
Orang-orang yang kebetulan melewati tower menatap ke atas. Kemudian, mereka berlalu sambil berbisik-bisik. Beberapa petugas keamanan datang mengondusifkan keadaan, namun massa yang berkerumun tetap tidak mau membubarkan diri. Mereka sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka.
"Kau! Turun sekarang juga!" Feng Shang berteriak sekali lagi.
Yongheng melihat ke bawah dan mendapati banyak orang mengerumuni tempat ia berdiri. Di antara puluhan orang itu, satu-satunya orang yang wajahnya terlihat jelas hanyalah Feng Shang. Perempuan itu tengah berkacak pinggang sambil menatapnya dengan tajam.
"Kemarilah! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan!" seru Yongheng.
Seruannya tak ayal membuat semua perhatian tertuju kepada Feng Shang. Orang-orang berpikir bahwa perempuan yang ada di antara mereka adalah kekasih dari orang yang naik ke tower itu. Kemudian, petugas keamanan menghampirinya, memintanya membujuk orang itu agar segera turun dari tower. Jika jatuh, akibatnya tidak bisa dibayangkan. Katanya, masih untung jika hanya cacat. Jika meninggal, siapa yang akan bertanggungjawab?
"Dia bukan kekasihku!" elak Feng Shang saat petugas meminta bantuannya.
"Nona, tolonglah. Pria itu sudah menyebabkan ketidaknyamanan publik. Mohon agar Nona segera membujuknya untuk turun," ucap petugas.
Feng Shang berdecak. Dia harus ingat kalau pria di atas sana adalah Shen Yi yang telah berevolusi. Kalau dia meninggalkannya, dia harus menjadi seseorang yang tidak tahu balas budi. Feng Shang harus berpikir berulang kali jika ingin membiarkannya begitu saja. Entah mengapa pria itu berubah menjadi lebih menyebalkan setelah jati dirinya kembali.
Membujuk seorang dewa agung tidak mudah. Di Tiga Alam, yang paling tidak ingin ia lakukan adalah membujuk dewa-dewi agung karena mereka sangat menyebalkan. Otaknya berputar memikirkan cara. Kemudian, Feng Shang kembali menggunakan kekuatan, menghentikan waktu. Segala aktivitas di bumi terhenti, udara berhenti berhembus dan angin berhenti bersemilir.
Dia menyusul Yongheng, lalu berdiri sejajar dengannya. Yongheng yang tidak terpengaruh karena ia seorang dewa menatapnya heran. Tidak sangka, seorang maharani juga bisa menggunakan kekuatannya saat malas memanjat. Padahal menurutnya, tower ini tidak terlalu tinggi.
"Ada yang aneh dengan bangunan tinggi itu!" tunjuk Yongheng. Feng Shang memicingkan mata, melihat gedung yang dimaksud oleh Yongheng.
"Ada hawa iblis yang kental menyelimuti bangunan itu," lanjut Yongheng.
Itu adalah gedung kantor Xiang. Gedungnya yang berlantai seratus memang cukup menonjol di antara yang lain, meskipun tidak setinggi gedung Lingjing dan Xize. Ada hawa iblis hitam menyelimuti gedung itu. Seolah-olah hawa itu membentuk sebuah formasi. Feng Shang memperhatikan sambil menahan keterkejutannya. Aneh, padahal beberapa waktu lalu hawa iblisnya tidak sekuat itu.
__ADS_1
Mungkinkah Xiang Sun telah kembali ke kantornya dan menyebarkan hawa iblis itu? Pria itu mungkin sedikit frustasi karena tidak mendapatkannya. Bisa jadi dia menggunakan kehidupan orang-orang di kantornya sebagai kekuatan untuk mengisi energinya. Mana mungkin ada hawa iblis sepekat itu jika bukan karena Xiang Sun yang melakukannya.
"Maharani, apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Yongheng.
"Tidak ada."
"Lalu mengapa ada hawa iblis sekuat itu di sini? Ini bukan dunia dewa, mustahil ada hawa iblis seperti itu," ujar Yongheng.
"Bukankah kau dewa agung? Mengapa kau tidak mencari tahu sendiri? Bukankah kau sangat hebat?" ketus Feng Shang.
"Maharani, sepertinya kau begitu membenciku. Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuatmu marah?"
"Tidak. Hanya saja suasana hatiku sedang tidak baik."
Pada akhirnya, ia hanya bisa menebak. Dia sendiri kurang percaya kalau Maharani Langit yang ditakdirkan memiliki hati yang tergerak oleh manusia. Selama Tiga Alam terbentuk, pemimpin surgawi adalah mereka yang berhati dingin dan tidak tersentuh. Dewa penguasa Alam Sembilan Langit memiliki kasih, namun jenisnya berbeda dengan kebanyakan orang. Seharusnya Maharani Feng juga seperti itu.
"Apa ini adalah tugas yang harus diselesaikan sebelum kembali ke Alam Sembilan Langit?" tanya Yongheng.
"Ya," jawab Feng Shang mantap.
Yongheng mengangguk kecil. Rupanya, tidak peduli seberapa jauh ia pergi, dirinya tetap tidak bisa lepas dari tanggungjawabnya sebagai dewa agung. Ke manapun ia pergi dan di manapun ia berada, bayang-bayang iblis selalu mengikutinya. Takdir sepertinya telah mengaturnya dengan baik. Di sini pun, ia masih harus bertindak juga.
Feng Shang menatap Yongheng. Ia tahu, pasti sulit mencerna apa yang terjadi. Yongheng baru bangkit setelah ratusan ribu tahun berlalu, tetapi harus sudah menjalani takdirnya kembali melawan iblis bersamanya. Kekuatannya belum pulih benar, tapi hawa iblis di dunia ini semakin kuat. Kalau tidak bertindak cepat, semua makhluk di bumi ini akan dalam bahaya.
"Kalau begitu, Maharani, mari selesaikan tugasnya dengan cepat," ujar Yongheng sambil meloncat turun dari tower. Feng Shang menyusul. Kaki mereka mendarat di tanah dengan baik, di antara orang-orang yang kini seperti patung.
__ADS_1
Feng Shang berjalan lebih dulu, diikuti Yongheng. Feng Shang mengembalikan waktu, dan semuanya berjalan normal kembali. Para petugas di dekat tower kebingungan, mendapati orang yang tadi memanjat tower sudah tidak ada. Perempuan yang dikira kekasihnya pun menghilang. Padahal, rasanya baru beberapa detik berlalu ketika mereka berbicara satu sama lain.
Yongheng berusaha menyamakan langkah. Keduanya berjalan berdampingan menuju gedung kantor Xize. Zhang Bi menghela napas lega saat atasannya kembali bersama Feng Shang. Katanya, ada sesuatu yang aneh ketika mereka pergi. Saat Feng Shang menanyakan apa itu, Zhang Bi menjawab bahwa kepulan asap hitam membumbung melingkupi atap gedung beberapa waktu lalu.
Feng Shang dan Yongheng saling menatap. Sungguh, mereka hanya melihat hawa iblis di gedung Xiang, bukan di sini. Tidak mungkin ada hawa iblis menyelimuti gedung ini. Feng Shang bahkan tidak merasakan kehadiran hawa iblis sedikitpun. Ia menduga kalau Xiang Sun menggunakan sihir ilusi untuk menciptakan tiruan hawa iblis. Tujuannya untuk menakut-nakuti orang-orang Xize dan membuat mereka panik.
Sebelum Feng Shang selesai menyimpulkan, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Jingjing.
"Direktur Feng, terjadi masalah di kantor! Puluhan karyawan tiba-tiba tidak sadarkan diri," ucap Jingjing.
"Apa Anda bisa kembali ke kantor sekarang?"
"Ya."
Setelah menutup panggilan, ekspresi Feng Shang berubah. Seketika hawa dingin menyelimuti ruangan kerja kantor Xize. Suhu udara turun, padahal ini masih ujung musim panas. Feng Shang membereskan tasnya, lalu menyambarnya. Sebelum pergi, ia berkata, "Tunggulah di sini. Aku akan kembali beberapa saat lagi."
Yongheng dan Zhang Bi menatapnya dengan aneh. Saat di ambang pintu, Feng Shang berbalik dan kembali berkata, "Makan siangmu ada di meja. Jangan melakukan hal apapun jika aku tidak menyuruhmu. Zhang Bi, awasi dia dengan baik!"
"Tuan, apa Anda merasa suhu udara menurun drastis sekarang?" tanya Zhang Bi.
Yongheng tidak menjawab. Ia mengikuti langkah Feng Shang dengan tatapan matanya yang tajam.
"Aku rasa Direktur Feng juga sangat aneh hari ini. Tuan, apa kau juga merasakannya?"
"Entahlah."
__ADS_1