
Yue Ming dan seluruh pasukan prajurit surgawi yang bertempur di Istana Langit seketika menghentikan gerakan mereka saat tanah bergetar hebat. Yue Ming menatap langit yang tengah menaburkan bintang jatuh. Pasukan iblis seketika hancur menjadi debu saat sebuah cahaya melesat seperti kilat. Para prajurit surgawi semuanya terdiam.
"Ketiadaan Abadi...." Yue Ming bergumam. Nada bicaranya begitu rendah.
"Dewi Yue Ming, apa yang terjadi?" tanya salah seorang prajurit surgawi.
"Maharani...Dewa Agung..." gumamnya lagi. Suaranya bergetar.
Tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi! Maharani Feng dan Dewa Agung Yongheng sangat kuat! Mana mungkin mereka hilang!
Ketiadaan Abadi, adalah istilah untuk menyebutkan tewasnya dewa agung dan pemimpin Alam Sembilan Langit dalam waktu yang sama. Istilah itu terakhir kali diucapkan ketika kematian Dewa Agung Yongheng pertama dan Kaisar Langit pertama, yang mengakhiri periode zaman Dewa Kuno. Kini, istilah itu kembali terucap.
Bintang jatuh menandakan kejatuhan seorang dewa agung. Di Tiga Alam ini, hanya Yongheng yang memungkinkan untuk membuat bintang tersebut terjun bebas ke Tiga Alam. Udara yang dingin tiba-tiba berhembus ke Alam Sembilan Langit, membekukkan tumbuhan dan pepohonan surgawi.
Burung-burung surgawi berterbangan di atas Istana Fengyun, menyusun gerakan memutar. Serbuk spiritual di tubuh mereka turun seperti kepingan salju. Alam Sembilan Langit diselimuti kabut putih yang tipis.
Angin yang berhembus menerbangkan sehelai bulu feniks api biru ke tangan Yue Ming. Tanpa terasa, ada air mata yang jatuh ketika bulu lembut itu menyentuh telapak tangannya. Para prajurit surgawi seketika berlutut dan menunduk dalam-dalam.
Angin yang dingin juga berhembus ke Laut Timur. Istana megah yang biasanya ramai, kini diselimuti hawa dingin yang menusuk. Si Yun, dewa pelayan Yongheng terpaku di atas menara tertinggi. Angin menerbangkan sehelai kelopak teratai ke tangannya, dan air matanya juga jatuh. Kakinya melemas dan ia langsung terduduk, diikuti seluruh penduduk Laut Timur.
Satu-satunya teratai emas yang tumbuh di Laut Timur layu. Meskipun kolamnya dipenuhi kekuatan spiritual, akar teratai itu telah lama terpisah dari batangnya. Serbuk sarinya mulai menyebar ke udara dan menghilang. Aura spiritual yang memancar dari istana Dewa Agung Yongheng jatuh ke seluruh pelosok Laut Timur. Patung naga emas yang merepresentasikan Dewa Agung Yongheng juga runtuh.
__ADS_1
Si Ming yang berada di kuilnya menghela napas pelan. Buku Takdir Maharani dan Dewa Agung yang ada di tangannya berubah menjadi debu, lalu hilang ditiup angin.
***
Kabar mengenai akhir dari peperangan Klan Dewa dengan Raja Iblis telah menyebar ke Tiga Alam. Klan iblis yang tersisa, yang tidak ikut serta dalam peperangan dibebaskan dan dikembalikan ke Alam Iblis dengan perjanjian seribu tahun gencatan senjata.
Kerusakan di Tiga Alam mulai dipulihkan oleh para dewa yang bahu membahu bersama klan lain. Sisa-sisa kekuatan gelap Raja Iblis dan wanitanya dibersihkan dan diganti dengan hawa spiritual dewa. Lembah Puhe ditutup dengan pelindung raksasa yang tidak memungkinkan makhluk apapun bisa masuk.
Sementara itu, Lembah Shansui yang hancur kini menjadi sebuah padang pasir yang sangat tandus. Sisa-sisa pertarungan berubah menjadi batu. Lembah tempat penyegelan itu tidak lebih dari sebuah padang pasir seperti di alam lain. Kering, dan tanpa kehidupan.
Suku manusia di Alam Fana diam-diam dibantu para dewa memulihkan tempat tinggal mereka. Kini, dinasti baru yang terbentuk setelah Ji Nuo meninggalkan Alam Fana mengalami masa keemasan. Banyak ahli spiritual yang muncul dan berkultivasi, membuat Tiga Alam seperti terlahir kembali.
Sayang sekali, dua orang yang paling menginginkan ini tidak dapat melihatnya. Feng Shang dan Yongheng yang memperjuangkan Tiga Alam justru tidak dapat menyaksikan bagaimana Tiga Alam ini selamat dan perlahan pulih. Nama mereka yang agung terukir di Menara Qiankun dan selalu dipandang takjub oleh siapapun yang melihatnya.
Padahal, Alam Sembilan Langit belum memiliki penerus. Yue Ming tidak tahu siapa yang akan meneruskan takhta kepemimpinan saat ini. Yang jelas, para dewa kini tengah sibuk memulihkan Tiga Alam dan mendamaikan kembali kekacauran.
"Menurutmu, apakah Maharani dan Dewa Agung Yongheng telah memasuki Alam Ketiadaan?" tanya Yue Ming ketika Si Ming datang berkunjung. Si Ming memutar cangkirnya dan menatap langit yang cerah.
"Entahlah. Alam Ketiadaan terlalu misterius. Mungkin mereka ada di sana, atau juga di tempat lain."
Si Ming tidak bisa memprediksi takdir kedua orang itu. Entah mereka akan bereinkarnasi atau tidak, ia tidak tahu. Yang jelas, menggunakan inti jiwa untuk membentuk inti kekuatan semesta bisa membuat mereka hancur selama-lamanya dan tidak akan terlahir kembali.
__ADS_1
Apalagi, keduanya adalah dewa sejati yang terlahir sebagai penyelamat Tiga Alam. Jika Dewa Leluhur masih ada, mungkin saja mereka bisa kembali terbentuk. Namun, periode Dewa Kuno telah berakhir. Jangankan Dewa Leluhur, Dewa Agung dari zaman kuno pun sudah tidak ada.
Di Alam Fana, Ji Nuo melangkahkan kakinya dari satu tempat ke tempat lain. Dirinya kembali mengembara setelah lukanya pulih. Ji Nuo tidak akan tinggal di Alam Sembilan Langit dan memilih menjadi seorang dewi pengembara seperti sebelumnya. Menurutnya, itu lebih menyenangkan dan membuatnya tidak terkekang.
Ji Nuo kemudian sampai di sebuah pondok kayu yang letaknya di sebuah gunung yang tinggi. Tamannya dihiasi bunga-bunga dan bebatuan sungai yang mengkilap, tersusun rapi. Ada aura spritual yang menyelimuti tempat itu. Sekelilingnya dipagari bambu.
Tempat ini tidak seperti tempat yang tidak berpenghuni. Namun, tidak juga ditinggalkan. Ji Nuo perlahan melangkah masuk, lalu duduk di teras pondok. Dia menghembuskan napasnya dengan lelah, lalu menatap sekelilingnya secara perlahan.
Saat sore hari menjelang, sepasang remaja kembar datang ke pondok sambil membawa beberapa barang di gendongan mereka. Melihat seseorang duduk di teras pondok, sepasang remaja kembar itu kemudian saling pandang dan menghampiri Ji Nuo.
"Ada tamu rupanya," ucap remaja perempuan.
"Bawakan air untuk tamu kita," ucap remaja laki-laki.
Sepasang remaja kembar itu kemudian duduk di kursi. Ji Nuo masih menatap mereka. Kedua remaja ini tampak tidak takut dengan kedatangannya. Juga, mereka seperti bukan manusia biasa. Ji Nuo penasaran mengapa kedua remaja kembar ini tinggal di hutan di dalam gunung yang tinggi, tanpa orang tua.
"Jangan menatap kami seperti itu. Kami bukan monster," ucap remaja laki-laki.
Ji Nuo menggunakan sedikit kekuatannya untuk melihat inti jiwa mereka. Dalam beberapa saat kemudian, dia memalingkan wajah ke samping.
"Garis keturunan naga emas dan feniks api biru. Apa hubungan kalian dengan Yongheng dan Feng Shang?" tanya Ji Nuo.
__ADS_1
Sepasang remaja kembar itu hanya saling menatap sebentar, lalu menjawab dengan nada ringan, "Mereka orang tua kami."
Jawaban itu sontak membuat Ji Nuo membelalakkan mata.