Ratu Feniks Abadi

Ratu Feniks Abadi
Eps. 52: Dia Milikku!


__ADS_3

Malam cukup larut ketika Shen Yi keluar dari sebuah restoran mewah di dekat gedung Xize. Wajahnya mengkerut seperti plastik yang terbakar. Ekspresinya jelas menunjukkan kalau suasana hatinya sedang buruk.


Bagaimana tidak, ia ditelepon oleh ibunya dan diberitahu kalau anak sahabatnya datang ke Kota Cheng untuk bertemu. Shen Yi sudah menduga ke mana arah keinginan sang ibu: perjodohan. Maka ia menolak, namun ibunya tetap memaksa.


Shen Yi sekalipun tak pernah menatap wanita yang diutus ibunya itu. Tidak ada yang menarik baginya. Di matanya, satu-satunya orang yang menarik hanyalah Feng Shang. Hanya dia seorang.


Saat itu, Shen Yi segera mengakhiri pertemuan itu dengan cepat. Dengan kata lain, ia menolak wanita suruhan ibunya mentah-mentah. Ia juga mengatakan padanya kalau ia tidak tertarik pada wanita sepertinya. Bahkan jika ada seribu wanita yang dikatakan menarik oleh orang, Shen Yi tidak akan melirik. Dirinya lebih memilih buta daripada harus melihat banyak wanita mengantri untuknya.


Pria itu masuk ke dalam mobil mewahnya, lalu meninggalkan tempat tersebut secepat mungkin. Kurang dari dua menit, ia sudah berada pada jarak sejauh dua kilometer. Untung saja jalan raya cukup lengang.


Shen Yi berhenti di sebuah taman dekat balai kota. Entah mengapa ia sangat ingin melihat bulan. Dari taman yang lumayan ramai itu, ia melihat bulan sedang bersinar di angkasa. Raja malam itu seperti sedang memeluk malam dengan cahayanya yang tidak seterang matahari.


"Apa perempuan itu juga sedang melihat bulan?"


Shen Yi membayangkan Feng Shang yang sedang duduk di ayunan kayu, menatap bulan lewat atap kaca sambil mengumpulkan energi spiritual. Dengan wajah sumringahnya yang khas, Shen Yi jadi senyum-senyum sendiri.


Ketika ia sedang asyik menatap bulan, ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk dari Jingjing.


"Ya?" tanyanya pada seberang.


"Presdir Shen, tolong! Direktur Feng pergi menemui Presdir Xiang dan belum kembali hingga sekarang. Apa Anda bisa membantuku mencarinya? Teleponnya tidak tersambung meski sudah saya panggil berkali-kali," ucap Jingjing panik.


Kedua bola mata Shen Yi membulat sempurna. Tanpa menunggu lama, ia langsung kembali ke mobilnya dan menancap gasnya, membelah jalan malam hari dengan kecepatan tinggi.


Sial, dia kecolongan!


Shen Yi tidak pernah menyangka Feng Shang akan menemui Xiang Sun secara langsung. Kini, situasinya sedang sulit. Hawa iblis di tubuh Xiang Sun begitu berbahaya. Shen Yi takut itu akan melukai Feng Shang seperti terakhir kali.


Ia mendatangi gedung kantor Xiang, namun petugas mengatakan kalau presdir mereka sudah keluar beberapa jam yang lalu bersama seorang wanita. Shen Yi segera menuju tempat yang disebutkan petugas, namun yang ia cari tidak ada.


Shen Yi jadi khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Feng Shang. Pikiran buruk itu membuatnya tak fokus, ia hampir saja menabrak pembatas jalan. Sadar akan kesalahannya, ia kemudian mencoba untuk tetap tenang dan berpikir dengan kepala dingin.

__ADS_1


"Xiao Shang, semoga kau baik-baik saja," gumam Shen Yi. Ia harap-harap cemas.


Shen Yi melajukan kembali mobilnya. Kali ini, ia hendak mencari Feng Shang ke satu-satunya tempat yang memungkinkan. Mobil itu terus melaju, lalu sepuluh menit kemudian memelan.


Mobilnya memasuki parkiran sebuah bangunan megah yang berkelap-kelip. Banyak mobil mewah yang juga terpakir di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, ia segera masuk.


Alunan musik memekakkan telinga menyambar gendang telinganya saat ia memasuki ruangan. Aroma alkohol yang begitu kuat juga menusuk hidung. Ada puluhan orang sedang menikmati musik sambil menari.


Gerakan mereka kebanyakan tidak senonoh. Ada yang saling menyentuh bagian tubuh sensitif, ada juga yang sengaja menari dengan gerakan erotis. Sial, umpatnya. Seharusnya mereka segera menyewa ruangan pribadi jika ingin bersenang-senang.


Mata Shen Yi tertuju pada bar utama. Di sana, ia melihat Feng Shang tengah berusah menepis tangan Xiang Sun yang menyodorkan segelas bir kelas atas padanya. Feng Shang berkali-kali menahan tangan itu.


Shen Yi langsung merebut gelas bir lalu menyimpannya kembali. Feng Shang mendongak, kemudian hatinya bersorak gembira saat tahu siapa pria yang merebut gelas tersebut. Sementara itu, Xiang Sun justru melengos.


"Shen Yi, kau tahu aku ada di sini?"


"Xiao Shang, ayo pulang."


Feng Shang mengangguk antusias. Sinar matanya yang tadi sempat hilang kembali berbinar. Ia memang sangat mengharapkan agar segera pergi dari tempat buruk ini. Suara musik aneh itu menyakiti telinganya. Bau alkohol juga menyengat, membuat perutnya terasa mual. Arak di Alam Sembilan Langit padahal tidak semenyengat ini.


"Presdir Shen, apa maksudmu? Direktur Feng datang bersamaku, apa kau pikir kau bisa membawanya sesuka hati?"


"Oh, benarkah? Xiao Shang, apa yang dikatakan Presdir Xiang benar?" tanya Shen Yi pada Feng Shang. Feng Shang menggeleng cepat.


"Dia yang memaksaku datang ke tempat buruk ini," tutur Feng Shang.


"Presir Xiang, kau sudah mendengarnya, bukan?"


Xiang Sun tertawa remeh.


"Direktur Feng, kau berinisiatif datang menemuiku. Lalu apa kau tidak akan mengakuinya juga?"

__ADS_1


Feng Shang hendak bicara, namun ia diam karena Shen Yi menghadangnya di depan.


"Presdir Xiang, kau berpikir berlebihan. Dia datang untuk mengucapkan belasungkawa atas kejadian kebakaran yang menghanguskan rumahmu. Membawanya ke tempat seperti ini sepertinya bukan cara yang bagus untuk berterima kasih padanya, bukan?" cibir Shen Yi.


Xiang Sun terpancing emosi. Hampir saja dia mendapatkan wanita itu. Shen Yi malah tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya. Apa dia bilang? Belasungkawa? Lelucon macam apa itu?


"Meski begitu, kau juga tidak bisa membawanya sesuka hatimu, Presdir Shen," ujar Xiang Sun sembari menahan marah.


Shen Yi mendecih. Tanpa diduga, ia langsung mencium bibir Feng Shang di hadapan banyak orang. Feng Shang terkejut, matanya membelalak. Otaknya berhenti berputar tapi jantungnya malah semakin rajin berdegup. Darahnya terasa memanas dan wajahnya sedikit memerah.


Ia tak mampu bereaksi apa-apa. Tindakan Shen Yi begitu mengejutkan hingga Feng Shang tak mampu menghindarinya. Ia bisa merasakan orang-orang di sekelilingnya sedang menatap mereka berdua sambil bertepuk tangan.


Tidak ada yang menyadari kalau tanda teratai di dahi Shen Yi muncul dan bersinar. Tidak ada pula yang tahu kalau tanda feniks api di dada Feng Shang juga bersinar karena tertutup pakaian. Kontak fisik intim telah memicu pergolakan kekuatan di dalam dirinya masing-masing.


Shen Yi melepaskan tautan bibirnya setelah sepuluh detik, lalu melihat ekspresi Xiang Sun. Pria tersebut sepertinya benar-benar terbakar emosi. Shen Yi tersenyum puas. Ia merasa menang pertandingan sepak bola dunia.


"Dia adalah wanitaku. Dia milikku," tegas Shen Yi.


Xiang Sun mengepalkan tangannya. Sungguh, ia telah dipermalukan! Ia seperti seorang bajingan yang merebut wanita milik orang lain. Shen Yi benar-benar pintar membalikkan situasi. Sekarang, ia memegang kendalinya!


"Xiao Shang, ayo pulang. Kau harus mengisi energimu kembali," ucapnya pada Feng Shang.


"O.. Oh. Baik."


Feng Shang masih berusaha menenangkan degup jantungnya. Ia berjalan dengan tangan yang masih digandeng Shen Yi, mengikuti pria itu dari belakang. Ia masih belum menyadari situasinya secara keseluruhan.


"Mengapa kau sangat berani? Kau jelas tahu kalau Xiang Sun berbahaya dan bisa melukaimu kapan saja. Apa kau sudah tidak sayang pada nyawamu ini?" tanya Shen Yi kesal.


"Karena aku tahu kau akan datang," jawab Feng Shang.


Shen Yi tertegun. Ia menatap mata Feng Shang, mencari kebohongan yang tidak ditemukan. Ucapan perempuan itu sukses membuat hatinya bergejolak. Shen Yi tak menemukan ketidakjujuran dalam mata perempuan itu. Kata-kata Feng Shang keluar dari dalam lubuk hati dan tulus.

__ADS_1


Shen Yi menarik napas untuk menenangkan diri. Dirinya benar-benar telah diikat oleh tali takdir yang kuat dengan perempuan ini.


***


__ADS_2