Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 17: Ketertarikan Xiang Sun


__ADS_3

Untuk mengetahui seperti apa sosok Feng Shang, Xiang Sun mengutus orang untuk memata-matainya. Orang itu mengikuti Feng Shang sepanjang hari, mencatat segala kegiatan dan kejadian apa saja yang dilaluinya.


Sekilas, mata-mata yang dikirim Xiang Sun seperti seorang asisten yang mengikuti majikannya ke mana-mana, seperti seorang manajer yang mencatat seluruh jadwal dan aktivitas atasannya.


Namun, yang benar-benar tidak ia sangka adalah bahwa ia akan berhadapan dengannya secara langsung. Di parkiran gedung kantor Lingjing, Xiang Sun melihat Feng Shang berjalan keluar dari dalam gedung diiringi Jingjing, manajernya. Postur tubuh wanita itu ramping, wajahnya bersinar seperti purnama tanpa riasan. Natural. Xiang Sun sedikit tertegun.


Ia menyadari kalau kakak sepupu kekasihnya ini sangat memesona. Meskipun cara berjalannya begitu cepat, Xiang Sun tidak melihat cacat sama sekali. Seandainya...Seandainya ia bisa mendekat, ia ingin sekali mengetahui sosok itu lebih dalam.


Xiang Sun hendak keluar dari mobilnya, namun manajernya tiba-tiba menahannya.


"Presdir Xiang, dua wanita yang kemarin bermain bersamamu ditemukan tewas pagi ini," ucap manajer.


Xiang Sun sama sekali tidak terkejut. Hanya dua wanita murahan yang menjual dirinya, apa perlu dilaporkan padanya? Xiang Sun bahkan tidak tahu siapa nama kedua wanita itu.


Semalam, ia dan mereka hanya sepakat untuk bersenang-senang tanpa mengganggu privasi pribadi masing-masing. Kalau pun tewas, mungkin mereka mati karena terlalu banyak melayani pria hidung belang sepertinya.


"Apa urusannya denganku?"


"Polisi sedang mencari saksi. Apa Presdir berminat mengajukan diri?"


"Tidak!"


Feng Shang merasa seseorang tengah mengawasinya dari jauh. Saat sudah dekat dengan mobilnya, seorang pria menghampiri dan menyapanya. Feng Shang terdiam sejenak, memperhatikan pahatan wajah yang tampak tak asing. Sepertinya, ia pernah melihatnya di suatu tempat.


Kekasih Feng Ling? tebak Feng Shang.


"Apa kau Direktur Feng?"


Sekejap saja Feng Shang langsung mengetahui tujuan pria itu datang kemari. Feng Shang yang sudah belajar memahami situasi, mengadaptasikan diri dengan kehidupan barunya, menebak Xiang Sun hendak protes padanya.


Pemutusan kontrak kerja sama menjadi alasan satu-satunya untuk pria itu datang menemuinya. Tidak mungkin karena masalah Feng Ling karena ini sama sekali tidak ada hubungannya.


"Ya. Tidak tahu keperluan apa yang diinginkan calon sepupu ipar hingga datang kemari?"


Feng Shang bersikap mendominasi. Hawa dingin menyelusup ke pori-pori Xiang Sun, membuatnya terpengaruh atas perkataan singkat yang baru saja diucapkan wanita itu. Pria itu gelagapan sesaat, kemudian berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak hanyut dalam pesona yang dipancarkan Feng Shang lewat tatapan matanya.


"Ah, aku hanya kebetulan lewat. Apa Nona Feng berminat pulang bersamaku? Kebetulan, aku punya janji dengan adik sepupumu," ucap Xiang Sun.

__ADS_1


Feng Shang berpikir untuk menolaknya. Namun, ketika ia berbalik, ia mencium bau sesuatu yang busuk. Sedikit sihir yang ia gunakan sudah mampu mengetahui dari mana asal bau tidak sedap itu.


Sihir birunya melayang mengelilingi tubuh Xiang Sun. Feng Shang mencoba menyembunyikan keterkejutannya, bahwa sihir biru itu ternyata bisa bereaksi begitu cepat.


Ia mengurungkan niatnya. Setelah berbisik pada manajernya, Feng Shang lalu masuk ke dalam mobil Xiang Sun. Niatnya hanya ingin mengetahui penyebab bau itu menempel pada tubuh Xiang Sun, yang notabenenya hanya seorang manusia biasa.


Kalau di Alam Sembilan Langit, bau seperti ini hanya tercium dari tubuh mereka yang berdosa karena telah melanggar aturan langit, bersekutu dengan iblis dan mengacaukan dunia.


Apa orang ini juga bersekutu dengan iblis?


Tetapi, penampilan dan cara bicaranya sama sekali tidak menunjukkan itu. Feng Shang tahu kalau ia tidak boleh menilai hanya dari luar, namun ia tetap bisa memprediksi orang seperti apa yang telah terasuki iblis.


Xiang Sun ini, meskipun bau tubuhnya busuk, tetapi Feng Shang tidak melihat aura iblis. Hanya ada bau wanita yang menempel bersamaan dengan bau busuk itu.


Di dalam mobil, keduanya tidak bicara. Melihat Feng Shang yang sesekali menutup hidungnya membuat Xiang Sun sedikit tidak nyaman. Mobil ini begitu wangi, mungkinkah wanita itu alergi terhadap bau-bauan dari pengharum ruangan?


"Apa Nona alergi terhadap pewangi ruangan? Aku bisa mencopotnya untukmu," tawar Xiang Sun.


"Tidak. Hidungku hanya gatal."


Mobil berhenti di halaman parkir kediaman Keluarga Feng. Penjaga pintu membuka gerbang, mempersilakan mereka masuk.


Feng Shang berjalan mendahului Xiang Sun, karena ia sudah tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari tubuh pria itu. Dari dalam rumah, Feng Ling tiba-tiba keluar dalam balutan busana biru muda selutut, rambutnya digerai.


"A-Sun? Mengapa kau bisa bersama kakakku?" tanya Feng Ling.


"Kami kebetulan bertemu," jawab Xiang Sun.


Feng Ling, meskipun selalu bertengkar dengan kekasihnya tidak pernah berpikir kalau dia akan melihat pemandangan seperti ini hari ini. Tatapan mata Xiang Sun pada Feng Shang begitu berbeda dengan tatapannya ketika melihatnya. Sebentar saja ia langsung tahu kekasihnya memiliki ketertarikan terhadap kakak sepupunya. Hatinya seperti terbakar.


"Cih... Tidak ditanggapi pun ternyata masih ingin mengejar," gumam Feng Ling.


"Apa yang kau gumamkan barusan?" tanya Xiang Sun.


Feng Ling menggelengkan kepala. "Tidak ada."


Di lantai atas, Feng Shang mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dari hasil pengamatannya barusan, ia mendapat petunjuk baru perihal hawa iblis yang ia lihat semalam.

__ADS_1


Jejak hawa iblis itu membaur ke dalam tubuh Xiang Sun, menimbulkan bau busuk yang hanya bisa tercium oleh mereka yang memiliki kekuatan spiritual. Kemungkinan besar Xiang Sun terpengaruh hawa iblis, karena Feng Shang tidak berpikir manusia fana sepertinya memiliki hubungan yang mendalam dengan makhluk kejam seperti itu.


Jika ia ingin tahu lebih banyak, ia harus menggunakan cara ini. Feng Shang tahu bahwa Xiang Sun sudah tertarik padanya. Namun, Feng Shang sendiri tidak memiliki kesan pada pria itu.


Pria hidung belang yang brengsek sepertinya, yang suka bermain dengan wanita dan menahan satu wanita lain untuk dimanfaatkan bukanlah orang yang pantas Feng Shang ladeni. Tetapi untuk menyelidikinya, ia hanya bisa membiarkannya begitu saja.


"Kakak," panggil Feng Ling. Feng Shang menolehkan kepala sedikit, lalu berkata, "Ya?"


"Apa kau tidak merasa kalau A-Sun tertarik padamu?" tanya wanita muda itu.


Perasaanmu tajam juga, ucap Feng Shang dalam hatinya.


"Oh ya? Bagaimana kau tahu?"


"Aku bisa melihatnya hanya dari tatapan mata."


Feng Ling ini bukan orang yang mudah dihadapi. Ingatan yang pernah Feng Shang lihat menunjukkan wanita manja ini adalah orang yang keras kepala dan suka sekali marah. Ketika keinginannya tidak terkabul, ia lebih memilih menghancurkan apa yang ia inginkan itu ketimbang membiarkannya jatuh ke tangan orang lain.


Hubungannya dengan Xiang Sun yang sudah berlangsung selama tujuh tahun juga disebabkan karena sifatnya ini.


"Kau takut aku merebutnya darimu?" tanya Feng Shang diiringi seringaian menyeramkan.


"Tidak masalah jika dia tertarik padamu. Tetapi, kakak sepupu, kau jelas tahu aku ini orang seperti apa, bukan? Kau sudah merebut kakek dariku, maka jangan berharap ingin mendapatkan segalanya dan menggenggamnya di tanganmu!" tukas Feng Ling. Wanita itu bahkan tidak gentar sedikit pun, membuat Feng Shang salut padanya.


"Bagaimana aku tahu? Bukankah ingatanku hilang?"


Feng Ling tertegun sejenak. Perkataan kakak sepupunya ini terdengar aneh, seakan mengandung arti lain. Beberapa detik kemudian, ia membelalakkan matanya, "Kau tidak kehilangan ingatan?"


Feng Shang tertawa remeh. Dia tidak kehilangan ingatan apapun. Dia hanya mendapatkan ingatan orang lain. Malas meladeni 'adik sepupu' yang keras kepala dan iri, Feng Shang beranjak dari duduknya. Ketika ia melewati Feng Ling, ia menepuk bahu wanita itu sembari berkata, "Kalau kau sadar akan posisimu, aku mungkin bisa mengampunimu."


Feng Ling seperti tersapu angin kencang. Ada tekanan besar yang menghimpit tubuhnya setelah Feng Shang keluar dari kamar itu. Udara yang terasa pengap, hampir membuat Feng Ling sesak napas. Ia lebih tidak percaya pada apa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kakak sepupunya... Mengapa terasa begitu mendominasi?


"Feng Shang, apa kau benar-benar kakak sepupuku?"


Feng Ling mengepalkan tangannya, lalu mengatur napasnya sambil menahan ledakan emosi.


...***...

__ADS_1


__ADS_2