
Feng Shang mengkerutkan ekspresi wajahnya selama beberapa menit. Sambil mendengarkan ocehan Shen Yi, dia sesekali menguap lebar-lebar. Shen Yi menceramahinya karena dia berulah, menggunakan sihirnya sembarangan di tempat kerja. Kalau sampai ketahuan, semuanya bisa gawat. Ibunya pasti akan semakin gencar memintanya mengeluarkan Feng Shang dari rumah.
Shen Yi merasa situasinya menjadi sulit sekarang. Rencana untuk kabur sudah pupus, dan ia kini masih harus menyelesaikan perselisihan antara Feng Shang dan Nyonya Yin. Yang satu adalah perempuan yang disayanginya, yang satu lagi adalah ibunya. Kedua wanita itu membuatnya pusing tujuh keliling. Dia berkata, "Wanita memang merepotkan."
"Mengapa dia harus jadi ibumu?" tanya Feng Shang bodoh.
"Apa kau bisa memilih untuk lahir di rahim wanita yang kau inginkan?" Shen Yi membalasnya dengan pertanyaan.
Lupakan, pikir Feng Shang.
"Pulanglah ke Kediaman Feng. Aku akan memberitahu Ketua Feng kalau kau akan pulang dan tinggal di sana selama beberapa hari," ucap Shen Yi.
"Tidak mau. Aku tidak ingin kembali ke Kediaman Feng," tolak Feng Shang.
"Xiao Shang, mengertilah. Apa kau ingin setiap hari bertengkar dengan ibuku?"
"Apa yang sulit dengan itu? Aku sudah menghadapi banyak dewa dengan berbagai sifat. Mengatasi manusia seperti ibumu adalah hal yang mudah."
"Berbeda, Xiao Shang. Ibuku manusia, kau adalah dewa. Bagaimana jika kau salah menggunakan sihirmu dan melukainya?"
"Kau sepertinya sangat khawatir. Kulihat ekspresimu tadi tidak seperti ini."
Feng Shang menatap penuh selidik pada Shen Yi. Tadi saat Nyonya Yin ada di sini, ekspresi Shen Yi sangat tidak bersahabat. Wajahnya itu menyiratkan kalau dia ingin ibunya segera pergi. Namun sekarang, yang dilihat Feng Shang justru sebaliknya. Pria itu merubah ekspresinya ketika sudah tahu pertikaian antara dirinya dengan Nyonya Yin.
"Kau takut aku melukainya?"
Sikap Shen Yi yang seperti itu membuat Feng Shang mengerti. Pria ini sebenarnya menyayangi ibunya, hanya saja terlalu malu untuk menunjukkannya. Di depan ia akan bersikap dingin, tetapi saat merasa ada bahaya yang mengintai, pria itu menjadi sangat khawatir. Sikapnya juga tak jauh berbeda padanya seperti beberapa waktu yang lalu. Feng Shang menghela napas ringan.
"Aku tidak menyakiti orang yang tidak bersalah. Kecuali ibumu yang mencari gara-gara, aku mungkin tidak bisa mencegah sihirku keluar," ujar Feng Shang. Perselisihannya dengan Nyonya Yin bisa saja berakhir kalau wanita cerewet itu berhenti membicarakannya.
__ADS_1
"Aku tahu."
"Lalu mengapa kau masih khawatir?"
"Entahlah."
Shen Yi kemudian meminta Zhang Bi menyelidiki apa yang terjadi di rumah utamanya beberapa waktu ini, sekaligus mencari alasan mengapa ibunya tiba-tiba mau datang ke Kota Cheng untuk mengunjunginya. Meskipun Nyonya Yin selalu membuatnya kesal dan kerepotan, tetapi datang tiba-tiba seperti ini bukanlah gayanya. Shen Yi pikir mungkin sesuatu telah terjadi sampai ibunya jauh-jauh datang kemari dan berbohong padanya.
Feng Shang memakan kembali makanannya yang tadi. Ia bisa melihat kegelisahan di wajah Shen Yi, yang ternyata mengakar sangat dalam. Untuk saat ini, Feng Shang akan menuruti Shen Yi. Feng Shang akan membiarkan Nyonya Yin dan tidak akan melakukan apapun padanya. Kecuali, jika wanita itu mencari gara-gara kembali, Feng Shang bukan hanya akan merusak mobilnya, tetapi juga membuatnya kehilangan suara seperti beberapa waktu lalu.
"Lalu bagaimana dengan rencana pelarian dirimu?" tanya Feng Shang.
"Bagaimana lagi? Tentu saja batal! Orang yang ingin kuhindari sudah datang, maka aku hanya bisa menghadapinya."
"Mengapa kau tidak menurutinya saja? Mungkin setelah menikah, ibumu akan berhenti mengocehimu dan berhenti mengganggumu," ujar Feng Shang. Shen Yi menatap dalam padanya.
"Xiao Shang, apa kau akan menikah dengan orang yang tidak kau cintai?"
"Terlepas dari aturan perbedaan dunia," lanjut Shen Yi. Feng Shang spontan menjawab, "Tentu saja tidak."
"Aku juga seperti itu. Kau jelas tahu bagaimana jawabanku," ucap Shen Yi. Feng Shang tertegun. Jantungnya kembali berdetak cepat. Feng Shang buru-buru menghabiskan makanannya, lalu berdiri sambil meyambar tasnya.
"Aku harus kembali ke kantor Lingjing," ucapnya. Setelah itu, ia pergi. Shen Yi mengantarnya dengan tatapan aneh.
"Dasar perempuan tidak peka," gumam Shen Yi. Ia lantas menghabiskan sisa makanannya yang tinggal sedikit lagi.
***
Sesampainya di gedung kantor Lingjing, Feng Shang dibuat kesal dengan keributan yang terjadi di lobi. Di sana, ia melihat seorang wanita familier sedang mencak-mencak kepada resepsionis, memarahi pemilik perusahaan dengan kata-kata yang menyebalkan. Beberapa petugas keamanan tiba dan hendak membawanya keluar, namun saat melihat Feng Shang, mereka mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Ia berjalan menghampiri wanita itu. Sejenak kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar saat tahu siapa wanita itu. Benar-benar merepotkan!
"Panggil Direktur Feng kemari! Asal kalian tahu, wanita itu telah membawa kesialan untuk putraku! Gara-gara dia, putraku menolak menikah dengan gadis yang kupilih untuknya!" seru wanita itu.
Resepsionis kebingungan bagaimana harus bersikap. Tampilan wanita yang mencak-mencak memarahi direkturnya itu seperti wanita kelas sosial atas, karena pakaian dan aksesoris yang dipakainya menggunakan merk terkenal dan edisi terbatas. Bisa ditebak kalau wanita tersebut adalah seorang nyonya dari pengusaha kaya, atau seorang pebisnis yang punya banyak perusahaan. Kalau ia bertindak sembarangan, ia takut menyinggung dan merugikan Lingjing. Tetapi kalau seperti ini terus, itu akan mengganggu kenyamanan para karyawan Lingjing yang sedang bekerja.
"Nyonya, Direktur Feng tidak ada di sini. Harap Anda membuat janji dengannya terlebih dahulu, baru bisa bertemu dengannya," ucap resepsionis. Ia juga heran mengapa selalu ada orang yang mencari masalah dengan direkturnya.
"Membuat janji? Tidak perlu! Orang sepertinya tidak pantas membuat janji temu denganku! Seharusnya dia yang datang padaku dengan merangkak! Asal kalian tahu, direktur kalian itu juga telah merebut rumah putraku!"
Resepsionis yang melihat kedatangan Feng Shang hendak bersuara, namun tertahan karena Feng Shang menyuruhnya diam. Feng Shang berdiri di belakang Nyonya Yin, menantikan perkataan kasar apa lagi yang akan dilontarkan oleh wanita itu. Baru saja ia mengatakan pada Shen Yi ia tidak akan berbuat apa-apa, namun Nyonya Yin justru datang membuat keributan di kantornya.
"Wanita cerewet, apa yang ingin kau lakukan jika bertemu dengan Direktur Feng?" tanya Feng Shang. Nyonya Yin refleks berbalik. Air mukanya semakin tidak bersahabat melihat wanita muda yang beberapa jam lalu membuatnya emosi.
"Kau! Rupanya kau karyawan di sini! Pantas saja perilakumu sangat arogan! Bawahan mengikuti atasan. Cepat panggil direkturmu! Aku akan menghajarnya sampai babak belur!" ucap Nyonya Yin dengan bersemangat. Dia mengatakannya sembari sedikit menengadah karena tinggi badannya lebih rendah daripada tinggi badan Feng Shang.
"Direktur Feng bukan orang yang bisa kau temui sesuka hati. Kalau kau bertemu dengannya, mungkin kau juga tidak bisa berbuat apa-apa padanya," lanjut Feng Shang.
Nyonya Yin wajahnya memerah. Ia sangat kesal dan marah karena wanita menyebalkan penabrak mobilnya muncul di sini dan memprovokasinya. Tujuannya datang kemari adalah untuk memarahi direktur perusahaan, namun resepsionis dan wanita itu malah menghalanginya! Nyonya Yin bedecak.
"Hanya seorang bocah saja, apa yang tidak bisa kulakukan padanya?"
Kini Feng Shang tahu kalau sifat keras kepala Shen Yi menurun dari Nyonya Yin. Dia maju selangkah, membuat Nyonya Yin refleks mundur selangkah.
"Kau benar-benar ingin bertemu dengannya?" tanya Feng Shang.
Nyonya Yin merasakan kebekuan sebagai akibat dari tatapan dingin Feng Shang. Sejak kapan wanita muda ini memiliki aura yang begitu dingin dan menakutkan, juga sangat mendominasi? Tubuh Nyonya Yin seperti membeku, bergetar. Namun ia segera mengatasinya dengan mencoba terlihat biasa saja. Nyonya Yin balas menatap mata Feng Shang walau ia merasakan sedikit ketakutan.
"Te..Tentu saja!"
__ADS_1
Feng Shang tersenyum dingin sambil tidak melepaskan tatapan dinginnya pada Nyonya Yin. Dia berkata, "Baik. Kau boleh ikut denganku."