
Shen Yi menatap ragu pada perempuan yang kini asyik menata bunga-bunga. Aneh, ini masih tengah malam dan Feng Shang malah tinggal di sini. Secara tidak langsung, perempuan itu telah menahannya juga.
"Xiao Shang, kau baik-baik saja?" tanyanya memastikan.
"Mau dengar sebuah kisah?" Feng Shang malah berbalik bertanya.
"Apa tidak bisa besok pagi saja?"
"Tidak bisa. Kau harus mendengarnya sekarang."
Sebelum memulai cerita, ia menarik napas panjang. Lalu ia meminta Shen Yi duduk di sampingnya. Feng Shang menatap angkasa yang terhalang atap kaca, tanpa disadari matanya menangkap kerlipan bintang paling terang.
Shen Yi merasa Feng Shang jadi aneh. Setelah terluka oleh ibunya, dia bicara tidak jelas seolah-olah dia akan meninggal esok hari. Shen Yi ragu apakah cerita yang akan disebutkan olehnya akan memiliki akhir yang baik.
"Pada zaman Dewa Purba, jauh sebelum dunia manusia terbentuk, suku iblis dan suku dewa sudah saling berperang. Ada seorang Dewa Agung pada zaman itu yang kekuatannya setara denganku. Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Tiga Alam dari kekacauan," tutur Feng Shang.
"Siapa dia? Apa kekuatannya begitu besar?"
"Dewa Agung Yongheng, penguasa Laut Timur. Kekuatannya menyamai kekuatan Kaisar Langit pertama."
Meskipun Shen Yi tidak pernah tahu sebenarnya seperti apa dunia dewa dan seperti apa kekuatan yang sebenarnya, namun tidak dipungkiri kalau legenda seperti itu memang ada. Feng Shang telah membuatnya percaya pada dunia itu, pada segala kekuatan dan kemagisan yang terdapat di dalamnya.
Ia tiba-tiba penasaran akan sosok Dewa Agung Yongheng dan kisah heroiknya dalam kisah kehidupan para suku abadi.
"Lalu apa yang terjadi setelah dia mengorbankan dirinya?"
"Dia menghilang."
Feng Shang lantas menceritakan bahwa ketika seorang dewa mengorbankan dirinya, inti jiwanya akan hancur dan beterbangan. Pada akhirnya, sisa inti jiwa itu akan melebur dan menghilang seperti angin, melenyapkan segala ingatan dan kekuatan yang pernah ada di dalamnya.
__ADS_1
Inti jiwa seorang dewa yang tersebar tidak bisa dikembalikan, namun masih bisa dikumpulkan lewat lampu pengumpul jiwa. Akan tetapi, proses itu memerlukan waktu yang sangat lama, bahkan bisa menghabiskan waktu hingga ratusan ribu tahun. Pengumpulannya membutuhkan reinkarnasi yang tidak terhitung. Meski begitu, bukan berarti serpihan jiwa yang terkumpul dapat membentuk inti jiwa seperti semula.
Dia juga menceritakan bahwa separuh inti jiwa itu pergi bersama setengah bayangan sang dewa. Saat seseorang berhasil menemukan dan membangkitkannya, seluruh ingatan dan kekuatan dari separuh jiwa yang lain akan turut bangkit.
Saat seorang dewa agung bangkit, maka tubuh manusia yang menjadi inkarnasinya akan hancur dan segala ingatan tentang kehidupannya sebagai manusia akan lenyap.
"Mengapa kau menceritakan ini padaku?" tanya Shen Yi.
"Aku tidak mengerti seperti apa pengaturan takdir langit. Terkadang, apa yang terjadi sebenarnya tidak sesederhana yang dipikirkan."
"Maksudmu?"
"Siapa yang menyangka kalau inti jiwa yang lenyap itu hanya separuhnya saja. Separuhnya yang lain telah lama menempati dunia lain yang sangat jauh dan tidak bisa dijangkau selain oleh kekuatan takdir."
"Kau ingin berkata kalau separuh inti jiwa Dewa Agung Yongheng telah bereinkarnasi di sini, di bumi ini?"
Feng Shang terdiam. Hatinya bergejolak. Mungkinkah Shen Yi bisa menebak arah pembicaraannya?
Feng Shang masih terdiam.
"Lalu setelah kau menemukannya, kau akan pergi?" tanya Shen Yi. Dia setengah marah, mungkin karena dia takut kehilangan perempuan itu. Tidak, dia tidak siap jika Feng Shang hilang di depan matanya suatu saat nanti.
"Hanya Maharani Langit yang ditakdirkan yang dapat membangkitkannya," ucap Feng Shang.
"Omong kosong! Kalau dewa itu sangat hebat, mengapa dia membutuhkan bantuanmu? Apanya yang dewa agung! Dia bahkan tidak bisa membangkitkan dirinya sendiri!" seru Shen Yi kesal.
Feng Shang menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan perilaku Shen Yi yang sebenarnya sedang memaki diri sendiri. Tampaknya, ekspektasi Feng Shang terlalu tinggi.
"Jadi, kau sudah menemukan orang itu?" tanya Shen Yi.
__ADS_1
"Ya. Bahkan sudah sangat lama aku menemukannya," jawab Feng Shang.
"Kau juga sering bertemu dengannya?"
"Aku bahkan setiap hari bertemu dengannya dan berbicara banyak hal padanya."
Raut wajah Shen Yi merah padam. Ada asap tebal membumbung tinggi di hatinya. Siapa yang telah menyalakan api dan membuatnya gerah? Siapa yang menaruh cuka yang sangat asam di sini?
"Bagus. Xiao Shang, kau berani bermain di belakangku! Kau..."
Feng Shang gemas. Dia meraih wajah Shen Yi dengan kedua tangan, kemudian mendekatkan wajahnya. Dengan senyum tertahan, dia mencium Shen Yi selama beberapa detik. Kini pria itu bungkam.
Tubuh Shen Yi menegang. Apa yang dilakukan Feng Shang padanya membuat seluruh tubuhnya berubah seperti batu. Tidak dapat bergerak dan otaknya terasa buntu. Bahkan saat Feng Shang melepaskan ciumannya, dia masih tidak bereaksi.
"Shen Yi, anggaplah aku berhutang satu kehidupan kepadamu," ucap Feng Shang. Dia menyentuh dahi Shen Yi dengan jarinya, mengeluarkan kekuatan dan membuat tanda teratai muncul. Shen Yi langsung tidak sadarkan diri di pangkuan Feng Shang.
"Ini akan menjadi detik terakhir aku mengenalmu sebagai Shen Yi. Bagaimanapun, kau harus tetap bangkit," gumam Feng Shang. Tidak terasa, sesuatu yang basah keluar dari kedua matanya, meluncur melewati pipinya yang mulus.
Dia membaringkan Shen Yi di atas rerumputan taman bunga yang hijau. Ia mulai membuka formasi, membuat tanda teratai di dahi Shen Yi bersinar. Angin semilir berhembus menepuk dedaunan.
Feng Shang mengeluarkan darah suci maharani feniksnya dari dalam jiwanya, kemudian meneteskannya di kening Shen Yi. Dia baru mengerti kalau darah sucinya adalah untuk membangkitkan sang dewa agung. Semuanya seperti sudah direncanakan sejak awal.
Saat darah suci itu merasuk, cahaya keemasan dan cahaya biru menyatu membentuk gelombang. Kekuatan yang sangat besar tengah bangkit, membuat formasi bintang feniks terguncang. Feng Shang mengontrol formasi sampai pembangkitan selesai, namun ia harus menahan rasa sakit yang lumayan hebat.
Getaran formasi membuat energi spiritual yang terkumpul berputar, lalu perlahan masuk ke dalam tubuh Feng Shang. Atmosfer Kota Cheng terpengaruh dan suhu udara turun hingga 10 derajat celcius. Embun-embun di dedaunan sebagian membeku.
Ketika formasi sudah stabil, Feng Shang menurunkan kedua tangannya. Napasnya memburu dan dadanya naik turun. Ia melihat Shen Yi masih dalam proses pembangkitan dan dia harus melindunginya.
Tidak lama lagi, Dewa Agung Yongheng akan bangkit. Feng Shang harus memutuskan ini, karena keadaan di dunia ini sudah kacau. Segala bencana yang terjadi berasal dari sumber yang sama. Dia butuh kekuatan besar untuk membantunya mengatasi krisis tersebut.
__ADS_1
"Shen Yi, kau harus bangkit," ucap Feng Shang. Sisa tetesan air matanya berubah menjadi serbuk spiritual yang merasuk ke dalam tubuh Shen Yi.
Tidak peduli seperti apa pria itu setelah bangkit sebagai dewa, Feng Shang tetap akan menerimanya sekuat hatinya.