak kompeten dalam bisnis, dia juga tidak pandai apapun. Sehari-hari pekerjaannya hanya memarahi pekerja di kantor. Padahal jelas-jelas Feng Rouchen ini seorang direktur di Perusahaan Lingjing.
“Jangan ribut lagi!”
Tiba-tiba, suara seorang wanita memecah ketegangan di ruang utama. Dari pintu, Feng Shang berjalan cepat menuju ruang tengah. Busananya begitu bagus, tampaknya Shen Yi memberinya sebelum dia mengantarkannya pulang ke rumah Keluarga Feng. Otomatis Feng Zheng merubah raut wajahnya yang semula galak menjadi lembut dan penuh kekhawatiran.
Feng Zheng bisa bernapas lega. Syukurlah, pikirnya. Cucunya yang sedang sakit karena hilang ingatan ini masih tahu untuk pulang ke rumah dan menghentikan kekhawatiran kakeknya. Secara tidak langsung Feng Shang juga menyelamatkan anggota Keluarga Feng dari kemarahan lebih lanjut sang penatua.
Duduk di samping Feng Zheng, Feng Shang mengatur napasnya terlebih dahulu. Shen Yi mengantarnya dengan terburu-buru, membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Feng Shang hampir muntah jika dia tidak menggunakan kekuatannya untuk menahan diri. Bahkan menaiki hewan spiritual pun tidak secepat itu.
Saat ini, tidak peduli apa yang sedang dibicarakan kakek tua ini dengan keluarganya, Feng Shang langsung saja berbicara ke intinya. Tanpa menjelaskan terlebih dahulu ke mana dia pergi dan apa sebabnya, Feng Shang langsung mengatakan pada Feng Zheng semua yang ingin dia katakan.
“Aku ingin tinggal di rumah Shen Yi,” ucapnya tegas tanpa ragu.
Pernyataannya membuat Feng Zheng terbelalak. Si kakek tua hampir terkena serangan jantung kalau saja dia punya penyakit kronis. Sungguh, pernyataan Feng Shang di luar dugaan. Feng Zheng menyesal telah berpikir kalau cucunya akan menanyakan keadaanyya, bukan malah berkata ingin tinggal di rumah orang lain.
“Mengapa?” tanya Feng Zheng.
Tentu saja karena di sana terdapat sumber daya kekuatan spiritual, ucapnya dalam hati. Tapi tidak mungkin dikatakan di hadapan manusia fana yang tidak mengerti apa-apa ini. Feng Shang memendamnya dalam hati.
__ADS_1
“Hanya ingin. Aku ingin tinggal di sana,” ucap Feng Shang.
“Tidak bisa!”
Feng Shang meminta penjelasan kakek tua itu.
“Tidak masalah jika kau merusak puluhan mobil mewahku. Tapi tinggal di rumah Presdir Shen, aku tidak bisa membiarkannya!” tegas Feng Zheng.
Nada bicara kakek tua itu naik satu oktaf. Sebagai seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya, Feng Zheng tidak mau berjauhan dengannya. Tahun-tahun ketika dia mengirim Feng Shang belajar ke luar negeri dan mengurus bisnis di sana sudah membuatnya cukup menderita akibat khawatir dan merindukan gadis itu.
Hari-hari ketika dia dikabarkan hilang juga telah membuat kadar gula darah Feng Zheng naik dan harus diperiksa rutin setiap bulan. Membiarkan gadis itu tinggal di rumah orang lain sama saja dengan berpisah kembali dengannya.
Apalagi Shen Yi itu presdir Perusahaan Xize. Lingjing telah menolak tawaran kerja sama pembelian saham dengan Xize, kemudian memilih Xiang sebagai mitra kerja sama. Kalau Feng Zheng membiarkan cucunya tinggal di sana, itu sama saja dengan tidak tahu malu.
“Aku tidak peduli.”
Feng Shang langsung meninggalkan ruangan utama tanpa menghiraukan ekspresi wajah anggota keluarganya. Masa bodoh, toh mereka juga bukan siapa-siapa. Kerabat mereka adalah Shangyue, bukan dirinya. Dia hanya datang untuk menggantikannya saja. Feng Shang menaiki tangga, lalu berhenti sejenak untuk menoleh ke bawah.
“Aku juga ingin Lingjing mengadakan kerja sama dengan Xize,” tukas perempuan itu sambil melanjutkan langkahnya.
Punggung cucunya hilang ditelan belokan tangga, sementara ia masih terduduk di tempatnya dengan bingung. Feng Zheng mengalami situasi dilematis, antara membiarkan cucunya tinggal di rumah Presdir Shen serta menandatangani kontrak dengan Xize atau menolaknya dengan alasan tidak masuk akal. Feng Zheng khawatir kalau dia menolaknya, cucunya akan kabur dan marah padanya.
Jika dipikir-pikir, situasinya bagus juga. Feng Zheng sudah tua, sudah saatnya menyerahkan semuanya. Lagipula, dia sudah mendeklarasikan pada semua orang bahwa Feng Shang akan menjadi satu-satunya pewaris sah. Anak cucunya yang lain juga akan diberikan bagian masing-masing.
Kebetulan, kesempatannya datang. Feng Zheng ingin sekalian menjadikan semuanya nyata. Bagaimanapun, dia tidak tega menolak permintaan cucu kesayangannya. Mengapa tidak sekalian membuatnya menjadi pewaris sah yang nyata lewat kesempatan ini?
“Shang’er, aku akan memenuhi permintaanmu!” ucap Feng Zheng membuat semua orang terbelalak.
...***...
Rapat dewan direksi berlangsung selama dua jam tanpa jeda istirahat. Pada rapat itu, Shen Yi marah besar pada semua direkturnya dan memberi mereka peringatan keras. Dua perusahaan sasaran lepas di tangan dan membuat perusahaan mengalami penurunan tingkat produktivitas. Sebagai presiden direktur dengan saham terbesar, Shen Yi tidak mungkin melupakannya dengan mudah.
Jiang Li yang saat itu juga hadir di rapat dewan direksi tahu kalau atasannya memang kecewa. Harus ia akui dia sendiri juga kesal karena kejadian ini. Ini memang bukan satu-satunya kegagalan Xize, namun ini menjadi yang terburuk mengingat kedua perusahaan itu merupakan perusahaan yang sudah lama diincar dan sangat potensial.
Di tengah situasi yang sedang memanas, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Zhang Bi tiba-tiba mendapat telepon yang memberi kabar mengejutkan pada semua orang. Dengan nada tak percaya, Zhang Bi berkata pada jajaran dewan direksi, “Perusahaan Lingjing menerima tawaran kerja sama penanaman modal dengan Xize.”
__ADS_1
Shen Yi sudah memprediksi ini akan terjadi. Hanya saja dia tidak percaya bahwa perempuan bodoh itu akan benar-benar melakukannya. Pagi tadi, Shen Yi mengatakan pada Feng Shang bahwa dia boleh saja tinggal di rumahnya, dengan syarat Lingjing mau bekerja sama dengan Xize.
Perempuan itu menolak karena dia sama sekali tidak peduli dengan urusan perusahaan. Tetapi, entah mengapa Feng Shang tiba-tiba menyetujuinya dan berjanji bahwa dia akan membuat Feng Zheng memutuskan kontrak kerja sama dengan Xiang dan beralih pada Xize. Tampaknya, perempuan itu sudah berhasil membujuk kakeknya yang keras kepala itu.
Masa bodoh jika orang-orang mengatakan Shen Yi adalah orang yang tidak tahu malu, kejam dan suka memanfaatkan situasi. Masa bodoh dengan mimpi-mimpi aneh yang harus dia alami nanti.
Ketimbang mimpi-mimpi aneh itu, kegagalan perusahaan barulah mimpi buruk yang sesungguhnya. Lagipula di dunia bisnis ini, jika tidak kejam dan tidak memanfaatkan situasi dengan benar, perusahaannya tidak akan berdiri hingga saat ini. Mungkin sejak lama sudah bangkrut karena inflasi dan hutang perusahaan membengkak.
Shen Yi masih ingat ketika dia membicarakan syarat dengan perempuan itu, Feng Shang dengan dingin berkata, “Kau memanfaatkanku?”
“Aku ini orang bisnis. Jika tidak ada keuntungan, untuk apa? Lagipula, bukankah kita saling memanfaatkan?”
Meski tatapan itu begitu dingin, Shen Yi bisa menghadapinya. Pada akhirnya, perempuan itu tetap setuju dengannya. Karena sudah setuju, tidak baik jika menundanya lebih lama. Shen Yi langsung mengantar pulang Feng Shang ketika perempuan itu selesai berganti baju. Mengingat ini, dia tersenyum kecil.
“Wah, Presdir Shen baru saja tersenyum?” tanya Direktur Fan pada rekannya. Baru kali ini dia melihat presdirnya tersenyum saat rapat setelah memarahi jajaran dewan direksi.
“Direktur Jiang, apa kau tahu mengapa Perusahaan Lingjing tiba-tiba mau bekerja sama dengan kita?” tanyanya pada Jiang Li. Jiang Li hanya mengedikkan bahu dan menjawab sambil tersenyum.
“Mungkin seseorang telah membantunya.”
Jiang Li tidak habis pikir mengapa pemilik Perusahaan Lingjing begitu rela melepaskan kerja sama dengan Perusahaan Xiang dan melanggar kontrak. Sejak awal, Jiang Li sudah menduga kalau perempuan yang dibawa oleh Shen Yi dan ditolong olehnya saat berada di toilet bukanlah perempuan sembarangan.
Saat Feng Zheng datang kemari beberapa hari lalu, dia baru tahu kalau Feng Shang adalah cucu dari sang pemilik Perusahaan Lingjing. Jiang Li mengakui kehebatan Shen Yi dalam hal meyakinkan orang.
Usai rapat, Shen Yi kembali ke ruangannya. Ia meminta Zhang Bi mempersiapkan segala berkas yang akan digunakan untuk membahas kontrak kerja sama dengan Lingjing esok hari. Shen Yi tidak mau menunda waktu. Dia bergerak cepat sebelum Ketua Feng berubah pikiran.
“Tuan, kesepakatan apa yang Anda buat dengan Nona Feng?” tanya Zhang Bi. Sungguh, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Kau ingin tahu?”
Zhang Bi mengangguk.
“Tungguu besok dan kau akan mengetahui jawabannya.”
...***...
__ADS_1
...Shen Yi ternyata licik juga, ya! Pantas dia bisa jadi presdir. Oh ya, kemarin Otor nggak update dikarenakan ada sesuatu yang harus dikerjain. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan setia menunggu up dari Otor yang nggak karuan ini. Sampai jumpa di episode berikutnya! ...