
Yongheng kesulitan membawa Feng Shang karena wanita itu terus memberontak. Dia baru bisa membaringkannya setelah cukup lama berusaha. Beruntung tidak ada pelayan manusia yang melihat mereka, atau mereka akan ditertawakan esok hari. Feng Shang ditidurkan di ranjang kecil yang hanya muat untuk dua orang, terbuat dari sutera halus yang lembut.
"Ikan! Yue Ming pasti kesal karena ikannya ditinggal!" racau Feng Shang. Pipi wanita itu sangat merah, tapi matanya sesekali memejam dan kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Ikannya sudah kembali ke danau. Mereka bisa mati kalau terus di darat."
Feng Shang dalam keadaan mabuk samar-samar melihat bayangan wajah Shen Yi, pria yang telah lama hilang dari hidupnya. Feng Shang berhenti memberontak, lalu memegang tangan Yongheng erat-erat seakan-akan tangan itu akan lepas dan hilang ketika dia melonggarkannya. Matanya yang sayu menyiratkan kesedihan yang hanya bisa dilihat oleh Yongheng, membuat pria itu tertegun.
Yongheng ingin tahu mengapa Feng Shang tiba-tiba berhenti. Matanya yang cantik tetapi sayu itu membuat hatinya seperti dicubit, sakit tetapi tidak berdarah. Suasana tiba-tiba berubah menjadi tak menentu, hanya ada degupan jantung dan keheningan di sekitar yang menemani, disertai adegan saling bertatap antara Yongheng dan Feng Shang.
"Shen Yi....Apa itu kau?" tanya Feng Shang lirih. Yongheng terkejut.
"Ah, aku pasti terlalu banyak minum sampai berhalusinasi," tambahnya.
Feng Shang melepaskan tangan Yongheng, menahan kecewa karena dirinya mungkin berhalusinasi. Entah mengapa Feng Shang membayangkan saat-saat di dunia itu, saat ketika dirinya menjadi seorang manusia modern yang arogan tetapi kaya. Ingatan Feng Shang dipenuhi dengan momen kebersamaannya bersama Shen Yi, ketika pria itu memarahinya karena mengacaukan rumah, mencarinya ketika hilang dan diculik, melindunginya dari Xiang Sun, dan masih banyak lagi.
Itu semua membuat hatinya semakin terasa sakit. Siapa sangka rasa yang telah lama ia kubur itu kini malah tumbuh seperti di musim semi, membuatnya rapuh dan tampak seperti manusia fana yang cengeng. Di saat seperti ini, ada seseorang yang melihatnya. Biasanya ia akan berendam di kolam atau pergi mempermainkan dewa gunung sampai suasana hatinya membaik. Tapi, ini alam fana. Alam yang bahkan tempat suci saja tidak ada.
Yongheng menahan tangan Feng Shang, lalu memeluknya dengan erat. Hatinya juga sakit. Betapa besar pengorbanan wanita ini untuk membangkitkannya. Ingatannya sebagai Shen Yi juga terus membayanginya. Yongheng terkadang merasa marah karena saat itu Feng Shang selalu membuat keputusan sendiri. Ia juga muak karena hatinya tidak pernah ingin melupakan Feng Shang meski terpisah lima ratus tahun lalu.
Ah, mereka sama-sama egois.
__ADS_1
"Ini aku, Xiao Shang," ucap Yongheng.
"Shen Yi...Pria brengsek! Beraninya kau melupakanku!" racau Feng Shang. Yongheng merasa ada sesuatu yang basah menimpa pundaknya. Ah, ternyata Feng Shang menangis.
"Kau yang mengambil keputusan itu tanpa persetujuanku. Lalu bagaimana bisa aku disalahkan dalam hal ini?"
"Iblis itu! Dia yang memaksaku! Seharusnya aku menggunakan inti jiwaku, bukan membangkitkanmu dan membuat dirimu hilang."
"Jadi, kau baru menyesalinya?"
Feng Shang menggelengkan kepala. Antara ya atau tidak, ia juga tidak tahu.
"Lalu mengapa kau menangis?"
"Karena ini hanya mimpi, kau bisa mengungkapkan apa yang ingin kau katakan. Xiao Shang, bukankah kau berhutang banyak penjelasan padaku?" tanya Yongheng.
Feng Shang melepas pelukan Yongheng, lalu menatap pria itu dengan air mata yang belum mengering. Perasaannya campur aduk, antara sedih dan senang bercampur menjadi satu seperti adonan roti. Dia benar, ini hanya mimpi. Jarang-jarang Shen Yi datang ke mimpinya, dan ini adalah momen langka. Feng Shang memang berhutang banyak penjelasan. Mungkin ini saatnya ia menjelaskannya satu persatu.
"Aku...Tidak punya pilihan. Kau tahu, bumi saat itu sedang dalam bahaya. Dunia terlalu penting untuk dibiarkan hancur di tangan Iblis Xiang Sun."
"Jadi, kau mengorbankanku untuk membangkitkan diriku yang lain?"
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan."
Yongheng membayangkan betapa sakitnya wanita ini ketika dia membangkitkannya. Di bawah atap kaca yang di atasnya berputar formasi feniks raksasa itu, Feng Shang pasti sedikit kesulitan. Membangkitkan seorang dewa, apalagi dewa agung memerlukan kekuatan yang besar. Pasti sulit untuknya berjuang sendirian di tengah dunia yang sama sekali asing. Di sana, selain Raja Iblis, hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa ada kekuatan spiritual yang mengendalikan hidup manusia.
Yongheng hanya ingat kalau saat itu dirinya sedang tertidur, lalu bangun ketika kesadaran dewanya hidup kembali. Hati Yongheng terasa tercabik kala membayangkan wanita ini menangis tanpa suara, diam-diam meneteskan air matanya ketika ia harus membangkitkannya demi dunia. Yongheng tidak kuat, dia meminta Feng Shang untuk berhenti bercerita.
"Sudah cukup, Xiao Shang. Jelaskan itu ketika kau bertemu aku dalam kenyataan nanti," ucapnya. Yongheng memegang pundak Feng Shang, mencoba menenangkannya. Feng Shang kembali memeluknya.
Kalau benda bernama ponsel ada di alam fana ini, Yongheng ingin sekali merekam momen tidak terduga ini dan menunjukkannya pada Feng Shang. Setelah sadar, wanita ini pasti akan lupa dan kembali kepada perangainya yang dingin dan ketus. Jika ditunjukkan, Yongheng tidak bisa membayangkan betapa lucunya wajahnya yang malu dan mencoba menyangkal itu. Tapi, ada baiknya juga. Yongheng bisa menyimpannya di dalam hatinya. Itu akan bertahan lebih lama daripada rekaman ponsel.
Yongheng kemudian menyentuh pundak Feng Shang, mengalirkan kekuatan spiritual berupa sihir tidur. Feng Shang seketika tertidur dalam pelukan Yongheng. Tubuhnya kemudian dibaringkan dan ditutupi dengan selimut. Setelah memastikan Feng Shang tidur dalam posisi yang nyaman, Yongheng beralih ke kursi. Dia mencoba membaca buku karangan manusia untuk mengusir rasa bosan, karena dirinya sama sekali tidak mengantuk.
Namun, lama kelamaan kantuk itu datang menyerangnya. Yang dikatakan orang benar, kalau membaca buku bisa membuat seseorang tertidur lebih cepat. Yongheng menyandarkan kepala di meja, menjadikan beberapa buah buku sebagai bantalan. Sunyi. Istana itu sunyi, sesunyi Laut Timur ketika Yongheng musnah di zaman kuno.
Hampir dini hari, Yongheng tiba-tiba terbangun karena kilatan cahaya yang menyilaukan mata. Matanya langsung terbuka lebar kala ia melihat pemandangan di depannya. Di udara, beberapa burung yang terbuat dari kain warna-warni terbang berputar, mengitari ruangan. Di bawahnya, Feng Shang sedang memintal kain sutera yang lain, membentuknya menjadi beragam jenis hewan dan mengalirkan kekuatan spiritual, membuat mereka menjadi boneka hidup.
Yongheng menghela napas. Ia pikir wanita ini sudah sadar dan kembali normal, tapi nyatanya tidak. Feng Shang yang mabuk sangat tidak berhati-hati. Ini baru dini hari, tetapi ia bisa saja membangunkan seluruh penghuni istana karena perilakunya.
"Masih belum cukup?"
***
__ADS_1
...Duh, Maharani yang mabuk ada-ada aja. Ada yang mau ikut mancing sama Feng Shang? Siapa tahu pulang-pulang jadi juragan empang! ...