
"Mengapa kau menemuinya sendirian? Mengapa kau tidak memberitahuku?"
Feng Shang menatap sebentar pada Shen Yi yang sedari tadi terus mengoceh. Mata perempuan itu lalu tertuju pada kaca jendela mobil yang berembun. Suhu udara tampaknya mulai menurun akibat perubahan musim. Feng Shang masih mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak kunjung tenang sejak tadi.
Ada apa ini? Mengapa jantungnya berdetak sangat cepat seperti hendak keluar dari dadanya saat Shen Yi menciumnya tadi? Apa dia punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan?
Feng Shang buta akan hal-hal yang terkait dengan perasaan. Selama ini, pohon hatinya diselimuti salju sepanjang tahun, selama beribu-ribu tahun. Feng Shang hanya mengenal belas kasih pada sesama, ketegasan akan hukuman, kekejaman atas kejahatan. Ia tidak mengenal cinta pada lawan jenis. Karena jika ia merasakannya, ia takut tidak bisa memimpin Tiga Alam.
"Shen Yi," panggil Feng Shang.
"Mengapa jantungku berdetak sangat cepat?" tanyanya. Tangannya memegang dadanya, merasakan debaran jantungnya.
Shen Yi terkesiap. Ia lupa kalau Feng Shang sejatinya adalah perempuan polos yang tidak tahu tentang perasaan manusia. Dengan status dan kedudukannya sebagai Maharani Langit, ia yakin Feng Shang tidak tahu perasaan yang ada di hati manusia. Harus bagaimana dia menjelaskannya?
Ia terpaksa melakukan itu untuk memberikan efek jera pada Xiang Sun. Shen Yi tidak suka orangnya disentuh orang lain. Emosinya jadi bergejolak melihat Feng Shang duduk bersama pria lain meskipun perempuan itu mungkin tidak menyadarinya. Shen Yi sangat berharap Xiang Sun menyerah jika tahu kalau Feng Shang adalah wanita miliknya.
Ia tahu deklarasinya yang tiba-tiba mungkin akan mendatangkan masalah. Tetapi, Shen Yi sama sekali tidak takut. Baginya, melindungi orang terdekatnya ialah sebuah bentuk ketulusan yang harus ditunjukkan. Tidak akan ia biarkan orang terdekatnya disakiti.
"Itu... Reaksi normal," jawab Shen Yi ragu.
"Apa setiap manusia sering berdebar jantungnya saat berciuman?"
"Aku tidak tahu."
"Shen Yi, apa kau juga merasakannya? Rasanya jantungku hendak melompat keluar. Apa yang harus aku lakukan?"
"Cukup diam dan tenangkan diri saja."
Tidak puas dengan jawaban Shen Yi, Feng Shang kembali bertanya,
"Tapi mengapa dia tidak mau tenang? Kalau begini terus, inti jiwaku bisa terpengaruh."
__ADS_1
"Tarik napas dan tenangkan dirimu."
Feng Shang mencoba menuruti saran Shen Yi. Dia menarik napas berkali-kali, lalu berusaha menenangkan diri. Cukup berhasil memang, namun kini justru terasa ada yang mengganjal hatinya. Feng Shang jadi gelisah. Shen Yi yang tengah menyetir sesekali meliriknya.
"Ada apa lagi?" tanya Shen Yi.
"Ah, tidak apa-apa. Tapi, ngomong-ngomong, mengapa kau menciumku tadi?"
Shen Yi pikir perempuan itu akan berhenti membahas kejadian tadi. Bagaimana ia menjelaskannya? Shen Yi sendiri tidak punya cukup kata yang cocok untuk dikatakan pada perempuan itu. Otaknya yang biasanya begitu pintar seperti berhenti bekerja, mendadak kehilangan fungsi.
Melihat Shen Yi yang diam, Feng Shang memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu kalau pria itu sedang berusaha melindunginya. Salju di pohon hatinya perlahan mencair, berangsur-angsur mengalami musim semi. Setiap kali ia tersenyum bersama Shen Yi, perlahan ia mulai mengetahui perasaan menjadi manusia sedikit demi sedikit.
Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya ia sangat khawatir. Kaisar Langit sebelumnya pernah memberitahunya sebuah rahasia pada suatu waktu tentang takdir lain yang harus ditanggung para pemimpin langit. Katanya, pohon hatinya yang bersalju tidak boleh mengalami musim semi. Jika itu terjadi, akan ada akibat yang tidak bisa dibayangkan.
Kini pohon hati bersaljunya perlahan mencair, ia tentu khawatir. Namun tidak peduli bagaimanapun caranya, ia tetap tidak bisa menahan atau menghentikannya. Semuanya terjadi seperti air yang tenang mengalir, membawa arus yang menghanyutkan ia ke dalam sebuah lembah perasaan yang mendalam.
Mungkin, manusia menyebutnya dengan jatuh cinta.
Feng Shang kembali menatap jendela. Ia memilih mengalihkan topik pembicaraan pada hal lain karena situasi di dlaam mobil benar-benar terasa canggung.
"Aku melihat ingatan Xiang Sun," ucap Feng Shang. Shen Yi seketika menoleh, penasaran.
"Apa yang kau lihat?"
"Dia membunuh para pelayannya dan membakar rumah itu."
Saking terkejutnya, Shen Yi sampai refleks menginjak rem. Tubuh keduanya hampir terbentur dashboard mobil kalau saja tidak memakai sabuk pengaman. Apa yang dikatakan wanita ini tadi?
"Kau yakin?"
Feng Shang mengangguk. Dia memejamkan mata, menahan sesuatu yang sejak siang tadi bergolak dalam dadanya.
__ADS_1
"Dia mencelakai mereka, mencuri inti jiwanya dan menghisap energi hidupnya. Mereka..."
Feng Shang tak kuasa meneruskan kalimatnya. Pemandangan yang ia lihat dari ingatan Xiang Sun begitu mengerikan. Dalam kehidupannya yang telah berlangsung puluhan ribu tahun, Feng Shang sudah sering melihat adegan berdarah, namun ia tidak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya.
Kekejaman dan kekejian Xiang Sun terhadap para pelayannya menyayat hatinya. Feng Shang seolah ikut merasakan penderitaan mereka ketika energi hidupnya perlahan disedot habis dan tubuhnya mulai mengering. Apalagi, setelah itu tubuh mereka dibakar bersama tempat tersebut untuk menghilangkan jejak.
Feng Shang memejamkan mata. Ada yang menetes ke pipinya tanpa sadar. Shen Yi menghentikan laju mobilnya, memposisikannya ke pinggir jalan. Setelah berhenti, ia merangkul Feng Shang, menyandarkan kepala perempuan itu ke dadanya. Adegannya mirip dengan kisah romansa CEO dengan sekretarisnya dalam novel.
Baru kali ini Shen Yi melihat Feng Shang bersedih. Perempuan kuat dari dunia lain yang selalu mendominasi itu ternyata juga bisa menangis. Ia pikir selamanya Feng Shang hanya akan menjadi perempuan berhati dingin saja, namun sama sekali tidak menduga kalau empatinya ternyata besar terhadap manusia. Meski Shen Yi tidak tahu hal apa saja yang pernah dialaminya sebelum ini, ia dapat menebak inilah pertama kalinya perempuan itu meneteskan air mata.
"Mengapa aku menangis?"
"Karena hatimu turut merasakan kesakitan yang mereka alami, Xiao Shang."
"Aku... Tidak boleh seperti ini," ucap Feng Shang.
"Tidak apa-apa. Menangislah sekali ini saja. Setelah ini, kau harus kembali menjadi dirimu sendiri. Tidak peduli apapun yang terjadi, seberapa bahayanya di luar sana atau seberapa menantangnya hari-hari esok, kau harus tetap kuat. Bukankah kau selalu mengatakan kalau dirimu adalah Maharani Langit terkuat? Kalau begitu, tunjukkan padaku kemampuan dari Maharani Langitmu itu," ujar Shen Yi sambil mengusap kepala Feng Shang. Ia merasakan tubuh perempuan itu bergetar.
"Shen Yi," panggil Feng Shang.
"Hm?"
"Jasmu jadi basah. Kau gantilah, aku tidak suka melihatnya," ucap Feng Shang dengan nada yang masih menunjukkan kalau ia masih bersedih.
Shen Yi seperti dipukul bagian belakang kepalanya. Apa-apaan ini? Bukankah perempuan itu sedang menangis dan bersedih? Mengapa ia punya waktu untuk bercanda dengannya?
"Ayo pulang. Aku ingin menyegarkan tubuh dan mengisi energiku," ajak Feng Shang.
"Baik. Tapi, kau harus berjanji. Kelak apapun yang terjadi, kau tidak boleh menghadapinya sendirian. Kau harus memberitahuku, terutama saat kau ingin menangani Xiang Sun, mengerti?"
Feng Shang mengangguk patuh. Shen Yi menyalakan kembali mesin mobil, lalu melajukannya.
__ADS_1