
Yongheng berjalan keluar dari Istana Kongming sambil membawa kotak kayu berisi seperangkat alat penyeduh teh. Kakinya melangkah ringan seringan bulu, membawa tubuhnya menuju Istana Fengyun yang jaraknya lumayan jauh dari Istana Kongming. Hari ini, dia ingin berbincang-bincang sebentar perihal dunia kepada Maharani Feng, sebelum dirinya pulang ke Laut Timur.
Tidak bisa dipungkiri, pikiran Yongheng selalu terpaut kepada sosok wanita penguasa surga itu. Sejak pertama kali bertemu sampai jalan-jalan tak disengaja di Hutan Yinshen itu, malam-malam yang dilalui Yongheng tidak pernah damai. Setiap kali memejamkan mata, wajah dan diri Feng Shang selalu terbayang-bayang. Terutama saat dia melihatnya di 'dunia' yang lain. Sampai saat ini, dia belum bisa melepaskan diri.
Feng Shang tampak sedang bersandar di atas ranting pohon sambil memejamkan mata begitu Yongheng memasuki gerbang. Mendengar suara langkah kaki, Feng Shang segera membuka mata dan menemukan bahwa Yongheng telah berdiri di bawah pohon sembari menatap ke atas. Tak ayal, Feng Shang langsung bergegas turun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya pada Yongheng.
"Mengunjungimu. Aku butuh teman bicara karena tidak ada seorang pun di Istana Kongming yang bisa kuajak bicara," jawab Yongheng.
"Aku rasa kita tidak seakrab itu."
"Benarkah? Lalu siapa yang awalnya menolak pergi ke Hutan Yinshen dan berakhir dengan pemberian dekret pembebasan karena bahagia melihat kehidupan di sana?"
Mendengar itu, Feng Shang memalingkan wajahnya. Yah, rupanya berita itu sudah tersebar. Kini Tiga Alam sibuk membicarakan tindakannya. Hutan Yinshen yang merupakan bagian dari Alam Siluman tiba-tiba saja dibebaskan setelah puluhan ribu tahun. Yongheng menatap Feng Shang dengan mata geli, ia berpikir bahwa Feng Shang adalah orang yang mudah tersipu. Dia bisa melihat wajah Maharani Feng perlahan memerah.
Yongheng menyodorkan secangkir teh hangat pada Feng Shang. Dia meminumnya perlahan, angggun, persis seperti wanita bangsawan di dunia fana. Maharani yang bersikap tenang tampak seperti manekin hidup yang sangat cantik. Yongheng terpesona olehnya, namun dia tidak berani mengungkapkan itu. Terlalu gengsi karena dia adalah dewa agung dan wanita itu adalah maharani, pemimpin surga.
"Yah, siapa yang tahu kalau kehidupan suku siluman begitu sederhana dan sangat bahagia. Tidak seperti Alam Sembilan Langit, yang terkadang membuatku muak."
"Apa Maharani Feng baru saja mengeluh?"
"Apa seorang maharani juga tidak boleh mengeluh?"
__ADS_1
"Yah, tidak juga. Itu hanya terdengar aneh saja."
Feng Shang mengedikkan bahu. Menjadi pemimpin surga dan Tiga Alam bukan berarti harus sempurna. Ada saat ketika ia merasa muak dengan semuanya. Namun, ketika saat itu datang, Feng Shang langsung mengingatkan dirinya bahwa ia memiliki tanggungjawab besar terhadap Tiga Alam. Kalau dia menyerah, maka dunia akan musnah karena jatuh ke tangan orang yang salah.
"Kau sangat penasaran terhadap kehidupanku?" tanya Feng Shang. Yongheng terdiam, namun jawabannya sudah sangat jelas di mata Feng Shang.
"Aku yakin kau telah mengetahuinya," ujar Feng Shang kemudian. Yongheng menatapnya, penuh dengan tanya.
"Jadi, kau sengaja menjatuhkan bulu feniksmu hari itu?"
Kini giliran Feng Shang yang diam. Yongheng tidak habis pikir dengan tindakan wanita ini. Hari itu, ternyata dia sengaja menjatuhkan bulu feniksnya di taman cermin langit. Meski Yongheng tidak tahu tujuan sebenarnya dari wanita ini, tetapi itu menunjukkan bahwa Feng Shang cukup pengertian. Dia mungkin mengerti rasa penasarannya selama beberapa hari ini.
"Kau sudah melihatnya?" tanya Feng Shang. Yongheng mengangguk. Feng Shang menghela napas. Walau dia bisa menggunakan cermin langit untuk mengetahui kehidupannya, tetapi dia memilih tidak melakukan itu. Menurutnya, rahasia tetap jadi rahasia saja. Biarkan itu berlalu tanpa ia harus mengetahuinya.
"Bukankah kau bisa menggunakan itu untuk mengetahui asal-usulmu? Lalu mengapa kau tidak menggunakannya?" tanya Yongheng.
"Jadi, sampai sekarang kau tidak mengetahui asal-usulmu dan lebih memilih membiarkannya?"
Feng Shang mengangguk.
"Selain aku, siapa lagi yang mengetahui asal-usulmu?" tanya Yongheng lagi.
"Tidak ada."
__ADS_1
"Mengapa kau begitu mempercayaiku?"
Feng Shang merenung sejenak. Tidak, dia juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Yongheng seperti magnet yang menarik benda-benda di sekitarnya. Sejak pertama bertemu di Lembah Shansui dan dia merasakan kedewaannya yang tidak biasa, jerat takdir telah terlilit padanya. Yongheng adalah dewa agung, tetapi dia tidak seperti dewa agung yang ditemuinya selama ini. Dia berbeda, karena itulah dia mempercayainya.
"Entahlah. Mungkin itu takdir."
"Karena kau berkata begitu, itu artinya kita sudah akrab. Bagaimana jika kau kupanggil Xiao Shang?"
Xiao Shang? Nama itu terdengar tidak asing di telinganya. Feng Shang merasa seseorang bernama Shen Yi di dunia lain selalu memanggilnya dengan sebutan itu, dan wajah pemuda bernama Shen Yi itu adalah wajah yang sama dengan Yongheng. Apa ini? Mengapa dia dibingungkan dengan ini?
"Aku tidak sekecil itu," tukas Feng Shang. "Tapi umurmu jauh lebih muda dariku. Yah, meskipun kehidupanku tertunda selama beberapa ratus ribu tahun," ujar Yongheng.
"Tidak bisa. Orang akan mempermasalahkan itu jika mendengarnya. Selain itu, apa Maharani Langit sepertiku bisa dipanggil dengan sebutan itu?"
"Maksudku, hanya saat kita berdua. Bagaimana?" tawar Yongheng. Dia juga tidak mungkin memanggil Feng Shang dengan sebutan itu saat ada dewa lain di antara mereka. Akan tetapi, Feng Shang tampaknya masih tidak setuju. Yongheng menyerah, dia tak lagi memaksanya.
Keheningan terjadi di antara mereka. Baik Feng Shang maupun Yongheng sama-sama sibuk dalam pikirannya. Lebih tepatnya, mereka sedang berada dalam situasi yang sangat canggung dan keduanya sedang berusaha menghilangkan kecanggungan itu. Satu teko air panas sudah habis beserta tehnya. Namun kecanggungan antara keduanya tak juga hilang.
Barulah setelah beberapa lama, Feng Shang bertanya, "Kapan kau akan kembali ke Laut Timur?"
"Mungkin dua hari lagi."
Keheningan kembali terjadi. Setelah Yongheng pergi, apakah hatinya akan merindukan sosok itu? Laut Timur bukanlah tempat yang bisa dia datangi mengingat ketidaksukaannya pada tempat itu. Ah, Feng Shang tiba-tiba merasa dirinya sangat konyol. Dia maharani, mana ada waktu untuk memikirkan seorang dewa agung yang kembali ke tempat asalnya. Setelah Yongheng pergi, dia tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi. Mungkin puluhan tahun, ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun.
__ADS_1
Yongheng juga memikirkan hal yang sama. Setelah ini, entah kapan dia bisa berjumpa dengannya lagi. Urusan di Laut Timur begitu banyak dan dia mungkin tidak punya waktu untuk mengunjungi Maharani Feng nantinya. Jadi, selagi ada kesempatan, dia akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Hanya tinggal dua hari lagi, dan dua hari itu harus menjadi waktu yang berharga untuk keduanya.
"Ah, hari sudah larut. Kau kembalilah ke Istana Kongming," ucap Feng Shang. Seakan mengerti situasi, Yongheng menurut. Dia membereskan peralatan, lalu berpamitan. Namun, dia tak henti-hentinya memikirkan wanita itu. Setiap langkah yang diambilnya terasa seperti langkah seribu yang sangat lambat.